Showing posts with label KONSTRUKSI. Show all posts
Showing posts with label KONSTRUKSI. Show all posts

Alat Bantu serta Teori Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi

IlmuDasarDanTeknik.* Sahabat Ilmu Dasar dan Teknik, kali ini saya akan membagikan info atau sedikit peneranagan mengenai Alat Bantu serta teori K3 pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi. Langsung saja Ulasannya sebagai berikut:

Alat Bantu dan Alat Keselamatan Kerja

Adapun alat bantu pada proses pengelasan sebagai berikut:

1. Sikat kawat (wire brush)

Sikat kawat berfungsi untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan sisa-sisa terak yang masih ada setelah dibersihkan dengan palu terak.
Bahan serabut sikat terbuat dari kawat-kawat baja yang tahan terhadap panas dan elastis, dengan tangkai dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian yang disikat.

2. Palu las (chipping hammer).

Palu las digunakan untuk membersihkan terak yang terjadi akibat proses pemotongan dan pengelasan dengan cara memukul atau menggores teraknya. Pada waktu membersihkan terak, gunakan kacamata terang untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan terak. Ujung palu yang runcing digunakan untuk memukul pada bagian sudut rigi-rigi. Palu las sebaiknya tidak digunakan untuk memukul benda-benda keras, karena akan mengakibatkan kerusakan pada bentuk ujungujung palu sehingga palu tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Tang penjepit

Adapun alat keselamatan kerja unutuk pengelasan sebagai berikut:

a.    Topeng las (welding mask)

Untuk melindungi mata, kepala/rambut operator dari percikan-percikan pada saat melakukan pemotongan dengan oksi-asetilin atau api las dan benda –benda panas lainnya. Juga untuk melindungi muka operator las terhadap percikan hasil pemotongan, dan ledakan percampuran gas yang tidak sempurna.

 b.    Sarung tangan kulit

Pekerjaan mengelas dan pemotongan selalu berhubungan dengan panas, kontak dengan panas sering terjadi yaitu pada saat pengelasan dan pemotongan benda kerja yang memperoleh panas secara konduksi dari proses pengelasan dan pemotongan. Untuk melindungi tangan dari percikan-percikan api las dan percikan pada saat pemotongan benda-benda panas maka operator las harus menggunakan sarung tangan.

c.    Jaket kulit/Apron kulit.

Untuk melindungi kulit dan organ-organ tubuh pada bagian badan operator dari percikan-percikan api las pada saat proses pengelasan dan pemotongan benda kerja serta pancaran sinar las yang mempunyai intensitas tinggi maka pada baian badan perlu dilindungi dengan menggunakan jaket kulit atau apron kulit.

d.    Kaca mata pengaman (safety glasses)

Untuk Melindungi mata pada saat membersihkan kampuh las serta terak hasil dari pemotongan yang menggunakan palu terak maupun mesin gerinda.

Teori K3 Pengelasan

        Penggunaan las dalam pengerjaan konstruksi semakin luas sehingga kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak terjadi. Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu proses pemesinan yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan api dan bahan – bahan yang mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada las gas yaitu gas oksigen dan Asetilin . Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari apabila kita sebagai operator dalam mengoperasikan alat pengelasan dan  alat keselamatan kerja dipergunakan dengan baik dan benar, memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya akibat proses las  .

1.    Gas dalam asap

Menurut (Harsono, 1996)sewaktu proses pengelasan berlangsung terdapat gas – gas yang berbahaya yang perlu diperhatikan , yaitu :
a.    Gas karbon monoksida ( CO )
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin ( Hb ) yang akan menurunkan daya penyerapannya terhadap oksigen .
b.    Karbon dioksida (CO2)
Gas ini sendiri sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila konsentrasi CO2 terlalu tinggi dapat membahayakan operator terutama bila ruangan tempat pengelasan tertutup seperti di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY.
c.    Gas Nitrogen monoksida (NO)
Gas NO yang masuk ke dalam pernafasan tidak merangsang, tetapi akan bereaksi dengan haemoglobin (Hb)seperti halnya gas CO. Tetapi ikatan antara NO dan Hb jauh lebih kuat daripada CO dan Hb maka gas NO tidak mudah lepas dari haemoglobin, bahkan mengikat oksigen yang dibawa oleh haemoglobin. Hal ini menyebabkan kekurangan oksigen yang dapat membahayakan sistem syaraf.
d.    Gas nitrogen dioksida ( NO2)
Gas ini akan memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan pernafasan, bereaksi dengan haemoglobine ( Hb ) yang dapat menyebabkan sakit mata dan batuk–batuk pada operator . Keracunan gas ini apabila dipakai untuk jangka waktu yang lama akan berakibat operator menderita penyakit TBC atau paru–paru .
e.    Gas-gas beracun yang terbentuk karena penguraian dari bahan pembersih dan pelindung terhadap karat .

2.    Pencegahan Bahaya

Pada proses pengelasan operator harus benar – benar mengetahui dan memahami bahaya – bahaya yang muncul selama proses pengelasan ini berlangsung.  Menurut Harsono, 1996,beberapa macam bahaya pengelasan yang mungkin saja timbul sewaktu proses berlangsung , meliputi : 

A.    Bahaya Ledakan.

    Bahaya ledakan yang sering terjadi pada proses pengelasan produk yang berbentuk tangki atau bejana bekas tempat penyimpanan bahan – bahan  yang mudah menyala atau terbakar. Pada proses pengelasan / pemotongan ini diperlukan beberapa hal persiapan pendahuluan untuk menghindari bahaya ledakan , seperti :
a.    Pembersihan bejana atau tangki
Sebelum proses pengelasan berlangsung maka   bejana atau tangki perlu dibersihakan dengan :
•    Air untuk bahan yang mudah larut.
•    Uap untuk bahan yang ,mudah menguap.
•    Soda kostik untuk membersihkan minyak , gemuk atau pelumas.
b.    Pengisian bejana atau tangki
Setelah proses pembersihan selesai isilah  tangki atau bejana dengan air sedikit di bawah bagian yang akan dilas/dipotong.
c.    Kondisi tangki sewaktu proses pengelasan
Selama proses pengelasan berlangsung kondisi tangki atau bejana harus dalam keadaan terbuka agar gas yang menguap karena pada proses pemanasan gas dapat keluar.
d.    Penggunaan gas lain
Apabila dalam proses pengisian tangki atau bejana dengan air mengalami kesulitan maka sebagai gantinya dapat digunakan gas CO2 atau gas N2 dengan konsentrasi minimum 50 % dalam udara .

B.    Bahaya Jatuh

Untuk pengerjaan konstruksi bejana, tangki pertamina atau konstruksi bangunan lainnya yang membutuhkan tempat yang tinggi, bahaya yang mungkin dapat terjadi adalah bahaya jatuh atau kejatuhan yang berakibat fatal . Beberapa langkah yang perlu diambil oleh operator untuk  menghindari bahaya ini :
a.    Menggunakan tali pengaman.
b.    Menggunakan topi pengaman untuk mencegah  terjadinya kejatuhan benda – benda atau kena panas matahari.

