Showing posts with label METODE. Show all posts
Showing posts with label METODE. Show all posts

PENYELESAIAN CONTOH SOAL ANALISA STRUKTUR BATANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE RITTER

IlmuDasarDanTeknik.*_Oke teman-teman seperjuangan Anak Teknik Khususnya Teknik Sipil, Kali ini Kita akan membahas penyelesaian dari contoh Soal #DARI POSTINGAN SEBELUMNYA# Mengenai Analisa Struktur Rangka Batang Dengan Mengunakan Metode Ritter atau bahasa mudahnya metode potongan Batang. Kalau Begitu kita Langsung Saja!

 SOAL

Nih Soalnya!
Diketahui suatu kontruksi rangka batang ABCDEFGHIJKL dengan batang vertikal dan batang horisontal masing-masing sepanjang 4 m dengan gaya P1 = 8 kN, P2 =10 kN, dan P3 = 12 kN. Dengan menggunakan Metode Ritter, hitunglah besarnya gaya-gaya batang yang bekerja pada kontruksi rangka batang tersebut. S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21. Seperti terlihat pada gambar berikut:




Rangka Batang

Gimana?
Udah Lihat Soalnya?
Sekarang kita Coba Selesaikan ya.

PENYELESAIAN 

Dalam Menyelesaikan Soal di atas maka berikut langkah Langkahnya
Karena Batang yang akan kita Analisa adalah S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21 maka kita bisa menggambar potongannya seperti berikut:
Potongan Batang

Setelah kita Gambarkan potongannya, maka Langkah selanjutnya adalah Menghitung reaksi perletakan seperti berikut:


Menghitung reaksi perletakan


∑MB=0    VA.12-8.12-10.10-12.8-12.6-12.4-10.2=0
Didapatkan VA =36 kN
Jika kita lihat bentuk rangka batang di atas yang simetris maka dapat kita simpulkan VB = VA = 36 kN. Tetapi untuk dapat mengetahui lebih jelas maka tidak ada salahnya kita juga menghitungnya seperti berikut:
∑MA=0    VB.12-8.12-10.10-12.8-12.6-12.4-10.2=0
Didapatkan VB =36 kN
Untuk mengeceknya seperti berikut:
∑V=0     VA+VB-8-10-12-12-12-10-8=0         cek ok!


Menghitung gaya-gaya batang pada potongan.


Setelah menghitung reaksi perletakannya maka kita sudah bisa menghitung gaya- gaya batang pada setiap potongannya. Sesuai Gambar Potongan di atas maka kita menentukan menjadi tiga potongan yaitu, potongan i-i, potongan ii-ii, dan potongan iii-iii. Jadi, mari kita hitung gaya-gaya pada potongan satu per satu. Seperti kita ketahui bahwa menghitung gaya batang dengan metode ritter dapat kita lakukan tanpa menghitung dari ujung jadi langsung di batang yang ingin kita cari saja, seperti berikut:

1. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan i-i:

Potongan i-i
a. Menganalisa Momen Pada Titik F.
∑MF=0    VA.4-P1.4-P2.2+S4 Cos 26,565°.4=0
36.4-8.4-10.2+S_4 Cos 26,565°.4=0
92+S4 Cos 26,565°.4=0
S4 Cos 26,565°.4=-92
S4=-25,714 kN  (batang tekan)
Didapatkan S4=-25,714 kN yang adalah batang tekan
b. Menganalisa Momen Pada Titik C.
∑MC=0    VA.2-P1.2-S6.3=0
36.2-8.2-S6.3=0
56-S6.3=0
-S6.3=-56
-S6=-18,667
S6=18,667 kN  (batang tarik)
Didapatkan S6=18,667 kN yang merupakan batang tarik.
 c. Menganalisa Momen Pada Titik E.
∑ME=0    VA.4-P2.2-P1.4-S5 Cos 56,309°.4-S6.4=0
36.4-10.2-8.4-S5 Cos 56,309°.4-18,67.4=0
-S5 Cos 56,309°.4-17,32=0
-S5 Cos 56,309°.4=17,32
-S5=-7.806 kN
S5=7.806 kN (batang tarik)
Didapatkan S5=7.806 kN yang merupakan batang tarik.

2. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan ii-ii:


Potongan ii-ii
a. Menganalisa Momen Pada Titik J
 ∑MJ=0   -VB.4+P2.2+P1.4-S12.4=0
-36.4+10.2+8.4-S12.4=0
-92-S12.4=0
-S12.4=92
-S12=23
S12.=-23 kN  (batang tekan)
Didapatkan S12.=-23 kN  yang merupakan batang tekan.
b. Menganalisa Momen Pada Titik E
∑MH=0    -VB.6+P2.4+P1.6+P3.2-S12.4-S13.Sin 63,435°.2=0
-VB.6+P2.4+P1.6+P3.2-S12.4-S13.Sin 63,435°.2=0
-36.6+10.4+8.6+12.2-(-23).4-S13.Sin 63,435°.2=0
-12-S13.Sin 63,435°.2=0
-S13.Sin 63,435°.2=12
-S13=6.708
S13=-6.708 kN  (batang tekan)
Didapatkan S13=-6.708 kN  yang batang tekan
 c. Menganalisa Momen Pada Titik G
∑MG=0    -VB.6+P1.6+P2.4+P3.2+S14.4=0
-36.6+8.6+10.4+12.2+S14.4=0
-104+S14.4=0
S14.4=104
S14=26 kN  (batang tarik)
Didapatkan S14=26 kN  yang merupakan batang tarik.

 3. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan iii-iii:



Potongan iii-iii
 a. Menganalisa Momen Pada Titik L
∑ML=0    -VB.2+P1.2-S20.Sin 56,309.2=0
-36.2+8.2-S20.Sin 56,309.2=0
-56-S20.Sin 56,309.2=0
-S20.Sin 56,309.2=56
-S_20=33,63 → S20=-33,65 kN  (batang tekan)
Didapatkan S20=-33,65 kN  yang merupakan batang tekan
b. Menganalisa Momen Pada Titik K
∑MK=0    -VB.2+P1.2+S21.3=0
-36.2+8.2+S21.3=0
-56+S21.3=0
S21.3=56
S21=18,67 kN  (batang tarik)
Didapatkan S21=18,67 kN  yang merupakan batang tarik.


