Follow Me

Instagram

PENDEKATAN TEKNIS DAN METODOLOGI KERJA PENELITIAN TANAH (MEKANIKA TANAH)

A. PEMERIKSAAN DYNAMIC CONE PENETROMETER ( DCP )
Untuk merencanakan jenis konstruksi dalam rangka peningkatan jalan, maka terlebih dahulu harus diketahui nilai CBR ( California Bearing Ratio ) dari tanah sub-grade. Data-data CBR di lapangan didapatkan dari pemeriksaan dengan menggunakan alat Dynamic Cone Penetrometer ( DCP ).

Maksud dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan CBR di suatu tempat pada kedalaman tertentu. Pemeriksaan DCP dilakukan untuk jalan yang belum beraspal, baik jalan tanah maupun jalan kerikil, pada panjang jalan efektif untuk peningkatan jalan.

Peralatan yang digunakan adalah:
Alat Dynamic Cone Penetrometer (DCP) 1 set,
Pahat,
Linggis,
Martil,
Sendok,
Meteran,
Formulir lapangan.

Adapun prosedur pemeriksaan adalah sebagai berikut:
Menentukan titik pengujian dengan interval 200 meter sepanjang ruas jalan yang ditetapkan,
Mencatat Stasion (Sta.),
Membuat lubang pada perkerasan yang ada hingga didapat lapisan tanah dasar,
Ukur ketebalan lapisan perkerasan yang ada dan catat pada formulir pengukuran,
Letakkan alat DCP pada lubang di atas lapisan tanah dasar,
Ukur ketinggian plat terhadap perkerasan,
Kunci posisi meteran dan jaga agar tidak berubah,
Melakukan tumbukan dengan mengangkat hammer/martil dan menjatuhkan secara bebas (tinggi jatuh bebas 50,8 m),
Pembacaan dilakukan setiap 5 (lima) tumbukan dan dicatat kedalaman penetrasi,
Prosedur dilanjutkan hingga pembacaan mencapai 85 s/d 90 cm kecuali bila dijumpai lapisan tanah yang sangat keras (lapis batuan),
Setelah selesai, pindahkan alat ke tempat berikutnya dan tutup lubang bekas pengujian.

Pemeriksaan DCP harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
Alat DCP yang dipakai harus sesuai dengan ketentuan yang ada,
Pemeriksaan dilakukan pada sumbu jalan untuk permukaan jalan tanah/kerikil dan pada permukaan lapisan tanah dasar,
Harus dicatat ketebalan serta setiap jenis bahan perkerasan yang ada seperti lapisan sirtu, lapisan telford, lapisan pasir dan sebagainya,
Selama pemeriksaan harus dicatat keadaan-keadaan khusus yang perlu diperhatikan seperti timbunan, kondisi drainase, cuaca, waktu dan sebagainya,
Lokasi awal dan akhir dari pemeriksaan harus dicatat dengan jelas.

B. LUBANG PERCOBAAN ( TEST PIT )
Pekerjaan penyelidikan uji sumuran ( test pit ) ini berguna untuk mengetahui jenis ketebalan serta urutan-urutan lapisan tanah bawah permukaan dengan jelas, baik pada lokasi jalan yang akan direncanakan sehingga akan diketahui jenis penyebaran dan ketebalan tanahnya. Test pit dilakukan dengan interval pemeriksaan 500 meter sepanjang ruas jalan.

Dalam pelaksanaan tersebut dicatat tentang uraian jenis dan warna tanah, kedalaman dan elevasinya.
Pembuatan sumur uji ( Test Pit ) bisa dihentikan bilamana :
Telah dijumpai lapisan keras, baik pada lokasi maupun di daerah sekelilingnya
Bila dijumpai rembesan air tanah yang cukup besar sehingga sulit untuk diatasi
Bila dinding galian mudah runtuh, sehingga pembuatan galian mengalami kesulitan, meskipun sudah diatasi dengan memasang papan penahan.

C. PENGAMBILAN CONTOH TANAH
Pengambilan contoh tanah di lapangan perlu dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan parameter tanah. Selanjutnya dilakukan penelitian tanah di laboratorium.

D. FORMULA UJI LABORATORIUM
1) Klasifikasi Tanah

Maksud dari klasifikasi tanah secara umum adalah pengelompokan berbagai jenis tanah ke dalam kelompok yang sesuai dengan sifat teknik dan karakteristiknya.

Klasifikasi tanah dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu cara AASHTO dan cara USCS. Uji laboratorium yang dilakukan untuk mengetahui klasifikasi tanah pada pekerjaan ini adalah menggunakan klasifikasi USCS (Unified Soil Clssification System).

Menurut sistem USCS,  tanah dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu :
Tanah berbutir kasar, yaitu tanah yang mempunyai persentase lolos ayakan No. 200  50 %,
Tanah berbutir halus, adalah tanah dengan persentase lolos ayakan No. 200  50 %, dan
Tanah Organis.

2) Kadar Air ( Water Content )

Pengujian ini bertujuan untuk menentukan kadar air dari contoh tanah. Yang dimaksud dengan kadar air tanah adalah perbandingan antara berat air yang terkandung dalam tanah (sampel) dengan berat butir tanah tersebut , yang dinyatakan dalam persen.
Kadar air dihitung dengan memakai rumus sebagi berikut :
       
W =  Ba    x 100%
         Bb
dimana :
W = kadar air,
Ba = berat air,
Bb = berat butir.

3) Berat Jenis ( Specific Grafity )

Tujuan dari uji ini adalah untuk menentukan berat jenis ( specific grafity ) dari contoh tanah yang diselidiki. Berat jenis ( specific grafity ) adalah perbandingan antara berat butir tanah dengan berat air pada volume yang sama. Dengan diketahuinya specific grafity (berat jenis) suatu tanah, maka parameter-parameter seperti ratio (e), n, d, dan S dapat diketahui.

Berat jenis dapat dihitung dengan rumus :
Berat Jenis =  Berat Tanah  
                               Isi Tanah

No comments:

Post a Comment