FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan memposting sebuah ilmu dari teknik sipil yaitu mengenai Faktor-faktor Yang berkaitan dengan Pembebanan pada suatu struktur.

FAKTOR PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

Kekuatan yang dibutuhkan suatu struktur untuk menahan beban berfaktor yang bekerja dengan berbagai kombinasi efek beban disebut Kuat Perlu. Kuat perlu (U) suatu struktur harus dihitung dengan beberapa kombinasi beban yang bekerja pada struktur tersebut. Kuat rencana diperoleh dari mengalikan kuat nominal dengan faktor reduksi kekuatan (Φ) yang nilainya lebih kecil dari satu.
Menurut SNI - 03 - 2847 – 2002 Pasal 11(1) : struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kuat rencana minimum sama dengan kuat perlu, yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor.Faktor keamanan yang disyaratkan oleh SNI -03-2847-2002 pada komponen struktur untuk menjamin tercapainya prilaku struktur yang cukup baik pada tingkat beban kerja dapat dikelompokkan  dalam dua bagian yaitu faktor beban/kuat perlu dan faktor reduksi kekuatan.

Faktor Beban / Kuat Perlu

Berdasarkan SNI 2847 – 03 – 2002, pasal 11.3 yaitu :
  •     Kuat perlu ( U ) untuk  menahan beban mati ( D ) paling tidak harus sama dengan :
U    =    1,4 D    ………………………………………………..…    ( a )

    Kuat perlu ( U ) untuk menahan beban mati ( D ), beban hidup ( L ) dan juga beban atap ( A ) atau beban hujan ( R ) , paling tidak harus sama dengan :U   =   1,2 D  +  1,6 L  +  0,5 (A atau R)    …………….……    ( b )
  •     Bila beban angin ( W ) turut di perhitungkan, maka pengaruh kombinasi beban     ( D ) , (L) dan ( W ) berikut harus dipelajari untuk menentukan nilai ( U )  sebesar :
U   =   1,2 D  +  1,0 L ± 1,6 W +  0,5 (A atau R)    …………..…    ( c )
Kombinasi beban juga harus memperhitungkan kemungkinan beban hidup ( L ) yang penuh dan kosong untuk mengantisipasi kondisi yang paling berbahaya, sehingga :
U  =   0,9 D  ±  1,6 W        …………………………………......    ( d )
Perlu dicatat bahwa untuk setiap kombinasi  beban D , L , dan W , Kuat perlu (U) tidak boleh kurang dari persamaan (2.2).
  •     Bila ketahanan struktur terhadap beban gempa ( E ) di perhitungkan dalam perencananaa, maka nilai ( U ) harus di ambil sebesar :
U   =   1,2 D  + 1,0 L  ± 1.0  E      ………………….………….    ( e )
atau
U   =    0,9 D  ±  1,0 E      …………………………………….    ( f )
Nilai beban gempa ( E ) di tetapkan berdasarkan ketentuan SNI – 03 - 1726 – 2002 tentang Tata Cara Perancanaan Ketahanan Gempa Untuk  Gedung dan Rumah.

    Faktor Reduksi Kekuatan ( Ø ) / Kuat Rencana.

Kuat rencana suatu komponen struktur , sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan prilaku lentur, beban normal geser , dan torsi harus diambil sebagai hasil kuat nominal yang dihitung berdasarkan kekuatan dan asumsi dengan suatu factor reduksi kekuatan ( Ø ). Faktor reduksi kekuatan ( Ø ) antara lain di gunakan untuk memberikan konsep keamanan lapis kedua dalam menentukan kuat rencana. Pemakaian faktor reduksi dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan penyimpangan terhadap kekuatan bahan, pengerjaan, ketidak tepatan ukuran, pengendalian dan pengawasan pelaksanaan, yang sekalipun masing – masing faktor mungkin masih dalam toleransi persyaratan tetapi kombinasinya memberikan kapasitas lebih rendah. Dengan demikian, apabila faktor reduksi di kalikan dengan kuat ideal teoretik berarti sudah termasuk memperhitungkan tingkat daktilitas, kepentingan, serta tingkat ketepatan ukuran suatu komponen struktur sedemikian hingga kekuatannya dapat di tentukan .
Standar SNI-03-2847-2002 memberikan faktor reduksi kekuatan (Ø) untuk berbagai mekanisme, antara lain sebagai berikut :
  •     Lentur tanpa beban aksial                    =  0,80
  • Beban aksial dan beban aksial dengan lentur : 
  1. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur        =  0,80
  2. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur:
           *Komponen struktur dengan tulang spiral         = 0,70
           *Komponen struktur lainnya (sengkang )         = 0,65
  •     Geser dan torsi                         =  0,75
  1.     Geser penahan gempa kuat lentur nominal         =  0, 55
  2. Geser balok-kolom tulangan diagonal         =  0,80
  •     Penampang lentur tanpa beban aksial             =  0,75
  •     Tumpangan pada beton                     =  0,70
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kuat momen / kapasitas momen (Mu) yang di gunakan sama dengan kuat momen ideal ( Mn) di kalikan dengan foktor reduksi (Ø).
Mu      =       Ø   .  Mn    …………….........................    ( g )
Dimana :    Mu       =  Kuat momen / Kapasitas momen
Ø    =  Faktor reduksi
Mn    =  Kuat momen ideal.
Kurang lebih seperti itulah keterkaitan faktor-faktor yang terjadi pada pembebanan struktur. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca semua. Terimakasih

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi mengenai beton. Bebicara tentang beton pasti arahnya kepada dunia teknik sipil, di mana beton merupakan salah satu bagian yang sangat besar peranannya di dunia struktur dalam ilmu teknik sipil. Beton merupakan dasar yang sangat penting pada struktur bangunan, utamanya bangunan yang memang menggunakan struktur beton.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

Dalam teknik sipil, definisi beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah, atau agregat-agregat lain yang  dicampur dengan suatu pasta sebagai pengikat yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa seperti batuan setelah didiamkan beberapa waktu tertentu. Ada waktu tertentu satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pekerjaan atau workability, waktu pengerasan, durabilitas dan lain sebagainya.
Peranan beton sebagai salah satu pembentuk stuktur bangunan memang sangat dominan di bandingkan dengan bahan lainnya. Utamanya di Indonesia, beton masih menjadi pilihan banyak pengguna konstruksi. Tetapi seperti apa pun keunggulan beton pasti tetap memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut saya berikan beberapa kelebihan dan kelemahan beton.

KELEBIHAN BETON

Sebagai pembentuk struktur bangunan, beton memiliki banyak kelebihan yang membuat masih banyaknya orang menggunakan beton sebagai pembentuk struktur bangunan. Adapun kelebihan itu sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan bahan bangunan lainnya.
  • Struktur beton sangat kokoh.
  • Terbuat dari bahan-bahan lokal yang sangat murah dan hampir ditemui di semua daerah di Indonesia (pasir, kerikil dan air).
  • Beton memiliki ketahanan yang tinggi.
  • Memiliki usia layan yang panjang. Dalam kondisi yang normal struktur beton bertulang dapat digunakan sampai kapan pun tanpa kehilangan kemampuannya untuk menahan beban, bahkan kekuatannya semakin lama semakin lama akan semakin bertambahkarena lamanya proses pemadatan pasta semen.
  • Beton tidak memerlukan biaya perawatan yang besar.
  • Dapat di cetak menjadi bentuk yang sangat beragam, mulai dari plat, kolom, balok, kubah, cangkan dan lain sebagainya.

KELEMAHAN BETON

Beton memang banyak memiliki kelebihan. Tetapi tidak lupa juga ternyata beton juga memiliki banyak kekurangan atau kelemahan dalam pengaplikasiannya dalam ilmu struktur. Adap pun kelemahan beton sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tarik  yang sangat rendah, sehingga memerlukan bantuan dengan penggunaan tulangan terik.
  • Rendahnya kekuatan persatuan berat sehingga mengakibatkan beton bertulang menjadi berat, ini berpengaruh terhadap struktur-struktur bentang panjang dimana berat beban  mati beton yang sangat besar akan sangat mempengaruhi momen lentur.
  • Rendahnya kekuatan per satuan volume, mengakibatkan beton bertulang memiliki ukuran yang relatif besar, hal ini di pertimbangkan untuk bangunan-bangunan tinggi dan struktur-struktur yang berbentang panjang.
  • Sifat-sifat beton sangat bervariasi karena bervariasinya proporsi campuran dan pengadukannya. Selain itu, penuangan dan perawatan beton tidak bisa ditangani seteliti produksi material atau bahan bangunan lainnya seperti baja, kayu lapis, dan lain sebagainya.
Itulah kelebihan dan kelemahan beton. Jadi untuk menggunakan beton ini, sebaiknya mempertimbangkan kelemahan atau pun kelebihannya. Tapi ingat masing-masing material memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Semuanya terserah pada rencana kualitas suatu bangunan.
Demikianlah ulasan informasi ilmu dasar dari saya mengenai Kelebihan dan Kelemahan Beton. Semoga bermanfaat, terimakasih.