Tabulasi Besarnya Gaya-gaya Batang 


Darai Hasil Analisa kita menggunakan metode ritter di atas maka hasilnya dapat kita lihat pada tabel berikut:
Gimana Kawan? Udah Puas dengan jawabannya? Atau ada kekurangan, masukan, pertanyaan atau lain-lain? Silahkan Isi di Kolom Komentar! Jadi Demikianlah postingan kali ini mengenai penyelesaian analisa struktur batang dengan menggunakan metode Ritter atau potongan batang. Semoga bermanfaat. Terimakasih.....
Oh iya teman-teman Jika berkenan Silahkan Ikuti Instagram Saya 👇
 Follow Me
Instagram

ANALISA STRUKTUR RANGKA BATANG DENGAN METODE RITTER

IlmuDasarDanTeknik*_Sekarang sudah memasuki pertengan tahun 2018, namun belum satu pun postingan keren tentang teknik sipil yang bisa saya posting. Baru sekarang inilah saya busa menemukan Materi yang lumayan kerenlah yakni mengenai "Lihat Judul Dong Boss!" Hehehe ya tepat sekali yaitu menganalisa struktur rangka batang menggunakan metode ritter. Gimana, Keren Kan? Oke Kita Langsung Saja.....
KONSEP DASAR METODE RITTER
Metode Ritter atau yang sering deikenal dengan nama lain Metode Potongan Batang merupakan salah satu metode yang cukup Praktis dalam menghitung Batang pada Struktur rangka Batang. Konsep dasar dalam perhitungan besarnya gaya-gaya batang pada kontruksi rangka batang statis tertentu dengan menggunakan Metode Ritter adalah memutus konstruksi rangka batang tersebut menjadi dua bagian dengan memotong batang-batangnya. Pemotongan batang-batang tersebut diupayakan maksimal memotong maksimal 3 batang yang tidak bertemu dalam satu titik simpul. Pemotongan tersebt dilakukan terhadap batang-batang yang akan dihitung besarnya gaya-gaya batangnya. Perhitungan gaya-gaya batang ditentukan berdasarkan analisis keseimbangan momen (∑M =0). Batang yang terpotong dimisalkan sebagai batang tarik, dimana apabila hasil perhitungan menunjukkan nilai positif maka pemisalan tersebut benar, sedangkan apabila hasil perhitungan menunjukkan nilai negatif maka batang yang dimisalkan adalah batang tekan.
KELEBIHAN METODE RITTER
Kelebihan dari Metode Ritter dibandingkan metode-metode yang yang lain misalnya seperti Metode Titik Buhul dan Metode Cremona adalah bahwa dengan metode Ritter ini dapat melakukan perhitungan gaya-gaya batang langsung ke batang yang diinginkan tanpa harus menghitung berurutan dari tepi kiri maupun kanan dari batang-batang pada kontruksi rangka batang. Misalnya apabila diinginkan untuk menghitung besarnya gaya-gaya batang pada bagian tengah kontruksi, maka gaya-gaya batang tersebut bisa langsung dihitung.
LANGKAH LANGKAH PENYELESAIAN METODE RITTER
Adapun Langkah-langkah penyelesaian untuk menentukan besarnya gaya-gaya batang pada konstruksi rangka batang dengan menggunakan Metode Ritter adalah sebagai berikut :
1. Memeriksa apakah konstruksi rangka batang adalah struktur statis tertentu sehingga gaya-gaya batang pada kontruksi rangka batang dapat diselesaikan secara statis tertentu.
2. Menentukan gaya-gaya reaksi yang ada pada perletakan konstruksi rangka batang status tertentu dengan cara seperti pada balok/gelar sederhana.
3. Gaya-gaya luar yang bekerja pada kontruksi rangka batang didistribusikan pada tiap titik simpul. Apabila terdapat gaya luar yang bekerja pada sebuah batang atau tidak tepat pada titik simpul, maka gaya tersebut harus didistribusikan pada titik-titik simpul pada batang tersebut.
4. Menggambarkan potongan pada kontruksi rangka batang statis tertentu yang kan dihitung gaya-gaya batangnya, yang sedapat mungkin dilakukan pemotongan dengan memotong maksimal 3 buah batang (yang belum diketahui besar gayanya). Apabila dilakukan perhitungan gaya batang untuk seluruh batang pada suatu konstruksi rangka batang statis tertentu dengan bentuk yang simetris, pemotongan dari bagian kiri dan kanan disarankan dengan pola yang sama.
5. Menghitung besarnya gaya-gaya batang berdasarkan keseimbangan momen ∑M = 0
6. Merekap besarnya gaya-gaya batang dalam bentuk tabulasi
CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN METODE RITTER
Diketahui suatu kontruksi rangka batang ABCDEFGHIJKL dengan batang vertikal dan batang horisontal masing-masing sepanjang 4 m dengan gaya P1 = 8 kN, P2 =10 kN, dan P3 = 12 kN. Dengan menggunakan Metode Ritter, hitunglah besarnya gaya-gaya batang yang bekerja pada kontruksi rangka batang tersebut. S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21. Seperti terlihat pada gambar berikut:

Gimana Soalnya? Keren gak?
Langsung Saja kita buat Penyelesaiannya! Berikut:
PENYELESAIAN
Dalam Menyelesaikan Soal di atas maka berikut langkah Langkahnya
Pertama kita tentukan Dulu Potongan batangnya, seperti pada gambar berikut:
Potongan Batang

Tapi Eits...... Sabar Dulu yaa! Penyelesaiannya ada di Postingan Berikutnya! #KLIK DI SINI!# Hehehe Sory yah!
Oke, Demikianlah Postingan saya mengenai Analisa Struktur Rangka Batang Menggunakan Metode Ritter. Semoga Bermanfaat. Terimakasih...
 Follow Me
Instagram

PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN DAN JENISNYA

PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Suatu konstruksi direncanakan untuk suatau keperluan tertentu. Tugas utama suatu konstruksi adalah mengumpulkan gaya akibat muatan yang bekerja padanya dan meneruskannya ke bumi. Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik maka konstruksi harus berdiri dengan kokoh. Semua beban yang diterimanya akan diteruskan ke bumi melalui sesingkat-singkatnya. Bagian yang meneruskan beban itulah yang disebut perletakan/dudukan. Selain meneruskan beban, perletakan juga akan memikul konstruksi tersebut. Perletakan bisa berupa sebuah pondasi.
Dalam memberikan perletakan, harus dipertimbangkan dengan baik agar mekanisme pendukungan dan penyaluran beban ke bumi terjadi dengan baik. Hal yang harus dipertimbangkan adalah stabilitas konstruksi. Suatu konstruksi akan stabil bila konstruksi diletakkan di atas pondasi yang baik. Pondasi akan melawan gaya aksi yang diakibatkan oleh muatan yang diteruskan oleh konstruksi kepada pondasi. Gaya lawan yang ditimbulkan pada pondasi disebut : Reaksi. Dalam kasus ini pondasi digambarkan sebagai perletakan.

JENIS-JENIS PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Berikut ini diuraikan tiga jenis perletakan yang merupakan jenis perletakan yang umum digunakan. Yaitu perletakan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horizontal.

PERLETAKAN SENDI

Perletakan Sendi, yaitu perletakan terdiri dari poros dan lubang sendi. Pada perletakan demikian dianggap sendinya licin sempurna, sehingga gaya singgung antara poros dan sendi tetap normal terhadap bidang singgung, dan arah gaya ini akan melalui pusat poros.

Sifat Teknis

Perletakan sendi mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi  dua arah : Vertikal dan Horisontal
b. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN ROLL

Perletakan Roll yaitu perletakan yang selalu memiliki lubang sendi. Apabila poros ini licin sempurna maka poros ini hanya dapat meneruskan gaya yang tegak lurus bidang singgung di mana poros ini diletakkan. 

Sifat Teknis

Perletakan Roll mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi satu arah saja : VERTIKAL
b. Tidak dapat menahan gaya HORISONTAL, sehingga dapat berpindah pada arah horizontal agar balok tidak patah karena memuai.
c. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN JEPIT

Perletakan Jepit adalah perletakan yang menciptakan kondisi kaku/monolit. Perletakan ini seolah-olah dibuat dari balok yang ditanamkan pada perletakannya, demikian sehingga mampu menahan gaya-gaya maupun momen dan bahkan dapat menahan torsi.

Sifat Teknis

Perletakan Jepit  mempunyai sifat teknis :
Mampu menahan Momen, Gaya Horizontal dan Gaya Vertikal sehingga tidak bergerak arah horisontal, vertikal dan juga tidak berputar. Sering juga disebut perletakan KAKU.

PERLETAKAN PENDEL

Perletakan pendel yaitu suatu perletakan yang titik tangkap dan garis kerjanya berimpit. 


Garis kerja reaksi pada batang pandel berhimpit dengan batang itu sendiri, memberi peluang berputar ke segala arah

Sebuah konstruksi dapat didudukkan di atas satu atau lebih perletakan. Jenis perletakannya adal seperti di atas dan dapat dikombinasikan satu sama lain. Namun dalam mengkombinasikannya, harus dipertimbangkan kestabilannya. Syarat kestabilan adalah jumlah reaksinya tidak boleh kurang dari 3 ( tiga ). Konstruksi Labil bila n < 3 dimana n adalah bilangan reaksi pada perletakan. Contoh :
   



TINJAUAN UMUM (KONDISI GEOGRAFI, TOPOGRAFI, GEOLOGI REGIONAL, KEGEMPAAN (EARTH QUAKE) DAN IKLIM) LOKASI PROYEK

            Bagian ini merupakan laporan lanjutan dari suatu Laporan Antara suatu proyek atau pekerjaan penanganan Jalan. Kalau sebelumnya kita belajar mengenai
Laporan Antara Pendahuluan, kini kita akan mempelajari Contoh Lanjutan dari Laporan Antara yakni Tinjauan Umum dimana kita akan menjelaskan mengenai Kondisi Geografi, Topografi dan iklim. selain itu ada juga Kondisi Geologi regional dan Kegempaan. Untuk lebih jelasnya silahkan lanjutkan baca di bawah ini. Selamat membaca!
  •                KONDISI GEOGRAFI, TOPOGRAFI, DAN IKLIM


            Secara geografis lokasi kegiatan terletak pada koordinat 138°05’ - 140°30’ bujur timur dan 1°35’ – 3°35’ lintang selatan, dengan arah relatif memanjang Timur - Barat. Lebih dari setengah lokasi kegiatan (±72,3%) berada pada morfologi dataran pantai dan rawa dengan ketinggian <50 150="" 50="" antara="" atas="" berada="" bergelombang="" bonggo="" dan="" dengan="" di="" distrik="" guay="" ketinggian="" laut="" m="" meter="" morfologi="" o:p="" pada="" perbukitan="" permukaan="" sarmi.="" sarmi="" sedangkan="" timur.="" timur="" unurum="" wilayah="" yaitu="">
           Keadaan iklim Kabupaten Sarmi Tahun 2011 berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura menunjukkan bahwa temperatur rata-rata berkisar 21,9ºC sampai dengan 32,7ºC. Kelembaban udara mencapai 85,3% dengan curah hujan rata-rata 145/14 CC/HH (Curah Hujan/Hari Hujan).