C.    Bahaya Kebakaran

       Proses pengelasan selalu berhubungan dengan api sehingga bahaya kebakaran sangat mungkin terjadi mengingat proses ini sangat berhubungan erat dengan api dan gas yang mudah terbakar, untuk itu operator perlu sekali mengambil langkah – langkah pengamanan seperti :
a.    Ruangan atau areal pengelasan harus bebas dari  kain, kertas, kayu, bensin, solar, minyak atau bahan – bahan lain yang mudah terbakar atau meledakharus ditempatkan di tempat khusu yang tidak akan terkena percikan las.
b.    Jauhkan tabung – tabung dan generator dari percikan api las, api gerinda atau panas matahari.
c.    Perbaikan pada sambungan – sambungan pipa atau selang – selang terutama saluran Asetilen.
d.    Penyediaan alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau seperti bak air, pasir, hidrant .

D.    Bahaya Percikan Api / Panas

      Bahaya dari percikan api atau panas akan berakibat bahaya kebakaran seperti yang diuraikan diatas , tetapi bahaya lainnya adalah pada operator las sendiri yang terkena luka bakar atau sakit mata . Untuk itu operator selalu dianjurkan menggunakan alat –alat pelindung seperti: sarung tangan, apron, sepatu tahan api, kaca mata las, topeng las.

E.    Bahaya Gas dalam Asap Las

    Pencegahan atau tindakan yang harus diambil oleh operator untuk menghindari bahaya gas dalam asap las adalah :
a.    Pekerjaan las harus dikerjakan dalam   ruang terbuka atau ruang yang berventilasi agar gas dan debu yang terbentuk segera terbuang.
b.    Apabila ventilasi masih belum cukup memadai maka sebaiknya memakai masker hidung.
c.    Untuk pengerjaan pengelasan dalam tangki perlu tindakan di bawah ini :
1.    Menggunakan penghisap gas / debu.
2.    Dibutuhkan seorang rekan operator di luar tangki atau bejana yang selalu siaga apabila terjadi bahaya.
3.    Voltage lampu penerangan maksimum 12 volt.

F.    Bahaya Sinar

Selama proses pengelasan akan menimbulkan cahaya,  sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berbahaya sehingga diperlukan:
a.    Pelindung mata atau goegle
Pelindung mata tersebut harus mampu menurunkan kekuatan cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah.Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Harsono, 1996). Pelindung mata atau goegle yang mempunyai nomor warna dan penggunaan seperti di tunjukkan pada tabel di bawah ini :
        Tabel 1. Nomor warna penggunaan goegle

No.warna
Las busur listrik
Las gas
2,5
-
Untuk cahaya rendah
3
-
Untuk cahaya rendah
4
-
Untuk cahaya rendah
5
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
6
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
7
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat
8
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat


b.    Pelindung muka
Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat cahaya busur, percikan yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja.Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam dapat berupa helmet dan dapat berupa pelindung yang harus dipegang (Harsono, 1996).

G.    Kondisi Lab Kerja

Berikut ini akan penulis ceritakan mengenai kekurangan atau masih di bawah standarnya ruang praktikum modul pengelasan ( modul las listrik dan modul las Asetilen), hal ini bisa dilihat dari   :
a.    Sempitnya ruang praktikum
Luas ruang praktikum modul pengelasan di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY saat ini hanya cuma 3 x 7 x tinggi 2,5 meter yang dipakai untuk dua kegiatan praktikum pengelasan . untuk luas ruangan tersebut pada kondisi puncak dimana semua kapasitas peserta praktikum terpenuhi maka akan dipenuhi oleh 10 orang praktikan dan asisten .
b.    Terlalu rendahnya atap
Tinggi atap yang cuma 2,5 meter berakibat sirkulasi udara tidak lancar dan temperatur udara cepat panas sehingga operator ( praktikan dan asisten ) menjadi cepat lelah.
c.    Ventilasi udara kurang
Tidak adanya ventilasi udara atau sirkulasi udara tidak lancar apalagi pada musim penghujan dimana suhu udara lembab berakibat operator menjadi cepat lelah, sesak napas.
d.    Semakin banyaknya peserta praktikum tiap tahunnya.
Dengan di bawah standarnya kondisi ruang praktikum modul pengelasan untuk praktek proses produksi tersebut akan berakibat :
•    Munculnya bahaya asap.
•    Seringnya praktikan dan asisten praktikum mengalami sesak napas yang berakibat terserang penyakit paru – paru .
Pemecahan masalah
Untuk dapat memecahkan masalah tersebut maka perlu adanya perhatian yang khusus dari pihak institusi. Disini penulis mencoba memberikan masukan yang mungkin dapat membantu supaya kegiatan praktikum pengelasan di Lab. Proses Produksi bisa berlangsung lancar dan aman sehingga bahaya – bahaya yang diakibatkan oleh praktikum pengelasan dapat dihindari , misalnya :
a.    Penambahan ruang praktikum.
b.    Penambahan blower.
c.    Mempertinggi atap ruang praktikum.
d.    Penyediaan makananatau minuman suplemen misalnya susu untuk menetralisir terjadinya sesak  napas setelah kegiatan praktikum pengelasan selesai.

TIPE DAN BENTUK PROFIL BAJA UNTUK TURAP

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Baja dalam teknik sipil tentu tidak asing lagi. Adalag suatu bahan bangunan yang semakin populer dan banyak digunakan saat ini. Selain karena baja baik digunakan di daerah gempa, profil baja juga memiliki berbagai bentuk dan jenis. Ada pun yang saya akan jelaskan saat ini adalah mengenai tipe dan bentuk profil baja yang difungsikan sebagai turap.
Istilah turap dalam teknik sipil singkatnya merupakan suatu dinding vertikal yangpada umumnya relatif tipis yang memiliki fungsi untuk menahan tanah ataupun menahan masuknya air ke dalam lubang galian atau dinding tanah. Oleh karena juga untuk menahan tanah maka fungsi dari turap ini sama persis seperti dinding penahan tanah. Dan sekarang, dalam mebuat turap semakin banyak digunakan profil baja sebagai bahan utama penyusunnya.
Berikut ini saya menuliskan beberapa tipe atau bentuk profil baja untuk turap. Ada pun berbagai tipe atau bentuk dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Profik Baja Bentuk U
Profil baja bentuk U memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Ruang kosong pada sambungan cukup rapat dan kedap Air.
  2. Sepasang jari, seperti pada bentuk YSP, bentuk Larssen A dan bentuk L (bentuk FSP. A dan bentuk L) dapat dipasang, dikerjakan serta disimpan dengan mudah.
  3. Bentuk yang praktis dan sederhana, sehingga bentuk U sangat cocok untuk pemakaian yang berulang-ulang.