MEKAISME PERENCANAAN TEKNIS DALAM DOKUMEN PERENCANAAN TEKNIS

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Persiapan & perencanaan teknis merupakan salah satu tahapan (tahap awal) kegiatan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana. Yang merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka Penyusunan Usulan Kegiatan Sarana &
Prasarana sebelum melaksanakan proses pelaksanaan pembangunan (fisik/konstruksi) sarana & prasarana. Keseluruhan proses kegiatan tersebut selanjutnya dituangkan dalam Dokumen yang disebut Dokumen Perencanaan teknis/DED/Proposal Usulan Kegiatan
Manfaatnya adalah Untuk mendapatkan usulan kegiatan yang baik dan layak secara teknis, keuangan dan aman terhadap lingkungan dan sosial (safeguards);

MEKANISME PERENCANAAN TEKNIS

Secara umum mekanisme perencanaan teknis mencakup dua tahapan yaitu Persiapan dan Perencanaan Teknis.
Tahapan perencanaan teknis, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam tahapan pelaksanaan perencanaan teknis adalah sebagai berikut:

a. Penyediaan Lahan

Untuk mewujudkan bangunan infrastruktur, tentunya diperlukan ketersediaan lahan/tanah (termasuk bangunan/tanaman produktif/aset berharga lainnya yang terkena) sebagai lokasi pembangunannya. Sementara disisi lain, tanah memiliki sifat yang terbatas dan keberadaannya dilindungi oleh hukum. Tidak ada pihak manapun yang diperkenankan membangun tanpa seijin pemilik tanah karena bukti kepemilikan diakui secara sah dalam hukum. Dan jika terjadi pelanggaran (membangun diatas tanah tanpa seijin pemiliknya) maka pihak yang melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

b. Survey dan Investigasi

Survey Teknis

Sebelum dilakukan penyusunan Desain bangunan maka terlebih dahulu harus dilakukan Survey teknis. Sasaran survey teknis ini adalah untuk mendapatkan data data/ informasi kondisi/situasi awal lokasi pembangunan infrastruktur yang sebenarnya. Jenis data/informasi yang diperlukan tergantung pada jenis infrastruktur yang akan dibangun. Seperti : Kondisi fisik lokasi (luasan, batas-batas, topografi), kondisi tanah (keras/lunak), keadaan air tanah, peruntukan lahan, rincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan, dan lain-lain.
Data-data atau informasi tersebut selanjutnya akan dipergunakan dalam menentukan desain atau rancangan dan gambar rencana bangunan yang akan dibangun.
Pelaksanaan Survey ini dilakukan surveyor yang harus memahami teknik survey mencakup :
Jadwal, Urutan kegiatan, cara pelaksanaan dan hasil Survey yang akan diperoleh;
Cara penggunaan formulir survey dan cara penggunaan alat survey yang akan digunakan;
Kebutuhan dan penyediaan peralatan dan instrument yang dibutuhkan, seperti : patok-patok, meteran, formulir suirvey, peta, dll;
Pada kegiatan survey teknis ini, juga sekaligus membuat dokumentasi/photo awal (0%) pada lokasi yang akan dibangun Infrastruktur. Jumlah titik lokasi yang diambil/potret disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jenis infrastruktur yang akan dibangun, misalnya untuk Jalan/drainase/saluran irigasi/air bersih perpipaan dapat diambil pada beberapa titik lokasi (awal, tengah dan ujung akhir atau tempat lain yang dianggap penting)
Penting untuk diperhatikan bahwa titik lokasi dan arah pengambilan gambar kondisi 0% ini, nantinya akan menjadi pengambilan gambar pada saat pelaksanaan konstruksi, yaitu kondisi 50% dan 100%.
Selain survey teknis prasarana juga perlu dilakukan survey ketersediaan tenaga kerja/bahan/alat. Hal ini untuk membantu dalam pemilihan teknologi konstruksi yang akan dipergunakan dimana sedapat mungkin menggunakan konstruksi/bahan lokal yang berkualitas dan konstruksi yang mudah dilaksanakan oleh tenaga kerja setempat.

c. Survey Harga Satuan Upah/Bahan/Alat

Sesuai dengan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas pemanfaatan dana kegiatan maka harga-harga satuan upah/bahan/alat yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan harus merupakan hasil survey sekurang-kurangnya dari 3 toko/pemasok setempat/terdekat sebagai referensi data/informasi harga satuan upah/bahan/alat bagi pelaksana untuk menyusun RAB proposal pelaksanaan kegiatan atau menggunakan dasar harga yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum.
Apabila seluruh harga satuan upah/bahan/alat terendah hasil survey Pelaksana adalah sama dengan harga satuan terendah yang telah ditetaokan maka pelaksana dapat langsung menggunakan harga hasil ketetapan.

d.Survey Calon Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang akan terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan diprioritaskan dan diharapkan sebanyak mungkin dari masyarakat setempat . Informasi ketersediaan tenaga kerja proyek sangat penting diketahui dalam perencanaan pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur. Hal ini terutama karena akan menjadi dasar pemilihan teknologi/metode kerja pelaksanaan pembangunan fisik.
Selain jumlah, kualifikasi tenaga kerja juga sangat penting diketahui dari hasil survey, terutama untuk memperoleh kepastian apakah kegiatan pembangunan dapat dilaksanakan oleh tenaga kerja yang ada dan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan program. Pengalaman/keterampilan yang dimiliki calon tenaga kerja (seperti Mandor/Ketua regu kerja, Tukang dan Pekerja) terutama guna menjamin cara pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan secara benar sehingga dapat memenuhi kualitas fisik yang baik.

e. Penyusunan Desain Teknis (Pembuatan Desain, Gambar-gambar, Spesifikasi Teknis)

