Showing posts with label PEKERJAAN. Show all posts
Showing posts with label PEKERJAAN. Show all posts

Utilitas Bangunan : Sistem Telekomunikasi Bangunan Gedung

IlmuDasarDanTeknik.*_Dalam merancang suatu bangunan utamanya gedung yang berfungsi sebagai bangunan sarana umum hal yang perlu di perhatikan adalah utilitasnya. Berikut salah satu utilitas bangunan sipil yang juga menjadi perencanaan adalah sistem telekomunikasi Gedung, berikut ulasannya:
Ada dua macam Sistem telekomunikasi dalam gedung yang perlu kita perhatikan, yakni:

1.Sistem hubungan telepon

Sistem network atau hubungan telepon dalam suatu gedung / bangunan, yaitu :
- Hubungan eksternal
Berhubungan dengan nomor diluar yang tidak dalam ruang lingkup lingkunan sistem PABX sebagai sentral telepon dalam gedung baik panggilan masuk (incoming) atau panggilan keluar, seperti hubungan lokal, SLJJ, dan SLI.

A.Hubungan internal


Berhubungan masih dalam lingkungan sistem PABX sebagai sentral telepon antar sambungan cabang/ nomor extension yang satu dengan sambungan cabang/ nomor extension yang lain.
Perangkat atau peralatan-peralatan yang digunakan dalam jaringan telepon dalam gedung , yaitu :

1. Junction Box

     Kotak pembagi jaringan telepon yang berfungsi sebagai terminal telepon dari Telkom ke jaringan dalam gedung milik pribadi.

2. Panel incoming-outgoing

     Titik input Kotak Terminal Batas (KTB) dari jaringan Telkom menuju panel MDF.

3. MDF

Main Distribution Frame (MDF) yaitu panel atau kotak pembagi terminal utama/ induk jaringan telepon dalam gedung baik dari SST telkom menuju PABX atau pendistribusian jaringan extension ke ruangan-ruangan.

4. PABX

Private Automatic Branch Exchange (PABX) yaitu perangkat untuk memperbanyak atau menambah nomor SST Telkom menjadi nomor extension, sebagai sentral telepon dalam gedung yang mengatur lalu lintas komunikasi suara.

5. UPS

Unit Power Supply (UPS) yaitu catu daya listrik cadangan apabila daya listrik PLN mengalami pemadaman dan agar tegangan PABX tetap stabil 48 VDC.

6. Batere

Sumber listrik cadangan yang menggantikan sumber listrik PLN 48 VDC.

7. Arrester

Alat untuk melindungi peralatan telepon dari kerusakan akibat kejutan tegangan berlebih, terkena petir, short circuit.

8. Operator Console

Alat operator telepon yang merupakan pintu gerbang dalam melakukan komunikasi suara dapat mengatur lalu-lintas komunikasi suara, menghubungkan ke nomor yang akan dituju baik telepon masuk (Incoming) maupun telepon keluar (Outgoing) dan dalam lingkungan telepon intern.
Tipe operator console :
  •  Telephone Based
Menggunakan pesawat telepon digital sebagai operator console, dengan konsep yang praktis, common dan user friendly sehingga dapat memberikan pelayanan dengan cepat dan lebih cocok digunakan oleh perusahaan skala kecil dan menengah.
  • Computer Based
Operator console tipe ini menggunakan perangkat komputer yang dilengkapi multimedia system dan peralatan khusus. Konsep ini memiliki features yang lebih canggih dan diperuntukkan bagi perusahaan skala menengah dan besar.

9. Jaringan/ instalasi

Merupakan rangkaian penghubung peralatan-peralatan telepon yang membawa sinyal komunikasi seperti terminal-terminal, PABX, operator console, pesawat telepon, dll. Berupa pair-kabel atau sepasang kabel (1 pair berisi 2 kawat tembaga penghubung).

10. Roset

Adalah alat untuk menghubungkan jaringan/ instalasi telepon dengan kabel pesawat telepon. Berupa terminal penghubung Out Bow (OB) yang tidak ditanam di dinding dan terminal penghubung In Bow (IB) yang ditanam didinding.

11.Pesawattelepon

      Adalah alat yang digunakan untuk merubah suara menjadi sinyal komunikasi.

12. Billing System

     Billing system digunakan untuk memonitor biaya pemakaian telepon sehingga dapat mengontrol, menganalisa dan merencanakan biaya operasional khususnya pemakaian telepon. Dengan cara ini dapat melakukan efisiensi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan, misalnya seperti di hotel. Berikut ini adalah keperluan atau pencatatan yang dapat diperoleh dengan adanya billing system, yaitu :
  • Tanggal dan waktu panggilan terjadi
  • Nomor yang dipanggil
  • Nomor saluran cabang yang memanggil
  • Lama pembicaraan
  • Authorization code
  • Code account yang dibebankan
  • Dapat merekam semua pembicaraan lokal, nasional atau internasional

2. Sistem tata suara (sound system)

      Tata Suara adalah suatu teknik pengaturan peralatan suara atau bunyi pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rapat dan lain lain. Tata Suara memainkan peranan penting dalam suatu pertunjukan langsung dan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari Tata Panggung dan bahkan acara pertunjukan itu sendiri. Tata Suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan suara agar bisa terdengar kencang tanpa mengabaikan kualitas dari suara-suara yang dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon,kabel-kabel,prosesor dan efek suara, pengaturan konsul mixer, kabel-kabel, dan juga Audio Power amplifier dan Speaker-speakernya.
      Pekerjaan sistem tata suara atau sound system diantaranya meliputi pemasangan peralatan sentral sound system  yang terdiri dari unit sinyal suara (program source) dan penguat sinyal suara (audio amplifier), yang ditempatkan pada rak peralatan sentral sistem tata suara.

  1.         Peralatan Utama Sistem Tata Suara

     Peralatan utama sistem tata suara  diantaranya memenuhi  back ground musik dan pengumuman darurat / paging. Diantara pealatan utama dari sistem tata suara, adalah:
•         Micropone paging
•         Mixer
•         Power Amplifier
•         Ceiling speaker
•         Chyme microphone
•         Radio Tunner AM / FM
•         Caset dect
•         CD Player
•         Volume Control
•         Monitor unit

2.         Terminal Box & Sistem Perkabelan

Terminal box merupakan kotak penghubung antara peralatan utama dengan speaker. Kabel instalasi dari ceiling dan horn speaker di hubungkan melalui kabel instalasi melalui terminal box, dan dari terminal box  ke peralatan utama

Demikian Artikel yang saya bagikan mengenai Utilitas bangunan dalam hal sistem tekomunikasi gedung. Semoga bermanfaat.