Profil Baja Bentuk Z
Profil baja bentuk Z memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Pemakaiannya sangat ekonomis, karena profil bentuk Z ini nilai "Momen lawan"-nya relatif tinggi dibandingkan dengan beratnya.
  2. Kekuatan pada sanbungannya tinggi.
Profil Baja Bentuk H
Profil baja bentuk H memiliki karakteristik sebagai berikut: 
  1. "Momen Lawan"-nya tinggi, cocok untuk konstruksi besar.
  2. Sambungannya sangat kokoh.
  3. Konnstruksi dengan profil bentuk H dapat sangat efektif daya kedap airnya, jika diantara sayap-ssayap profil diisi adukan atau beton.
  4. Menpunyai daya dukung vertikal atau tegak yang cukup besar.
Profil Baja Bentuk Box atau Kotak
Profil baja bentuk kotak ini terbuat dari dua profil bentuk U jenis Larssen yan bersatu sama lainnya. Profil baja bentuk Box atau Kotak memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1.  Cocok digunakan untuk konstruksi berat.
  2. Panjang dari tiap bentuk U dapat disambung dalam bentuk-bentuk kotak berdasarkan kebutuhan rencana.

Profil Baja Bentuk Lurus
Profil baja bentuk Lurus memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Sambungannya sangat kokoh.
  2. Daya tahan pada tegangan sambungan tinggi, jadi sangat cocok dipergunakan dalam konstruksi yang mengutamakan kerja sama antara profil, seperti konstruksi "Cofferdam".
Profil Baja Bentuk Berbobot Kecil
Profil baja bentuk berbobot kecil memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Terdiri dari banyak variasi dan bbentuk.
  2. Cocok untuk pemakaian yang berulang-ulang dan penyediaan fasilitas  perbaikan.
  3. Gampang dalam pengerjaannya dan pengangkutannya.
Profil Baja Bentuk Pipa
Profil baja bentuk Pipa memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Daya tekan terhadap momen yang tinggi sangat efektif, dan ssangat cocok diperggunakan dalm konstruksi tembok penahan (tanpa jangkar).
  2. Mempunyai banyak macam diameter dan tebal, sehingga mudah memilih sesuai dengan kebutuhan.
  3. Bobot relatif lebih ringan jika dibandingkan dengan ketahannya.
  4. Mudah dalam pelaksanaan.
Demikian jauh informasi mengenai Profil baja untuk turap sesuai dengan tipe dan bentuk serta karakteristik masing-masing. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan memposting sebuah ilmu dari teknik sipil yaitu mengenai Faktor-faktor Yang berkaitan dengan Pembebanan pada suatu struktur.

FAKTOR PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

Kekuatan yang dibutuhkan suatu struktur untuk menahan beban berfaktor yang bekerja dengan berbagai kombinasi efek beban disebut Kuat Perlu. Kuat perlu (U) suatu struktur harus dihitung dengan beberapa kombinasi beban yang bekerja pada struktur tersebut. Kuat rencana diperoleh dari mengalikan kuat nominal dengan faktor reduksi kekuatan (Φ) yang nilainya lebih kecil dari satu.
Menurut SNI - 03 - 2847 – 2002 Pasal 11(1) : struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kuat rencana minimum sama dengan kuat perlu, yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor.Faktor keamanan yang disyaratkan oleh SNI -03-2847-2002 pada komponen struktur untuk menjamin tercapainya prilaku struktur yang cukup baik pada tingkat beban kerja dapat dikelompokkan  dalam dua bagian yaitu faktor beban/kuat perlu dan faktor reduksi kekuatan.

Faktor Beban / Kuat Perlu

Berdasarkan SNI 2847 – 03 – 2002, pasal 11.3 yaitu :
  •     Kuat perlu ( U ) untuk  menahan beban mati ( D ) paling tidak harus sama dengan :
U    =    1,4 D    ………………………………………………..…    ( a )

    Kuat perlu ( U ) untuk menahan beban mati ( D ), beban hidup ( L ) dan juga beban atap ( A ) atau beban hujan ( R ) , paling tidak harus sama dengan :U   =   1,2 D  +  1,6 L  +  0,5 (A atau R)    …………….……    ( b )
  •     Bila beban angin ( W ) turut di perhitungkan, maka pengaruh kombinasi beban     ( D ) , (L) dan ( W ) berikut harus dipelajari untuk menentukan nilai ( U )  sebesar :
U   =   1,2 D  +  1,0 L ± 1,6 W +  0,5 (A atau R)    …………..…    ( c )
Kombinasi beban juga harus memperhitungkan kemungkinan beban hidup ( L ) yang penuh dan kosong untuk mengantisipasi kondisi yang paling berbahaya, sehingga :
U  =   0,9 D  ±  1,6 W        …………………………………......    ( d )
Perlu dicatat bahwa untuk setiap kombinasi  beban D , L , dan W , Kuat perlu (U) tidak boleh kurang dari persamaan (2.2).
  •     Bila ketahanan struktur terhadap beban gempa ( E ) di perhitungkan dalam perencananaa, maka nilai ( U ) harus di ambil sebesar :
U   =   1,2 D  + 1,0 L  ± 1.0  E      ………………….………….    ( e )
atau
U   =    0,9 D  ±  1,0 E      …………………………………….    ( f )
Nilai beban gempa ( E ) di tetapkan berdasarkan ketentuan SNI – 03 - 1726 – 2002 tentang Tata Cara Perancanaan Ketahanan Gempa Untuk  Gedung dan Rumah.

    Faktor Reduksi Kekuatan ( Ø ) / Kuat Rencana.

