Follow Me

Instagram
Showing posts with label TEKNIK SIPIL. Show all posts
Showing posts with label TEKNIK SIPIL. Show all posts

REKAYASA HIDROLOGI

IlmuDasarDanTeknik*_Dalam konteks ilmu teknik sipil, rekayasa hidrologi adalah cabang teknik yang fokus pada analisis, perencanaan, dan pengelolaan sumber daya air di daratan, khususnya yang berkaitan dengan air permukaan seperti hujan, sungai, dan aliran air. Tujuannya adalah untuk merancang infrastruktur yang berkaitan dengan air, seperti sistem drainase, bendungan, saluran irigasi, dan struktur pengendali banjir.
Secara lebih spesifik, rekayasa hidrologi dalam teknik sipil melibatkan:
1. Pengukuran dan analisis siklus hidrologi: Memahami pola curah hujan, aliran sungai, infiltrasi, dan evaporasi di suatu daerah.
2. Perhitungan debit banjir dan aliran sungai: Untuk merancang struktur seperti jembatan, bendungan, dan saluran drainase agar mampu mengatasi volume air tertentu.
3. Perencanaan sistem pengendalian banjir: Meliputi kanal, tanggul, dan waduk untuk melindungi wilayah permukiman dan infrastruktur.
4. Pengelolaan air irigasi dan drainase: Mendukung sistem pertanian dan tata guna lahan.
5. Pengendalian erosi dan sedimentasi: Menjaga kestabilan sungai dan tanah.

Pengukuran dan analisis siklus hidrologi

Pengukuran dan analisis siklus hidrologi adalah proses penting dalam rekayasa hidrologi, khususnya dalam teknik sipil, untuk memahami pergerakan dan ketersediaan air di alam. Siklus hidrologi menggambarkan perjalanan air dari atmosfer ke bumi dan kembali lagi melalui berbagai proses seperti presipitasi (hujan), infiltrasi, aliran permukaan, evapotranspirasi, dan perkolasi.

Komponen Utama Siklus Hidrologi yang Diukur

1. Presipitasi (Curah Hujan)
Alat ukur: Ombrometer/manual rain gauge atau Automatic Weather Station (AWS).
Analisis: Intensitas hujan, durasi, dan distribusi ruang-waktu.
Penting untuk: Perhitungan debit banjir, desain saluran drainase.
2. Evaporasi dan Transpirasi (Evapotranspirasi)
Alat ukur: Lysimeter, evaporimeter, atau pendekatan model seperti metode Penman-Monteith.
Penting untuk: Estimasi kehilangan air dari permukaan dan tanaman (khususnya di daerah pertanian dan bendungan).
3. Infiltrasi (Peresapan air ke tanah)
Alat ukur: Infiltrometer atau analisis data lapangan tanah.
Penting untuk: Menentukan potensi air masuk ke tanah, mempengaruhi aliran permukaan dan air tanah.
4. Aliran Permukaan (Runoff)
Alat ukur: Flume, weir, atau pengukuran debit sungai dengan current meter.
Penting untuk: Analisis banjir, desain saluran air dan jembatan.
5. Air Tanah
Alat ukur: Pengamatan muka air tanah dengan piezometer.
Penting untuk: Ketersediaan air bersih dan stabilitas lereng (geoteknik).

Proses Analisis Siklus Hidrologi

1. Pengumpulan Data: Dari stasiun cuaca, pengukuran langsung di lapangan, atau data satelit.
2. Statistika Hidrologi: Analisis frekuensi hujan ekstrem, debit banjir, periode ulang.
3. Model Hidrologi:
a. Model konseptual atau empiris seperti HEC-HMS, SWAT, MIKE SHE.
b. Digunakan untuk simulasi aliran sungai, prediksi banjir, dan perencanaan infrastruktur.
4. Neraca Air (Water Balance):
P=Q+E+ฮ”S
Keterangan:
๐‘ƒ: Presipitasi
๐‘„: Runoff (aliran permukaan)
๐ธ: Evapotranspirasi
ฮ”๐‘†: Perubahan simpanan air di tanah dan air tanah

Contoh Aplikasi dalam Teknik Sipil

1. Merancang bendungan berdasarkan debit maksimum sungai.
2. Membuat saluran drainase yang sesuai kapasitas limpasan saat hujan ekstrem.
3. Analisis potensi banjir di kawasan perkotaan.
4. Perencanaan konservasi air tanah di wilayah kering.
Kalau kamu butuh diagram siklus hidrologi atau contoh perhitungan (misal debit banjir dengan metode Rasional atau Snyder)

Perhitungan debit banjir dan aliran sungai

Perhitungan debit banjir dan aliran sungai merupakan bagian penting dalam hidrologi untuk perencanaan sumber daya air, desain jembatan, bendungan, saluran drainase, dan mitigasi bencana banjir. Berikut adalah penjelasan dan metode umum untuk menghitung keduanya:

Perhitungan Debit Banjir (Qแตฆ)

Debit banjir adalah besarnya aliran maksimum yang terjadi pada saat banjir dalam periode tertentu (misalnya banjir 10 tahunan, 25 tahunan, dll). Metode yang umum digunakan:
1. Metode Rasional
Cocok untuk daerah kecil (< 200 ha).
Rumus:
Q=C⋅I⋅A
Keterangan:
๐‘„ = debit banjir maksimum (m³/s)
๐ถ= koefisien aliran (tanah dan penggunaan lahan)
๐ผ= intensitas curah hujan (mm/jam)
๐ด= luas daerah aliran sungai (km² atau ha, perlu konversi)
Catatan:
Konversi luas: 1 km² = 100 ha
Konversi unit: pastikan satuan konsisten, biasanya gunakan 
๐ด dalam km², 
๐ผ dalam mm/jam, konversi menjadi m³/s


2. Metode HSS (Hidrograf Satuan Sintetik)

Perhitungan Debit Aliran Sungai (Q)

Debit aliran sungai adalah volume air yang melewati penampang sungai per satuan waktu.
1. Metode Penampang Sungai (langsung)
Jika tersedia data pengukuran lapangan (lebar, kedalaman, kecepatan aliran):
Rumus:
๐‘„=๐ด⋅๐‘ฃ
Keterangan:
๐‘„= debit (m³/s)
๐ด = luas penampang aliran (m²)
๐‘ฃ= kecepatan aliran (m/s) — diukur pakai current meter atau float
2. Metode Manning
Digunakan untuk memperkirakan aliran berdasarkan kemiringan dan kekasaran saluran.
Rumus:

Keterangan:
๐‘„ = debit (m³/s)
๐‘›= koefisien kekasaran Manning
๐ด = luas penampang basah (m²)
๐‘… = jari-jari hidrolik (A/P)
๐‘ƒ = keliling basah (m)
๐‘† = kemiringan dasar saluran (m/m)

Pengelolaan air irigasi dan drainase

Pengelolaan air irigasi dan drainase adalah kegiatan penting dalam sistem pertanian dan pengelolaan sumber daya air untuk memastikan tanaman mendapatkan air yang cukup dan menghindari kelebihan air yang bisa menyebabkan kerusakan. Berikut penjelasan lengkap mengenai keduanya:

Pengelolaan Air Irigasi

Tujuan:

  • Menyediakan air dalam jumlah dan waktu yang tepat untuk kebutuhan tanaman.
  • Meningkatkan produktivitas lahan.
  • Menjamin efisiensi dan efektivitas pemanfaatan air.