TEKNIK BISNIS ONLINE INSTAN DAN BERHASIL

Di dunia yang serba canggih saat ini, manusia mulai mengembangkan banyak hal yang dikerjakan dengan instan. Mulai dari dunia pendidikan, kesehatan, bisnis, ekonomi, makanan dan banyak lagi. Orang mulai mencari cara agar apa yang mereka kerjakan dilaksanakan dengan waktu yang singkat dengan memberikan hasil yang cukup memuaskan atau sesuai dengan target. Dalam dunia pendidkan misalnya, kebanyakan saat ini orang tidak lagi membutuhkan sekolah yang formal. Pilihan utama mereka bukan lagi melanjutkan sekolah sampai jenjang yang tinggi, tapi mereka cukup sampai jenjang setingkat SMA atau SMK kemudian dilanjutkan dengan pengembangan diri melalui keterampilan. Hal ini ditujukan supaya mereka dengan mudah menemukan pekerjaan sesuai dengan bidang keterampilan yang mereka tekuni. Begitupun dengan banyak hal lainnya dilakukan dengan serba cepat dan tepat.
Kali ini saya akan menjelaskan tentang Teknik bisnis masa kini. Dari segi bisnis, kita tahu bahwa persaingan di pasar global sangatlah ketat, seakan-akan menerapkan hukum alam "siapa kuat dia menang, siapa cepat dia dapat". Nah begitulah gambaran tantangan bisnis masa kini yang semakin berkembang pesat.
Yang menjadi pokok penjelasan saat ini yaitu Teknik Bisnis Online. Jadi dalam berbisnis Online juga membutuhkan teknik yang harus kita ikuti, bukan asal-asalan saja, melainkan dibutuhkan kreativitas yang tinggi. Misalnya, anda ingin berbisnis online dengan menjual barang atau promosi barang. memang jika dipikir sepintas tidak ada susahnya. Namun ternyata tidak semudah itu, ada banyak hal yang perlu kita perhatikan antara lain riset pasar online, cara promosi,jenis produk dan lain sebagainya. Selain itu ada banyak hal yang memungkinkan kita mengeluarkan modal entah itu besar atau kecil tergantung dari pilihan kita, memang dimana-mana yang namanya bisnis butuh modal. Seperti contoh bisnis online pasti membutuhkan modal dasar seperti biaya akses internet, biaya promosi, pembelian domain dan lain sebagainya. Namun kembali lagi, jika anda menjalankan bisnis online anda dengan sungguh-sungguh, semua modal yang anda keluarkan akan kembali dengan keuntungan yang berkali lipat, Percaya!
Ada bisnis online yang memang membutuhkan biaya besar, tapi ada juga yang biayanya sedikit saja.
Misalnya www.kerjaberuntung.mprg.net ini hanya membutuhkan modal awal sekitar Rp.90 ribuan kemudian anda akan diberikan petunjuk, paket lengkap dan aplikasi Pengumpul Rupiah untuk menjalankan bisnis Anda. Dengan mengikuti Program ini di jamin binis online anda akan berhasil yang penting anda tekun dan megikuti setiap petunjuk yang diberikan. Anda akan memiliki kesempatan mendapatkan uang dengan kisaran 1-2 juta per hari dengan hanya membutuhkan waktu online kurang lebih 30 menit dalam satu hari.
Bisnis online dengan sistem PEGUMPUL RUPIAH ini cara kerja cukup mudah, instan dan modalnya kecil. Jadi apa salahnya mencoba menjalankan programnya hanya di www.kerjaberuntung.mprg.net maka anda akan menghasilkan tambahan rupiah untuk kantong anda.
Bisnis Oline bisa membuat anda kaya jika anda fokus dan meluangkan waktu khusus setiap hari sekitar setengah jam.
Saya Rasa demikianlah penjelasan saya. semoga bermanfaat.


PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN DAN JENISNYA

PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Suatu konstruksi direncanakan untuk suatau keperluan tertentu. Tugas utama suatu konstruksi adalah mengumpulkan gaya akibat muatan yang bekerja padanya dan meneruskannya ke bumi. Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik maka konstruksi harus berdiri dengan kokoh. Semua beban yang diterimanya akan diteruskan ke bumi melalui sesingkat-singkatnya. Bagian yang meneruskan beban itulah yang disebut perletakan/dudukan. Selain meneruskan beban, perletakan juga akan memikul konstruksi tersebut. Perletakan bisa berupa sebuah pondasi.
Dalam memberikan perletakan, harus dipertimbangkan dengan baik agar mekanisme pendukungan dan penyaluran beban ke bumi terjadi dengan baik. Hal yang harus dipertimbangkan adalah stabilitas konstruksi. Suatu konstruksi akan stabil bila konstruksi diletakkan di atas pondasi yang baik. Pondasi akan melawan gaya aksi yang diakibatkan oleh muatan yang diteruskan oleh konstruksi kepada pondasi. Gaya lawan yang ditimbulkan pada pondasi disebut : Reaksi. Dalam kasus ini pondasi digambarkan sebagai perletakan.

JENIS-JENIS PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Berikut ini diuraikan tiga jenis perletakan yang merupakan jenis perletakan yang umum digunakan. Yaitu perletakan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horizontal.

PERLETAKAN SENDI

Perletakan Sendi, yaitu perletakan terdiri dari poros dan lubang sendi. Pada perletakan demikian dianggap sendinya licin sempurna, sehingga gaya singgung antara poros dan sendi tetap normal terhadap bidang singgung, dan arah gaya ini akan melalui pusat poros.

Sifat Teknis

Perletakan sendi mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi  dua arah : Vertikal dan Horisontal
b. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN ROLL

Perletakan Roll yaitu perletakan yang selalu memiliki lubang sendi. Apabila poros ini licin sempurna maka poros ini hanya dapat meneruskan gaya yang tegak lurus bidang singgung di mana poros ini diletakkan. 

Sifat Teknis

Perletakan Roll mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi satu arah saja : VERTIKAL
b. Tidak dapat menahan gaya HORISONTAL, sehingga dapat berpindah pada arah horizontal agar balok tidak patah karena memuai.
c. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN JEPIT

Perletakan Jepit adalah perletakan yang menciptakan kondisi kaku/monolit. Perletakan ini seolah-olah dibuat dari balok yang ditanamkan pada perletakannya, demikian sehingga mampu menahan gaya-gaya maupun momen dan bahkan dapat menahan torsi.

Sifat Teknis

Perletakan Jepit  mempunyai sifat teknis :
Mampu menahan Momen, Gaya Horizontal dan Gaya Vertikal sehingga tidak bergerak arah horisontal, vertikal dan juga tidak berputar. Sering juga disebut perletakan KAKU.

PERLETAKAN PENDEL

Perletakan pendel yaitu suatu perletakan yang titik tangkap dan garis kerjanya berimpit. 


Garis kerja reaksi pada batang pandel berhimpit dengan batang itu sendiri, memberi peluang berputar ke segala arah

Sebuah konstruksi dapat didudukkan di atas satu atau lebih perletakan. Jenis perletakannya adal seperti di atas dan dapat dikombinasikan satu sama lain. Namun dalam mengkombinasikannya, harus dipertimbangkan kestabilannya. Syarat kestabilan adalah jumlah reaksinya tidak boleh kurang dari 3 ( tiga ). Konstruksi Labil bila n < 3 dimana n adalah bilangan reaksi pada perletakan. Contoh :
   



TINJAUAN UMUM (KONDISI GEOGRAFI, TOPOGRAFI, GEOLOGI REGIONAL, KEGEMPAAN (EARTH QUAKE) DAN IKLIM) LOKASI PROYEK

            Bagian ini merupakan laporan lanjutan dari suatu Laporan Antara suatu proyek atau pekerjaan penanganan Jalan. Kalau sebelumnya kita belajar mengenai
Laporan Antara Pendahuluan, kini kita akan mempelajari Contoh Lanjutan dari Laporan Antara yakni Tinjauan Umum dimana kita akan menjelaskan mengenai Kondisi Geografi, Topografi dan iklim. selain itu ada juga Kondisi Geologi regional dan Kegempaan. Untuk lebih jelasnya silahkan lanjutkan baca di bawah ini. Selamat membaca!
  •                KONDISI GEOGRAFI, TOPOGRAFI, DAN IKLIM


            Secara geografis lokasi kegiatan terletak pada koordinat 138°05’ - 140°30’ bujur timur dan 1°35’ – 3°35’ lintang selatan, dengan arah relatif memanjang Timur - Barat. Lebih dari setengah lokasi kegiatan (±72,3%) berada pada morfologi dataran pantai dan rawa dengan ketinggian <50 150="" 50="" antara="" atas="" berada="" bergelombang="" bonggo="" dan="" dengan="" di="" distrik="" guay="" ketinggian="" laut="" m="" meter="" morfologi="" o:p="" pada="" perbukitan="" permukaan="" sarmi.="" sarmi="" sedangkan="" timur.="" timur="" unurum="" wilayah="" yaitu="">
           Keadaan iklim Kabupaten Sarmi Tahun 2011 berdasarkan data Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah V Jayapura menunjukkan bahwa temperatur rata-rata berkisar 21,9ºC sampai dengan 32,7ºC. Kelembaban udara mencapai 85,3% dengan curah hujan rata-rata 145/14 CC/HH (Curah Hujan/Hari Hujan).