Kuat rencana suatu komponen struktur , sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan prilaku lentur, beban normal geser , dan torsi harus diambil sebagai hasil kuat nominal yang dihitung berdasarkan kekuatan dan asumsi dengan suatu factor reduksi kekuatan ( Ø ). Faktor reduksi kekuatan ( Ø ) antara lain di gunakan untuk memberikan konsep keamanan lapis kedua dalam menentukan kuat rencana. Pemakaian faktor reduksi dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan penyimpangan terhadap kekuatan bahan, pengerjaan, ketidak tepatan ukuran, pengendalian dan pengawasan pelaksanaan, yang sekalipun masing – masing faktor mungkin masih dalam toleransi persyaratan tetapi kombinasinya memberikan kapasitas lebih rendah. Dengan demikian, apabila faktor reduksi di kalikan dengan kuat ideal teoretik berarti sudah termasuk memperhitungkan tingkat daktilitas, kepentingan, serta tingkat ketepatan ukuran suatu komponen struktur sedemikian hingga kekuatannya dapat di tentukan .
Standar SNI-03-2847-2002 memberikan faktor reduksi kekuatan (Ø) untuk berbagai mekanisme, antara lain sebagai berikut :
  •     Lentur tanpa beban aksial                    =  0,80
  • Beban aksial dan beban aksial dengan lentur : 
  1. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur        =  0,80
  2. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur:
           *Komponen struktur dengan tulang spiral         = 0,70
           *Komponen struktur lainnya (sengkang )         = 0,65
  •     Geser dan torsi                         =  0,75
  1.     Geser penahan gempa kuat lentur nominal         =  0, 55
  2. Geser balok-kolom tulangan diagonal         =  0,80
  •     Penampang lentur tanpa beban aksial             =  0,75
  •     Tumpangan pada beton                     =  0,70
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kuat momen / kapasitas momen (Mu) yang di gunakan sama dengan kuat momen ideal ( Mn) di kalikan dengan foktor reduksi (Ø).
Mu      =       Ø   .  Mn    …………….........................    ( g )
Dimana :    Mu       =  Kuat momen / Kapasitas momen
Ø    =  Faktor reduksi
Mn    =  Kuat momen ideal.
Kurang lebih seperti itulah keterkaitan faktor-faktor yang terjadi pada pembebanan struktur. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca semua. Terimakasih

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi mengenai beton. Bebicara tentang beton pasti arahnya kepada dunia teknik sipil, di mana beton merupakan salah satu bagian yang sangat besar peranannya di dunia struktur dalam ilmu teknik sipil. Beton merupakan dasar yang sangat penting pada struktur bangunan, utamanya bangunan yang memang menggunakan struktur beton.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

Dalam teknik sipil, definisi beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah, atau agregat-agregat lain yang  dicampur dengan suatu pasta sebagai pengikat yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa seperti batuan setelah didiamkan beberapa waktu tertentu. Ada waktu tertentu satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pekerjaan atau workability, waktu pengerasan, durabilitas dan lain sebagainya.
Peranan beton sebagai salah satu pembentuk stuktur bangunan memang sangat dominan di bandingkan dengan bahan lainnya. Utamanya di Indonesia, beton masih menjadi pilihan banyak pengguna konstruksi. Tetapi seperti apa pun keunggulan beton pasti tetap memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut saya berikan beberapa kelebihan dan kelemahan beton.

KELEBIHAN BETON

Sebagai pembentuk struktur bangunan, beton memiliki banyak kelebihan yang membuat masih banyaknya orang menggunakan beton sebagai pembentuk struktur bangunan. Adapun kelebihan itu sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan bahan bangunan lainnya.
  • Struktur beton sangat kokoh.
  • Terbuat dari bahan-bahan lokal yang sangat murah dan hampir ditemui di semua daerah di Indonesia (pasir, kerikil dan air).
  • Beton memiliki ketahanan yang tinggi.
  • Memiliki usia layan yang panjang. Dalam kondisi yang normal struktur beton bertulang dapat digunakan sampai kapan pun tanpa kehilangan kemampuannya untuk menahan beban, bahkan kekuatannya semakin lama semakin lama akan semakin bertambahkarena lamanya proses pemadatan pasta semen.
  • Beton tidak memerlukan biaya perawatan yang besar.
  • Dapat di cetak menjadi bentuk yang sangat beragam, mulai dari plat, kolom, balok, kubah, cangkan dan lain sebagainya.

KELEMAHAN BETON

Beton memang banyak memiliki kelebihan. Tetapi tidak lupa juga ternyata beton juga memiliki banyak kekurangan atau kelemahan dalam pengaplikasiannya dalam ilmu struktur. Adap pun kelemahan beton sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tarik  yang sangat rendah, sehingga memerlukan bantuan dengan penggunaan tulangan terik.
  • Rendahnya kekuatan persatuan berat sehingga mengakibatkan beton bertulang menjadi berat, ini berpengaruh terhadap struktur-struktur bentang panjang dimana berat beban  mati beton yang sangat besar akan sangat mempengaruhi momen lentur.
  • Rendahnya kekuatan per satuan volume, mengakibatkan beton bertulang memiliki ukuran yang relatif besar, hal ini di pertimbangkan untuk bangunan-bangunan tinggi dan struktur-struktur yang berbentang panjang.
  • Sifat-sifat beton sangat bervariasi karena bervariasinya proporsi campuran dan pengadukannya. Selain itu, penuangan dan perawatan beton tidak bisa ditangani seteliti produksi material atau bahan bangunan lainnya seperti baja, kayu lapis, dan lain sebagainya.
Itulah kelebihan dan kelemahan beton. Jadi untuk menggunakan beton ini, sebaiknya mempertimbangkan kelemahan atau pun kelebihannya. Tapi ingat masing-masing material memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Semuanya terserah pada rencana kualitas suatu bangunan.
Demikianlah ulasan informasi ilmu dasar dari saya mengenai Kelebihan dan Kelemahan Beton. Semoga bermanfaat, terimakasih.

GERUSAN ATAU SCOURING PADA JEMBATAN

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan membagikan sedikit info teknik sipil mengenai Gerusan atau scouring pada Jembatan. Langsung saja ulasannya sebagai berikut.

Definisi atau Pengertian umum Gerusan (scouring)

Pada Jembatan, gerusan sering terjadi pada pilar jembatan. Secara umum Adanya gerusan dapat menjadi masalah yang bisa membahayakan kestabilan struktur jembatan atau pun bangunan air lainnya. Jika didefinisikan secara umum, Gerusan (scouring) merupakan suatu proses alamiah yang terjadi di sungai sebagai akibat pengaruh morfologi sungai (dapat berupa tikungan atau bagian penyempitan aliran sungai) atau adanya bangunan air ( hydraulic structur) seperti: jembatan, bendung, pintu air, dan lain-lain. Morfologi sungai merupakan salah satu faktor yang  menentukan dalam proses terjadinya gerusan, hal ini disebabkan aliran saluran terbuka mempunyai permukaan bebas (free surface). Kondisi aliran saluran terbuka berdasarkan pada kedudukan permukaan bebasnya cenderung berubah sesuai waktu dan ruang, disamping itu ada hubungan ketergantungan antara kedalaman aliran, debit air, kemiringan dasar saluran dan permukaan saluran bebas itu sendiri.
Laursen (1952) dalam Hanwar (1999:4) mendefinisikan gerusan sebagai pembesaran dari suatu aliran yang disertai pemindahan material melalui aksi gerakan fluida. Gerusan lokal (local scouring) terjadi pada suatu kecepatan aliran di mana sedimen yang dingkut lebih besar dari sedimen yang disuplai. Menurut Laursen (1952) dalam Sucipto (2004:34), sifat alami gerusan mempunyai fenomena sebagai berikut :
  1. Besar gerusan akan sama selisihnya antara jumlah material yang diangkut keluar daerah gerusan dengan jumlah material yang diangkut masuk ke dalam daerah gerusan.
  2. Besar gerusan akan berkurang apabila penampang basah di daerah gerusan bertambah (misal karena erosi). Untuk kondisi aliran bergerak akan terjadi suatu keadaan gerusan yang disebut gerusan batas, besarnya akan asimtotik terhadap waktu.