Komponen Sistem Irigasi:

  • Sumber air: sungai, waduk, mata air, atau air tanah.
  • Bangunan pembagi: bendung, pintu air, talang, dan sifon.
  • Saluran irigasi:

    1. Primer: dari sumber utama ke daerah irigasi
    2. Sekunder: dari saluran primer ke petak tersier
    3. Tersier: ke lahan-lahan petani

Prinsip Pengelolaan:

  • Penjadwalan irigasi: berdasarkan fase pertumbuhan tanaman dan kebutuhan air.
  • Pembagian air (rotasi atau kontinu): tergantung luas lahan dan debit air.
  • Pengaturan dan pemeliharaan: pintu air harus dijaga agar tidak bocor dan saluran bebas dari sedimentasi atau gulma.

Pengelolaan Drainase

Tujuan:

  • Menghindari kelebihan air di lahan pertanian.
  • Menurunkan muka air tanah yang terlalu tinggi.
  • Mencegah genangan dan kerusakan struktur tanah atau tanaman.

Jenis Sistem Drainase:

  • Drainase permukaan:

    1. Mengalirkan air hujan atau limpasan dari permukaan lahan.
    2. Saluran drainase terbuka (parit, selokan).

  • Drainase bawah permukaan (subsurface):

    1. Mengurangi kadar air dalam tanah secara internal.
    2. Pipa bawah tanah, saluran kerikil, atau ubin (tile drainage).

Prinsip Pengelolaan:

  • Perencanaan topografi: saluran dibuat mengikuti kemiringan lahan agar air dapat mengalir lancar.
  • Pemeliharaan rutin: mencegah sumbatan, sedimentasi, dan erosi.
  • Pengendalian air: kadang drainase dikontrol agar air tanah tidak terlalu rendah (terutama di lahan rawa).

Integrasi Irigasi dan Drainase

Sistem irigasi dan drainase harus terintegrasi dan seimbang:

  • Terlalu banyak air perlu drainase.
  • Terlalu sedikit air → perlu irigasi.
  • Kombinasi sistem memungkinkan pengelolaan air yang berkelanjutan, efisien, dan mendukung ketahanan pangan.

Contoh Implementasi Lapangan

  • Sistem irigasi tetes dan irigasi sprinkler untuk efisiensi air.
  • Saluran tersier berbasis partisipasi petani (P3A).

Drainase sawah pasang surut dengan sistem pintu klep otomatis.

Jadi, dalam teknik sipil, rekayasa hidrologi sangat penting untuk memastikan bahwa desain dan pembangunan infrastruktur yang berhubungan dengan air bisa berfungsi efektif, aman, dan berkelanjutan.

METODE STABILISASI TANAH

IlmuDasarDanTeknik*_Halo sahabat Teknik, Gimana kabarnya? Setelah sekian lama tidak ada kabar akhirnya kini bisa menyapa lagi. Kali ini sedikit ilmu yang akan kita pelajari mengenai metode stabilisasi tanah. Kangsung saja ke Materi!

TENTANG STABILISASI TANAH

Dalam pengertian luas, yang dimaksud stabilisasi tanah adalah pencampuran tanah dengan bahan tertentu guna memeperbaiki sifat-sifat teknis tanah atau dapat pula, stabilisasi tanah adalah usaha untuk merubah atau memperbaiki sifat-sifat teknis tanah agar memenuhi syarat teknis tertentu.

Tanah dasar merupakan bagian penting dari kontruksi jalan karena tanah ini mendukung seluruh kontruksi jalan beserta muatan lalu lintas diatasnya. Tanah dasar menentukan mahal tidaknya pembangunan jalan tersebut karena kekuatan tanah tersebut menentukan tebal tipisnya lapisan perkerasan. Tanah dasar dalam keadaan asli merupakan suatu bahan yang kompleks dan sangat bervariasi kandungan mineralnya. Pembangunan jalan raya tidak selalu berada diatas tanah dasar yang relatif baik, ada kemungkinan dibuat diatas tanah yang kurang baik. Akibatnya, tanah tersebut tidak dapat langsung dipakai sebagai lapisan dasar (subgrade). Oleh karena itu tanah dasar perlu dipersiapkan secara baik antara lain dengan perbaikan tanah.

Stabilisasi tanah adalah alternatif yang dapat diambil untuk memperbaiki sifat-sifat tanah yang ada. Pada prinsipnya stabilisasi tanah merupakan suatu penyusunan kembali butir-butir tanah agar lebih rapat dan saling mengunci. Tanah dibuat stabil agar jika ada beban yang lewat, tidak terjadi penurunan (settlement). Tanah dasar minimal harus bisa dilewati kendaraan proyek. Stabilisasi tanah adalah usaha untuk meningkatkan stabilitas dan kapasitas daya dukung tanah. Menurut Bowles (1984) apabila tanah yang terdapat di lapangan bersifat sangat lepas atau sangat mudah tertekan, atau apabila mempunyai indeks konsistensi yang tidak sesuai, permeabilitas yang terlalu tinggi, atau sifat lain yang tidak diinginkan sehingga tidak sesuai untuk suatu proyek  pembangunan, maka tanah tersebut harus di stabilisasikan. Proses stabilisasi itu meliputi, antara lain:

  1. Penggantian tanah asli : mengganti tanah dengan tanah yang baik atau sesuai spesifikasi.
  2. Perbaikan gradasi butiran.
  3. Stabilisasi dengan bahan kimia.
  4. Stabilisasi dengan pemadatan.

Tujuan perbaikan tanah tersebut adalah untuk mendapatkan tanah dasar yang stabil pada semua kondisi. Usaha stabilisasi dilakukan hanya seperlunya saja, tidak menguntungkan secara ekonomis untuk membuat sesuati bagian konstruksi yang lebih kuat dari yang diperlukan. 