Gambar 2-1. Peta terrain lokasi kegiatan
(Sumber peta : SRTM Papua, 2011)



Gambar 2-2. Peta kontur topografi kabupaten Sarmi dan sekitarnya
(Sumber peta : DITTOP TNI-AD, 2011)

  •                 KONDISI GEOLOGI REGIONAL


                1. Geomorfologi Regional
            Lokasi kegiatan sebagian besar (± 85%) berada pada wilayah kabupaten Sarmi, sedangkan hanya ± 15% berada pada wilayah kabupaten Jayapura.
Morfologi kabupaten Sarmi dan sekitarnya tersusun oleh morfologi dataran rawa dan pantai, morfologi dataran alluvial, morfologi perbukitan, dan morfologi pegunungan.
Morfologi dataran pantai dan rawa menempati ± 15% dari luas wilayah kabupaten Sarmi  dengan relief datar hingga miring landai dan memiliki elevasi berkisar antara 0 – 15 meter diatas permukaan laut (dpl). Pantai-pantai di wilayah Sarmi merupakan pantai terbuka yang berhadapan langsung dengan samudera Pasifik dengan panjang garis pantai ± 185 km, hal ini menjadikan Sarmi sebagai kabupaten di pulau Papua yang memiliki garis pantai terpanjang. Beberapa pulau yang menyebar dari barat ke timur di kawasan perairan antara lain pulau Liki, pulau Nimumoar, pulau Ansamanuar, pulau Vangumuar, pulau Insumuar, pulau Insumanai, kepulauan Wakde, pulau Masimasi, pulau Yamna, dan kepulauan Podena. Rawa-rawa menyebar dari timur hingga barat sepanjang kawasan pantai. Kawasan morfologi pantai dan rawa banyak dimanfaatkan untuk permukiman, perkebunan, pertanian, dan perikanan.
            Morfologi dataran alluvial menempati ± 37% dari luas wilayah kabupaten Sarmi dengan relief datar hingga miring landai dan memiliki elevasi berkisar antara 0 – 120 meter dpl, kawasan ini diberi nama berdasarkan jenis material penyusun berupa endapan alluvial. Morfologi ini berkembang disepanjang daerah aliran sungai Apauwer, sungai Orey, sungai Tor, sungai Bier, dan sungai Biri, serta sungai-sungai kecil lainnya. Kawasan ini sebagian besar masih berupa hutan, hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan untuk pemukiman oleh penduduk setempat.
Kawasan perbukitan menempati ± 30% dari luas wilayah kabupaten Sarmi dengan relief miring bergelombang hingga terjal dan memiliki elevasi antara 5 – 600 meter dpl. Kawasan ini sebagian besar berupa hutan dan hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pemukiman dan perladangan, serta dimanfaatkan oleh pemerintah untuk lokasi perkantoran seperti yang ada di kawasan Kota Baru Petam.
           Sedangkan kawasan pegunungan berada di bagian selatan dan menempati ± 18% dari luas wilayah Kabupaten Sarmi dengan relief terjal hingga sangat terjal dan memiliki elevasi antara 600 - 1800 meter dpl. Kawasan ini terdiri dari pegunungan Irier, pegunungan Siduarsi, pegunungan Gauttier, dan pegunungan Foja yang semuanya merupakan kawasan konservasi atau kawasan non-budidaya.
           Pola aliran sungai di wilayah kabupaten Sarmi terdiri dari pola aliran dendritik, pola aliran subparalel, dan pola aliran trelis. Pola aliran dendritik lebih banyak berkembang dan dibentuk oleh sungai-sungai utama antara lain sungai Tor, sungai Apauwer, sungai Biri, sungai Bier, sungai dan Orey. Pola aliran subparalel terutama berkembang pada sungai-sungai kecil yang mengalir masuk ke sungai-sungai utama, seperti sungai Munuk, sungai Tanepa, dan sungai Mimiri. Sedangkan pola aliran trelis lebih berkembang pada sungai-sungai yang mengalir disebelah utara dan selatan kawasan pegunungan Gauttier dan pegunungan Foja.

               2. Stratigrafi Regional
         Stratigrafi regional daerah Sarmi dan sekitarnya menurut S. Gafoer, dkk, 1995 (Peta Geologi Lembar Sarmi dan Bufareh Skala 1 : 250.000) terdiri atas 13 formasi batuan yang berumur mulai dari Mesozoikum (Kapur) yaitu batuan Mafik/Ultramafik sampai Kuarter (Holosen) berupa endapan Aluvium. Adapun tataan stratigrafi mulai dari yang berumur tua hingga berumur muda adalah sebagai berikut :
1.            Batuan Mafik / Ultramafik (m/um); Terdiri dari gabro, serpentinit, dan batuan terserpentinitkan. Tergerus dan terbreksikan. Bersentuhan sesar dengan batuan lain. Umur diperkirakan lebih tua dari Kapur Akhir. Penyebaran formasi ini berada di sebelah timur lembar peta.

2.            Formasi Auwewa (Tema); Terdiri dari lava, breksi, tuf kristal gampingan dan sisipan grewake, kalsilutit, kalkarenit serta batugamping koral. Lava bersusunan basal piroksen dan basal olivine piroksen sampai andesitan, sebagian berupa spilit. Berstruktur bantal dan amigdaloid.  Fosil koral dan foram besar dalam batugamping. Umurnya diperkirakan Eosen sampai Miosen Awal, diendapkan dalam lingkungan laut dangkal. Penyebaran formasi ini berada di bagian tengah lembar peta.

3.            Formasi Biri (Teob); Terdiri dari kalsilutit, serpih dan sisipan lava basal. Kompak, berurat kalsit dan terhablur ulang. Sebagian berlapis dan terbreksikan, terlipat kuat dan tercenangga. Lava basal berstruktur bantal dan kekar meniang (columnar joint). Tebal yang tersingkap 305 meter. Tidak dijumpai fosil. Umurnya diperkirakan Eosen - Oligosen, diendapkan dalam lingkungan litoral – neritik. Penyebaran formasi berada di sebelah selatan pegunungan Siduarsi di sebelah timur lembar peta.

4.            Formasi Darante (Tomd); Terdiri dari kalkarenit, batugamping koral dan sisipan batuan gunungapi. Tidak berlapis, setempat berstruktur terumbu, kepingan rijang dan gejala penghabluran ulang. Batuan gunung api berupa lava amigdaloid dengan vesikular terisi zeolit, breksi serta sisipan batupasir tufan.  Setempat konglomerat alas dengan komponen batuan ultramafik dan semen gampingan. Tebal mencapai 850 meter atau lebih. Fosil koral ganggang, foram besar dan kecil. Umurnya Te – Tf1 (Oligosen Akhir – awal Miosen Tengah), diendapkan dalam lingkungan litoral – neritik. Penyebaran formasi ini sebagian besar berada pada kawasan pegunungan Foja di sebelah tenggara lembar peta, kawasan pegunungan Siduarsi di sebelah timur lembar peta, kawasan pegunungan Gauttier disebelah selatan lembar peta, dan beberapa di Aurimi di sebelah barat lembar peta, serta di sekitar pegunungan Irier disebelah utara tengah lembar peta.

5.            Formasi Makats (Tmm); Terdiri dari perselingan grewake, batulanau, batulempung, serpih dan napal; sisipan konglomerat dan batugamping. Berlapis baik, padat dank eras, konglomerat berkomponen utama batuan beku mafik, kalsilutit, dan batugamping malih. Terlipat kuat dan tersesarkan. Berupa sedimen tipe flysch dengan lapisan bersusun, lapisan halus sejajar dan konvolut. Tebal lebih dari 2000 meter. Mengandung fosil foram besar dan foram kecil. Umurnya Tf1 sampai Tf2-3 (bagian bawah Miosen Tengah sampai bagian bawah Miosen Akhir), diendapkan dalam lingkungan neritik. Penyebaran formasi ini berada di sebelah utara dan selatan pegunungan Foja disebelah tenggara lembar peta lalu menyebar ke arah baratlaut hingga di bagian barat Aurimi disebelah barat lembar peta.

6.            Formasi Aurimi dari Kelompok Mamberamo (Tmpa); Terdiri dari napal, kalkarenit, batupasir, batulanau dan batulempung. Setempat bersisipan batugamping napalan. Berlapis tipis – tebal, berstruktur nendatan, lapisan halus bergelombang, sejajar, konvolut dan silang siur. Kompak, getas, terlipat, tersesarkan dan setempat tergerus. Tebal 200 – 1300 meter. Banyak foram kecil, cangkang moluska dan ganggang. Umur N12 – N20 (Miosen akhir – Pliosen), diendapkan dalam lingkungan laut dangkal dan paralis. Penyebaran formasi ini berada di sebelah utara kawasan pegunungan Gauttier dan puncak pegunungan Foja disebelah selatan hingga tenggara lembar peta, di kawasan pegunungan Irier disebelah utara tengah lembar peta, serta di pulau Liki dan pulau Nimumoar.