Pengertian Scouring Pada Jembatan

Jembatan merupakan suatu struktur yang meneruskan jalan melewati suatu rintangan dibawahnya yag dapat berupa sungai,jalan,selat maupun jurang. Pada jembatan yang dibawahnya terdapat arus air dengan bentang yang relatif lebar, umumnya memerlukan struktur pilar untuk menopangnya. Pilar yang ditanam pada dasar sungai memerlukan kriteria disain sedemikian sehingga bila dasar saluran disekitar pilar jembatan tersebut tergerus, maka gerusan tersebut tidak mencapai kedalaman yang membahayakan kestabilan pilar.
Saluran yang dijumpai di alam mempunyai beberapa macam morfologi sungai yaitu, sungai lurus, sungai dengan tikungan, dan sungai yang menganyam. Sungai lurus terjadi pada daerah yang belum stabil dan untuk menyalurkan energinya sungai ini akan memperpanjang aliran dan membentuk meander memperpanjang aliran dan membentuk meander . Sungai dengan tikungan dapat terjadi pada daerah aluvial atau tanah keras. Sudut tikungan yang dibentuk bisa berbagai macam, misalnya 90° atau 180°. Tipe sungai dengan tikungan pada umumnya diakibatkan karena adanya usaha sungai untuk mencapai
Sungai yang menganyam biasanya terjadi pada daerah yang terjal dengan butiran seragam dan mempunyai alur yang berpindah - pindah. Jadi setiap musim, sungai ini dapat berubah bentuk. Terdapat berbagai macam jenis pilar yang digunakan sebagai penyalur beban jembatan. Pemilihan jenis pilar umumnya ditentukan dari analisis kekuatan analisis ekonomi, analisis lingkungan.
Pada kenyataannya banyak terdapat keruntuhan pada jembatan. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara lain yaitu:

  1. Beban yang dipikul jembatan melebihi batas maksimum yang telah ditentukan.
  2. Bencana alam seperti gempa, erosi, banjir dan lain-lain.
  3. Perubahan morfologi sungai akibat adanya bangunan dalam usaha sungai untuk mencapai kestabilan. Salah satu fenomena yang terjadi adalah gerusan lokal (local scouring).

Tujuan Mengetahui Scouring Pada Jembatan

Dengan mengetahui fenomena scouring maka perencana dapat melakukan investigasi terhadap saluran sehingga dapat ditentukan letak , posisi ,kedalaman dan tipe pilar maupun abutemen sehingga kecacatan dan kegagalan pada jembatan yang disebabkan scouring dapat dihindarkan. Apabila bangunan sudah beridiri maka dapat dibuatkan pengaman untuk mereduksi efek scouring tersebut agar kekuatan struktur jembatan secara keseluruhan tetap mantap.

Jenis - Jenis Scouring

Gerusan adalah proses semakin dalamnya dasar sungai karena interaksi antara aliran dengan dasar sungai. Scouring dapat diklasifikasikan menjadi:

Gerusan umum (general scour)

Gerusan umum ini merupakan suatu proses alami yang terjadi pada sungai sehingga akan menimbulkan degradasi dasar. Gerusan Umum disebabkan oleh energi dari aliran air.
Gerusan akibat penyempitan di alur sungai (contraction scour)

Gerusan lokal (local scour)

Gerusan lokal ini pada umumnya diakibatkan oleh adanya bangunan air, misal, tiang atau pilar jembatan. Gerusan local disebabkan oleh sistem pusaran air (vortex system) karena adanya gangguan pola aliran akibat rintangan.
Ada dua macam gerusan lokal, yaitu :

Clear water scour

Pergerakan sedimen hanya terjadi pada sekitar pilar. Ada dua macam:
  1. Gerusan lokal tidak terjadi dan proses transportasi sedimen tidak terjadi.
  2. Gerusan lokal terjadi menerus dan proses transportasi sedimen tidak terjadi.

Live bed scour

Terjadi karena adanya perpindahan sedimen. Yaitu jika:
Gerusan terlokalisir terjadi karena adanya penyempitan penampang sungai oleh adanya penempatan bangunan hidraulika.

Gerusan Total (Total Scour)

Merupakan kombinasi antara gerusan lokal (local scour) dan gerusan umum (general scour). Bisa juga kombinasi antara gerusan lokal, gerusan umum dan gerusan terlokalisir (localized scour/ constriction scour).
Berdasarkan pengamatan tentang analisa ini, maka tipe scouring yang terjadi pada struktur bawah jembatan dapat dibedakan menjadi:

  1. Gerusan yang terjadi pada pilar yang terletak pada saluran lurus adalah gerusan local.
  2. Gerusan yang terjadi pada pilar yang terletak pada bagian tikungan saluran adalah gerusan local ditambah dengan gerusan umum akibat tikungan saluran.
  3. Gerusan yang terjadi pada abutmen jembatan adalah gerusan total, yaitu kombinasi antara gerusan local, gerusan umum dan gerusan penyempitan

Proses Terjadinya Scouring

Pada Abutemen dan Pilar

Gerusan akibat aliran air menyebabkan erosi dan degradasi di sekitar bukaan jalan air (water way openning) suatu jembatan. Degradasi ini berlangsung secara terus menerus hingga dicapai keseimbangan antara suplai dan angkutan sedimen yang saling memperbaiki.
Apabila suplai sedimen dari hulu berkurang atau jumlah angkutan sedimen lebih besar daripada suplai sedimen, maka bisa menyebabkan terjadinya kesenjangan yang begitu menyolok antara degradasi dan agradasi di lokasi dasar jalan air jembatan. Sehingga lubang gerusan (scour hole) pada abutmen maupun pilar jembatan akan lebih dalam bila tidak terdapat atau kurangnya suplai sedimen.
Demikian juga apabila tidak terdapat bangunan pengendali gerusan di sekitar abutmen ataupun pilar, maka dalamnya gerusan tidak bisa direduksi, se-hingga kedalaman gerusan bisa mencapai maksimum. Hal ini bisa menyebabkan rusaknya abutmen maupun pilar jembatan.