Persyaratan utama suatu infrastruktur yang dibangun adalah terpenuhinya mutu/manfaat bangunan tersebut sebagaimana yang dikehendaki. Oleh karena itu siapapun yang menginginkan suatu bangunan, perlu menentukan syarat penggunaan seperti apa yang diinginkannya dari bangunan tersebut.
Membuat Desain, Spesifikasi & Gambar-gambar perencanaan teknik, secara sederhana dapat dikatakan sebagai upaya untuk menentukan persyaratan bangunan yang diinginkan agar bangunan dapat berfungsi baik, menjamin keselamatan (keamanan/kekuatan termasuk kenyamanan) dan kesehatan masyarakat penggunanya.
Dalam praktek pengelolaan proyek infrastruktur jalan, lazimnya pernyataan-pernyataan tentang mutu bangunan dituangkan secara tertulis dan dalam proses penyusunannya diawali dari proses Desain/perancangan, Gambar-gambar & Spesifikasi Teknis, kemudian diuraikan juga secara terbatas dalam Daftar Kuantitas (jenis pekerjaan dan volumenya), RAB (jenis pekerjaan dan volume yang diperhitungkan/dibiayai) dan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan seperti SPPD-L/SPPB.
Kemudian pada tahap pelaksanaan pembangunannya, semua dokumen tersebut menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai pedoman mewujudkan mutu bangunan jalan. Sasaran kegiatan ini adalah untuk menentukan persyaratan mutu sesuai kriteria dan persyaratan teknis bangunan. Adapun indikator keluarannya, adalah :
• Diketahuinya tingkat pelayanan prasarana (siapa/apa dan berapa banyak yang menggunakan) sesuai kebutuhan, termasuk mengetahui apakah ada keterkaitan kesatuan fungsi pelayanan dengan infrastruktur lainnya);
• Diketahuinya kelengkapan system/komponen bangunan sesuai standar teknis bangunan tersebut;
• Adanya perhitungan dimensi konstruksi sesuai tingkat pelayanan (bila perlu), termasuk bila kondisi tanah dasar jelek;
• Diketahuinya tataletak (termasuk keadaan sekitar) dimana bangunan akan dibuat sesuai kebutuhan;
• Diketahuinya ukuran-ukuran bagian bangunan/konstruksi secara detail, seperti Geometri jalan, jenis perkerasan, ukuran papan lantai jembatan, tebal plat beton jembatan/gorong-gorong, dll, sesuai persyaratan teknis bangunan;
• Diketahuinya ukuran-ukuran pokok bangunan (panjang, tinggi/kedalaman, lebar/diameter), termasuk bangunan pelengkap sesuai persyaratan teknis bangunan ;
• Diketahuinya perbandingan campuran yang digunakan, misalnya plesteran campuran 1 semen : 4 pasir; pondasi pasangan batu kali camp. 1: 4, beton bertulang campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerili, sesuai persyaratan teknis bangunan;
Hasil Survey memberikan output sbb :
  1. Desain, berdasarkan hasil Survey kondisi lapangan dimana bangunan akan dibuat dan persyaratan/kriteria desain bangunan yang telah ditetapkan maka dipilih alternatif-alternatif desain/rancangan bangunan yang sesuai. Dalam pemilihan desain ini juga harus telah mempertimbangkan kemungkinan dampak lingkungan yang muncul akibat dari pelaksanaan pekerjaan nanti. Bila bangunan yang dikehendaki cukup kompleks atau kondisi tanah jelek maka seringkali dibuat perhitungan konstruksi untuk memperoleh ukuran/komposisi suatu konstruksi guna menjamin keamanan bangunan. Hasil Desain ini kemudian dituangkan dalam Gambar-Gambar teknik/gambar perencanaan.
  2. Spesifikasi Teknis, dibuat untuk memberikan informasi lebih lengkap mengenai persyaratan-persyaratan teknis dan ketentuan-ketentuan pelaksanaan pekerjaan/bangunan yang ingin diwujudkan tersebut. Spesifikasi Teknis merupakan dokumen persyaratan teknis/standar bangunan yang secara garis besarnya berisi : uraian penjelasan dari tiap jenis pekerjaan (lingkup kegiatan), komposisi campuran, persyaratan material/peralatan, ketentuan/peraturan terkait yang harus diikuti, Metode Pelaksanaan, Cara pengukuran pekerjaan, dll).
  3. Gambar-gambar, berdasarkan desain/sketsa hasil perhitungan dan spesifikasi teknis ini, lalu dibuat gambar-gambar teknis bangunan dimana sering gambar gambar tersebut dicantumkan juga hal-hal penting yang berkenaan dengan mutu prasarana tersebut. Terdapat beberapa macam gambar rencana yang dibuat pada tahap ini, yaitu :
  • Gambar Peta Lokasi, kita dapat mengetahui lokasi dimana bangunan akan dibangun;
  • Gambar Situasi, kita dapat mengetahui tataletak termasuk mana awal dan akhir pekerjaan atau menjelaskan keadaan sekitar dimana bangunan akan dibuat.
  • Gambar Denah, kita dapat mengetahui (membaca) ukuran-ukuran pokok (panjang dan lebar) bangunan termasuk bangunan pelengkap
  • Gambar Pandangan/Tampak, kita dapat mengetahui bidang-bidang mana yang terletak dimuka, sampaing kiri/kanan dan belakang bangunan.
  • Gambar Penampang/Potongan, biasanya gambar ini dibuat dalam 2 arah (memanjang dan melintang). Dari gambar ini kita dapat mengetahui ukuran tinggi, lebar bangunan/bagian bangunan. Selain itu, pada gambar ini juga dicantumkan spesifikasi teknis tiap konstruksi seperti perbandingan campuran yang digunakan (misalnya perbandingan campuran untuk pondasi), jenis bahan yang digunakan (misalnya ukuran agregat), dll. Untuk lebih memehami hubungan bagian-bagian struktur yang dianggap sangat penting maka perlu dibuat gambar lebih detail dari gambar potongan seperti detail pondasi dll.
Semua Desain/Gambar-Gambar Teknik dan spesifikasi teknis dibuat oleh konsultan perencana dan Disetujui oleh Tim Teknis /Dinas PU setempat. Hasil desain ini sekurang-kurangnya harus memberikan jaminan bahwa rencana bangunan dapat bermanfaat bagi masyarakat, rencana teknis bangunan sesuai standar teknis (bangunan dapat berfungsi optimal, menjamin keselamatan (kekuatan dan keamanan) dan kesehatan warga pengguna, tidak menimbulkan dampak negatif atas lingkungan dan sosial-budaya setempat serta mudah dan amandiakses oleh warga pengguna bangunan).
  1. Daftar Isi Dokumen Perencanaan Teknis (DED)

1. Gambar Rencana terdiri dari :

  • Gbr denah Situasi (site plan)
  • Gbr Tampak
  • Gbr potongan (melintang dan memanjang)
  • Gbr Detail Potongan

2. RAB

  • Analisa Harga Satuan
  • Harga Satuan
  • Perhitungan Kuantitas Pekerjaan
  • Perhitungan Volume Kebutuhan Bahan/Alat/Upah
  • Rekapitulasi Pekerjaan
  • Perhitungan RAB (masing-masing kegiatan)
  • Jadwal Pelaksanaan

3. RKS

  • Uraian Umum Pekerjaan
  • Ketentuan Ukuran
  • Lingkup Pekerjaan
  • Persyaratan Bahan
  • Persyaratan Pelaksanaan

4. Dokumen Lain

  • Penyediaan Lahan Lokasi Kegiatan infrastruktur jalan
  • Perijinan terkait pelaksanaan pembangunan yang diperlukan
  • Pengamanan Dampak Lingkungan dan Sosial (Safeguards)

f. Rencana Pengamanan Dampak Lingkungan dan Sosial

Selain ketentuan terkait dengan penyediaan tanah/lahan, ketentuan/peraturan lain yang menjadi persyaratan pelaksanaan pembangunan infrastruktur adalah adanya perlindungan/pelestarian terhadap lingkungan. Sasaran kegiatan adalah : untuk mewujudkan bangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif sosial dan lingkungan.

Indikator keluaran

Adapun Indikator keluaran kegiatan adalah :
  1. Ada/tidaknya kegiatan yang dibangun atau bahan bangunan yang digunakan tidak termasuk dalam Daftar/List Negatif yang telah ditetapkan.
  2. Ada/tidaknya Dampak negatif terhadap Lingkungan & Sosial akibat dari pembangunan infrastruktur yang akan dilaksanakan.
  3. Tersedia atau tidaknya tindakan antisipasi/pengamanan dampak negatif sosial dan lingkungan sesuai dengan prosedur dan ketentuan proyek ini;

Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan

Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan adalah :
  1. Usulan yang diajukan sedapat mungkin menghindari atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Usulan tersebut harus telah mengkaji alternatif desain lainnya yang tepat untuk memperkecil dampak negatifnya;
  2. Usulan tersebut harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RTDR), serta menghindari kawasan lindung yang telah ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, kecuali jika usulan kegiatan tersebut untuk mengembangkan kawasan lindung; dan
  3. Usulan yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan, harus dilengkapi dengan suatu perencanaan pengelolaan dampak lingkungan untuk mengurangi dampak negatifnya.
  4. Setiap proposal kegiatan infrastruktur(proyek/sub-proyek) akan diperiksa dengan prosedur/kriteria pemeriksaan lingkungan Pemerintah untuk memastikan tidak ada sub-proyek/proyek yang membutuhkan pemeriksaan lingkungan secara penuh.
  5. Pada pemeriksaan awal, tipe proyek, skala, lokasi, sensitifitas dan potensi dampak terhadap alam dan lingkungan hidup akan diidentifikasi untuk menentukan kegiatan tersebut layak atau tidak.

g. Menentukan Lingkup Pekerjaan Konstruksi

Lingkup pekerjaan konstruksi/proyek adalah keseluruhan pekerjaan/kegiatan konstruksi yang harus dilakukan untuk menghasilkan bangunan yang memenuhi persyaratan mutu sesuai standar teknis bangunan yang telah ditetapkan. Kemudian dari setiap pekerjaan tersebut perlu diketahui Kuantitas/Volumenya, Metode Pelaksanaannya dan Urutan pelaksanaannya.

1. Menentukan/Mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan konstruksi

Untuk menentukan jenis-jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan infrastruktur maka secara teknis harus ada gambar perencanaan infrastruktur, minimal gambar tampak, denah, potongan (memanjang, melintang) dan gambar detail konstruksi dari infrastruktur yang akan dibangun tersebut, termasuk spesifikasi teknisnya. Sebab dari gambar-gambar tersebut dapat diketahui kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk membangun infrastruktur tersebut sampai selesai. Pada tahap ini juga termasuk mengetahui lingkup aktivitas dari setiap jenis-jenis pekerjaan, satuan pengukurannya, batasan/syarat teknis kekuatannya seperti komposisi campurannya, dimensi, persyaratan material/peralatan, ketentuan/peraturan terkait yang harus diikuti dalam pelaksanaannya. Hasil identifikasi ini selanjutnya dapat dibuat dalam bentuk Tabel.
Demikian sedikit info dari saya mengenai Mekanisme Perencanaan Teknis dalam DED (dokumen perencanaan teknis). Semoga bermanfaat. Terimakasih.