7.            Formasi Unk dari Kelompok Mamberamo (QTu); Tersusun oleh grewake, batulanau, batulempung, konglomerat, dan sisipan lignit. Berlapis, lunak, agak kompak; mengandung kuarsa, mika, felspar, kepingan batuan, karbonan dan gampingan. Berstruktur lapisan bersusun, silang siur, sejajar dan liang bekas binatang. Tebal mencapai 1500 meter. Fosil foram kecil dan moluska. Umur N21 – N23 (Pliosen akhir – Plistosen), diendapkan dalam lingkungan laut dangkal sampai laut agak dalam. Penyebaran formasi ini menempati 60% dari luas lembar peta yang tersebar disebelah tenggara menerus hingga barat daya lembar peta lalu membelok ke utara dan timur lembar peta, serta bagian tengah lembar peta.

8.            Batuan Campur Aduk (Qc); Terdiri dari lempung tergerus, lumpur dengan bongkah/kepingan batuan yang lebih tua yang berasal dari formasi-formasi Unk (QTu), Aurimi (Tmpa), Makats (Tmm), Darante (Tomd), Auwewa (Tema), Biri (Teb), dan batuan mafik/ultramasik (m/um). Diduga terbentuk secara tektonika pada Plistosen – Holosen. Penyebarannya berada di bagian tengah lembar peta mulai dari timur menerus hingga ke barat.

9.            Formasi Kukunduri (Qpk); Terdiri dari konglomerat, pasir dan lempung atau lempung pasiran, tidak mampat, mengandung sisa tumbuhan. Tebal 50 – 100 meter. Tak dijumpai fosil, umurnya diperkirakan Plistosen. Penyebaran formasi ini berada di sekitar Segar Mebor disebelah selatan lembar peta dan disebelah barat sungai Apawer dan sekitar Wamariri disebelah barat lembar peta.

10.          Formasi Jayapura (Qpj); Terdiri dari batugamping terumbu dengan sisipan sisipan konglomerat aneka bahan, kalkarenit, kalsirudit, kalsilutit. Bertopografi kars, terlipat lemah dengan kemiringan 5º-15º, struktur silang siur dan lapisan sejajar, tebal ± 75 meter. Konglomerat biasanya berada di bagian bawah, berkomponen terutama batulempung dan batugamping hablur. Fosil umumnya koral dan ganggang, umurnya Plistosen. Penyebaran formasi ini berada sekitar Sawar hingga Bageserwar dan pulau-pulau diwilayah peraian disebelah utara lembar peta, serta  di sekitar Sewan di sebelah timur tengah lembar peta.

11.          Endapan Lumpur (Qmd); Terdiri dari leleran lumpur dan lempung, lembek, dengan kepingan/bongkahan batuan yang keluar dari poton. Beberapa poton masih giat, sebagian mengandung gas (metan, nitrogen, CO2), garam dan hidrokarbon.  Tinggi kerucut poton mencapai 110 meter, garis tengah beberapa kilometer, umur diduga Holosen. Penyebarannya berada di sebelah utara kawasan pegunungan Karamof disebelah timur lembar peta, di sekitar Gerung di sebelah selatan lembar peta, serta di sebelah barat gunung Pipirai di sebelah barat tengah lembar peta.

12.          Batugamping Koral (Qcl); Terdiri dari terumbu koral terangkat dan kepingan batugamping membentuk undak-undak, tingginya mencapai 50 meter diatas muka laut. Penyebarannya berada di Kota Sarmi, disebelah utara lembar peta.

13.          Alluvium ( Qa ); Terdiri dari lempung, pasir dan kerikil, merupakan endapan sungai, pantai dan rawa. Penyebarannya berada di sebelah baratlaut, utara, timurlaut dan tengah lembar peta, menempati morfologi dataran.



Gambar 2-3.       Kolom statigrafi regional lokasi kegiatan
(Sumber Peta : Peta Geologi Regional Lembar Sarmi & Bufareh skala 1:250.000, PPPG )

                3. Struktur Geologi Regional dan Tektonika
             Struktur geologi yang berkembang di lembar Sarmi & Bufareh terdiri dari perlipatan dan sesar. Perlipatan berupa antiklin dan sinklin dengan sumbu berarah baratlaut-tenggara dan barat-timur. Sesar terdiri dari sesar turun, sesar naik dan sesar geser-jurus. Arah umum sesar naik dan turun adalah baratlaut-tenggara, barat-timur, dan baratdaya-timurlaut. Sesar geser-jurus umumnya berarah baratlaut-tenggara dan timurlaut-baratdaya. Semua sesar memotong batuan berumur Tersier dan Kuarter meliputi jenis batuan sedimen klastika dan karbonat dan juga batuan ultramafik.
Poton banyak dijumpai disini, poton-poton tersebut erat hubungannya dengan struktur diapir yang dipengaruhi oleh kegiatan tektonika yang aktif sejak Plistosen hingga sekarang.
              Sarmi & Bufareh merupakan bagian dari kerak Samudera Pasifik yang bertubrukan dengan kerak Kontinen Australian sejak Oligosen yang menghasilkan Orogenesa Melanesia. Kegiatan tektonika terus berlangsung hingga Miosen-Pliosen, menghasilkan gerakan-gerakan tegak dan mendatar sebagai akibat interaksi orogenesa. Pada Plistosen sesar naik di zona Mamberamo terbentuk akibat dorongan lempeng Pasifik ke selatan dan poton-poton di sepanjang zona Mamberamo terbentuk. Berdasarkan data kegempaan, tektonika di lembar ini masih aktif hingga sekarang.



Gambar 2-4. Peta Geologi Regional Lokasi Kegiatan dan Sekitarnya
(Sumber Peta : Peta Geologi Regional Lembar Jayapura skala 1:250.000, PPPG)

  •                 KEGEMPAAN (EARTH QUAKE)


               Indonesia termasuk dalam wilayah yang sangat rawan bencana gempa bumi seperti halnya Jepang dan California karena posisi geografisnya menempati zona tektonik yang sangat aktif. Hal ini dikarenakan tiga lempeng besar dunia dan sembilan lempeng kecil lainnya saling bertemu di wilayah Indonesia serta membentuk jalur-jalur pertemuan lempeng yang kompleks. Keberadaan interaksi antar lempeng-lempeng ini menempatkan wilayah Indonesia sebagai wilayah yang sangat rawan terhadap gempa bumi. Tingginya aktivitas kegempaan ini terlihat dari hasil rekaman dan catatan sejarah dalam rentang waktu 1900-2009 terdapat lebih dari 50.000 kejadian gempa dengan magnituda M ≥ 5.0 dan setelah dihilangkan gempa ikutannya terdapat lebih dari 14.000 gempa utama (main shocks). Kejadian gempa utama dalam rentang waktu tersebut dapat dilihat dalam Gambar 2-5 yang dikumpulkan dari berbagai sumber seperti, dari katalog gempa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Nasional Earthquake Information Center U.S. Geological Survey (NEIC-USGS), beberapa katalog perorangan Abe, Abe dan Noguchi, serta Gutenberg & Richter, dan katalog Centennial dimana merupakan kompilasi katalog Abe, Abe & Noguchi, dan Newcomb & McCann.
Dalam gambar 2-5 menunjukkan bahwa lokasi sasaran kegiatan termasuk dalam wilayah sangat rawan bahaya gempa bumi dengan penyebaran pusat gempa yang agak rapat berdasarkan skala peta dengan kedalaman berkisar antara 0 – 50 meter (pusat gempa dangkal).  