Pada Abutemen

Menurut Yulistianto dkk. (1998), Gerusan yang terjadi di sekitar abutmen jembatan adalah akibat sistem pusaran (vortex system) yang timbul karena aliran dirintangi oleh bangunan tersebut. Sistem pusaran yang menyebabkan lubang gerusan (scour hole), berawal dari sebelah hulu abutmen yaitu pada saat mulai timbul komponen aliran dengan arah aliran ke bawah, karena aliran yang datang dari hulu dihalangi oleh abutmen, maka aliran akan berubah arah menjadi arah vertikal menuju dasar saluran dan sebagian berbelok arah menuju depan abutmen selanjutnya diteruskan ke hilir.
Aliran arah vertikal ini akan terus menuju dasar yang selanjutnya akan membentuk pusaran. Di dekat dasar saluran komponen aliran berbalik arah vertikal ke atas, peristiwa ini diikuti dengan terbawanya material dasar sehingga terbentuk aliran spiral yang akan menyebabkan gerusan dasar. Hal ini akan terus berlanjut hingga tercapai keseimbangan.
Demikianlah Informasi teknik sipil yang dapat saya bagikan mengenai Gerusan atau scouring pada Jembatan. Semoga bermanfaat.

JENIS-JENIS DASAR JEMBATAN SECARA UMUM DALAM TEKNIK SIPIL

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan menulis tentang Jenis-jenis dasar jembatan secara umum dalam teknik Sipil. Jembatan adalah salah satu fasilitas umum yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena begitu pentingnya, sehingga pembangunan jembatan sangatlah di utamakan di berbagai negara. Bukan hanya sebagai fasilitas umum, di jaman sekarang jembatan malah menjadi simbol kebanggaan sebuah negara. Pembangunan jembatan menjadi kepentingan sebuah negara untuk mempermudah sistem transportasi dalam pembangunan sebuah daerah atau negara. Berbicara mengenai jembatan dan teknik sipil, jembatan mempuntai banyak jenis. Jenis-jenis jembatan cukup banyak tergantung dari sudut pandang yang diambil. Berikut Ulasan mengenai Jembatan:

Jenis Menurut Bahan Bangunan

Berdasar bahan bangunannya sendiri jembatan dapat dikelompokkan sebagai berikut :

Jembatan kayu

Jembatan kayu merupakan jembatan sederhana yang mempunyai panjang relatif pendek dengan beban yang diterima relatif ringan. Meskipun pembuatannya menggunakan bahan utama kayu, struktur dalam perencanaan atau pembuatannya harus memperhatikan dan mempertimbangkan ilmu gaya (mekanika).

Jembatan pasangan batu dan batu bata

Jembatan pasangan batu dan bata merupakan jembatan yang konstruksi utamanya terbuat dari batu dan bata. Untuk membuat jembatan dengan batu dan bata umumnya konstruksi jembatan harus dibuat melengkung. Seiring perkembangan jaman jembatan ini sudah tidak digunakan lagi.
Jembatan beton bertulang dan jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge)
Jembatan dengan beton bertulang pada umumnya hanya digunakan untuk bentang jembatan yang pendek. Untuk bentang yang panjang seiring dengan perkembangan jaman ditemukan beton prategang. Dengan beton prategang bentang jembatan yang panjang dapat dibuat dengan mudah.

Jembatan baja

Jembatan baja pada umumnya digunakan untuk jembatan dengan bentang yang panjang dengan beban yang diterima cukup besar. Seperti halnya beton prategang, penggunaan jembatan baja banyak digunakan dan bentuknya lebih bervariasi, karena dengan jembatan baja bentang yang panjang biayanya lebih ekonomis.

Jembatan komposit

Jembatan komposit merupakan perpaduan antara dua bahan yang sama atau berbeda dengan memanfaatkan sifat menguntungkan dari masing –masing bahan tersebut, sehingga kombinasinya akan menghasilkan elemen struktur yang lebih efisien.

Jenis Jembatan Menurut Fungsi

Ditinjau dari fungsinya maka jembatan dapat dibedakan menjadi :

Jembatan jalan raya (highway bridge)

Jembatan yang direncanakan untuk memikul beban lalu lintas kendaraan baik kendaraan berat maupun ringan. Jembatan jalan raya ini menghubungkan antara jalan satu ke jalan lainnya.

Jembatan penyeberangan (foot bridge)

Jembatan yang digunakan untuk penyeberangan jalan. Fungsi dari jembatan ini yaitu untuk memberikan ketertiban pada jalan yang dilewati jembatan penyeberangan tersebut dan memberikan keamanan serta mengurangi faktor kecelakaan bagi penyeberang jalan.

Jembatan kereta api (railway bridge)

Jembatan yang dirancang khusus untuk dapat dilintasi kereta api. Perencanaan jembatan ini dari jalan rel kereta api, ruang bebas jembatan, hingga beban yang diterima oleh jembatan disesuaikan dengan kereta api yang melewati jembatan tersebut.

Jembatan darurat

Jembatan darurat adalah jembatan yang direncanakan dan dibuat untuk kepentingan darurat dan biasanya dibuat hanya sementara. Umumnya jembatan darurat dibuat pada saat pembuatan jembatan baru dimana jembatan lama harus dilakukan pembongkaran, dan jembatan darurat dapat dibongkar setelah jembatan baru dapat berfungsi.

 Jenis Jembatan Menurut Sistem Struktur

Ditinjau dari sistem strukturnya maka jembatan dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

Jembatan lengkung (arch bridge)

Pelengkung adalah bentuk struktur non linier yang mempunyai kemampuan sangat tinggi terhadap respon momen lengkung. Yang membedakan bentuk pelengkung dengan bentuk – bentuk lainnya adalah bahwa kedua perletakan ujungnya berupa sendi sehingga pada perletakan tidak diijinkan adanya pergerakan kearah horisontal. Bentuk Jembatan lengkung hanya bisa dipakai apabila tanah pendukung kuat dan stabil. Jembatan tipe lengkung lebih efisien digunakan untuk jembatan dengan panjang bentang 100 – 300 meter.

Jembatan gelagar (beam bridge)

Jembatan bentuk gelagar terdiri lebih dari satu gelagar tunggal yang terbuat dari beton, baja atau beton prategang. Jembatan jenis ini dirangkai dengan menggunakan diafragma, dan umumnya menyatu secara kaku dengan pelat yang merupakan lantai lalu lintas. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 5 – 40 meter.

Jembatan cable-stayed

Jembatan cable-stayed menggunakan kabel sebagai elemen pemikul lantai lalu lintas. Pada cable-stayed kabel langsung ditumpu oleh tower. Jembatan cable-stayed merupakan gelagar menerus dengan tower satu atau lebih yang terpasang diatas pilar – pilar jembatan ditengah bentang. Jembatan cable-stayed memiliki titik pusat massa yang relatif rendah posisinya sehingga jembatan tipe ini sangat baik digunakan pada daerah dengan resiko gempa dan digunakan untuk variasi panjang bentang 100 - 600 meter.