Gambar 2-1. Peta terrain lokasi kegiatan
(Sumber peta : SRTM Papua, 2011)



Gambar 2-2. Peta kontur topografi kabupaten Sarmi dan sekitarnya
(Sumber peta : DITTOP TNI-AD, 2011)

  •                 KONDISI GEOLOGI REGIONAL


                1. Geomorfologi Regional
            Lokasi kegiatan sebagian besar (± 85%) berada pada wilayah kabupaten Sarmi, sedangkan hanya ± 15% berada pada wilayah kabupaten Jayapura.
Morfologi kabupaten Sarmi dan sekitarnya tersusun oleh morfologi dataran rawa dan pantai, morfologi dataran alluvial, morfologi perbukitan, dan morfologi pegunungan.
Morfologi dataran pantai dan rawa menempati ± 15% dari luas wilayah kabupaten Sarmi  dengan relief datar hingga miring landai dan memiliki elevasi berkisar antara 0 – 15 meter diatas permukaan laut (dpl). Pantai-pantai di wilayah Sarmi merupakan pantai terbuka yang berhadapan langsung dengan samudera Pasifik dengan panjang garis pantai ± 185 km, hal ini menjadikan Sarmi sebagai kabupaten di pulau Papua yang memiliki garis pantai terpanjang. Beberapa pulau yang menyebar dari barat ke timur di kawasan perairan antara lain pulau Liki, pulau Nimumoar, pulau Ansamanuar, pulau Vangumuar, pulau Insumuar, pulau Insumanai, kepulauan Wakde, pulau Masimasi, pulau Yamna, dan kepulauan Podena. Rawa-rawa menyebar dari timur hingga barat sepanjang kawasan pantai. Kawasan morfologi pantai dan rawa banyak dimanfaatkan untuk permukiman, perkebunan, pertanian, dan perikanan.
            Morfologi dataran alluvial menempati ± 37% dari luas wilayah kabupaten Sarmi dengan relief datar hingga miring landai dan memiliki elevasi berkisar antara 0 – 120 meter dpl, kawasan ini diberi nama berdasarkan jenis material penyusun berupa endapan alluvial. Morfologi ini berkembang disepanjang daerah aliran sungai Apauwer, sungai Orey, sungai Tor, sungai Bier, dan sungai Biri, serta sungai-sungai kecil lainnya. Kawasan ini sebagian besar masih berupa hutan, hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk pemukiman oleh penduduk setempat.
Kawasan perbukitan menempati ± 30% dari luas wilayah kabupaten Sarmi dengan relief miring bergelombang hingga terjal dan memiliki elevasi antara 5 – 600 meter dpl. Kawasan ini sebagian besar berupa hutan dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemukiman dan perladangan, serta dimanfaatkan oleh pemerintah untuk lokasi perkantoran seperti yang ada di kawasan Kota Baru Petam.
           Sedangkan kawasan pegunungan berada di bagian selatan dan menempati ± 18% dari luas wilayah Kabupaten Sarmi dengan relief terjal hingga sangat terjal dan memiliki elevasi antara 600 - 1800 meter dpl. Kawasan ini terdiri dari pegunungan Irier, pegunungan Siduarsi, pegunungan Gauttier, dan pegunungan Foja yang semuanya merupakan kawasan konservasi atau kawasan non-budidaya.
           Pola aliran sungai di wilayah kabupaten Sarmi terdiri dari pola aliran dendritik, pola aliran subparalel, dan pola aliran trelis. Pola aliran dendritik lebih banyak berkembang dan dibentuk oleh sungai-sungai utama antara lain sungai Tor, sungai Apauwer, sungai Biri, sungai Bier, sungai dan Orey. Pola aliran subparalel terutama berkembang pada sungai-sungai kecil yang mengalir masuk ke sungai-sungai utama, seperti sungai Munuk, sungai Tanepa, dan sungai Mimiri. Sedangkan pola aliran trelis lebih berkembang pada sungai-sungai yang mengalir disebelah utara dan selatan kawasan pegunungan Gauttier dan pegunungan Foja.

               2. Stratigrafi Regional
         Stratigrafi regional daerah Sarmi dan sekitarnya menurut S. Gafoer, dkk, 1995 (Peta Geologi Lembar Sarmi dan Bufareh Skala 1 : 250.000) terdiri atas 13 formasi batuan yang berumur mulai dari Mesozoikum (Kapur) yaitu batuan Mafik/Ultramafik sampai Kuarter (Holosen) berupa endapan Aluvium. Adapun tataan stratigrafi mulai dari yang berumur tua hingga berumur muda adalah sebagai berikut :
1.            Batuan Mafik / Ultramafik (m/um); Terdiri dari gabro, serpentinit, dan batuan terserpentinitkan. Tergerus dan terbreksikan. Bersentuhan sesar dengan batuan lain. Umur diperkirakan lebih tua dari Kapur Akhir. Penyebaran formasi ini berada di sebelah timur lembar peta.

2.            Formasi Auwewa (Tema); Terdiri dari lava, breksi, tuf kristal gampingan dan sisipan grewake, kalsilutit, kalkarenit serta batugamping koral. Lava bersusunan basal piroksen dan basal olivine piroksen sampai andesitan, sebagian berupa spilit. Berstruktur bantal dan amigdaloid.  Fosil koral dan foram besar dalam batugamping. Umurnya diperkirakan Eosen sampai Miosen Awal, diendapkan dalam lingkungan laut dangkal. Penyebaran formasi ini berada di bagian tengah lembar peta.

3.            Formasi Biri (Teob); Terdiri dari kalsilutit, serpih dan sisipan lava basal. Kompak, berurat kalsit dan terhablur ulang. Sebagian berlapis dan terbreksikan, terlipat kuat dan tercenangga. Lava basal berstruktur bantal dan kekar meniang (columnar joint). Tebal yang tersingkap 305 meter. Tidak dijumpai fosil. Umurnya diperkirakan Eosen - Oligosen, diendapkan dalam lingkungan litoral – neritik. Penyebaran formasi berada di sebelah selatan pegunungan Siduarsi di sebelah timur lembar peta.

4.            Formasi Darante (Tomd); Terdiri dari kalkarenit, batugamping koral dan sisipan batuan gunungapi. Tidak berlapis, setempat berstruktur terumbu, kepingan rijang dan gejala penghabluran ulang. Batuan gunung api berupa lava amigdaloid dengan vesikular terisi zeolit, breksi serta sisipan batupasir tufan.  Setempat konglomerat alas dengan komponen batuan ultramafik dan semen gampingan. Tebal mencapai 850 meter atau lebih. Fosil koral ganggang, foram besar dan kecil. Umurnya Te – Tf1 (Oligosen Akhir – awal Miosen Tengah), diendapkan dalam lingkungan litoral – neritik. Penyebaran formasi ini sebagian besar berada pada kawasan pegunungan Foja di sebelah tenggara lembar peta, kawasan pegunungan Siduarsi di sebelah timur lembar peta, kawasan pegunungan Gauttier disebelah selatan lembar peta, dan beberapa di Aurimi di sebelah barat lembar peta, serta di sekitar pegunungan Irier disebelah utara tengah lembar peta.