SATUAN-SATUAN DASAR YANG SERING DIGUNAK AN DALAM DUNIA TEKNIK

IlmuDasarDanTeknik*_Berbicara mengenai dunia keteknikan, tentunya tidak akan lepas dari yang dinamakan pengukuran. Ilmu teknik apa pun pasti ujung-ujungnya selalu berurusan dengan pengukuran, baik itu teknik sipil, arsitektur, mesin, industri dan teknik lainnya pasti selalu melakukan praktek lapangan yang menggunakan pengukuran. Dari pengukuran sendiri terdiri dari beberapa jenis pengukuran jika kita tinjau dari cara mengukur dan pengambilan datanya. Jelas sangat berbeda, dalam teknik sipil pengukuran yang paling dominan pastilah pengukuran panjang meskipun masih banyak pengukuran lainnya. Akan tetapi pengukuran selalu mengacuh kepada suatu pembanding atau takaran yang sering kita sebut satuan.
Kali ini saya akan menulis tentang satuan-satuan dasar yang sering digunakan dalam dunia teknik. Berikut ulasannya.


Satuan Panjang.

Pengukuran Panjang paling sering dilakukan dalam dunia teknik. Utamanya teknik sipil, pengukuran panjang digunakan dalam ilmu ukur tanah teknik sipil begitupun juga dengan teknik pertambangan. Alat yang serinng digunakan dalam mengukur panjang, lebar dan keliling adalah penggaris atau untuk skala besar adalah meteran. Di indonesia sendiri, kedua alat ukur tersebut menggunakan satuan centimeter atau meter. Namun di luar negeri mereka sering menggunakan satuan inchi, feet atau mil. Satuan centimeter dan meter merupakan satuan baku untuk panjang.

Gambar

Berikut ini merupakan gambar tangga satuan baku untuk panjang.

Aturan penggunaan satuan panjang baku ialah setiap naik satu tingkat satuan dibagi 10 dan setiap turun satu tingkat satuan dikalikan 10.

Contoh:

1 dm = ... cm, maka penyelesaiannya 1dm = 1 x 10 cm = 10 cm
10 mm = ... cm, maka penyelesaiannya 10 mm = 10 : 10 cm = 1 cm
1 km = .... m, maka penyelesaiannya 1 km = 1 x 10 x 10 x 10 m = 1000 m, karena turun tiga tingkat maka berlaku pengalian 10 sebanyak tiga kali.
2 mm = .... m, maka penyelesaiannya 2 mm = 2 : 10 : 10 :10 m = 0,002 m, naik tiga tingkat maka berlaku pembagian 10 sebanyak tiga kali.
Kurang lebihnya untuk konfersi satuan panjang seperti itu.

Satuan Luas

Tidak ada bedanya dengan pengukuran panjang, pengukuran luas dalam ilmu teknik pun sangat sering digunakan. Misalnya mengukur suatu luas daerah untuk pembangunan, mengukur luas logam yang digunakan dalam pengelasan dan lain sebagainya. Mengukur luas sama dengan mengalikan panjang dengan lebar atau mengalikan alas dengan tingginya. Hal ini berlaku untuk mengukur bidang datar dua dimensi. Satuan luas baku selalu menggunakan kata persegi atau bujur sangkar di akhirnya, yang dilambangkan dengan pangkat dua. Satuan baku untuk satuan luas yang sering digunakan adalah meter persegi, sentimeter persegi atau hektar.
Dalam penerapannya aturan penggunaan satuan Luas baku adalah setiap naik satu tingkat satuan selalu dibagi 100 dan setiap turun satu tingkat satuan dikalikan 100.
Perhatikan Gambar tangga satuan luas berikut!

Contoh:



1 m2 = 10000 cm2 (turun dua tingkat satuan, 100 x 1000)
1000000 mm2 = 100 cm2 (naik dua tingkat satuan, 1000000 mm2: 100 : 100)

Satuan Volume

Ini dia satuan paling populer dalam dunia teknik. Mengapa? Di Laboratorium teknik mana pun pasti akan selalu mengenal istilah volume. Apalagi dengan teknik sipil. Mengukur volume benda bisa kita lakukan dengan mengalikan panjang, lebar, dan tingginya atau mengalikan alas dengan tingginya. Tapi ini hanya berlaku untuk benda yang bentuknya beraturan. Dan untuk benda yang tidak beraturan kita dapat menggunakan gelas ukur atau tangki ukur. Satuan baku volume yang sering digunakan di Indonesia menggunakan kata kubik di akhirnya uyang dilambangkan dengan pangkat tiga (...3). Satuan baku untuk volume yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah liter atau mili liter.

Aturan dalam penggunaan satuan volume baku ialah setiap turun satu tingkat satuan maka dikalikan 1000 dan sebaliknya setiap naik satu tingkat satuan dibagi 1000. Penting untuk diingat 1 liter sama dengan 1 dm3.
Berikut gambar tangga satuan volume:

Contoh:

10 liter = 10 dm = 10000 cm (turun satu tingkat maka dikalikan 1000)

METODE DAN CARA DALAM MENGHITUNG HUJAN RATA-RATA ATAU HUJAN DAS

IDT._Dalam Ilmu Hidrologi ada sebuah data tentang hujan yang sangat berperan penting dalam pengambilan data hujan. Istilah itu adalah hujan rata-rata atau hujan DAS (Daerah Tangkapan Air atau Daerah Aliran Sungai). Perlu saya jelaskan sedikit tentang DAS untuk mempermudah pemahaman kita. DAS adalah daerah dimana air hujan jatuh kemudian mengalir menuju saluran atau sungai pada suatu stasiun yang ditinjau. Misalnya suatu lembah yang memiliki sebuah sungai, setiap air yang mengalir dari semua daerah tersebut saat hujan, baik itu dari atas bukit / gunung, lereng atau dataran yang menerima hujan itulah yang disebut dengan DAS. Kembali ke topik yang saya ungkapkan tadi tentang hujan rata-rata. Mengapa saya katakan penting? Itu karena dengan hujan rata-rata kita dapat mengetahui hujan yang terjadi di suatu Daerah tangkapan hujan.
Hujan rata-rata tentunya dinyatakan dalam angka-angka sesuai dengan data rata-rata suatu daerah tangkapan air hujan. Untuk menentukan besarnya hujan rata-rata DAS sering digunakan 3 cara atau metode yaitu seperti uraian berikut.

 METODE ARITMATIK (RATA-RATA ALJABAR)




Dengan menggunakan metode Aritmatik, curah hujan rata-rata DAS  dapat ditentukan dengan menjumlahkan curah hujan dari semua tempat pengukuran untuk suatu periode tertentu dan membaginya dengan banyaknya stasiun pengukuran. Metode ini dapat dipakai pada daerah datar dengan jumlah stasiun hujan relatif banyak, dengan anggapan bahwa di DAS tersebut sifat hujannya adalah merata (uniform) Secara sitematis dapat ditulis sebagai berikut:

dengan:
p                    = curah hujan rata-rata,
p1,p2,...,pn      = curah hujan pada setiap stasiun,
n                    = banyaknya stasiun curah hujan.
Metode ini sangat sederhana dan mudah diterapkan, akan tetapi kurang memberikan hasil yang teliti memngningat tinggi curah hujan yang sesungguhnya tidak mungkin benar-benar merata pada seluruh DAS. Utamanya di wilayah tropis termasuk Indonesia, sifat distribusi hujan mmenurut ruang  sangat bervariasi, sehingga untuk suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) yang relatif besar, metode Aritmatik tidak cocok untuk digunakan.

METODE POLIGON THIESSEN

Dalam metode poligon thiessen, curah hujan rata-rata didapatkan dengan membbuat poligon yang memotong tegak lurus pada tengah-tengah garis penghubung dua stasiun hujan. Dengan demikian setiap stasiun penakar hujan akan terletak pada  suatu wilayah poligin tertutup luas tertentu. Cara ini dipandang lebih baik dari cara rerata aljabar (Arimatik), Yaitu dengan memmasukan faktor luas areal yang diwakili oleh setiap stasiun hujan.
Jumlah perkalian antara tiap-tiap luas poigon dengan besar curah hujan di stasiun dalam poligon tersebut dibagi dengan  luas daerah seluruh DAS akan menghasilkan nnilai curah hujan rata-rata DAS. Prosedur hitungan dari metode ini dilukiskan pada persamaan-persamaan berikut:

dengan:
p                    = curah hujan rata-rata,
p1,p2,...,pn      = curah hujan pada setiap stasiun,
A1,A2,...,An = luas yang dibatasi tiap poligon atau luas daerah yan mewakili stasiun 1,2,...,n.
Nilai perbandingan antara luas poligon yang mewakili setiap stasiun terhadap luas total Daerah Aliran Sungai (DAS) tersebut disebut sebagai faktor bobot Thiessen untuk stasiun tersebut. Dengan demikian cara ini dipandang lebbi baik dari cara rerata aljabar karena telah memperhitungkan pengaruh letak penyebaran stasiun penakar  hujan. Metode ini cocok untuk menentukan hujan rata-rata dimana lokasi hujan tidak banyak dan tidak merata.