Gambar 2-5. Peta Sebaran Episenter gempa utama di Indonesia dan
        sekitarnya untuk magnitude M≥ 5.0 yang dikumpulkan dari
        berbagai sumber rentang waktu tahun 1900 - 2009

               Dalam mengantisipasi bahaya gempa, pemerintah Indonesia telah mempunyai standar peraturan perencanaan ketahanan gempa untuk stuktur bangunan gedung yaitu SNI-03-1726-2002. Sejak diterbitkannya peraturan ini, tercatat beberapa gempa besar dalam 6 tahun terakhir, seperti gempa Aceh disertai tsunami tahun 2004 (Mw = 9,2), Gempa Nias tahun 2005 (Mw = 8,7), gempa Yogya tahun 2006 (Mw = 6,3), dan terakhir gempa Padang tahun 2009 (Mw = 7,6). Gempa-gempa tersebut telah menyebabkan ribuan korban jiwa, keruntuhan dan kerusakan ribuan infrastruktur, serta dana trilyunan rupiah untuk rehabilitasi dan rekonstruksi. Pencegahan kerusakan akibat gerakan tanah dapat dilakukan melalui proses perencanaan dan konstruksi yang baik dan dengan memperhitungkan suatu tingkat beban gempa rencana. Sehingga dalam perencanaan infrastruktur tahan gempa perlu diketahui beban gempa rencana yang dapat diperoleh berdasarkan peta hazard gempa Indonesia.
Indonesia pertama kali mempunyai peta hazard gempa pada tahun 1983, yaitu dalam Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk Gedung (PPTI-UG 1983). Peta gempa ini membagi Indonesia menjadi enam zona gempa. PPTI-UG 1983 diperbaharui pada tahun 2002 dengan keluarnya Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002. Peraturan pengganti ini disusun dengan mengacu pada UBC 1997. Peta gempa yang ada dalam SNI 2002 tersebut berupa peta percepatan puncak atau Peak Ground Acceleration (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam masa layan bangunan 50 tahun atau bersesuaian dengan perioda ulang gempa 500 tahun.
               Standar perencanaan umumnya selalu diperbarui guna mengakomodir perkembangan iptek dan data-data kejadian gempa terbaru. Dengan adanya kejadian gempa-gempa besar seperti gempa Aceh tahun 2004 maka sudah selayaknya peta gempa yang ada perlu direvisi. Dalam upaya merevisi peta gempa Indonesia ini dan untuk mengintegrasikan berbagai keilmuan terkait bidang kegempaan, maka pada tahun 2009 di bawah koordinasi Kementerian Pekerjaan Umum telah dibentuk Tim Revisi Peta Gempa Indonesia 2010 dengan susunan anggota sebagai berikut; Ketua Prof. Dr. Masyhur Irsyam (Geoteknik Kegempaan-ITB), Wakil Ketua Dr. Wayan Sengara (Geoteknik Kegempaan-ITB), Sekretaris Fahmi Aldiamar, MT. (Geoteknik Kegempaan-PU), dan anggota Prof. Dr. Sri Widiyantoro (Seismologi-ITB), Dr. Wahyu Triyoso (Seismologi-ITB), Dr. Danny Hilman Natawidjaja (Geologi Kegempaan-LIPI), Ir. Engkon Kertapati (Geologi-Badan Geologi), Dr. Irwan Meilano (Geodesi Kegempaan-ITB), drs. Suhardjono Dipl.Seis (Seismologi-BMKG), M. Asrurifak, MT. (Geoteknik Kegempaan-ITB), dan Ir. M. Ridwan, Dipl.E.Eng. (Geologi-PU).
              Dengan menggunakan pendekatan probabilitas, Tim telah menghasilkan peta PGA dan spektra percepatan untuk perioda pendek (0.2 detik) dan perioda 1.0 detik dengan kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun, 10% dalam 100 tahun, dan 2% dalam 50 tahun atau yang mewakili tiga level hazard (potensi bahaya) gempa yaitu 500, 1000 dan 2500 tahun. Hasil analisis dari masing-masing level hazard gempa ini ditampilkan dalam bentuk kontur. Peta Gempa Indonesia 2010 ini digunakan sebagai acuan dasar perencanaan dan perancangan infrastruktur tahan gempa termasuk pengganti peta gempa yang ada di Standard Peraturan Perencanaan Ketahanan Gempa Indonesia (SNI-03-1726-2002). Peta-peta Gempa Indonesia 2010 dapat dilihat dalam Gambar 2-6 – Gambar 2-14 berikut.



Gambar 2-6. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-7. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-8. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 50 tahun



Gambar 2-9. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun



Gambar 2-10. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun



Gambar 2-11. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 10% dalam 100 tahun




Gambar 2-12. Peta percepatan puncak (PGA) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun



Gambar 2-13. Peta respon spectra percepatan 0,2 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun




Gambar 2-14. Peta respon spectra percepatan 1,0 detik (SS) di batuan dasar (SB) untuk probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun


               Demikianlah beberapa pejelasan saya mengenai Tinjauan Umum suatu proyek dalam hal ini suatu kondisi yang kita lihat dari segi Geografi, Topografi dan iklim serta kondisi Geologi Regional dan Kegempaan suatu daerah yaitu target proyek yang berkaitan dalam suatu laporan Antara. Semoga ini bermanfaat, terimakasih.

DASAR PENGETAHUAN FISIKA BAHAN BANGUNAN.

Siapa di dunia ini yang tidak menginginkan bangunannya tahan dan awet? Apalagi jika orang itu mengerti tentang teknik, pastilah sangat memperhatikan bangunannya untuk masa yang panjang. Ketahanan atau keawetan sebuah bangunan sangat ditentukan oleh sifat-sifat dari alam yang secara alami mempengaruhi kondisi sebuah bangunan. Pada dasarnya bahan bangunan mengalami sifat fisika yang tentunya sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan  keawetan suatu bahan bangunan. Seperti sifat kekerasan, proses difusi air tanah dan kelembaban yang pada akhirnya mengakibatkan pengaruh merugukan pada bangunan. Sebelum membangun tidak ada salahnya jika kita memperhatikan dasar pengetahuan fisika pada bahan bangunan sebagai modal pengetahuan agar kita dapat mengetahui yang terjadi pada bangunan kita sehingga kita bisa mengantisipasi jauh sebelum terjadi. Oke, langsung saja baca di bawah ini.

Kekerasan Bahan Bangunan.

Kekerasan yang dimaksud disini adalah kekuatan suatu benda terhadap benda lain yang memaksa masuk kedalamnya. Dapat di uji sebagai berikut:

Kekerasan terhadap melusuhkan;

Kekerasan terhadap bola baja – Brinell;

Menrut Brinell kekerasan bahan bangunan ditentukan dengan sebuah bola baja diameter 10 mm yang ditekan dengan 29’420 N selama sepuluh detik. Perbandingan antara gaya tekan dengan permukaan yang tertekan ( sektor bola ) menentukan kekerasan Brinell (HB). 350 HB berarti kekerasan brinell setara dengan 350 N per milimeter bujursangkar.
Hal ini perlu kita ketahui supaya kita dapat mengenali kekerasan bahan yang kita akan gunakan agar kita dapat memilih bahan yang terbaik. Di sisi lain kita bisa mempertimbangkan situasi di sekitar kita terhadap bahan bangunan yang akan kita gunakan.

Kekerasan terhadap menggores – Mohs.

Menurut Mohs kekerasan ( terutama pada batu alam) dapat digolongkan sebagai berikut:

  1. Kekerasan 1 talkum dapat dikikis dengan kuku  jari;
  2. Kekerasan 2 gips dapat digores dengan kuku jari;
  3. Kekerasan 3 kapurspar dapat digores dengan uang logam;
  4. Kekerasan 4 flourspar dapat digores dengan sepotong kaca;
  5. Kekerasan 5 apatit mudah digores dengan pisau;
  6. Kekerasan 6 flespar sulit digores dengan pisau;
  7. Kekerasan 7 kuarsa menggores kaca;
  8. Kekerasan 8 topas menggores kuarsa dengan kesulitan;
  9. Kekerasan 9 korundumm memotong kaca;
  10. Kekerasan 10 intan memotong kaca.

Difusi Kelembaban dan Sifat Higroskopis Bahan Bangunan

Hampir semua bahan bangunan memungkinkan penyebaran kelembaban melalui sifat higroskopis bahan tersebut. Bahan bangunan dengan begitu dapat menerima dan menyampaikan kelembaban , berarti bisa mengisap, menyimpan, dan melepaskan air dalam keadaan cair atau gas.
Makin kecil pori-pori bahan bangunan makin besar daya menghisap air, dan makin besar pori-porinya makin mudah dapat diisi dengan air. Hal ini berarti bahwa air dapat masuk kedalam bahan bangunan melalui gravitasi (misalnya atap yang bocor), oleh tekan angin (misalnya pada tepi dinding atau atap yang terkena angin kencang), oleh kapilaritas (misalnya pada retak plesteran dinding atau kelembaban tanahyang dilalui trasraam yang tidak kedap air).
Difusi kelembaban dan sifat higroskopis bahan bangunan
a) melalui grafitasi air masuk ke pori-pori yang > 0,5 mm;
b)melalui tekanan angin jika ada celah > 5 mm;
c) melalui kapilarisasi air masuk ke dalam pori yang < 0,5 mm olehdaya isapan.
Sifat higroskopis bahan bangunan di inndonesia tidak begitu penting jika dihubungkan dengan suhu dan iklim di dalam ruang, akan tetapi bahaya berkaitan dengan kemampuan untuk menghisap kelembaban tanah dan menyalurkannya di dalam konstruksi dari bahan banguna tersebut.
Difusi kelembaban tanah dapat diatasi dengan menggunakan bahan bangunan yang sifat higroskopisnya tinggi, jika dapat dihindari bahwa bahan bangunan itu dapat menghisap air selain daripada kelembaban udara yang mengelilinginya, atau dengan menggunakan lapisan kedap air.
Lapisan kedap air dapat digunakan sebagai lapisan diantara sloof dan kaki dinding (trasraam) guna menghindari naiknya kelembaban tanah atau sebagai lapisan pada permukaan dinding ( cat dan lain sebagainya).
Berikut beberapa jenis lapisan kedap air yang dapat diterapkan pada bangunan:

Trasraam lapisan aspal (kertas aspal)

Trasraam lapisan aspal (atau kertas aspal) dapat digunakan diatas sloof beton bertulang (sloof harus kering, berumur minimum 14 hari) atau di bawah sloof konstruksi kayu (di atas lapisan mortar yang datar dan yang menutupi pondasi batu kali). Lapisan aspal tebalnya kurang lebih 2 milimeter, dapat dibuat dengan cara mengecat 2 hingga 3 kali dengan aspal panas (yang cair) atau dengan butimen / karet latex emulsion.

Karet trasraam (lembaran karet atau PE)

Karet trasraam (lembaran karet atau PE) dipotong sesuai dengan lebar sloof dan dipasang di atas sloof tersebut. Setiap sambungan karet Trasraam harus tumpang tindih minimum 10 centimeter. Pada angker dan sambungan tulangan kolom praktis, karet trasraam harus dilubangi sesuai dengan diameter besi yang dipergunakan (hal ini dapat dilakukan dengan mudah jika menggunakan karet, akat tetapi sangat sulit jika menggunakan lembaran PE, karena jika lubang terlalu besar maka trasraam tidak memenuhi syarat fungsi mencegah naiknya air tanah).

Trasraam seng papak

Pada trasraam ini penggunaan seng yang dipilih adalah seng yang tahan lama dari korosi atau anti karat, misalnya seng galvanisir dengan tebal( minimum BWG 24) sehingga juga mempunyai kegunaan lain yaitu keuntungan mencegah rayap.

Mortar emulsi

Mortar emulsi adalah mortar yang mutunya diperbaiki dengan bahan sintetis yaitu biasanya mortar semen yang ditambahkan dengan bahan sintesis, misalnya seperti calblack dan lain-lain. Dengan penambahan bahan sintetis ini mutu mortar akan bertambah baik sehingga mortar tahan retak (jadi elastis) dan kedap air. Dengan begitu trasraam dapat kita rencanakan seperti biasa.

Lapisan dinding dengan turap (plesteran)

Lapisan dinding dengan turap (plesteran) sebaiknya selalu dipilih sedemikian sehingga sifat higroskopis bahan bangunan dinding dan plesterannya jadi mirip. Kalau misalnya dinding tidak dilengkapi dengan trasraam yang kedap air, tetapi lapisannya dengan plesteran yang semennya memiliki daya kedap air yang tinggi, maka kelembaban tanah akan naik di dalam dinding bahkan bisa sampai di konstruksi atap.

Lapisan dinding dengan cat

Lapisan dinding dengan cat dapat menimbulkan kesulitan yang mirip dengan plesteran tersebut di atas. Cat sintetik bersifat agak kedap air dan memungkinkan saluran air sebanyak 2 sampai 9 gr/m2h, sedangkan cat rekat atau cat kapur mengizinkan 15 hingga 17 gr/m2h tembus.
1. kelembaban tanah tembus trasraam yang tidak kedap air;
2. turap yang kedap air. kelembaban tanah naik sampai konstruksi atap;
3. cat dinding yang kedap air. kelembaban dalam dinding mengakibatkan cat mengelupas.

Kelembaban bahan bangunan berdasarkan proses membangun.

Berdasakan kenyataan bahwa setiap penghuni menginginkan rumah kediaman yang aman dan kering, maka cara membangun yang umumnya digunakan adalah cara basah yang bertentangan dengan hasil yang diinginkan. Untuk itu supaya dalam membangun dengan hasil yang baik yang artinya sesuai keinginan, berikut saya sajikan tabel penggunaan air yang baik pada bangunan:

Bangunan
Penggunaan air
Beton kelas II, K-225
± 250 liter air/ m kubik
Dinding batu bata ketebalan 11,5 cm
± 42 liter air/m 2
Dinding conblock
± 5 liter air/m2
Turap (Plesteran) ketebalan ± 2 cm
± 12 liter air/m2

Jumlah air yang biasanya digunakan untuk membangun sebuah rumah biasa ( rumah type 36) ialah sekitar 28000 liter yang harus menguap sebelum rumah tersebut dianggap kering dan sehat untuk dihuni. Waktu menguap air tersebut tergantung dari cara membangun, iklim, ventilasi, dan kelembaban udara setempat. Sebagai perkiraan dasar dapat di anggapakan dibutuhkan selama 4 bulan.

Tentunya kita menginginkan suasana kering pada rumah kita, artinya rumah yang akan kita huni tidak berlebihan kelembaban. Karena jika kita lihat dari sudut pandang dunia kesehatan, Kelebihan kelembaban apa pun dalam iklim tropis lembab dapat mendorong pertumbuhan cendawan kelabu (aspergillus) yang dapat mempengaruhi kesehatan penghuni rumah karena dapat menimbulkan alergi bronkitis dan asma. Sangat mencemaskan bukan jika kita harus mengalami hal-hal seperti itu. Untuk itu dalam membangun rumah seharusnya gunakanlah cara yang tidak terlalu basah dan ada baiknya sebelum membangun kita memperhatikan hal-hal yang telah kita bahas di atas.
Demikian penjelasan mengenai dasar pengetahuan dasar fisika bahan bangunan atau kekerasan, difusi dan kelembaban pada berbagai jenis bahan bangunan. Semoga bermanfaat, syalom dan terimakasih.

JENIS-JENIS PONDASI BANGUNAN

UMUM

Kali ini saya akan memberikan sedikit penjelasan mengenai jenis-jenis pondasi. Pondasi pada bangunan merupakan bagian inti atau bagian utama dari suatu banguan. Pondasi dapat digolongan menjadi 2 golongan yaitu :
a. Pondasi dangkal, yaitu pondasi yang mendukung beban secara langsung, umumnya mempunyai kedalaman D/B  1 tetapi bisa lebih. Pondasi dangkal meliputi pondasi telapak, pondasi rakit (mats) dan pondasi memanjang.
b. Pondasi dalam, yaitu pondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah keras atau batu yang terletak relatif jauh dari permukaan. Umumnya mempunyai kedalaman D/B  1 dan meliputi pondasi sumuran dan pondasi tiang pancang.

Beberapa contoh tipe pondasi adalah sebagai berikut :
1. Fondasi telapak, yaitu pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom.
2. Pondasi memanjang, yaitu pondasi yang digunakan untuk mendukung dinding memanjang atau sederatan kolom yang letaknya berdekatan.
3. Pondasi rakit (mats foundation), yaitu pondasi yang digunakan untuk mendukung bangunan yang terletak pada tanah lunak.
4. Pondasi sumuran (pier foundation), yaitu merupakan bentuk peralihan dari pondasi dangkal dan pondasi tiang. Digunakan bila tanah dasar yang  kuat  terletak relatif dalam.
5. Pondasi tiang (pile foundation) berdiameter kecil dan panjang dibanding pondasi sumuran, digunakan bila tanah pondasi pada kedalaman yang normal  tidak mampu mendukung beban dan tanah keras terletak sangat dalam.

PEMILIHAN BENTUK PONDASI

Dalam memilih dan merancang suatu pondasi perlu diperhatikan hal-hal berikut ini :
1. Maksud pembuatan bangunan, umur pemakaian, jenis konstruksi, properties tanah, metode pelaksanannya dan biaya konstruksi.
2. Kebutuhan-kebutuhan pemilik.
3. Perencanaannya memastikan bahwa hal itu tidak menurunkan mutu lingkungan dan memakai faktor keamanan yang menghasilkan suatu tingkat resiko yang dapat diterima oleh masyarakat, pemilik dan perekayasa.