5.            Formasi Makats (Tmm); Terdiri dari perselingan grewake, batulanau, batulempung, serpih dan napal; sisipan konglomerat dan batugamping. Berlapis baik, padat dank eras, konglomerat berkomponen utama batuan beku mafik, kalsilutit, dan batugamping malih. Terlipat kuat dan tersesarkan. Berupa sedimen tipe flysch dengan lapisan bersusun, lapisan halus sejajar dan konvolut. Tebal lebih dari 2000 meter. Mengandung fosil foram besar dan foram kecil. Umurnya Tf1 sampai Tf2-3 (bagian bawah Miosen Tengah sampai bagian bawah Miosen Akhir), diendapkan dalam lingkungan neritik. Penyebaran formasi ini berada di sebelah utara dan selatan pegunungan Foja disebelah tenggara lembar peta lalu menyebar ke arah baratlaut hingga di bagian barat Aurimi disebelah barat lembar peta.

6.            Formasi Aurimi dari Kelompok Mamberamo (Tmpa); Terdiri dari napal, kalkarenit, batupasir, batulanau dan batulempung. Setempat bersisipan batugamping napalan. Berlapis tipis – tebal, berstruktur nendatan, lapisan halus bergelombang, sejajar, konvolut dan silang siur. Kompak, getas, terlipat, tersesarkan dan setempat tergerus. Tebal 200 – 1300 meter. Banyak foram kecil, cangkang moluska dan ganggang. Umur N12 – N20 (Miosen akhir – Pliosen), diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dan paralis. Penyebaran formasi ini berada di sebelah utara kawasan pegunungan Gauttier dan puncak pegunungan Foja disebelah selatan hingga tenggara lembar peta, di kawasan pegunungan Irier disebelah utara tengah lembar peta, serta di pulau Liki dan pulau Nimumoar.

7.            Formasi Unk dari Kelompok Mamberamo (QTu); Tersusun oleh grewake, batulanau, batulempung, konglomerat, dan sisipan lignit. Berlapis, lunak, agak kompak; mengandung kuarsa, mika, felspar, kepingan batuan, karbonan dan gampingan. Berstruktur lapisan bersusun, silang siur, sejajar dan liang bekas binatang. Tebal mencapai 1500 meter. Fosil foram kecil dan moluska. Umur N21 – N23 (Pliosen akhir – Plistosen), diendapkan dalam lingkungan laut dangkal sampai laut agak dalam. Penyebaran formasi ini menempati 60% dari luas lembar peta yang tersebar disebelah tenggara menerus hingga barat daya lembar peta lalu membelok ke utara dan timur lembar peta, serta bagian tengah lembar peta.

8.            Batuan Campur Aduk (Qc); Terdiri dari lempung tergerus, lumpur dengan bongkah/kepingan batuan yang lebih tua yang berasal dari formasi-formasi Unk (QTu), Aurimi (Tmpa), Makats (Tmm), Darante (Tomd), Auwewa (Tema), Biri (Teb), dan batuan mafik/ultramasik (m/um). Diduga terbentuk secara tektonika pada Plistosen – Holosen. Penyebarannya berada di bagian tengah lembar peta mulai dari timur menerus hingga ke barat.

9.            Formasi Kukunduri (Qpk); Terdiri dari konglomerat, pasir dan lempung atau lempung pasiran, tidak mampat, mengandung sisa tumbuhan. Tebal 50 – 100 meter. Tak dijumpai fosil, umurnya diperkirakan Plistosen. Penyebaran formasi ini berada di sekitar Segar Mebor disebelah selatan lembar peta dan disebelah barat sungai Apawer dan sekitar Wamariri disebelah barat lembar peta.

10.          Formasi Jayapura (Qpj); Terdiri dari batugamping terumbu dengan sisipan sisipan konglomerat aneka bahan, kalkarenit, kalsirudit, kalsilutit. Bertopografi kars, terlipat lemah dengan kemiringan 5º-15º, struktur silang siur dan lapisan sejajar, tebal ± 75 meter. Konglomerat biasanya berada di bagian bawah, berkomponen terutama batulempung dan batugamping hablur. Fosil umumnya koral dan ganggang, umurnya Plistosen. Penyebaran formasi ini berada sekitar Sawar hingga Bageserwar dan pulau-pulau diwilayah peraian disebelah utara lembar peta, serta  di sekitar Sewan di sebelah timur tengah lembar peta.

11.          Endapan Lumpur (Qmd); Terdiri dari leleran lumpur dan lempung, lembek, dengan kepingan/bongkahan batuan yang keluar dari poton. Beberapa poton masih giat, sebagian mengandung gas (metan, nitrogen, CO2), garam dan hidrokarbon.  Tinggi kerucut poton mencapai 110 meter, garis tengah beberapa kilometer, umur diduga Holosen. Penyebarannya berada di sebelah utara kawasan pegunungan Karamof disebelah timur lembar peta, di sekitar Gerung di sebelah selatan lembar peta, serta di sebelah barat gunung Pipirai di sebelah barat tengah lembar peta.

12.          Batugamping Koral (Qcl); Terdiri dari terumbu koral terangkat dan kepingan batugamping membentuk undak-undak, tingginya mencapai 50 meter diatas muka laut. Penyebarannya berada di Kota Sarmi, disebelah utara lembar peta.

13.          Alluvium ( Qa ); Terdiri dari lempung, pasir dan kerikil, merupakan endapan sungai, pantai dan rawa. Penyebarannya berada di sebelah baratlaut, utara, timurlaut dan tengah lembar peta, menempati morfologi dataran.