JENIS METODE STABILISASI TANAH

Ada dua metode-metode stabilisasi yang dikenal adalah sebagai berikut :

Stabilisasi Mekanis

Definisi stabilisasi mekanis adalah tanah yang telah di stabilisasikan secara mekanis adalah yang telah berhasil dibuat memiliki daya dukung tanah tertentu terhadap deformasi oleh muatan, disebabkan karena adanya kait mengait (interlock) dan geseran antar butir tanah serta daya ikat antar butir oleh bagian tanah yang halus atau tanah liat. Beberapa usaha penambahan kekuatan atau daya dukung tanah dengan stablisasi mekanis seperti mengganti jenis tanah eksisting, mengatur gradasi tanah atau melakukan pemadatan (compaction).

Stabilisasi Kimiawi

Stabilisasi tanah secara kimiawi adalah panambahan bahan stabilisasi yang dapatmengubah sifat-sifat kurang menguntungkan dari tanah. Biasanya digunakan untuk tanah yang berbutir halus. Bahan yang digunakan untuk stabilisasi tanah disebut stabilizing agents karena setelah diadakan pencampuran menyebabkan terjadinya stabilisasi. Untuk masih dapat memanfaatkan tanah-tanah kohesif setempat sebanyak mungkin secara ekonomis, maka dipergunakan stabilizing agents, yang karena proses kerjanya dan sifat pengaruh yang ditimbulkan kepada bahan yang distabilkan menyebabkan stabilisasi dengan menggunakan bahan campuran ini. 

Di dalam usaha stabilisasi tanah ini, kita mengenal banyak jenis stabilizing agents. Diantara sekian banyak stabilizing agents, yaitu air sendiri di dalam jumlah yang tepat dan tanahliat dalam jumlah proporsional. Untuk menahan air diperlukan stabilizing agentsi (garam laut) pada air tersebut yang sifatnya higroskopis dapat mengikat air dalam jangka waktu yang lama. Adapun stabilizing agents untuk tanah liat antara lain adalah kapur pasang (hydrated lime), Portland cement (PC), bitumen, dan lain lain. Stabilizing agents yang disebutkan tadi merupakan bahan-bahan yang menghasilkan produk yang baik sesuai dengan tujuan penstabilan tanah yang bersangkutan, derajat peningkatan mutu yang dikehendaki dan mudah dikerjakan. Pada umumnya, stabilisasi kmiawi adalah jenis usaha yang cukup mahal dan memerlukan ketelitian dan kecermatan bekerja yang tinggi.

Sekian ilmu yang bisa kami bagikan semoga bermanfaat. Terimakasih.


PENYELESAIAN CONTOH SOAL ANALISA STRUKTUR BATANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE RITTER

IlmuDasarDanTeknik.*_Oke teman-teman seperjuangan Anak Teknik Khususnya Teknik Sipil, Kali ini Kita akan membahas penyelesaian dari contoh Soal #DARI POSTINGAN SEBELUMNYA# Mengenai Analisa Struktur Rangka Batang Dengan Mengunakan Metode Ritter atau bahasa mudahnya metode potongan Batang. Kalau Begitu kita Langsung Saja!

 SOAL

Nih Soalnya!
Diketahui suatu kontruksi rangka batang ABCDEFGHIJKL dengan batang vertikal dan batang horisontal masing-masing sepanjang 4 m dengan gaya P1 = 8 kN, P2 =10 kN, dan P3 = 12 kN. Dengan menggunakan Metode Ritter, hitunglah besarnya gaya-gaya batang yang bekerja pada kontruksi rangka batang tersebut. S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21. Seperti terlihat pada gambar berikut:




Rangka Batang

Gimana?
Udah Lihat Soalnya?
Sekarang kita Coba Selesaikan ya.

PENYELESAIAN 

Dalam Menyelesaikan Soal di atas maka berikut langkah Langkahnya
Karena Batang yang akan kita Analisa adalah S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21 maka kita bisa menggambar potongannya seperti berikut:
Potongan Batang

Setelah kita Gambarkan potongannya, maka Langkah selanjutnya adalah Menghitung reaksi perletakan seperti berikut:


Menghitung reaksi perletakan


∑MB=0    VA.12-8.12-10.10-12.8-12.6-12.4-10.2=0
Didapatkan VA =36 kN
Jika kita lihat bentuk rangka batang di atas yang simetris maka dapat kita simpulkan VB = VA = 36 kN. Tetapi untuk dapat mengetahui lebih jelas maka tidak ada salahnya kita juga menghitungnya seperti berikut:
∑MA=0    VB.12-8.12-10.10-12.8-12.6-12.4-10.2=0
Didapatkan VB =36 kN
Untuk mengeceknya seperti berikut:
∑V=0     VA+VB-8-10-12-12-12-10-8=0         cek ok!


Menghitung gaya-gaya batang pada potongan.


Setelah menghitung reaksi perletakannya maka kita sudah bisa menghitung gaya- gaya batang pada setiap potongannya. Sesuai Gambar Potongan di atas maka kita menentukan menjadi tiga potongan yaitu, potongan i-i, potongan ii-ii, dan potongan iii-iii. Jadi, mari kita hitung gaya-gaya pada potongan satu per satu. Seperti kita ketahui bahwa menghitung gaya batang dengan metode ritter dapat kita lakukan tanpa menghitung dari ujung jadi langsung di batang yang ingin kita cari saja, seperti berikut:

1. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan i-i:

Potongan i-i
a. Menganalisa Momen Pada Titik F.
∑MF=0    VA.4-P1.4-P2.2+S4 Cos 26,565°.4=0
36.4-8.4-10.2+S_4 Cos 26,565°.4=0
92+S4 Cos 26,565°.4=0
S4 Cos 26,565°.4=-92
S4=-25,714 kN  (batang tekan)
Didapatkan S4=-25,714 kN yang adalah batang tekan
b. Menganalisa Momen Pada Titik C.
∑MC=0    VA.2-P1.2-S6.3=0
36.2-8.2-S6.3=0
56-S6.3=0
-S6.3=-56
-S6=-18,667
S6=18,667 kN  (batang tarik)
Didapatkan S6=18,667 kN yang merupakan batang tarik.
 c. Menganalisa Momen Pada Titik E.
∑ME=0    VA.4-P2.2-P1.4-S5 Cos 56,309°.4-S6.4=0
36.4-10.2-8.4-S5 Cos 56,309°.4-18,67.4=0
-S5 Cos 56,309°.4-17,32=0
-S5 Cos 56,309°.4=17,32
-S5=-7.806 kN
S5=7.806 kN (batang tarik)
Didapatkan S5=7.806 kN yang merupakan batang tarik.

2. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan ii-ii:


Potongan ii-ii
a. Menganalisa Momen Pada Titik J
 ∑MJ=0   -VB.4+P2.2+P1.4-S12.4=0
-36.4+10.2+8.4-S12.4=0
-92-S12.4=0
-S12.4=92
-S12=23
S12.=-23 kN  (batang tekan)
Didapatkan S12.=-23 kN  yang merupakan batang tekan.
b. Menganalisa Momen Pada Titik E
∑MH=0    -VB.6+P2.4+P1.6+P3.2-S12.4-S13.Sin 63,435°.2=0
-VB.6+P2.4+P1.6+P3.2-S12.4-S13.Sin 63,435°.2=0
-36.6+10.4+8.6+12.2-(-23).4-S13.Sin 63,435°.2=0
-12-S13.Sin 63,435°.2=0
-S13.Sin 63,435°.2=12
-S13=6.708
S13=-6.708 kN  (batang tekan)
Didapatkan S13=-6.708 kN  yang batang tekan
 c. Menganalisa Momen Pada Titik G
∑MG=0    -VB.6+P1.6+P2.4+P3.2+S14.4=0
-36.6+8.6+10.4+12.2+S14.4=0
-104+S14.4=0
S14.4=104
S14=26 kN  (batang tarik)
Didapatkan S14=26 kN  yang merupakan batang tarik.

 3. Menghitung gaya-gaya batang pada potongan iii-iii:



Potongan iii-iii
 a. Menganalisa Momen Pada Titik L
∑ML=0    -VB.2+P1.2-S20.Sin 56,309.2=0
-36.2+8.2-S20.Sin 56,309.2=0
-56-S20.Sin 56,309.2=0
-S20.Sin 56,309.2=56
-S_20=33,63 → S20=-33,65 kN  (batang tekan)
Didapatkan S20=-33,65 kN  yang merupakan batang tekan
b. Menganalisa Momen Pada Titik K
∑MK=0    -VB.2+P1.2+S21.3=0
-36.2+8.2+S21.3=0
-56+S21.3=0
S21.3=56
S21=18,67 kN  (batang tarik)
Didapatkan S21=18,67 kN  yang merupakan batang tarik.


Tabulasi Besarnya Gaya-gaya Batang 


Darai Hasil Analisa kita menggunakan metode ritter di atas maka hasilnya dapat kita lihat pada tabel berikut:
Gimana Kawan? Udah Puas dengan jawabannya? Atau ada kekurangan, masukan, pertanyaan atau lain-lain? Silahkan Isi di Kolom Komentar! Jadi Demikianlah postingan kali ini mengenai penyelesaian analisa struktur batang dengan menggunakan metode Ritter atau potongan batang. Semoga bermanfaat. Terimakasih.....
Oh iya teman-teman Jika berkenan Silahkan Ikuti Instagram Saya ๐Ÿ‘‡
 Follow Me
Instagram

ANALISA STRUKTUR RANGKA BATANG DENGAN METODE RITTER

IlmuDasarDanTeknik*_Sekarang sudah memasuki pertengan tahun 2018, namun belum satu pun postingan keren tentang teknik sipil yang bisa saya posting. Baru sekarang inilah saya busa menemukan Materi yang lumayan kerenlah yakni mengenai "Lihat Judul Dong Boss!" Hehehe ya tepat sekali yaitu menganalisa struktur rangka batang menggunakan metode ritter. Gimana, Keren Kan? Oke Kita Langsung Saja.....
KONSEP DASAR METODE RITTER
Metode Ritter atau yang sering deikenal dengan nama lain Metode Potongan Batang merupakan salah satu metode yang cukup Praktis dalam menghitung Batang pada Struktur rangka Batang. Konsep dasar dalam perhitungan besarnya gaya-gaya batang pada kontruksi rangka batang statis tertentu dengan menggunakan Metode Ritter adalah memutus konstruksi rangka batang tersebut menjadi dua bagian dengan memotong batang-batangnya. Pemotongan batang-batang tersebut diupayakan maksimal memotong maksimal 3 batang yang tidak bertemu dalam satu titik simpul. Pemotongan tersebt dilakukan terhadap batang-batang yang akan dihitung besarnya gaya-gaya batangnya. Perhitungan gaya-gaya batang ditentukan berdasarkan analisis keseimbangan momen (∑M =0). Batang yang terpotong dimisalkan sebagai batang tarik, dimana apabila hasil perhitungan menunjukkan nilai positif maka pemisalan tersebut benar, sedangkan apabila hasil perhitungan menunjukkan nilai negatif maka batang yang dimisalkan adalah batang tekan.
KELEBIHAN METODE RITTER
Kelebihan dari Metode Ritter dibandingkan metode-metode yang yang lain misalnya seperti Metode Titik Buhul dan Metode Cremona adalah bahwa dengan metode Ritter ini dapat melakukan perhitungan gaya-gaya batang langsung ke batang yang diinginkan tanpa harus menghitung berurutan dari tepi kiri maupun kanan dari batang-batang pada kontruksi rangka batang. Misalnya apabila diinginkan untuk menghitung besarnya gaya-gaya batang pada bagian tengah kontruksi, maka gaya-gaya batang tersebut bisa langsung dihitung.
LANGKAH LANGKAH PENYELESAIAN METODE RITTER
Adapun Langkah-langkah penyelesaian untuk menentukan besarnya gaya-gaya batang pada konstruksi rangka batang dengan menggunakan Metode Ritter adalah sebagai berikut :
1. Memeriksa apakah konstruksi rangka batang adalah struktur statis tertentu sehingga gaya-gaya batang pada kontruksi rangka batang dapat diselesaikan secara statis tertentu.
2. Menentukan gaya-gaya reaksi yang ada pada perletakan konstruksi rangka batang status tertentu dengan cara seperti pada balok/gelar sederhana.
3. Gaya-gaya luar yang bekerja pada kontruksi rangka batang didistribusikan pada tiap titik simpul. Apabila terdapat gaya luar yang bekerja pada sebuah batang atau tidak tepat pada titik simpul, maka gaya tersebut harus didistribusikan pada titik-titik simpul pada batang tersebut.
4. Menggambarkan potongan pada kontruksi rangka batang statis tertentu yang kan dihitung gaya-gaya batangnya, yang sedapat mungkin dilakukan pemotongan dengan memotong maksimal 3 buah batang (yang belum diketahui besar gayanya). Apabila dilakukan perhitungan gaya batang untuk seluruh batang pada suatu konstruksi rangka batang statis tertentu dengan bentuk yang simetris, pemotongan dari bagian kiri dan kanan disarankan dengan pola yang sama.
5. Menghitung besarnya gaya-gaya batang berdasarkan keseimbangan momen ∑M = 0
6. Merekap besarnya gaya-gaya batang dalam bentuk tabulasi
CONTOH SOAL DAN PENYELESAIAN METODE RITTER
Diketahui suatu kontruksi rangka batang ABCDEFGHIJKL dengan batang vertikal dan batang horisontal masing-masing sepanjang 4 m dengan gaya P1 = 8 kN, P2 =10 kN, dan P3 = 12 kN. Dengan menggunakan Metode Ritter, hitunglah besarnya gaya-gaya batang yang bekerja pada kontruksi rangka batang tersebut. S4, S5, S6, S12, S13, S14, S20, S21. Seperti terlihat pada gambar berikut:

Gimana Soalnya? Keren gak?
Langsung Saja kita buat Penyelesaiannya! Berikut:
PENYELESAIAN
Dalam Menyelesaikan Soal di atas maka berikut langkah Langkahnya
Pertama kita tentukan Dulu Potongan batangnya, seperti pada gambar berikut:
Potongan Batang

Tapi Eits...... Sabar Dulu yaa! Penyelesaiannya ada di Postingan Berikutnya! #KLIK DI SINI!# Hehehe Sory yah!
Oke, Demikianlah Postingan saya mengenai Analisa Struktur Rangka Batang Menggunakan Metode Ritter. Semoga Bermanfaat. Terimakasih...
 Follow Me
Instagram

Utilitas Bangunan : Sistem Telekomunikasi Bangunan Gedung

IlmuDasarDanTeknik.*_Dalam merancang suatu bangunan utamanya gedung yang berfungsi sebagai bangunan sarana umum hal yang perlu di perhatikan adalah utilitasnya. Berikut salah satu utilitas bangunan sipil yang juga menjadi perencanaan adalah sistem telekomunikasi Gedung, berikut ulasannya:
Ada dua macam Sistem telekomunikasi dalam gedung yang perlu kita perhatikan, yakni:

1.Sistem hubungan telepon

Sistem network atau hubungan telepon dalam suatu gedung / bangunan, yaitu :
- Hubungan eksternal
Berhubungan dengan nomor diluar yang tidak dalam ruang lingkup lingkunan sistem PABX sebagai sentral telepon dalam gedung baik panggilan masuk (incoming) atau panggilan keluar, seperti hubungan lokal, SLJJ, dan SLI.

A.Hubungan internal


Berhubungan masih dalam lingkungan sistem PABX sebagai sentral telepon antar sambungan cabang/ nomor extension yang satu dengan sambungan cabang/ nomor extension yang lain.
Perangkat atau peralatan-peralatan yang digunakan dalam jaringan telepon dalam gedung , yaitu :

1. Junction Box

     Kotak pembagi jaringan telepon yang berfungsi sebagai terminal telepon dari Telkom ke jaringan dalam gedung milik pribadi.

2. Panel incoming-outgoing

     Titik input Kotak Terminal Batas (KTB) dari jaringan Telkom menuju panel MDF.

3. MDF

Main Distribution Frame (MDF) yaitu panel atau kotak pembagi terminal utama/ induk jaringan telepon dalam gedung baik dari SST telkom menuju PABX atau pendistribusian jaringan extension ke ruangan-ruangan.

4. PABX

Private Automatic Branch Exchange (PABX) yaitu perangkat untuk memperbanyak atau menambah nomor SST Telkom menjadi nomor extension, sebagai sentral telepon dalam gedung yang mengatur lalu lintas komunikasi suara.

5. UPS

Unit Power Supply (UPS) yaitu catu daya listrik cadangan apabila daya listrik PLN mengalami pemadaman dan agar tegangan PABX tetap stabil 48 VDC.

6. Batere

Sumber listrik cadangan yang menggantikan sumber listrik PLN 48 VDC.

7. Arrester

Alat untuk melindungi peralatan telepon dari kerusakan akibat kejutan tegangan berlebih, terkena petir, short circuit.

8. Operator Console

Alat operator telepon yang merupakan pintu gerbang dalam melakukan komunikasi suara dapat mengatur lalu-lintas komunikasi suara, menghubungkan ke nomor yang akan dituju baik telepon masuk (Incoming) maupun telepon keluar (Outgoing) dan dalam lingkungan telepon intern.
Tipe operator console :
  •  Telephone Based
Menggunakan pesawat telepon digital sebagai operator console, dengan konsep yang praktis, common dan user friendly sehingga dapat memberikan pelayanan dengan cepat dan lebih cocok digunakan oleh perusahaan skala kecil dan menengah.
  • Computer Based
Operator console tipe ini menggunakan perangkat komputer yang dilengkapi multimedia system dan peralatan khusus. Konsep ini memiliki features yang lebih canggih dan diperuntukkan bagi perusahaan skala menengah dan besar.

9. Jaringan/ instalasi

Merupakan rangkaian penghubung peralatan-peralatan telepon yang membawa sinyal komunikasi seperti terminal-terminal, PABX, operator console, pesawat telepon, dll. Berupa pair-kabel atau sepasang kabel (1 pair berisi 2 kawat tembaga penghubung).

10. Roset

Adalah alat untuk menghubungkan jaringan/ instalasi telepon dengan kabel pesawat telepon. Berupa terminal penghubung Out Bow (OB) yang tidak ditanam di dinding dan terminal penghubung In Bow (IB) yang ditanam didinding.

11.Pesawattelepon

      Adalah alat yang digunakan untuk merubah suara menjadi sinyal komunikasi.

12. Billing System

     Billing system digunakan untuk memonitor biaya pemakaian telepon sehingga dapat mengontrol, menganalisa dan merencanakan biaya operasional khususnya pemakaian telepon. Dengan cara ini dapat melakukan efisiensi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan, misalnya seperti di hotel. Berikut ini adalah keperluan atau pencatatan yang dapat diperoleh dengan adanya billing system, yaitu :
  • Tanggal dan waktu panggilan terjadi
  • Nomor yang dipanggil
  • Nomor saluran cabang yang memanggil
  • Lama pembicaraan
  • Authorization code
  • Code account yang dibebankan
  • Dapat merekam semua pembicaraan lokal, nasional atau internasional

2. Sistem tata suara (sound system)

      Tata Suara adalah suatu teknik pengaturan peralatan suara atau bunyi pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rapat dan lain lain. Tata Suara memainkan peranan penting dalam suatu pertunjukan langsung dan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari Tata Panggung dan bahkan acara pertunjukan itu sendiri. Tata Suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan suara agar bisa terdengar kencang tanpa mengabaikan kualitas dari suara-suara yang dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon,kabel-kabel,prosesor dan efek suara, pengaturan konsul mixer, kabel-kabel, dan juga Audio Power amplifier dan Speaker-speakernya.
      Pekerjaan sistem tata suara atau sound system diantaranya meliputi pemasangan peralatan sentral sound system  yang terdiri dari unit sinyal suara (program source) dan penguat sinyal suara (audio amplifier), yang ditempatkan pada rak peralatan sentral sistem tata suara.