Untuk pertimbangan terhadap keruntuhan geser dan penurunan yang berlebihan, maka perlu dipenuhi dua kriteria yaitu kriteria stabilitas dan kriteria penurunan. Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi dalam perancangan pondasi adalah :
1. Faktor aman terhadap keruntuhan akibat terlampauinya daya dukung harus dipenuhi dan pada umumnya digunakan faktor keamanan 3.
2. Penurunan pondasi harus masih dalam batas-batas nilai yang ditoleransikan. Khusus penurunan yang tak seragam (differential settlement) harus dipastikan tidak mengakibatkan kerusakan pada struktur.

TIPE-TIPE KERUNTUHAN PONDASI

Tipe keruntuhan pondasi pada saat pembebanan sampai mencapai kerutuhan dapat digolongkan dalam tiga fase, yaitu :

1. Fase I.

Saat awal penerapan bebannya, tanah di bawah pondasi turun diikuti oleh deformasi tanah secara lateral dan vertikal ke bawah. Besarnya penurunan tergantung pada besar-kecilnya beban yang diterapkan. Dalam keadaan ini kondisi tanah elastis. Massa tanah yang terletak di bawah pondasi mengalami kompressi yang mengakibatkan kenaikan kuat geser tanah dengan demikian menambah daya dukungnya.

2. Fase II

Pada penambahan beban selanjutnya, gerakan  tanah pada kedudukan elastis dimulai dari tepi pondasi, dan kemudian dengan bertambahnya beban, zona lateral menjadi semakin nyata yang diikuti oleh retak-retak lokal dan geseran tanah di sekeliling tepi pondasinya. Zona plastis, kuat geser tanah sepenuhnya berkembang untuk menahan bebannya.

3. Fase III

Fase ini ditandai oleh kecepatan deformasi yang semakin bertambah seiring dengan penambahan beban. Deformasi tersebut diikuti oleh gerakan tanah ke arah luar yang diikuti oleh mengembangnya permukaan tanah, dan kemudian, tanah pendukung pondasi mengalami keruntuhan dengan bidang runtuh yang berbentuk  lengkung dan garis yang disebut bidang geser radial dan bidang geser linier.

Gambar 3.1. Fase-fase keruntuhan


PONDASI TIANG PANCANG

Pemakaian tiang pancang dipergunakan pada pondasi bangunan dimana tanah dasar untuk bangunan tersebut tidak mempunyai daya dukung (bearing capasity) yang cukup untuk memikul berat bangunan dan bebannya, atau apabila tanah keras untuk memikul berat bangunan dan bebannya terletak sangat dalam. Pondasi tiang pancang ini berfungsi untuk memindahkan atau mentransferkan beban-beban dari konstruksi diatasnya (upper struktur) ke lapisan tanah keras.

1. Penggolongan Menurut Cara Pemindahan Beban

Menurut cara pemindahan beban, tiang pancang dibagi atas 2 :

a. Point bearing pile (end bearing pile)

Tiang pancang dengan tahanan ujung, tiang ini meneruskan beban melalui tahanan ujung ke lapisan tanah keras.

b. Friction pile

Tiang ini meneruskan beban ke tanah melalui gesekan kulit (skin friction).

2. Penggolongan Menurut Bahan

Berdasarkan bahan yang digunakan, tiang pancang dibagi atas empat bagian :
1. Tiang pancang kayu
2. Tiang Pancang Beton
- Precast reinforced concrete pile, yang penampangnya dapat berupa lingkaran, segiempat dan segi delapan.
- Precast Prestressed Concrete Pile
- Cast in Place
3. Tiang Pancang Baja, yang dapat berupa ‘H’ pile dan Pipe pile.
4. Tiang Pancang Komposit, yang dapat berupa komposit kayu-beton dan baja-beton.


PERHITUNGAN TIANG PANCANG

01. END BEARING PILE

Tiang pancang ini dipancang sampai pada lapisan tanah keras yang mampu memikul beban dan dihitung berdasarkan tahanan ujung (end bearing pile). Lapisan tanah keras ini dapat merupakan lempung keras atau batu-batuan keras. Hal yang penting untuk diperhatikan adalah :
1. Bila lapisan tanah keras tersebut terdiri dari batuan keras maka penentuan daya dukung tiang akan tergantung pada kekuatan bahan tiang itu sendiri.
2. Bila lapisan tanah keras tersebut terdiri dari lapisan pasir maka daya dukung tiang tersebut akan sangat tergantung pada sifat-sifat lapisan pasir tersebut, terutama kepadatan lapisan pasir ini.

Untuk menaksir gaya perlawanan lapisan tanah keras terhadap ujung tiang, cara yang banyak dilakukan di Indonesia, Belanda maupun di Eropa ialah dengan alat sondir. Dengan alat sondir kita dapat menentukan sampai berapa dalam tiang harus dipancangkan dan berapa daya dukung lapisan keras tersebut terhadap ujung tiang.

KEMAMPUAN TIANG
a. Terhadap Kekuatan Tiang
Ptiang = sbahan x Atiang
dimana :
Ptiang = kekuatan yang diizinkan pada tiang pancang ( kg )
sbahan = tegangan tekan izin bahan tiang (kg/cm2)
Atiang = luas penampang tiang pancang ( cm2 )
b. Terhadap Kekuatan Tanah
1. Berdasarkan Konus
Qtiang = Atiang x  P/3  
dimana :
Qtiang = daya dukung keseimbangantiang ( kg )
P = nilai konus dari hasil sondir (kg/cm2 )
3 = Faktor Keamanan
Nilai konus yang dipakai untuk menentukan daya dukung tiang ini sebaiknya diambil rata-rata dari nilai konus pada kedalaman :
4d diatas ujung bawah tiang
4d dibawah ujung tiang, dimana “ d “ adalah diameter tiang
2. Berdasarkan Rumus Terzaghi
Qtiang = Atiang x q/3
dimana :
Qtiang = daya dukung keseimbangan tiang (kg)
Atiang = luas penampang tiang (cm2 )
q = daya dukung keseimbangan tanah (kg/cm2)
3 = faktor keamanan

02.FRICTION PILE

Bila lapisan tanah keras letaknya sangat dalam sehingga pemancangan tiang sampai lapisan tanah keras sukar dilaksanakan, maka daya dukungnya dapat dihitung berdasarkan daya lekatan tiang dengan tanah (cleef). Besarnya gaya lekatan antara tiang dengan tanah dapat diukur dengan percobaan sondir dengan memakai alat bikonus. Alat bikonus ini selain dapat mengukur perlawanan ujung, juga dapat pula mengukur gaya lekatan antara konus dengan tanah. Gaya ini disebut hambatan pelekat dan dalam grafik biasanya harga-harganya dijumlahkan sehingga diperoleh jumlah hambatan pelakat, yaitu jumlah pelekatan permukaan tanah sampai pada kedalaman yang bersangkutan.

KEMAMPUAN TIANG
1. Berdasarkan Hasil Sondir
Qtiang = O x L x c/5
dimana :
Qtiang = daya dukung tiang (kg)
L = keliling tiang yang masuk ke dalam tanah (cm)
c = harga cleff rata-rata (kg/cm2)
5 = angka keamanan
2. Secara Teoritis dengan Perumusan :
Qtiang = c.Nc.A  +  k.c.O.l
dimana :
Qtiang = daya dukung tiang
A = luas penampang tiang pancang
L = keliling tiang
c = kekuatan geser tanah (indrained)
Nc = faktor daya dukung
k = nilai perbandingan antar gaya pelekatan dengan kekuatan geser tanah.

03. END BEARING AND FRICTION PILE

Jika kita memancang tiang sampai ke tanah keras melalui lapisan lempung, maka daya dukungnya dapat diperhitungkan berdasarkan tahanan ujung (end beraing) dan cleef (friction pile) serta juga dapat diperhitungkan terhadap kekuatan bahan tiang pancang.