Gambar 2-3.       Kolom statigrafi regional lokasi kegiatan
(Sumber Peta : Peta Geologi Regional Lembar Sarmi & Bufareh skala 1:250.000, PPPG )

                3. Struktur Geologi Regional dan Tektonika
             Struktur geologi yang berkembang di lembar Sarmi & Bufareh terdiri dari perlipatan dan sesar. Perlipatan berupa antiklin dan sinklin dengan sumbu berarah baratlaut-tenggara dan barat-timur. Sesar terdiri dari sesar turun, sesar naik dan sesar geser-jurus. Arah umum sesar naik dan turun adalah baratlaut-tenggara, barat-timur, dan baratdaya-timurlaut. Sesar geser-jurus umumnya berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Semua sesar memotong batuan berumur Tersier dan Kuarter meliputi jenis batuan sedimen klastika dan karbonat dan juga batuan ultramafik.
Poton banyak dijumpai disini, poton-poton tersebut erat hubungannya dengan struktur diapir yang dipengaruhi oleh kegiatan tektonika yang aktif sejak Plistosen hingga sekarang.
              Sarmi & Bufareh merupakan bagian dari kerak Samudera Pasifik yang bertubrukan dengan kerak Kontinen Australian sejak Oligosen yang menghasilkan Orogenesa Melanesia. Kegiatan tektonika terus berlangsung hingga Miosen-Pliosen, menghasilkan gerakan-gerakan tegak dan mendatar sebagai akibat interaksi orogenesa. Pada Plistosen sesar naik di zona Mamberamo terbentuk akibat dorongan lempeng Pasifik ke selatan dan poton-poton di sepanjang zona Mamberamo terbentuk. Berdasarkan data kegempaan, tektonika di lembar ini masih aktif hingga sekarang.



Gambar 2-4. Peta Geologi Regional Lokasi Kegiatan dan Sekitarnya
(Sumber Peta : Peta Geologi Regional Lembar Jayapura skala 1:250.000, PPPG)

  •                 KEGEMPAAN (EARTH QUAKE)


               Indonesia termasuk dalam wilayah yang sangat rawan bencana gempa bumi seperti halnya Jepang dan California karena posisi geografisnya menempati zona tektonik yang sangat aktif. Hal ini dikarenakan tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya saling bertemu di wilayah Indonesia serta membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang kompleks. Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng ini menempatkan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi. Tingginya aktivitas kegempaan ini terlihat dari hasil rekaman dan catatan sejarah dalam rentang waktu 1900-2009 terdapat lebih dari 50.000 kejadian gempa dengan magnituda M ≥ 5.0 dan setelah dihilangkan gempa ikutannya terdapat lebih dari 14.000 gempa utama (main shocks). Kejadian gempa utama dalam rentang waktu tersebut dapat dilihat dalam Gambar 2-5 yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti, dari katalog gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Nasional Earthquake Information Center U.S. Geological Survey (NEIC-USGS), beberapa katalog perorangan Abe, Abe dan Noguchi, serta Gutenberg & Richter, dan katalog Centennial dimana merupakan kompilasi katalog Abe, Abe & Noguchi, dan Newcomb & McCann.
Dalam gambar 2-5 menunjukkan bahwa lokasi sasaran kegiatan termasuk dalam wilayah sangat rawan bahaya gempa bumi dengan penyebaran pusat gempa yang agak rapat berdasarkan skala peta dengan kedalaman berkisar antara 0 – 50 meter (pusat gempa dangkal).  



Gambar 2-5. Peta Sebaran Episenter gempa utama di Indonesia dan
        sekitarnya untuk magnitude M≥ 5.0 yang dikumpulkan dari
        berbagai sumber rentang waktu tahun 1900 - 2009

               Dalam mengantisipasi bahaya gempa, pemerintah Indonesia telah mempunyai standar peraturan perencanaan ketahanan gempa untuk stuktur bangunan gedung yaitu SNI-03-1726-2002. Sejak diterbitkannya peraturan ini, tercatat beberapa gempa besar dalam 6 tahun terakhir, seperti gempa Aceh disertai tsunami tahun 2004 (Mw = 9,2), Gempa Nias tahun 2005 (Mw = 8,7), gempa Yogya tahun 2006 (Mw = 6,3), dan terakhir gempa Padang tahun 2009 (Mw = 7,6). Gempa-gempa tersebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur, serta dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Pencegahan kerusakan akibat gerakan tanah dapat dilakukan melalui proses perencanaan dan konstruksi yang baik dan dengan memperhitungkan suatu tingkat beban gempa rencana. Sehingga dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa perlu diketahui beban gempa rencana yang dapat diperoleh berdasarkan peta hazard gempa Indonesia.
Indonesia pertama kali mempunyai peta hazard gempa pada tahun 1983, yaitu dalam Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung (PPTI-UG 1983). Peta gempa ini membagi Indonesia menjadi enam zona gempa. PPTI-UG 1983 diperbaharui pada tahun 2002 dengan keluarnya Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002. Peraturan pengganti ini disusun dengan mengacu pada UBC 1997. Peta gempa yang ada dalam SNI 2002 tersebut berupa peta percepatan puncak atau Peak Ground Acceleration (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam masa layan bangunan 50 tahun atau bersesuaian dengan perioda ulang gempa 500 tahun.
               Standar perencanaan umumnya selalu diperbarui guna mengakomodir perkembangan iptek dan data-data kejadian gempa terbaru. Dengan adanya kejadian gempa-gempa besar seperti gempa Aceh tahun 2004 maka sudah selayaknya peta gempa yang ada perlu direvisi. Dalam upaya merevisi peta gempa Indonesia ini dan untuk mengintegrasikan berbagai keilmuan terkait bidang kegempaan, maka pada tahun 2009 di bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum telah dibentuk Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 dengan susunan anggota sebagai berikut; Ketua Prof. Dr. Masyhur Irsyam (Geoteknik Kegempaan-ITB), Wakil Ketua Dr. Wayan Sengara (Geoteknik Kegempaan-ITB), Sekretaris Fahmi Aldiamar, MT. (Geoteknik Kegempaan-PU), dan anggota Prof. Dr. Sri Widiyantoro (Seismologi-ITB), Dr. Wahyu Triyoso (Seismologi-ITB), Dr. Danny Hilman Natawidjaja (Geologi Kegempaan-LIPI), Ir. Engkon Kertapati (Geologi-Badan Geologi), Dr. Irwan Meilano (Geodesi Kegempaan-ITB), drs. Suhardjono Dipl.Seis (Seismologi-BMKG), M. Asrurifak, MT. (Geoteknik Kegempaan-ITB), dan Ir. M. Ridwan, Dipl.E.Eng. (Geologi-PU).
              Dengan menggunakan pendekatan probabilitas, Tim telah menghasilkan peta PGA dan spektra percepatan untuk perioda pendek (0.2 detik) dan perioda 1.0 detik dengan kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun, 10% dalam 100 tahun, dan 2% dalam 50 tahun atau yang mewakili tiga level hazard (potensi bahaya) gempa yaitu 500, 1000 dan 2500 tahun. Hasil analisis dari masing-masing level hazard gempa ini ditampilkan dalam bentuk kontur. Peta Gempa Indonesia 2010 ini digunakan sebagai acuan dasar perencanaan dan perancangan infrastruktur tahan gempa termasuk pengganti peta gempa yang ada di Standard Peraturan Perencanaan Ketahanan Gempa Indonesia (SNI-03-1726-2002). Peta-peta Gempa Indonesia 2010 dapat dilihat dalam Gambar 2-6 – Gambar 2-14 berikut.