  1.         Peralatan Utama Sistem Tata Suara

     Peralatan utama sistem tata suara  diantaranya memenuhi  back ground musik dan pengumuman darurat / paging. Diantara pealatan utama dari sistem tata suara, adalah:
•         Micropone paging
•         Mixer
•         Power Amplifier
•         Ceiling speaker
•         Chyme microphone
•         Radio Tunner AM / FM
•         Caset dect
•         CD Player
•         Volume Control
•         Monitor unit

2.         Terminal Box & Sistem Perkabelan

Terminal box merupakan kotak penghubung antara peralatan utama dengan speaker. Kabel instalasi dari ceiling dan horn speaker di hubungkan melalui kabel instalasi melalui terminal box, dan dari terminal box  ke peralatan utama

Demikian Artikel yang saya bagikan mengenai Utilitas bangunan dalam hal sistem tekomunikasi gedung. Semoga bermanfaat.

Tutorial Menggunakan SAP dalam Mendesain Bangunan Baja

IlmuDasarDanTeknik.*_Kali ini Saya akan membagikan sesuatu yang berkaitan dengan Teknik Sipil, utamanya dalam mendesai struktur bangunan Sipil. Tapi kali ini bukan dalam bentuk Artikel melainkan dalam bentuk video dari Youtube, Silahkan Tonton atau Download. Berikut Videonya :




Silahkan Download dengan Klik Link Download berikut :

Alat Bantu serta Teori Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi

IlmuDasarDanTeknik.* Sahabat Ilmu Dasar dan Teknik, kali ini saya akan membagikan info atau sedikit peneranagan mengenai Alat Bantu serta teori K3 pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi. Langsung saja Ulasannya sebagai berikut:

Alat Bantu dan Alat Keselamatan Kerja

Adapun alat bantu pada proses pengelasan sebagai berikut:

1. Sikat kawat (wire brush)

Sikat kawat berfungsi untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan sisa-sisa terak yang masih ada setelah dibersihkan dengan palu terak.
Bahan serabut sikat terbuat dari kawat-kawat baja yang tahan terhadap panas dan elastis, dengan tangkai dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian yang disikat.

2. Palu las (chipping hammer).

Palu las digunakan untuk membersihkan terak yang terjadi akibat proses pemotongan dan pengelasan dengan cara memukul atau menggores teraknya. Pada waktu membersihkan terak, gunakan kacamata terang untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan terak. Ujung palu yang runcing digunakan untuk memukul pada bagian sudut rigi-rigi. Palu las sebaiknya tidak digunakan untuk memukul benda-benda keras, karena akan mengakibatkan kerusakan pada bentuk ujungujung palu sehingga palu tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Tang penjepit

Adapun alat keselamatan kerja unutuk pengelasan sebagai berikut:

a.    Topeng las (welding mask)

Untuk melindungi mata, kepala/rambut operator dari percikan-percikan pada saat melakukan pemotongan dengan oksi-asetilin atau api las dan benda –benda panas lainnya. Juga untuk melindungi muka operator las terhadap percikan hasil pemotongan, dan ledakan percampuran gas yang tidak sempurna.

 b.    Sarung tangan kulit

Pekerjaan mengelas dan pemotongan selalu berhubungan dengan panas, kontak dengan panas sering terjadi yaitu pada saat pengelasan dan pemotongan benda kerja yang memperoleh panas secara konduksi dari proses pengelasan dan pemotongan. Untuk melindungi tangan dari percikan-percikan api las dan percikan pada saat pemotongan benda-benda panas maka operator las harus menggunakan sarung tangan.

c.    Jaket kulit/Apron kulit.

Untuk melindungi kulit dan organ-organ tubuh pada bagian badan operator dari percikan-percikan api las pada saat proses pengelasan dan pemotongan benda kerja serta pancaran sinar las yang mempunyai intensitas tinggi maka pada baian badan perlu dilindungi dengan menggunakan jaket kulit atau apron kulit.

d.    Kaca mata pengaman (safety glasses)

Untuk Melindungi mata pada saat membersihkan kampuh las serta terak hasil dari pemotongan yang menggunakan palu terak maupun mesin gerinda.

Teori K3 Pengelasan

        Penggunaan las dalam pengerjaan konstruksi semakin luas sehingga kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak terjadi. Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu proses pemesinan yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan api dan bahan – bahan yang mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada las gas yaitu gas oksigen dan Asetilin . Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari apabila kita sebagai operator dalam mengoperasikan alat pengelasan dan  alat keselamatan kerja dipergunakan dengan baik dan benar, memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya akibat proses las  .

1.    Gas dalam asap

Menurut (Harsono, 1996)sewaktu proses pengelasan berlangsung terdapat gas – gas yang berbahaya yang perlu diperhatikan , yaitu :
a.    Gas karbon monoksida ( CO )
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin ( Hb ) yang akan menurunkan daya penyerapannya terhadap oksigen .
b.    Karbon dioksida (CO2)
Gas ini sendiri sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila konsentrasi CO2 terlalu tinggi dapat membahayakan operator terutama bila ruangan tempat pengelasan tertutup seperti di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY.
c.    Gas Nitrogen monoksida (NO)
Gas NO yang masuk ke dalam pernafasan tidak merangsang, tetapi akan bereaksi dengan haemoglobin (Hb)seperti halnya gas CO. Tetapi ikatan antara NO dan Hb jauh lebih kuat daripada CO dan Hb maka gas NO tidak mudah lepas dari haemoglobin, bahkan mengikat oksigen yang dibawa oleh haemoglobin. Hal ini menyebabkan kekurangan oksigen yang dapat membahayakan sistem syaraf.
d.    Gas nitrogen dioksida ( NO2)
Gas ini akan memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan pernafasan, bereaksi dengan haemoglobine ( Hb ) yang dapat menyebabkan sakit mata dan batuk–batuk pada operator . Keracunan gas ini apabila dipakai untuk jangka waktu yang lama akan berakibat operator menderita penyakit TBC atau paru–paru .
e.    Gas-gas beracun yang terbentuk karena penguraian dari bahan pembersih dan pelindung terhadap karat .