METODE ISOHYET

Metode ini menggunakan pembagian DAS dengan garis-garis yang menghubungkan tempat-tempat dengan curah hujan yang sama besar (isohyet). Curah hujan rata-rata di daerah aliran sungai didapatkan dengan menjumlahkan perkalian antara curah hujan rata-rata di antara garis-garis isohyet dengan luas daerah yang dibatasi oleh garis batas DAS dan dua garis isohyet, kemudian dibagi dengan luas seluruh DAS.
Cara ini mempunyai kelemahan yaitu apabila dikerjakan secara manual, dimana setiap kali harus menggambarkan  garis isohyet yang tentunya hasilnya sangat tergantung pada masing-masin pembuat garis. Unsur subyektivitas ini dapat dihindarkan dengan penggunaan perangkat lunak komputer yang dapat menghasilkan gambar garis isohyet berdasarkan sistem intrpolasi grid, sehingga hasilnya akan sama untuk setiap input data di masing-masing stasiun hujan.
Ilustrasi hitungan hujan rerata DAD dengan menggunakan metode isohyet dapat kita lihat pada Contoh Soal dan Penyelesaian. Persamaan dalam hitungan hujan rata-rata dengan metode isohyet dapat kita rumuskan seperti berikut:

dengan:
p                    = curah hujan rata-rata,
p1,p2,...,pn      = besaran curah hujan yang sama pada setiap garis isohyet,
At                  = luas total DAS (A1+A2+...+An)
Dalam praktek pemakaian hitungan hujan DAS tersebut, banyak digunakan cara kedua atau metodePoligon thiessen karena dipandan lebih praktis dengan hasil yang cukup baik.
Demikian sedikitnya pembahasan dari saya mengenai Cara menghitung hujan Rata-rata Daerah Aliran Sungai. Semoga bermanfaat. Thanks.
 Follow My Instagram
Instagram

GERUSAN ATAU SCOURING PADA JEMBATAN

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan membagikan sedikit info teknik sipil mengenai Gerusan atau scouring pada Jembatan. Langsung saja ulasannya sebagai berikut.

Definisi atau Pengertian umum Gerusan (scouring)

Pada Jembatan, gerusan sering terjadi pada pilar jembatan. Secara umum Adanya gerusan dapat menjadi masalah yang bisa membahayakan kestabilan struktur jembatan atau pun bangunan air lainnya. Jika didefinisikan secara umum, Gerusan (scouring) merupakan suatu proses alamiah yang terjadi di sungai sebagai akibat pengaruh morfologi sungai (dapat berupa tikungan atau bagian penyempitan aliran sungai) atau adanya bangunan air ( hydraulic structur) seperti: jembatan, bendung, pintu air, dan lain-lain. Morfologi sungai merupakan salah satu faktor yang  menentukan dalam proses terjadinya gerusan, hal ini disebabkan aliran saluran terbuka mempunyai permukaan bebas (free surface). Kondisi aliran saluran terbuka berdasarkan pada kedudukan permukaan bebasnya cenderung berubah sesuai waktu dan ruang, disamping itu ada hubungan ketergantungan antara kedalaman aliran, debit air, kemiringan dasar saluran dan permukaan saluran bebas itu sendiri.
Laursen (1952) dalam Hanwar (1999:4) mendefinisikan gerusan sebagai pembesaran dari suatu aliran yang disertai pemindahan material melalui aksi gerakan fluida. Gerusan lokal (local scouring) terjadi pada suatu kecepatan aliran di mana sedimen yang dingkut lebih besar dari sedimen yang disuplai. Menurut Laursen (1952) dalam Sucipto (2004:34), sifat alami gerusan mempunyai fenomena sebagai berikut :
  1. Besar gerusan akan sama selisihnya antara jumlah material yang diangkut keluar daerah gerusan dengan jumlah material yang diangkut masuk ke dalam daerah gerusan.
  2. Besar gerusan akan berkurang apabila penampang basah di daerah gerusan bertambah (misal karena erosi). Untuk kondisi aliran bergerak akan terjadi suatu keadaan gerusan yang disebut gerusan batas, besarnya akan asimtotik terhadap waktu.

Pengertian Scouring Pada Jembatan

Jembatan merupakan suatu struktur yang meneruskan jalan melewati suatu rintangan dibawahnya yag dapat berupa sungai,jalan,selat maupun jurang. Pada jembatan yang dibawahnya terdapat arus air dengan bentang yang relatif lebar, umumnya memerlukan struktur pilar untuk menopangnya. Pilar yang ditanam pada dasar sungai memerlukan kriteria disain sedemikian sehingga bila dasar saluran disekitar pilar jembatan tersebut tergerus, maka gerusan tersebut tidak mencapai kedalaman yang membahayakan kestabilan pilar.
Saluran yang dijumpai di alam mempunyai beberapa macam morfologi sungai yaitu, sungai lurus, sungai dengan tikungan, dan sungai yang menganyam. Sungai lurus terjadi pada daerah yang belum stabil dan untuk menyalurkan energinya sungai ini akan memperpanjang aliran dan membentuk meander memperpanjang aliran dan membentuk meander . Sungai dengan tikungan dapat terjadi pada daerah aluvial atau tanah keras. Sudut tikungan yang dibentuk bisa berbagai macam, misalnya 90° atau 180°. Tipe sungai dengan tikungan pada umumnya diakibatkan karena adanya usaha sungai untuk mencapai
Sungai yang menganyam biasanya terjadi pada daerah yang terjal dengan butiran seragam dan mempunyai alur yang berpindah - pindah. Jadi setiap musim, sungai ini dapat berubah bentuk. Terdapat berbagai macam jenis pilar yang digunakan sebagai penyalur beban jembatan. Pemilihan jenis pilar umumnya ditentukan dari analisis kekuatan analisis ekonomi, analisis lingkungan.
Pada kenyataannya banyak terdapat keruntuhan pada jembatan. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara lain yaitu:

  1. Beban yang dipikul jembatan melebihi batas maksimum yang telah ditentukan.
  2. Bencana alam seperti gempa, erosi, banjir dan lain-lain.
  3. Perubahan morfologi sungai akibat adanya bangunan dalam usaha sungai untuk mencapai kestabilan. Salah satu fenomena yang terjadi adalah gerusan lokal (local scouring).

Tujuan Mengetahui Scouring Pada Jembatan

Dengan mengetahui fenomena scouring maka perencana dapat melakukan investigasi terhadap saluran sehingga dapat ditentukan letak , posisi ,kedalaman dan tipe pilar maupun abutemen sehingga kecacatan dan kegagalan pada jembatan yang disebabkan scouring dapat dihindarkan. Apabila bangunan sudah beridiri maka dapat dibuatkan pengaman untuk mereduksi efek scouring tersebut agar kekuatan struktur jembatan secara keseluruhan tetap mantap.

Jenis - Jenis Scouring

Gerusan adalah proses semakin dalamnya dasar sungai karena interaksi antara aliran dengan dasar sungai. Scouring dapat diklasifikasikan menjadi:

Gerusan umum (general scour)

Gerusan umum ini merupakan suatu proses alami yang terjadi pada sungai sehingga akan menimbulkan degradasi dasar. Gerusan Umum disebabkan oleh energi dari aliran air.
Gerusan akibat penyempitan di alur sungai (contraction scour)

Gerusan lokal (local scour)

Gerusan lokal ini pada umumnya diakibatkan oleh adanya bangunan air, misal, tiang atau pilar jembatan. Gerusan local disebabkan oleh sistem pusaran air (vortex system) karena adanya gangguan pola aliran akibat rintangan.
Ada dua macam gerusan lokal, yaitu :

Clear water scour

Pergerakan sedimen hanya terjadi pada sekitar pilar. Ada dua macam:
  1. Gerusan lokal tidak terjadi dan proses transportasi sedimen tidak terjadi.
  2. Gerusan lokal terjadi menerus dan proses transportasi sedimen tidak terjadi.

Live bed scour

Terjadi karena adanya perpindahan sedimen. Yaitu jika:
Gerusan terlokalisir terjadi karena adanya penyempitan penampang sungai oleh adanya penempatan bangunan hidraulika.