Gambar 2-6. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-7. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-8. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-9. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun



Gambar 2-10. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun



Gambar 2-11. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun




Gambar 2-12. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun



Gambar 2-13. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun




Gambar 2-14. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun


               Demikianlah beberapa pejelasan saya mengenai Tinjauan Umum suatu proyek dalam hal ini suatu kondisi yang kita lihat dari segi Geografi, Topografi dan iklim serta kondisi Geologi Regional dan Kegempaan suatu daerah yaitu target proyek yang berkaitan dalam suatu laporan Antara. Semoga ini bermanfaat, terimakasih.

DASAR PENGETAHUAN FISIKA BAHAN BANGUNAN.

Siapa di dunia ini yang tidak menginginkan bangunannya tahan dan awet? Apalagi jika orang itu mengerti tentang teknik, pastilah sangat memperhatikan bangunannya untuk masa yang panjang. Ketahanan atau keawetan sebuah bangunan sangat ditentukan oleh sifat-sifat dari alam yang secara alami mempengaruhi kondisi sebuah bangunan. Pada dasarnya bahan bangunan mengalami sifat fisika yang tentunya sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan  keawetan suatu bahan bangunan. Seperti sifat kekerasan, proses difusi air tanah dan kelembaban yang pada akhirnya mengakibatkan pengaruh merugukan pada bangunan. Sebelum membangun tidak ada salahnya jika kita memperhatikan dasar pengetahuan fisika pada bahan bangunan sebagai modal pengetahuan agar kita dapat mengetahui yang terjadi pada bangunan kita sehingga kita bisa mengantisipasi jauh sebelum terjadi. Oke, langsung saja baca di bawah ini.

Kekerasan Bahan Bangunan.

Kekerasan yang dimaksud disini adalah kekuatan suatu benda terhadap benda lain yang memaksa masuk kedalamnya. Dapat di uji sebagai berikut:

Kekerasan terhadap melusuhkan;

Kekerasan terhadap bola baja – Brinell;

Menrut Brinell kekerasan bahan bangunan ditentukan dengan sebuah bola baja diameter 10 mm yang ditekan dengan 29’420 N selama sepuluh detik. Perbandingan antara gaya tekan dengan permukaan yang tertekan ( sektor bola ) menentukan kekerasan Brinell (HB). 350 HB berarti kekerasan brinell setara dengan 350 N per milimeter bujursangkar.
Hal ini perlu kita ketahui supaya kita dapat mengenali kekerasan bahan yang kita akan gunakan agar kita dapat memilih bahan yang terbaik. Di sisi lain kita bisa mempertimbangkan situasi di sekitar kita terhadap bahan bangunan yang akan kita gunakan.

Kekerasan terhadap menggores – Mohs.

Menurut Mohs kekerasan ( terutama pada batu alam) dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Kekerasan 1 talkum dapat dikikis dengan kuku  jari;
  2. Kekerasan 2 gips dapat digores dengan kuku jari;
  3. Kekerasan 3 kapurspar dapat digores dengan uang logam;
  4. Kekerasan 4 flourspar dapat digores dengan sepotong kaca;
  5. Kekerasan 5 apatit mudah digores dengan pisau;
  6. Kekerasan 6 flespar sulit digores dengan pisau;
  7. Kekerasan 7 kuarsa menggores kaca;
  8. Kekerasan 8 topas menggores kuarsa dengan kesulitan;
  9. Kekerasan 9 korundumm memotong kaca;
  10. Kekerasan 10 intan memotong kaca.

Difusi Kelembaban dan Sifat Higroskopis Bahan Bangunan

Hampir semua bahan bangunan memungkinkan penyebaran kelembaban melalui sifat higroskopis bahan tersebut. Bahan bangunan dengan begitu dapat menerima dan menyampaikan kelembaban , berarti bisa mengisap, menyimpan, dan melepaskan air dalam keadaan cair atau gas.
Makin kecil pori-pori bahan bangunan makin besar daya menghisap air, dan makin besar pori-porinya makin mudah dapat diisi dengan air. Hal ini berarti bahwa air dapat masuk kedalam bahan bangunan melalui gravitasi (misalnya atap yang bocor), oleh tekan angin (misalnya pada tepi dinding atau atap yang terkena angin kencang), oleh kapilaritas (misalnya pada retak plesteran dinding atau kelembaban tanahyang dilalui trasraam yang tidak kedap air).
Difusi kelembaban dan sifat higroskopis bahan bangunan
a) melalui grafitasi air masuk ke pori-pori yang > 0,5 mm;
b)melalui tekanan angin jika ada celah > 5 mm;
c) melalui kapilarisasi air masuk ke dalam pori yang < 0,5 mm olehdaya isapan.
Sifat higroskopis bahan bangunan di inndonesia tidak begitu penting jika dihubungkan dengan suhu dan iklim di dalam ruang, akan tetapi bahaya berkaitan dengan kemampuan untuk menghisap kelembaban tanah dan menyalurkannya di dalam konstruksi dari bahan banguna tersebut.
Difusi kelembaban tanah dapat diatasi dengan menggunakan bahan bangunan yang sifat higroskopisnya tinggi, jika dapat dihindari bahwa bahan bangunan itu dapat menghisap air selain daripada kelembaban udara yang mengelilinginya, atau dengan menggunakan lapisan kedap air.
Lapisan kedap air dapat digunakan sebagai lapisan diantara sloof dan kaki dinding (trasraam) guna menghindari naiknya kelembaban tanah atau sebagai lapisan pada permukaan dinding ( cat dan lain sebagainya).
Berikut beberapa jenis lapisan kedap air yang dapat diterapkan pada bangunan:

Trasraam lapisan aspal (kertas aspal)

Trasraam lapisan aspal (atau kertas aspal) dapat digunakan diatas sloof beton bertulang (sloof harus kering, berumur minimum 14 hari) atau di bawah sloof konstruksi kayu (di atas lapisan mortar yang datar dan yang menutupi pondasi batu kali). Lapisan aspal tebalnya kurang lebih 2 milimeter, dapat dibuat dengan cara mengecat 2 hingga 3 kali dengan aspal panas (yang cair) atau dengan butimen / karet latex emulsion.

Karet trasraam (lembaran karet atau PE)

Karet trasraam (lembaran karet atau PE) dipotong sesuai dengan lebar sloof dan dipasang di atas sloof tersebut. Setiap sambungan karet Trasraam harus tumpang tindih minimum 10 centimeter. Pada angker dan sambungan tulangan kolom praktis, karet trasraam harus dilubangi sesuai dengan diameter besi yang dipergunakan (hal ini dapat dilakukan dengan mudah jika menggunakan karet, akat tetapi sangat sulit jika menggunakan lembaran PE, karena jika lubang terlalu besar maka trasraam tidak memenuhi syarat fungsi mencegah naiknya air tanah).

Trasraam seng papak

Pada trasraam ini penggunaan seng yang dipilih adalah seng yang tahan lama dari korosi atau anti karat, misalnya seng galvanisir dengan tebal( minimum BWG 24) sehingga juga mempunyai kegunaan lain yaitu keuntungan mencegah rayap.

Mortar emulsi

Mortar emulsi adalah mortar yang mutunya diperbaiki dengan bahan sintetis yaitu biasanya mortar semen yang ditambahkan dengan bahan sintesis, misalnya seperti calblack dan lain-lain. Dengan penambahan bahan sintetis ini mutu mortar akan bertambah baik sehingga mortar tahan retak (jadi elastis) dan kedap air. Dengan begitu trasraam dapat kita rencanakan seperti biasa.

Lapisan dinding dengan turap (plesteran)

Lapisan dinding dengan turap (plesteran) sebaiknya selalu dipilih sedemikian sehingga sifat higroskopis bahan bangunan dinding dan plesterannya jadi mirip. Kalau misalnya dinding tidak dilengkapi dengan trasraam yang kedap air, tetapi lapisannya dengan plesteran yang semennya memiliki daya kedap air yang tinggi, maka kelembaban tanah akan naik di dalam dinding bahkan bisa sampai di konstruksi atap.

Lapisan dinding dengan cat

Lapisan dinding dengan cat dapat menimbulkan kesulitan yang mirip dengan plesteran tersebut di atas. Cat sintetik bersifat agak kedap air dan memungkinkan saluran air sebanyak 2 sampai 9 gr/m2h, sedangkan cat rekat atau cat kapur mengizinkan 15 hingga 17 gr/m2h tembus.
1. kelembaban tanah tembus trasraam yang tidak kedap air;
2. turap yang kedap air. kelembaban tanah naik sampai konstruksi atap;
3. cat dinding yang kedap air. kelembaban dalam dinding mengakibatkan cat mengelupas.

Kelembaban bahan bangunan berdasarkan proses membangun.

Berdasakan kenyataan bahwa setiap penghuni menginginkan rumah kediaman yang aman dan kering, maka cara membangun yang umumnya digunakan adalah cara basah yang bertentangan dengan hasil yang diinginkan. Untuk itu supaya dalam membangun dengan hasil yang baik yang artinya sesuai keinginan, berikut saya sajikan tabel penggunaan air yang baik pada bangunan:

Bangunan
Penggunaan air
Beton kelas II, K-225
± 250 liter air/ m kubik
Dinding batu bata ketebalan 11,5 cm
± 42 liter air/m 2
Dinding conblock
± 5 liter air/m2
Turap (Plesteran) ketebalan ± 2 cm
± 12 liter air/m2

Jumlah air yang biasanya digunakan untuk membangun sebuah rumah biasa ( rumah type 36) ialah sekitar 28000 liter yang harus menguap sebelum rumah tersebut dianggap kering dan sehat untuk dihuni. Waktu menguap air tersebut tergantung dari cara membangun, iklim, ventilasi, dan kelembaban udara setempat. Sebagai perkiraan dasar dapat di anggapakan dibutuhkan selama 4 bulan.

Tentunya kita menginginkan suasana kering pada rumah kita, artinya rumah yang akan kita huni tidak berlebihan kelembaban. Karena jika kita lihat dari sudut pandang dunia kesehatan, Kelebihan kelembaban apa pun dalam iklim tropis lembab dapat mendorong pertumbuhan cendawan kelabu (aspergillus) yang dapat mempengaruhi kesehatan penghuni rumah karena dapat menimbulkan alergi bronkitis dan asma. Sangat mencemaskan bukan jika kita harus mengalami hal-hal seperti itu. Untuk itu dalam membangun rumah seharusnya gunakanlah cara yang tidak terlalu basah dan ada baiknya sebelum membangun kita memperhatikan hal-hal yang telah kita bahas di atas.
Demikian penjelasan mengenai dasar pengetahuan dasar fisika bahan bangunan atau kekerasan, difusi dan kelembaban pada berbagai jenis bahan bangunan. Semoga bermanfaat, syalom dan terimakasih.