2.    Pencegahan Bahaya

Pada proses pengelasan operator harus benar – benar mengetahui dan memahami bahaya – bahaya yang muncul selama proses pengelasan ini berlangsung.  Menurut Harsono, 1996,beberapa macam bahaya pengelasan yang mungkin saja timbul sewaktu proses berlangsung , meliputi : 

A.    Bahaya Ledakan.

    Bahaya ledakan yang sering terjadi pada proses pengelasan produk yang berbentuk tangki atau bejana bekas tempat penyimpanan bahan – bahan  yang mudah menyala atau terbakar. Pada proses pengelasan / pemotongan ini diperlukan beberapa hal persiapan pendahuluan untuk menghindari bahaya ledakan , seperti :
a.    Pembersihan bejana atau tangki
Sebelum proses pengelasan berlangsung maka   bejana atau tangki perlu dibersihakan dengan :
•    Air untuk bahan yang mudah larut.
•    Uap untuk bahan yang ,mudah menguap.
•    Soda kostik untuk membersihkan minyak , gemuk atau pelumas.
b.    Pengisian bejana atau tangki
Setelah proses pembersihan selesai isilah  tangki atau bejana dengan air sedikit di bawah bagian yang akan dilas/dipotong.
c.    Kondisi tangki sewaktu proses pengelasan
Selama proses pengelasan berlangsung kondisi tangki atau bejana harus dalam keadaan terbuka agar gas yang menguap karena pada proses pemanasan gas dapat keluar.
d.    Penggunaan gas lain
Apabila dalam proses pengisian tangki atau bejana dengan air mengalami kesulitan maka sebagai gantinya dapat digunakan gas CO2 atau gas N2 dengan konsentrasi minimum 50 % dalam udara .

B.    Bahaya Jatuh

Untuk pengerjaan konstruksi bejana, tangki pertamina atau konstruksi bangunan lainnya yang membutuhkan tempat yang tinggi, bahaya yang mungkin dapat terjadi adalah bahaya jatuh atau kejatuhan yang berakibat fatal . Beberapa langkah yang perlu diambil oleh operator untuk  menghindari bahaya ini :
a.    Menggunakan tali pengaman.
b.    Menggunakan topi pengaman untuk mencegah  terjadinya kejatuhan benda – benda atau kena panas matahari.

C.    Bahaya Kebakaran

       Proses pengelasan selalu berhubungan dengan api sehingga bahaya kebakaran sangat mungkin terjadi mengingat proses ini sangat berhubungan erat dengan api dan gas yang mudah terbakar, untuk itu operator perlu sekali mengambil langkah – langkah pengamanan seperti :
a.    Ruangan atau areal pengelasan harus bebas dari  kain, kertas, kayu, bensin, solar, minyak atau bahan – bahan lain yang mudah terbakar atau meledakharus ditempatkan di tempat khusu yang tidak akan terkena percikan las.
b.    Jauhkan tabung – tabung dan generator dari percikan api las, api gerinda atau panas matahari.
c.    Perbaikan pada sambungan – sambungan pipa atau selang – selang terutama saluran Asetilen.
d.    Penyediaan alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau seperti bak air, pasir, hidrant .

D.    Bahaya Percikan Api / Panas

      Bahaya dari percikan api atau panas akan berakibat bahaya kebakaran seperti yang diuraikan diatas , tetapi bahaya lainnya adalah pada operator las sendiri yang terkena luka bakar atau sakit mata . Untuk itu operator selalu dianjurkan menggunakan alat –alat pelindung seperti: sarung tangan, apron, sepatu tahan api, kaca mata las, topeng las.

E.    Bahaya Gas dalam Asap Las

    Pencegahan atau tindakan yang harus diambil oleh operator untuk menghindari bahaya gas dalam asap las adalah :
a.    Pekerjaan las harus dikerjakan dalam   ruang terbuka atau ruang yang berventilasi agar gas dan debu yang terbentuk segera terbuang.
b.    Apabila ventilasi masih belum cukup memadai maka sebaiknya memakai masker hidung.
c.    Untuk pengerjaan pengelasan dalam tangki perlu tindakan di bawah ini :
1.    Menggunakan penghisap gas / debu.
2.    Dibutuhkan seorang rekan operator di luar tangki atau bejana yang selalu siaga apabila terjadi bahaya.
3.    Voltage lampu penerangan maksimum 12 volt.

F.    Bahaya Sinar

Selama proses pengelasan akan menimbulkan cahaya,  sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berbahaya sehingga diperlukan:
a.    Pelindung mata atau goegle
Pelindung mata tersebut harus mampu menurunkan kekuatan cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah.Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Harsono, 1996). Pelindung mata atau goegle yang mempunyai nomor warna dan penggunaan seperti di tunjukkan pada tabel di bawah ini :
        Tabel 1. Nomor warna penggunaan goegle

No.warna
Las busur listrik
Las gas
2,5
-
Untuk cahaya rendah
3
-
Untuk cahaya rendah
4
-
Untuk cahaya rendah
5
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
6
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
7
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat
8
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat


b.    Pelindung muka
Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat cahaya busur, percikan yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja.Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam dapat berupa helmet dan dapat berupa pelindung yang harus dipegang (Harsono, 1996).

G.    Kondisi Lab Kerja

Berikut ini akan penulis ceritakan mengenai kekurangan atau masih di bawah standarnya ruang praktikum modul pengelasan ( modul las listrik dan modul las Asetilen), hal ini bisa dilihat dari   :
a.    Sempitnya ruang praktikum
Luas ruang praktikum modul pengelasan di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY saat ini hanya cuma 3 x 7 x tinggi 2,5 meter yang dipakai untuk dua kegiatan praktikum pengelasan . untuk luas ruangan tersebut pada kondisi puncak dimana semua kapasitas peserta praktikum terpenuhi maka akan dipenuhi oleh 10 orang praktikan dan asisten .
b.    Terlalu rendahnya atap
Tinggi atap yang cuma 2,5 meter berakibat sirkulasi udara tidak lancar dan temperatur udara cepat panas sehingga operator ( praktikan dan asisten ) menjadi cepat lelah.
c.    Ventilasi udara kurang
Tidak adanya ventilasi udara atau sirkulasi udara tidak lancar apalagi pada musim penghujan dimana suhu udara lembab berakibat operator menjadi cepat lelah, sesak napas.
d.    Semakin banyaknya peserta praktikum tiap tahunnya.
Dengan di bawah standarnya kondisi ruang praktikum modul pengelasan untuk praktek proses produksi tersebut akan berakibat :
•    Munculnya bahaya asap.
•    Seringnya praktikan dan asisten praktikum mengalami sesak napas yang berakibat terserang penyakit paru – paru .
Pemecahan masalah
Untuk dapat memecahkan masalah tersebut maka perlu adanya perhatian yang khusus dari pihak institusi. Disini penulis mencoba memberikan masukan yang mungkin dapat membantu supaya kegiatan praktikum pengelasan di Lab. Proses Produksi bisa berlangsung lancar dan aman sehingga bahaya – bahaya yang diakibatkan oleh praktikum pengelasan dapat dihindari , misalnya :
a.    Penambahan ruang praktikum.
b.    Penambahan blower.
c.    Mempertinggi atap ruang praktikum.
d.    Penyediaan makananatau minuman suplemen misalnya susu untuk menetralisir terjadinya sesak  napas setelah kegiatan praktikum pengelasan selesai.