Gerusan Total (Total Scour)

Merupakan kombinasi antara gerusan lokal (local scour) dan gerusan umum (general scour). Bisa juga kombinasi antara gerusan lokal, gerusan umum dan gerusan terlokalisir (localized scour/ constriction scour).
Berdasarkan pengamatan tentang analisa ini, maka tipe scouring yang terjadi pada struktur bawah jembatan dapat dibedakan menjadi:

  1. Gerusan yang terjadi pada pilar yang terletak pada saluran lurus adalah gerusan local.
  2. Gerusan yang terjadi pada pilar yang terletak pada bagian tikungan saluran adalah gerusan local ditambah dengan gerusan umum akibat tikungan saluran.
  3. Gerusan yang terjadi pada abutmen jembatan adalah gerusan total, yaitu kombinasi antara gerusan local, gerusan umum dan gerusan penyempitan

Proses Terjadinya Scouring

Pada Abutemen dan Pilar

Gerusan akibat aliran air menyebabkan erosi dan degradasi di sekitar bukaan jalan air (water way openning) suatu jembatan. Degradasi ini berlangsung secara terus menerus hingga dicapai keseimbangan antara suplai dan angkutan sedimen yang saling memperbaiki.
Apabila suplai sedimen dari hulu berkurang atau jumlah angkutan sedimen lebih besar daripada suplai sedimen, maka bisa menyebabkan terjadinya kesenjangan yang begitu menyolok antara degradasi dan agradasi di lokasi dasar jalan air jembatan. Sehingga lubang gerusan (scour hole) pada abutmen maupun pilar jembatan akan lebih dalam bila tidak terdapat atau kurangnya suplai sedimen.
Demikian juga apabila tidak terdapat bangunan pengendali gerusan di sekitar abutmen ataupun pilar, maka dalamnya gerusan tidak bisa direduksi, se-hingga kedalaman gerusan bisa mencapai maksimum. Hal ini bisa menyebabkan rusaknya abutmen maupun pilar jembatan.

Pada Abutemen

Menurut Yulistianto dkk. (1998), Gerusan yang terjadi di sekitar abutmen jembatan adalah akibat sistem pusaran (vortex system) yang timbul karena aliran dirintangi oleh bangunan tersebut. Sistem pusaran yang menyebabkan lubang gerusan (scour hole), berawal dari sebelah hulu abutmen yaitu pada saat mulai timbul komponen aliran dengan arah aliran ke bawah, karena aliran yang datang dari hulu dihalangi oleh abutmen, maka aliran akan berubah arah menjadi arah vertikal menuju dasar saluran dan sebagian berbelok arah menuju depan abutmen selanjutnya diteruskan ke hilir.
Aliran arah vertikal ini akan terus menuju dasar yang selanjutnya akan membentuk pusaran. Di dekat dasar saluran komponen aliran berbalik arah vertikal ke atas, peristiwa ini diikuti dengan terbawanya material dasar sehingga terbentuk aliran spiral yang akan menyebabkan gerusan dasar. Hal ini akan terus berlanjut hingga tercapai keseimbangan.
Demikianlah Informasi teknik sipil yang dapat saya bagikan mengenai Gerusan atau scouring pada Jembatan. Semoga bermanfaat.

JENIS-JENIS DASAR JEMBATAN SECARA UMUM DALAM TEKNIK SIPIL

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan menulis tentang Jenis-jenis dasar jembatan secara umum dalam teknik Sipil. Jembatan adalah salah satu fasilitas umum yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena begitu pentingnya, sehingga pembangunan jembatan sangatlah di utamakan di berbagai negara. Bukan hanya sebagai fasilitas umum, di jaman sekarang jembatan malah menjadi simbol kebanggaan sebuah negara. Pembangunan jembatan menjadi kepentingan sebuah negara untuk mempermudah sistem transportasi dalam pembangunan sebuah daerah atau negara. Berbicara mengenai jembatan dan teknik sipil, jembatan mempuntai banyak jenis. Jenis-jenis jembatan cukup banyak tergantung dari sudut pandang yang diambil. Berikut Ulasan mengenai Jembatan:

Jenis Menurut Bahan Bangunan

Berdasar bahan bangunannya sendiri jembatan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Jembatan kayu

Jembatan kayu merupakan jembatan sederhana yang mempunyai panjang relatif pendek dengan beban yang diterima relatif ringan. Meskipun pembuatannya menggunakan bahan utama kayu, struktur dalam perencanaan atau pembuatannya harus memperhatikan dan mempertimbangkan ilmu gaya (mekanika).

Jembatan pasangan batu dan batu bata

Jembatan pasangan batu dan bata merupakan jembatan yang konstruksi utamanya terbuat dari batu dan bata. Untuk membuat jembatan dengan batu dan bata umumnya konstruksi jembatan harus dibuat melengkung. Seiring perkembangan jaman jembatan ini sudah tidak digunakan lagi.
Jembatan beton bertulang dan jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge)
Jembatan dengan beton bertulang pada umumnya hanya digunakan untuk bentang jembatan yang pendek. Untuk bentang yang panjang seiring dengan perkembangan jaman ditemukan beton prategang. Dengan beton prategang bentang jembatan yang panjang dapat dibuat dengan mudah.

Jembatan baja

Jembatan baja pada umumnya digunakan untuk jembatan dengan bentang yang panjang dengan beban yang diterima cukup besar. Seperti halnya beton prategang, penggunaan jembatan baja banyak digunakan dan bentuknya lebih bervariasi, karena dengan jembatan baja bentang yang panjang biayanya lebih ekonomis.

Jembatan komposit

Jembatan komposit merupakan perpaduan antara dua bahan yang sama atau berbeda dengan memanfaatkan sifat menguntungkan dari masing –masing bahan tersebut, sehingga kombinasinya akan menghasilkan elemen struktur yang lebih efisien.

Jenis Jembatan Menurut Fungsi

Ditinjau dari fungsinya maka jembatan dapat dibedakan menjadi :

Jembatan jalan raya (highway bridge)

Jembatan yang direncanakan untuk memikul beban lalu lintas kendaraan baik kendaraan berat maupun ringan. Jembatan jalan raya ini menghubungkan antara jalan satu ke jalan lainnya.

Jembatan penyeberangan (foot bridge)

Jembatan yang digunakan untuk penyeberangan jalan. Fungsi dari jembatan ini yaitu untuk memberikan ketertiban pada jalan yang dilewati jembatan penyeberangan tersebut dan memberikan keamanan serta mengurangi faktor kecelakaan bagi penyeberang jalan.

Jembatan kereta api (railway bridge)

Jembatan yang dirancang khusus untuk dapat dilintasi kereta api. Perencanaan jembatan ini dari jalan rel kereta api, ruang bebas jembatan, hingga beban yang diterima oleh jembatan disesuaikan dengan kereta api yang melewati jembatan tersebut.

Jembatan darurat

Jembatan darurat adalah jembatan yang direncanakan dan dibuat untuk kepentingan darurat dan biasanya dibuat hanya sementara. Umumnya jembatan darurat dibuat pada saat pembuatan jembatan baru dimana jembatan lama harus dilakukan pembongkaran, dan jembatan darurat dapat dibongkar setelah jembatan baru dapat berfungsi.

 Jenis Jembatan Menurut Sistem Struktur

Ditinjau dari sistem strukturnya maka jembatan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

Jembatan lengkung (arch bridge)

Pelengkung adalah bentuk struktur non linier yang mempunyai kemampuan sangat tinggi terhadap respon momen lengkung. Yang membedakan bentuk pelengkung dengan bentuk – bentuk lainnya adalah bahwa kedua perletakan ujungnya berupa sendi sehingga pada perletakan tidak diijinkan adanya pergerakan kearah horisontal. Bentuk Jembatan lengkung hanya bisa dipakai apabila tanah pendukung kuat dan stabil. Jembatan tipe lengkung lebih efisien digunakan untuk jembatan dengan panjang bentang 100 – 300 meter.

Jembatan gelagar (beam bridge)

Jembatan bentuk gelagar terdiri lebih dari satu gelagar tunggal yang terbuat dari beton, baja atau beton prategang. Jembatan jenis ini dirangkai dengan menggunakan diafragma, dan umumnya menyatu secara kaku dengan pelat yang merupakan lantai lalu lintas. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 5 – 40 meter.

Jembatan cable-stayed

Jembatan cable-stayed menggunakan kabel sebagai elemen pemikul lantai lalu lintas. Pada cable-stayed kabel langsung ditumpu oleh tower. Jembatan cable-stayed merupakan gelagar menerus dengan tower satu atau lebih yang terpasang diatas pilar – pilar jembatan ditengah bentang. Jembatan cable-stayed memiliki titik pusat massa yang relatif rendah posisinya sehingga jembatan tipe ini sangat baik digunakan pada daerah dengan resiko gempa dan digunakan untuk variasi panjang bentang 100 - 600 meter.

Jembatan gantung (suspension bridge)

Sistem struktur dasar jembatan gantung berupa kabel utama (main cable) yang memikul kabel gantung (suspension bridge). Lantai lalu lintas jembatan biasanya tidak terhubungkan langsung dengan pilar, karena prinsip pemikulan gelagar terletak pada kabel. Apabila terjadi beban angina dengan intensitas tinggi jembatan dapat ditutup dan arus lalu lintas dihentikan. Hal ini untuk mencegah sulitnya mengemudi kendaraan dalam goyangan yang tinggi. Pemasangan gelagar jembatan gantung dilaksanakan setelah sistem kabel terpasang, dan kabel sekaligus merupakan bagian dari struktur launching jembatan. Jembatan ini umumnya digunakan untuk panjang bentang sampai 1400 meter.

Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge)

Jembatan beton prategang merupakan suatu perkembangan mutakhir dari bahan beton. Pada Jembatan beton prategang diberikan gaya prategang awal yang dimaksudkan untuk mengimbangi tegangan yang terjadi akibat beban. Jembatan beton prategang dapat dilaksanakan dengan dua sistem yaitu post tensioning dan pre tensioning. Pada sistem post tensioning tendon prategang ditempatkan di dalam duct setelah beton mengeras dan transfer gaya prategang dari tendon pada beton dilakukan dengan penjangkaran di ujung gelagar. Pada pre tensioning beton dituang mengelilingi tendon prategang yang sudah ditegangkan terlebih dahulu dan transfer gaya prategang terlaksana karena adanya ikatan antara beton dengan tendon. Jembatan beton prategang sangat efisien karena analisa penampang berdasarkan penampang utuh. Jembatan jenis ini digunakan untuk variasi bentang jembatan 20 - 40 meter.

Jembatan rangka (truss bridge)

Jembatan rangka umumnya terbuat dari baja, dengan bentuk dasar berupa segitiga. Elemen rangka dianggap bersendi pada kedua ujungnya sehingga setiap batang hanya menerima gaya aksial tekan atau tarik saja. Jembatan rangka merupakan salah satu jembatan tertua dan dapat dibuat dalam beragam variasi bentuk, sebagai gelagar sederhana, lengkung atau kantilever. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 50 – 100 meter.

Jembatan box girder

Jembatan box girder umumnya terbuat dari baja atau beton konvensional maupun prategang. box girder terutama digunakan sebagai gelagar jembatan, dan dapat dikombinasikan dengan sistem jembatan gantung, cable-stayed maupun bentuk pelengkung. Manfaat utama dari box girder adalah momen inersia yang tinggi dalam kombinasi dengan berat sendiri yang relatif ringan karena adanya rongga ditengah penampang. box girder dapat diproduksi dalam berbagai bentuk, tetapi bentuk trapesium adalah yang paling banyak digunakan. Rongga di tengah box memungkinkan pemasangan tendon prategang diluar penampang beton. Jenis gelagar ini biasanya dipakai sebagai bagian dari gelagar segmental, yang kemudian disatukan dengan sistem prategang post tensioning. Analisa full prestressing suatu desain dimana pada penampang tidak diperkenankan adanya gaya tarik, menjamin kontinuitas dari gelagar pada pertemuan segmen. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 20 – 40 meter.
Demikian Tulisan saya tentang jenis-jenis dasar jembatan secara umum dalam teknik sipil. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 
Atikel Terkait:
METODOLOGI DAN PELAKSANAAN DARI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

DEFINISI JEMBATAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA
 Follow My Instagram
Instagram

CONTOH RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) PEKERJAAN PEMBANGUNAN RUMAH TYPE 45

Apakah Anda tahu apa itu RAB? RAB adalah singkatan dari Rencana Anggaran Biaya yang di mana merupakan suatu perincian biaya dalam suatu pekerjaan yang bertujuan menghitung seluruh kebutuhan biaya dari tahap ke tahap suatu pekerjaan. Dalam suatu perencanaan kegiatan di semua bidang pasti selalu ada yang namanya perencanaan biaya. Mengapa perencanaan biaya itu penting? Itu supaya kita dapat mengatur berapa jumlah dana yang akan dibutuhkan untuk menjadikan suatu kegiatan itu selesai atau rampung dan terlaksana dengan baik. Dalam dunia teknik sipil Rencana Anggaran Biaya dikenal dengan Istilah yang menggunakan bahasa daerah Engineering Estimate yang khusus menangani perencanaan Anggaran suatu pekerjaan atau proyek. Baik itu proyek kecil atau pun yang besar, utamanya proyek atau pekerjaan yang dalam skala besar itu wajib hukumnya dibuatkan Rencana Anggaran Biaya. Tujuannya supaya tidak terjadi kerugian yang besar...hehe dan banyak deh tujuan lainnya. Dari pada penasaran Seperti Apa sih itu RAB? Berikut Ulasannya dan Contohnya.

UMUM

Kalau sebelumnya kita pernah membahas mengenai contoh Contoh Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) MCK Umum, kali ini kita akan kembali membahas Contoh Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) rumah type 45. Sama seperti biasanya sebelum masuk dalam penyusunan Rencana Anggaran Biaya atau RAB ini sendiri, terlebih dahulu dilakukan analisa yaitu Analisa Harga Satuan yang di tampilakan dalam Daftar Analisa Harga Satuan Pekerjaan. Setelah kita telah melakukan analisa harga satuan tersebut barulah kemudian kita melakukan penghitungan sub total dari masing-masing pekerjaan dan hasilnya akan kita pindahkan ke Sheet berikutnya di mana kita akan membuat Rencana Anggaran Biaya untuk dikalikan dengan hasil Penghitungan Volume Pekerjaan sehingga kita bisa mendapatkan hasil sub total masing-masing pekerjaan. Rencana Anggaran Biaya rumah type 45 ini lebih banyak memiliki sub-sub pekerjaan ketimbang dengan RAB MCK. Ini di akibatkan karena bagian-bagian rumah lebih kongkrit di banding MCK Umum yang sangat sederhana. Jadi pengerjaan rumah membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan pengerjaan MCK Umum.

CONTOH

Untuk lebih jelasnya, kita lihat saja tampilan Contoh Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) rumah yang ada di bawah ini. Tampilan di bawah ini sudah saya sertakan dengan hasil Rekapitulasinya serta biaya total proyek per unit rumah type 45. Sekali lagi saya tegaskan untuk kemudahan penghitunganya sebaiknya RAB ini sendiri  di buat dalam Microsoft Excel. Contoh Rencana Anggaran Biaya berikut ini merupakan contoh RAB rumah type 45 yang termasuk dalam proyek perumahan yang berlokasi di kota Jayapura:




RENCANA ANGGARAN BIAYA ( RAB )










PROGRAM
:
Pembangunan 1 Unit Rumah Type 45 M2



KEGIATAN
: 
Pembangunan Perumahan




LOKASI
: 
Kota Jayapura - Kotaraja













No
Uraian



Volume

Harga Satuan
Jumlah Harga









A.


PEKERJAAN GUEST HOUSE





I

Pekerjaan Persiapan






1

Pembersihan lokasi

         1,000
Ls
 Rp     500.000,00
 Rp     500.000,00
2

Pengukuran dan pemasangan bouwplank
       35,500
m1
 Rp        54.920,00
 Rp    1.949.660,00






sub total

 Rp     2.449.660,00

II

Pekerjaan Tanah, Pasir dan Pondasi





1

Galian tanah pondasi

        23,547
m3
 Rp         51.200,00
 Rp    1.205.606,40
2

Urugan tanah kembali
          7,849
m3
 Rp          17.066,67
 Rp         133.956,27
3

Pondasi Batu Kali/Batu Gunung 1:4
          11,578
m3
 Rp      892.200,00
 Rp   10.330.003,13
4

Cor Lantai Kerja 1:3:5
           0,115
m3
 Rp        913.215,00
 Rp        105.202,37
5

Cor Beton Pondasi Poerplat 1:2:3
         0,960
m3
 Rp    4.630.375,00
 Rp    4.445.160,00
6

Pancang Cerucuk Kayu Besi 10/10cm
       30,000
bh
 Rp       197.300,00
 Rp    5.919.000,00
7

Pas. Anstamping

         0,653
m3
 Rp       461.450,00
 Rp        301.234,56
8

Urugan Pasir dibawah lantai
         2,650
m3
 Rp       322.100,00
 Rp       853.565,00
9

Urugan Pasir dibawah pondasi
          3,413
m3
 Rp       367.700,00
 Rp      1.254.776,25
10

Saluran Keliling Bangunan
          1,800
m3
 Rp        697.578,63
 Rp      1.255.641,53
11

Septictank


         1,000
unit
 Rp    7.729.500,00
 Rp    7.729.500,00






sub total

 Rp   33.533.645,49

III

Pekerjaan Beton






1

Lantai Rabat


         0,700
m3
 Rp        913.215,00
 Rp       639.250,50
2

Cor Beton Kolom Praktis 12/12cm 1:2:3
          0,691
m3
 Rp   6.950.300,00
 Rp    4.804.047,36
3

Cor Beton Ring Balk 12/15cm 1:2:3
          0,819
m3
 Rp    6.201.300,00
 Rp     5.078.864,70
4

Plat Beton Tbl 8 cm

          0,576
m3
 Rp    4.282.150,00
 Rp     2.466.518,40
5

Sloof beton bertulang  15/20
          1,643
m3
 Rp    4.172.300,00
 Rp     6.853.002,75






sub total

 Rp   19.841.683,71

IV

Pekerjaan Lantai dan Dinding





1

Pas. Dinding Tembok 1:4
         14,617
m3
 Rp       770.300,00
 Rp     11.259.629,16
2

Pas. Plesteran dinding 1 : 4
      252,620
m2
 Rp        27.900,00
 Rp    7.048.098,00
3

Pas. Meja beton dapur 1:3:5
         0,688
m2
 Rp        913.215,00
 Rp        628.291,92
4

Pas. Lantai Keramik 40/40
        47,350
m2
 Rp        133.625,00
 Rp      6.327.143,75
5

Pas. Lantai Keramik 20/20
         3,000
m2
 Rp         163.175,00
 Rp       489.525,00
6

Pek. Dinding Keramik 20/20
       10,000
m2
 Rp        157.075,00
 Rp     1.570.750,00






sub total

 Rp   27.323.437,83

V.