Gambar 3.2. Sketsa tiang pancang

KEMAMPUAN TIANG
a. Terhadap Kekuatan Bahan Tiang
Ptiang = Bahan . Atiang
dimana :
Ptiang = kekuatan yang diijinkan pada tiang poancang (kg)
sbahan = tegangan tekan ijin bahan tiang (kg/cm2)
A = luas penampang tiang pancang ( cm2 )
b. Terhadap Kekuatan Tanah
1. Beban Sementara
Qtiang = (Atiang.P)/2 + (O.l.c)/5
2. Beban Tetap / Statis
Qtiang = Atiang.P/3 + O.l.c/5

3. Beban Dinamis
Qtiang = Atiang.P/5 + O.l.c/8
dimana :
Qtiang = daya dukung keseimbangan tiang (kg)
P = nilai konus dari hasil sondir (kg/cm2 )
O = keliling tiang pancang (cm)]
l = panjang tiang pancang yang berada dsa;lam  tanah (cm)
c = harga cleef rata-rata (kg/cm2 )
Beban yang dapat dipikul tiang adalah : N  Ptiang  dan N  Qtiang

04. TIANG PANCANG KELOMPOK (PILE GROUP)

Diatas pile group biasanya idiletakkan suatu poer (footing) untuk mempersatukan kelompok tiang tersebut. Dalam perhitungan, poer dianggap/dibuat kaku sempurna sehingga :
Apabila beban yang berkerja pada kelompok tiang tersebut menimbulkan penurunan maka setelah penurunan, poer tetap merupakan bidang datar.
Gaya-gaya yang bekerja pada tiang berbanding lurus dengan penurunan tiang-tiang tersebut.

Jarak antara tiang-tiang dalam kelompok disyaratkan S  2.5 D atau   S  3D, dimana S adalah jarak masing-masing tiang dalam kelompok (Spacing) dan D adalah diameter tiang.


Gambar 3.3. Jarak tiang-tiang dalam suatu kelompok tiang

Biasanya disyaratkan jarak antara dua tiang dalam kelompok tiang adalah minimum 0.6 m dan maksimum 2 m.

A. KELOMPOK TIANG PANCANG YANG MENRIMA BEBAN NORMAL SENTRIS

Dalam hal ini beban yang diterima oleh tiap-tiap tiang pancang adalah :
N = V/n
dmana :
N = beban yang diterima oleh tiap-tiap tiang pancang
V = resultante gaya-gaya normal yang bekerja secara sentris
n = jumlah tiang pancang

Gambar 3.4. Sketsa kelompok tiang

B. KELOMPOK TIANG PANCANG YANG MENRIMA BEBAN NORMAL EKSENTRIS

Beban normal eksentrisitas dapat diganti menjadi beban normal sentris ditambah dengan momen.

1. Akibat beban normal sentris
Pv = V/n
2. Akibat beban momen karena poer dianggap kaku sempurna maka momen dibagikan ke tiang-tiang pancang yang letaknya terjauh dari titik berat kelompoknya akan menerima beban yang maksimum atau  minimum.
P2 : P1 = X2 : X1
P2 = X2 . P1/X1  

Gambar 3.5. Sketsa kelompok tiang

analog :   P3 = X3 . P1/X1
P4 = X4 . P1/X1
M = P1X1 + P2X2 + P3X3 + P4X4
= P1X1 + P1X22/X1 + P1X32/X1 + P1X42/X1
= (P1/X1 ).( X12 + X22 + X32 + X42 ) = ( P1/X1 ).X2
P1 = M . X1/x2 diterima oleh dua tiang karena dalam hal ini pada baris 1 dalam arah Y ada 2 buah tiang.
Sehingga untuk satu tiang :
P1 = (M . X1) / (2X2)
Secara umum beban maksimum yang diterima oleh tiang pancang yang letaknya terjauh adalah :
PM  =  Mx max / (ny x2)
Jadi total beban maksimum yang diterima oleh tiang pancang adalah :
Pmax = Pv + Pm
Pmax = V/n    Mx max / ny.x2
dimana :
Pmax = beban maksimum yang diterima tiang pancang
V = jumlah total beban-beban vertikal/normal
N = jumlah tiang pancang
M = momen yang bekerja pada kelompok tiang tersebut
ny = jumlah tiang dalam satu baris pada arah sumbu y (tegak bidang momen)
X2 = jumlah kuadrat jarak tiang-tiang ke pusat berat kelompok tiang

C. KELOMPOK TIANG YANG MENERIMA BEBAN NORMAL SENTRIS DAN MOMEN YANG BEKERJA PADA DUA ARAH



Gambar 3.6. Kelompok tiang dengan beban normal sentris dan momen yang bekerja pada dua arah

Pmax = V/n  (My Xmax)/(ny x2)  (Mx Ymax)/(nx y2)
dimana :
Pmax = beban maksimum yang diterima tiang pancang
V = jumlah total beban normal
Mx = momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu x
My = momen yang bekerja pada bidang yang tegak lurus sumbu y
n = jumlah tiang pancang dalam kelompok (pile group)
Xmax = absis terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok
Ymax = ordinat terjauh tiang pancang terhadap titik berat kelompok
ny = jumlah tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu y
nx = jumlah tiang pancang dalam satu baris dalam arah sumbu x
X2 = jumlah kuadrat absis-absis tiang pancang.
Y2  = Jumlah kuadrat ordinat-ordinat tiang pancang.

DAYA DUKUNG KELOMPOK TIANG (PILE GROUP)

Tiang pancang dalam kelompok (pile group) menurut cara pemindahan beban ke tanah dapat dibagi dalam 2 bagian yaitu :
a. Kelompok Tiang Yang Terdiri dari “ Point Bearing Pile”
Tiang-tiang pancang dalam kelompok ini dipancang sampai mencapai tanah keras sehingga perhitungan daya dukung tiang ini berdasarkan pada tahanan ujung (end bearing). Dalam hal seperti ini maka kemampuan tiang dalam kelompok tiang adalah sama dengan kemampuan tiang yang berdiri sendiri dikalikan dengan banyaknya tiang.
Qpg = n . Qs
dimana :
Qpg = daya dukung kelompok tyiang (pile group)
Qs = daya dukung yang berdiri sendfiri (single pile)
n = banyaknya tiang pancang
b. Kelompok Tiang Yang Tediri Dari Friction Pile
Tiang–tiang dalam kelompok ini tidak dipancang sampai mencapai tanah keras oleh karena lapisan tanah keras letaknya terlalu dalam sehingga pemancangan tiang sampai lapisan tanah keras tersebut tidak mungkin atau sukar pelaksanaannya. Jika kelompok tiang ini dipancang dalam lapisan lempung atau lanau yang kemungkinan harga konusnya sama dengan nol, maka daya dukung kelompok tiang pancang dihitung berdasarkan cleef dan konus. Untuk menghitung daya dukung kelompok tiang atau pile group berdasarkan cleef dan konus ada bebarapa perumusan, antara lain :
1. Berdasarkan Perhitungan Daya Dukung Tanah Direktorat Jenderal Bina Marga Dept. PUTL
a. Tekanan maksimum yang dapat ditahan pada dasar kelompk tiang
b. Perlawanan geser (shear resistance) pada permukaan luar keliling kelompok tiang tersebut. Daya dukung keseimbangannya adalah :
Qt = C . Nc . A   +   2 (B+Y) l . c
Daya dukung kelompok tiang yang diijinkan adalah :
Qpg = Qt/3 = 1/3.(C.Nc.A + 2(B+Y)l.c)
dimana :
Qpg = daya dukung yang diijinkan pada kelompok tiang
Qt = keseimbangan pada kelompok tiang
3 = faktor keamanan
c = kekuatan geser tanah (indrained)
Nc = faktor daya dukung tanah    …. menurut Skempton
A = luas kelompok tiang   B x Y
B = lebar kelompok tiang pancang
Y = panjang kelompok tiang–pancang
l = dalam tiang pancang
Daya dukung kelompok tiang dapat juga dihitung berdasarkan beban yang diijinkan diatas satu tiang .
Qpg = n . Qa
dimana :
Qpg = daya dukung yang diijinkan pada kelompok tiang pancang
n = jumlah tiang pancang
Qa = beban yang diijunkan pada satu tiang pancang

2. Berdasarkan Efisiensi Kelompok Tiang Pancang (Pile Group)
disyaratkan :
s  (1.57d.m.n)/(m + n – 2)
dimana :
s = jarak antara tiang (as–as)
d = diameter tiang pancang
m = banyaknya baris
n = jumlah tiang pancang per baris


Gambar 3.7. Kelompok tiang

Efisiensi satu tiang dalam keompok dapat dihitung sebagai berikut :

Eff. N = 1 -                        
dimana :
 = arc tan d/s   ……. ( Derajat )

    Demikian Penjelasan saya mengenai Jenis-jenis Pondasi Bangunan. Semoga bermanfaat bagi yang membacanya. Syalom, Terimakasih.