Konsep Lingkungan Hidup

IlmuDasarDanTeknik*_Kali ini saya akan menulis sebuah artikel mengenai konsep lingkungan hidup. Konsep lingkungan hidup mungkin secara teknis jauh dari apa yang kita kenal dari dunia teknik. akan tetapi sebagai Engineer yang baik kita harus memperhatikan lingkungan hidup agar terjaga dengan baik. Di dalam dunia teknik sipil sendiri konsep lingkungan hidup sangat penting untuk didalami dengan maksud agar didalam melakukan pembangunan Bangunan teknik sipil seharusnya memperhatikan lingkungan sekitar. jangan sampai membawa dampak yang tidak baik. Berikut Ulasan Mengenai Lingkungan Hidup:

A    Pengertian Lingkungan Hidup

Konsep dasar lingkungan hidup berarti pengertian dasar tentang lingkungan hidup. Lingkungan secara umum memiliki arti segala sesuatu di luar individu merupakan system yang kompleks sehingga dapat mempengaruhi satu sama lain. Kondisi yang saling mempengaruhi ini membuat lingkugan selalu dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan seberapa besar komponen lingkungan itu dapat mempengaruhi dengan kuat. Ada saatnya menjadi baik dan tidak menutup kemungkinan untuk berubah menjadi buruk. Perubahan itu dapat disebabkan oleh makhluk hidup dalam satu lingkungan tersebut.
Dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 definisi lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup didefinisikan sebagai upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

B    Unsur-unsur lingkungan hidup

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, uaitu :
1.    Unsur hayati (Biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tunbuhan, dan jasad renik.
2.    Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
3.    Unsur fisik (Abiotik), ysitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup seperti tanah, air, udara, dan iklim. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi.

C    Norma-norma lingkungan hidup

Norma adalah aturan, ukuran, atau kaidah yang dipakai sebagai tolak ukur untuk menilai dan membandingkan sesuatu.

1.    Norma Sosial

Norma sosial adalah norma yang dipakai untuk menilai suatu perilaku manusia, terutama terhadap lingkungan hidup, berdasarkan kekuatan yang mengikat.

2.    Norma Hukum

Indonesia memiliki peraturan hukum berupa Undang-undang khusus mengenai lingkungan hidup, diantaranya.
a.    UUD RI No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 5 dan pasal 8.
b.    UUD No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, pasal 3.
c.    Amandemen ke 2 Undang-undang Dasar 1945, pasal 28 H ayat 1.
d.    Di Badan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) kita telah meratifikasi Protokol Kyoto mengenai lingkungan hidup.

D    Permasalahan lingkungan hidup

Masalah lingkungan hidup disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1.    Faktor alam
a.    Banjir dan longsor.
b.    Gempa bumi karena gerakan tektonik dan letusan.
c.    Letusan gunung api.
d.    Tsunami, dan sebagainya.
2.    Faktor kesalahan manusia
a.    Penggundulan dan penebangan hutan secara terus menerus untuk membuka lahan pertanian, peternakan atau tempataktivitas manusia lainnya.
b.    Polusi udara, air, tanah, suara, radiasi, dan pencemaran lingkungan lainnya.

E   Lingkungan hidup yang ideal

Pengelolaan lingkungan sehingga menjadi ideal akan terlaksana apabila pada awal pemanfaatannya kita memperhatikan beberapa hal, untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah:
1.    Terbatasnya jumlah kualitas sumber daya alam.
2.    Lokasi sumber daya alam serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan mesyarakat dan pembangunan daerah.
3.    Penggunaan hasil sumber daya alam agar tidak boros.
4.    Dampak negatif pengolahan yang berupa limbah dipecahkan secara bijaksana termasuk pembuangannya.
Sedangkan dalam pengolahan sumber daya alam yang dapat diperbaharui perlu memperhitungkan beberapa hal berikut:
1.    Cara pengolahan hendaknya dilakukan secara serentak disertai proses pembaruan.
2.    Hasil penggunaannya sebagian untuk menjamin pembaruan sumber daya alam.
3.    Penerapan teknologi yang tepat sehingga teknologi yang dipakai tidak merusak kemampuan sumber daya alam untuk diperbarui.
4.    Dampak negatif pengolahannya ikut dikelola.
Berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup, agar dapat dicapai pengembangan lingkungan hidup yang ideal yang dapat dijadikan pedoman dalam pengelolaan lingkungan hidup, yaitu:
1.    Bahwa segala zat, benda, organisme hidup dan lain-lain dalam lingkungan saling berkaitan sesamanya. Oleh karena itu setiap uasaha yang menyangkut zat, benda, dan organism tertentu langsung berinteraksi dengan zat, benda, dan organism lainnya di bagian lain dalam lingkungan. Hubungan interaksi ini bisa intensif dan segera terasa dalam waktu pendek, bisa pula bersifat tidak langsung dan hari terasa lewat beberapa waktu.
2.    Bahwa sesuatu yang dibuang dalam lingkungan alam tidak akan hiang. Limbah industri yang dibuang bisa dianggap hilang oleh pengusaha industri. Namun limbah itu sebetulnya hanya pindah tempat, masuk ke lingkungan air, udara, dan tanah. Hal ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat di tempat atau lingkungan yang lain.
Ekosistem terbentuk sebagai hasil perkembangan alam dalam ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun. Untuk membuat lapisan lahan bagian atas setebal 2,5 cm, diperlukan waktu sekitar 300 tahun. Karena ekosistem membutuhkan waktu yang lama proses pembentukannya, maka harus kita jaga kelestariannya.
3.    Bahwa stabilitas ekosistem berkaitan langsung dengan keanekaragaman isi lingkungan. Semakin beraneka ragam isi lingkungan dengan bermacam-macam fauna dan flora, semakin stabil ekosistem itu. Sebaliknya semakin seragam isi lingkungan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sedikit jenisnya, semakin labil dan goyah ekosistem itu.
4.    Bahwa ekosistem yang beranekaragam dan stabil itu menumbuhkan kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem yang seragam dan labil.
5.    Bahwa ekosistem yang kuat mendesak yang lemah. Kuat dalam makna fisik maupun intelegensi, mampu mendesak yang lemah.
6.    Tidak ada hal gratis dalam kehidupan lingkungan. Apabila manusia hanya memetik dari alam tanpa siklus kehidupan, hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dan muncul gangguan atau bencana di saat lain. Apa yang diambil dari lingkungan hidup hasrus disertai dengan usaha memberikannya kembali kepada alam.

   Demikian Pembahasan saya mengenai Konsep Lingkungan Hidup. Semuga Bermanfaat. GBU.