Pekerjaan Kayu






1

Kusen kayu besi 5/10
         0,340
m3
 Rp    6.162.600,00
 Rp    2.095.284,00
2

Jendela kaca bening 3 mm
         4,820
m2
 Rp       229.207,50
 Rp      1.104.780,15
3

Pintu panil kayu besi

          1,680
m2
 Rp      263.000,00
 Rp      441.840,00
4

Pintu Plywood


          6,266
m2
 Rp       207.780,00
 Rp     1.301.949,48
5

Plafond Tripleks 3mm

         56,170
m2
 Rp        36.060,00
 Rp    2.025.490,20
6

Pasangan rangka plafond ky matoa
        52,950
m2
 Rp        39.450,00
 Rp     2.088.877,50
7

Pasangan list plafond
        75,900
m'
 Rp          6.476,00
 Rp       491.528,40






sub total

 Rp     9.549.749,73
No
Uraian



Volume

Harga Satuan
Jumlah Harga









VI

Pekerjaan Penggantung





1

Kunci Tanam 2 Slag

         2,000
bh
 Rp       257.300,00
 Rp       514.600,00
2

Kunci Tanam Royal

         3,000
bh
 Rp        67.300,00
 Rp       201.900,00
3

Engsel pintu ring nilon kuningan
        11,000
psg
 Rp          22.713,00
 Rp      249.843,00
4

Engsel jendela kuningan
        16,000
psg
 Rp         21.805,00
 Rp      348.880,00
5

Gerendel jendela + dobel tarikan jendela
         8,000
set
 Rp         46.610,00
 Rp       372.880,00






sub total

 Rp     1.688.103,00









VII

Pekerjaan Atap







1

Kuda-kuda kayu besi 5/10 cm
         0,700
m3
 Rp    5.497.900,00
 Rp    3.848.530,00
2

Gording kayu matoa  5/10 cm
         0,393
m3
 Rp     2.917.700,00
 Rp      1.147.239,64
3

Pas. listplank papan kayu besi 2/20 cm
         2,430
m2
 Rp        60.200,00
 Rp       146.286,00
4

Pas Kaso dan Reng Kayu Matoa
        27,750
m2
 Rp         42.275,00
 Rp        1.173.131,25
5

Pas. Atap Multiroof

        64,981
m2
 Rp        89.860,00
 Rp      5.839.174,69
6

Pas. Nok Atap Multiroof
         6,630
m'
 Rp        55.450,00
 Rp        367.633,50






sub total

 Rp   12.521.995,08









VIII

Pekerjaan Pengecatan





1

Pengecatan List Plafond
3,795
m2
 Rp         23.725,00
 Rp         90.036,38
2

Pengecatan Dinding Tembok
252,620
m2
 Rp           8.756,50
 Rp     2.212.067,03
3

Pengecatan plafond Tripleks
56,170
m2
 Rp         12.630,00
 Rp        709.427,10
4

Pengecatan kusen, daun pintu dan rangka jendela
25,737
m2
 Rp         23.725,00
 Rp        610.610,33






sub total

 Rp     3.622.140,83









IX

Pekerjaan Instalasi Listrik





1

Penyambungan Lisrik

1,00
unit
 Rp   2.500.000,00
 Rp   2.500.000,00
2

Pasang Box Panel

1,00
unit
 Rp        314.130,00
 Rp        314.130,00
3

Pekerjaan Ground Panel
1,00
unit
 Rp     200.000,00
 Rp     200.000,00
4

Pasang Kabel Puding
1,00
ls
 Rp       90.000,00
 Rp       90.000,00
5

Armatur







-
Lampu tanam SL 18 watt
6,00
ttk
 Rp        114.250,00
 Rp      685.500,00

-
Lampu tanam SL 14 watt
4,00
ttk
 Rp        110.750,00
 Rp     443.000,00

-
Pas. Saklar ganda

3,00
ttk
 Rp       102.500,00
 Rp      307.500,00

-
Pas. Saklar tunggal

3,00
ttk
 Rp      100.000,00
 Rp     300.000,00

-
Pas. Stop kontak

5,00
ttk
 Rp      100.000,00
 Rp     500.000,00






sub total

 Rp     5.340.130,00









X

Pekerjaan Sanitair






1

Pek. Instalasi Air Bersih Pipa Gip Ø3/4"
10,00
m1
 Rp         89.315,00
 Rp       893.150,00
2

Pek. Instalasi Air Hujan Pipa PVC Ø2"
10,50
m1
 Rp        92.964,00
 Rp        976.122,00
3

Pek. Instalasi Air Kotor Padat Pipa PVC Ø4"
2,00
m1
 Rp       512.209,00
 Rp     1.024.418,00
4

Pek. Pasang Stop Kran Air  Ø1 1/2"
2,00
bh
 Rp         32.587,50
 Rp          65.175,00
5

Pek. Wash Bak Cuci

1,00
bh
 Rp      503.930,00
 Rp      503.930,00
6

Pek. Pasang Kloset Duduk
1,00
bh
 Rp     1.364.150,00
 Rp     1.364.150,00
7

Pek. pasang Floor Drain
1,00
bh
 Rp        85.000,00
 Rp        85.000,00
8

Pek. Pasang Mesin Pompa Sanyo
1,00
Ls
 Rp     500.000,00
 Rp     500.000,00
9

Pek. Pasang Sumur Bor
1,00
Ls
 Rp  3.000.000,00
 Rp  3.000.000,00






sub total

 Rp     8.411.945,00













































REKAPITULASI

ENGINEERING ESTIMATE










PROGRAM
:
Pembangunan 1 Unit Rumah Type 45 M2



KEGIATAN
: 
Pembangunan Perumahan




LOKASI
: 
Kota Jayapura - Kotaraja













No
Uraian
Jumlah









A.


PEKERJAAN GUEST HOUSE







I
Pekerjaan Persiapan




 Rp    2.449.660,00
II
Pekerjaan Tanah, Pasir dan Pondasi



 Rp   33.533.645,49
III
Pekerjaan Beton




 Rp   19.841.683,71
IV
Pekerjaan Lantai dan Dinding



 Rp   27.323.437,83
V
Pekerjaan Kayu




 Rp    9.549.749,73
VI
Pekerjaan Penggantung



 Rp    1.688.103,00
VII
Pekerjaan Atap





 Rp   12.521.995,08
VIII
Pekerjaan Pengecatan



 Rp    3.622.140,83
IX
Pekerjaan Instalasi Listrik



 Rp    5.340.130,00
X
Pekerjaan Sanitair




 Rp    8.411.945,00







JUMLAH  
 Rp 124.282.490,67















REAL COST

 Rp  124.282.490,67





TOTAL 1 UNIT RUMAH
 Rp  124.282.490,67






DIBULATKAN

 Rp  124.282.400,00











Terbilang:
Seratus Dua Puuluh Empat Juta Dua Ratus Delapan Puluh Dua Ribu Empat Ratus Rupiah.

























Jayapura,20 Agustus 2014



































































JUAN VICKEY PASASSA























         Oke sahabat sipil, saya rasa contoh di atas cukup untuk membantu anda mengenali gambaran dari  Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) rumah Type 45. Ini hanya contoh sederhana saja karena Rencana Anggaran Biaya yang sebenarnya anda  akan temui jika anda telah mengerjakan proyek pembangunan yang sesungguhnya. Dalam hal ini, saya hanya memberikan contoh kecil, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi Anda. Demikianlah Contoh Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) rumah yaitu dalam contoh ini saya menampilkan contoh dengan objek rumah sederhana yakni type 45. Mudah-mudahan bermanfaat. Syalom, Terimakasih.

Lihat juga artikel mengenai:
CONTOH DAFTAR HARGA SATUAN dan UPAH KERJA dan ANALISA...

CONTOH DAFTAR ANALISA HARGA SATUAN PEKERJAAN

CONTOH PENGHITUNGAN VOLUME PEKERJAAN

CONTOH RENCANA ANGGARAN BIAYA MCK UMUM

CARA MENGHITUNG VOLUME PEKERJAAN PERSIAPAN RENCANA ANGGARAN BIAYA BANGUNAN


CONTOH RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB) RUMAH TYPE 120
 Follow My Instagram
Instagram