Jembatan gantung (suspension bridge)

Sistem struktur dasar jembatan gantung berupa kabel utama (main cable) yang memikul kabel gantung (suspension bridge). Lantai lalu lintas jembatan biasanya tidak terhubungkan langsung dengan pilar, karena prinsip pemikulan gelagar terletak pada kabel. Apabila terjadi beban angina dengan intensitas tinggi jembatan dapat ditutup dan arus lalu lintas dihentikan. Hal ini untuk mencegah sulitnya mengemudi kendaraan dalam goyangan yang tinggi. Pemasangan gelagar jembatan gantung dilaksanakan setelah sistem kabel terpasang, dan kabel sekaligus merupakan bagian dari struktur launching jembatan. Jembatan ini umumnya digunakan untuk panjang bentang sampai 1400 meter.

Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge)

Jembatan beton prategang merupakan suatu perkembangan mutakhir dari bahan beton. Pada Jembatan beton prategang diberikan gaya prategang awal yang dimaksudkan untuk mengimbangi tegangan yang terjadi akibat beban. Jembatan beton prategang dapat dilaksanakan dengan dua sistem yaitu post tensioning dan pre tensioning. Pada sistem post tensioning tendon prategang ditempatkan di dalam duct setelah beton mengeras dan transfer gaya prategang dari tendon pada beton dilakukan dengan penjangkaran di ujung gelagar. Pada pre tensioning beton dituang mengelilingi tendon prategang yang sudah ditegangkan terlebih dahulu dan transfer gaya prategang terlaksana karena adanya ikatan antara beton dengan tendon. Jembatan beton prategang sangat efisien karena analisa penampang berdasarkan penampang utuh. Jembatan jenis ini digunakan untuk variasi bentang jembatan 20 - 40 meter.

Jembatan rangka (truss bridge)

Jembatan rangka umumnya terbuat dari baja, dengan bentuk dasar berupa segitiga. Elemen rangka dianggap bersendi pada kedua ujungnya sehingga setiap batang hanya menerima gaya aksial tekan atau tarik saja. Jembatan rangka merupakan salah satu jembatan tertua dan dapat dibuat dalam beragam variasi bentuk, sebagai gelagar sederhana, lengkung atau kantilever. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 50 – 100 meter.

Jembatan box girder

Jembatan box girder umumnya terbuat dari baja atau beton konvensional maupun prategang. box girder terutama digunakan sebagai gelagar jembatan, dan dapat dikombinasikan dengan sistem jembatan gantung, cable-stayed maupun bentuk pelengkung. Manfaat utama dari box girder adalah momen inersia yang tinggi dalam kombinasi dengan berat sendiri yang relatif ringan karena adanya rongga ditengah penampang. box girder dapat diproduksi dalam berbagai bentuk, tetapi bentuk trapesium adalah yang paling banyak digunakan. Rongga di tengah box memungkinkan pemasangan tendon prategang diluar penampang beton. Jenis gelagar ini biasanya dipakai sebagai bagian dari gelagar segmental, yang kemudian disatukan dengan sistem prategang post tensioning. Analisa full prestressing suatu desain dimana pada penampang tidak diperkenankan adanya gaya tarik, menjamin kontinuitas dari gelagar pada pertemuan segmen. Jembatan ini digunakan untuk variasi panjang bentang 20 – 40 meter.
Demikian Tulisan saya tentang jenis-jenis dasar jembatan secara umum dalam teknik sipil. Semoga bermanfaat. Terimakasih. 
Atikel Terkait:
METODOLOGI DAN PELAKSANAAN DARI PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN

DEFINISI JEMBATAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA
 Follow My Instagram
Instagram

PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN DAN JENISNYA

PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Suatu konstruksi direncanakan untuk suatau keperluan tertentu. Tugas utama suatu konstruksi adalah mengumpulkan gaya akibat muatan yang bekerja padanya dan meneruskannya ke bumi. Untuk melaksanakan tugasnya dengan baik maka konstruksi harus berdiri dengan kokoh. Semua beban yang diterimanya akan diteruskan ke bumi melalui sesingkat-singkatnya. Bagian yang meneruskan beban itulah yang disebut perletakan/dudukan. Selain meneruskan beban, perletakan juga akan memikul konstruksi tersebut. Perletakan bisa berupa sebuah pondasi.
Dalam memberikan perletakan, harus dipertimbangkan dengan baik agar mekanisme pendukungan dan penyaluran beban ke bumi terjadi dengan baik. Hal yang harus dipertimbangkan adalah stabilitas konstruksi. Suatu konstruksi akan stabil bila konstruksi diletakkan di atas pondasi yang baik. Pondasi akan melawan gaya aksi yang diakibatkan oleh muatan yang diteruskan oleh konstruksi kepada pondasi. Gaya lawan yang ditimbulkan pada pondasi disebut : Reaksi. Dalam kasus ini pondasi digambarkan sebagai perletakan.

JENIS-JENIS PERLETAKAN STRUKTUR BANGUNAN

Berikut ini diuraikan tiga jenis perletakan yang merupakan jenis perletakan yang umum digunakan. Yaitu perletakan yang dapat menahan momen, gaya vertikal dan gaya horizontal.

PERLETAKAN SENDI

Perletakan Sendi, yaitu perletakan terdiri dari poros dan lubang sendi. Pada perletakan demikian dianggap sendinya licin sempurna, sehingga gaya singgung antara poros dan sendi tetap normal terhadap bidang singgung, dan arah gaya ini akan melalui pusat poros.

Sifat Teknis

Perletakan sendi mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi  dua arah : Vertikal dan Horisontal
b. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN ROLL

Perletakan Roll yaitu perletakan yang selalu memiliki lubang sendi. Apabila poros ini licin sempurna maka poros ini hanya dapat meneruskan gaya yang tegak lurus bidang singgung di mana poros ini diletakkan. 

Sifat Teknis

Perletakan Roll mempunyai sifat teknis :
a. Garis kerja reaksi satu arah saja : VERTIKAL
b. Tidak dapat menahan gaya HORISONTAL, sehingga dapat berpindah pada arah horizontal agar balok tidak patah karena memuai.
c. Tidak dapat menahan MOMEN, sehingga akan mengalami rotasi yang dapat mencegah balok patah karena memuai atau melentur.

PERLETAKAN JEPIT

Perletakan Jepit adalah perletakan yang menciptakan kondisi kaku/monolit. Perletakan ini seolah-olah dibuat dari balok yang ditanamkan pada perletakannya, demikian sehingga mampu menahan gaya-gaya maupun momen dan bahkan dapat menahan torsi.

Sifat Teknis

Perletakan Jepit  mempunyai sifat teknis :
Mampu menahan Momen, Gaya Horizontal dan Gaya Vertikal sehingga tidak bergerak arah horisontal, vertikal dan juga tidak berputar. Sering juga disebut perletakan KAKU.

PERLETAKAN PENDEL

Perletakan pendel yaitu suatu perletakan yang titik tangkap dan garis kerjanya berimpit. 


Garis kerja reaksi pada batang pandel berhimpit dengan batang itu sendiri, memberi peluang berputar ke segala arah

Sebuah konstruksi dapat didudukkan di atas satu atau lebih perletakan. Jenis perletakannya adal seperti di atas dan dapat dikombinasikan satu sama lain. Namun dalam mengkombinasikannya, harus dipertimbangkan kestabilannya. Syarat kestabilan adalah jumlah reaksinya tidak boleh kurang dari 3 ( tiga ). Konstruksi Labil bila n < 3 dimana n adalah bilangan reaksi pada perletakan. Contoh :
   



ANALISA STRUKTUR DENGAN METODE MATRIKS

Kali ini kita akan melihat mengenai penjelasan dasar dari metode matriks dalam menganalisa sebuah striktur. Seperti kita ketahui bahwa dalam menganalisa struktur pada bangunan, kita bdapat menggunakan beberapa metode, salah satunya adalah metode matriks. Metode ini cukuplah mudah karena itu dapat kita gunakan dalam struktur yang besar. Mari kita lihat beberapa penjelasan dasar mengenai metode matriks berikut ini:

 PENGANTAR MATRIKS

    Matriks adalah bilangan yang disusun membentuk jajaran persegi yang terdiri dari beberapa buah baris dan kolom. Biasanya matriks dinyatakan seperti berikut ini :
    CONTOH:

    Nama mariks diatas adalah matriks A, dinyatakan dengan : [A]
        a11, a12, …. aij      elemen matriks [A]
        i     jumlah baris elemennya
        j     jumlah kolom elemennya
        i x j     ordo matriks [A]
    Matriks diatas dapat juga dinyatakan sebagai : Ai x j

    JENIS-JENIS MATRIKS

      1.    Matriks Bujur Sangkar

      Sebuah matriks dikatakan matriks bujur sangkar apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( i = j ).
      Contoh :
      Matriks bujur sangkar
      Matriks bujur sangkar dapat berupa :

      1.    Matriks Upper Triangular

      Yaitu suatu matriks dimana semua elemen di bawah diagonal utamanya adalah nol.
      Contoh:

      2.    Matriks Lower Triangular

      Matriks ini adalah kebalikan dari matriks Upper Triangular, yaitu suatu matriks dimana semua elemen di atas diagonal utamanya adalah nol.
      Contoh:

      3.    Matriks Diagonal

      yaitu suatu matriks dimana semua elemen sama dengan nol, kecuali elemen diagonal utamanya.
      Contoh:

      4.    Matriks Skalar

      yaitu matriks diagonal dimana elemen diagonal utamanya adalah bilangan yang sama.
      Contoh:

      2.    Matriks Baris

      Sebuah matriks dikatakan matriks baris apabila jumlah barisnya sama dengan satu.
      Contoh :
       [ A ] = [ 1   2   3   4   5 ]

      3.    Matriks Kolom

      Sebuah matriks dikatakan matriks kolom apabila jumlah kolomnya sama dengan satu.
      Contoh :
      [ A ] = { 1   2   3   4   5 }

      4.    Matriks Nol

      Sebuah matriks dikatakan matriks nol apabila semua elemennya adalah  nol.
      Contoh:

      5.    Matriks Identitas = Matriks Satuan

      Sebuah matriks dikatakan matriks identitas apabila semua elemennya adalah  nol, kecuali elemen diagonal utamanya adalah satu. Matriks ini biasa dituliskan [ I ].
      Contoh:

      OPERASI MATRIKS

      1.    Kesamaan matriks

      Dua buah matriks dikatakan sama apabila ordo dan elemen-elemennya sama (aij = bij ).
      Contoh :

      2.    Penjumlahan/Pengurangan Matriks

      Dua buah matriks dapat dijumlahkan/diperkurangkan apabila ordonya sama. Hasil penjumlahannya adalah juga matriks yang berordo sama dengan matriks yang dijumlahkan/diperkurangkan.
      Contoh :

      Hasil penjumlahannya adalah :

      Suatu penjumlahan matriks akan memenuhi sifat-sifat berikut :
      [ A ] + [ B ] =  [ B ] + [ A ]
      [ A ] + [ B ] + [ C ] = ( [ A ] + [ B ] ) + [ C ]

      3.    Perkalian dengan bilangan Skalar

      Suatu matriks [ A ] dapat dikalikan dengan suatu bilangan skalar/konstan k, akan menghasilkan suatu matriks [ B ] = k [ A ]. Dimana bij = k . aij.
      Contoh :

      4.    Perkalian Matriks

      Dua buah matriks dapat diperkalikan apabila dipenuhi bahwa jumlah kolom matriks pertama sama dengan jumlah baris matriks kedua.
      Contoh :
       [ A ]ixj . [ B ]jxk = [ C ]ixk    ….. Perhatikan analog permainan “ DOMINO “

      Teknik perkaliannya adalah baris dikalikan dengan kolom.
      Cij = ai1 . b1j + ai2 . b2j + ai3 . b3j + … + aij . bkj

      5.    Transpose Matriks

      Transpose matriks adalah mengubah letak elemen-elemen matriks tersebut, dengan aturan bahwa baris berubah menjadi kolom dan kolom menjadi baris. Matriks [ A ]mxn apabila ditranspose maka akan diperoleh [ A ]Tnxm.
      Contoh :

      6.    Adjoin Matriks

      Adjoint suatu matrks bujur sangkar [ M ] adalah suatu matriks dengan orde yang sama yang diperoleh dengan mengganti elemen [ M ]T dengan cofactor dari elemen yang bersangkutan. Adjoint matrks [ M ] biasa dinyatakan [ M ]+ atau [ M ] Adj .
      Contoh :
      Kemudian diisikan kedalam masing-masing cofaktornya :

      7.    Determinan Matriks

      Determinan matriks didefenisikan sebagai jumlah dari minor kali cofaktornya pada suatu baris atau kolom. Determinan [ A ] dinyatakan dengan notasi :
      Contoh :

      8.    Invers Matriks

      Pengertian invers matriks adalah matriks pengali terhadap matriks tersebut supaya dihasilkan matriks identitas. Matriks yang bisa diinvers adalah matriks bujursangkar (baris=kolom). Aplikasi invers matriks ini dilakukan untuk memanipulasi pembagian matriks, karena pada operasi matriks tidak dikenal pembagian matriks. Secara umum formula invers matriks adalah :
      Invers [ M ]     = [ M ]-1
      Secara khusus untuk matriks berordo 2x2, inversnya dihitung sebagai berikut :

      Untuk memudahkan tampilan perhitungan dengan metode matriks ini sebaiknya dilakukan dengan menggunakan sistem Equation pada program Microsoft Word. Sistem ini akan membantu mempermudah tampilan seperti tampilan ini:

       Demikianlah bebrapa penjelasan dasar mengenai CARA MENGANALISA STRUKTUR DENGAN METODE MATRIKS semoga bermanfaat. Terimakasih.