PENGERTIAN DAN JENIS AGREGAT

PENGERTIAN AGREGAT

       Agregat adalah material granular, misalnya pasir , kerikil, batu pecah dan kerak tungku besi, yang dipakai secara bersama-sama dengan suatu media pengikat untuk membentuk suatu beton semen hidraulik atau adukan (SK SNI T-15-1991-03). Fungsinya adalah sebagai material pengisi dan biasanya menempati sekitar 75 % dari isi total beton, karena itu pengaruhnya besar terhadap sifat dan daya tahan beton. Misalnya ketahanan beton terhadap pengaruh pembekuan-pencairan, keadaan basah–kering, pemanasan–pendinginan dan abarasi–kerusakan akibat reaksi kimia (Portland Cemen Association, Principles of Quality Concrete ( 1975 )).Mengingat bahwa agregat menempati jumlah yang cukup besar dari volume beton dan sangat mempengaruhi sifat beton, maka perlu kiranya material ini diberi perhatian yang lebih detail. Bahan ini relatif murah harganya, sehingga disarankan untuk memakai bahan ini sebanyak mungkin agar lebih ekonomis. Disamping itu dapat mengurangi penyusutan akibat pengerasan beton dan juga mempengaruhi koefisien pemuaian akibat panas. Pemilihan jenis agregat yang akan digunakan tergantung pada mutu agregat, ketersediannya di lokasi, harganya serta jenis konstruksi yang akan menggunakannya.

JENIS AGREGAT

   Agregat dapat digolongkan berdasarkan beberapa kriteria. Berdasarkan ukurannya, dikenal agregat kasar dan halus. Dari sisi berat jenisnya, dikenal agregat ringan (300 – 1800 kg/m3), normal (2400 – 3000 kg/m3) dan agregat berat (> 4000 kg/m3). Berdasarkan proses produksinya, dikenal agregat alam (natural aggregates) dan agregat buatan (Artificially aggregates). Selain itu digolongkan juga berdasarkan kandungan mineralnya, seperti group silica minerals, carbonate minerals, iron sulphide minerals, clay minerals, micaceous minerals, sulfat minerals, ferromagnesian minerals dan iron oxides (ASTM C 294,   (1975)). Dalam tulisan ini digunakan penggolongan berdasarkan ukurannya, yaitu agregat halus (fine aggregates) dan agregat kasar (coarse aggregates).

1.  AGREGAT HALUS

Agregat halus adalah agregat dengan ukuran butir maksimum 5,0 mm yang dapat berupa pasir alam yaitu sebagai hasil desintegrasi batuan secara alami, pasir olahan dari industri pemecah batu atau gabungan dari keduanya. Fungsi agregat halus pada dalam beton adalah sebagai material pengisi. Pengetahuan tentang propertis agregat halus sangat penting untuk bisa mendapatkan beton sesuai mutu yang diinginkan dengan harga yang lebih ekonomis. Beberapa properties agregat halus adalah :
  • Jumlah yang tertahan pada ayakan berikutnya dari rangkaian ayakan tidak melebihi 45 % dari yang lolos ayakan sebelumnya.
  • Modulus kehalusannya 2,3 sampai 3,1.
  • Untuk agregat dengan pengangkutan dari sumbernya, fineness modulusnya tidak boleh berubah lebih besar dari 0,2 dari fineness modulus pada sumbernya. Perubahan fineness modulus boleh terjadi setelah tiba di tujuan.
  • Sebisa mungkin tidak mengandung substansi pengotor seperti lumpur, lempung, partikel-partikel bebas dan zat-zat organik yang berbahaya. Kecuali bila disertai lampiran pengujian bahwa agregat tersebut dapat digunakan.
  • Hasil test kekerasan sebanyak lima kali, memberikan kehilangan rata-rata yang tidak lebih besar dari 10%, dibandingkan dengan menggunakan sodium sulfate atau magnesium sulfat (ASTM  C – 33, (1995)).


 2. AGREGAT KASAR

Agregat kasar yaitu agregat yang mempunyai ukuran butir 5 – 40 mm. Material ini dapat dihasilkan dari proses desintegrasi alami batuan yaitu berupa batu pecah (Natural Aggregates) atau dari industri pemecah batu (Artificially Aggregates). Secara umum, agregat kasar dapat terdiri dari kerikil alam, kerikil alam yang dipecah, batu yang dipecah, terak tanur yang telah mendingin, atau beton semen hidrolik yang dipecah atau kombinasi dari material-material tersebut. Sebelum digunakan sebaiknya properties agregat kasar disesuaikan dengan persyaratan yang diatur dalam ASTM C-33. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan agregat adalah : Ukuran AgregatUkuran bagian konstruksi tidak boleh kurang dari 4 kali ukuran agregat maksimum dan tidak lebih besar dari 1/5 jarak terkecil antara bidang-bidang samping acuan. Selain itu ukuran agregat maksimum tidak boleh lebih besar dari ¾ kali jarak bersih minimum diantara tulangan dan tidak lebih besar dari 1/3 kali tebal pelat dan lapisan penutup beton harus lebih tebal dari ukuran maksimum agregat.

Bahan Pengotor

Agregat tidak boleh mengandung bahan-bahan pengotor yang pada akhirnya akan menyulitkan pembuatan dan pengecoran beton, menghasilkan beton yang tidak awet dan permukaannya jelek serta mengurangi kuat tekan. Bahan-bahan yang mungkin mengotori agregat adalah :
   1). Lempung dan Lanau
Efeknya adalah menutupi permukaan agregat sehingga ikatan antara pasta semen dan agregat berkurang. Sifatnya absorbsinya yang tinggi akan menambah kebutuhan air yang pada akhirnya mengurangi kekuatan dan keawetan beton serta sensitif terhadap penyusutan dan pemuaian.
   2). Arang  Batu, Fragmen-Fragmen Kayu dan Gips
Arang batu dan fragmen kayu akan mengurangi kekuatan tekan beton dan permukaan beton menjadi kotor dan jelek. Sedang gips keberadannya dapat berupa butiran-butiran kasar dan halus. Butiran gips yang kasar tidak begitu membahayakan beton, tetapi butiran yang halus akan membahayakan beton karena bereaksi sempurna dengan semen dan akhirnya akan mengembang. Standar semen portland membatasi pemakaian gips maksimal  5 %.
   3). Bahan organik dan Garam OrganikBahan organik dapat berupa bahan-bahan yang telah membusuk seperti humus atau tanah yang mengandung organik. Efeknya akan negatif terhadap perkembangan kekuatan tekan awal, tetapi setelah jangka waktu yang lama kekuatan beton akan bertambah lagi (pulih kembali). Sedang garam organik dapat berupa garam sulfat. Efeknya tidak berpengaruh pada perkembangan kekuatan tekan awal tetapi pada umur tua beton. 

K e k e r a s a n

Memiliki kekerasan yang cukup agar tahan terhadap pengausan, pemecahan degradasi (penurunan mutu) dan disintegrasi (penguraian) saat mengalami gerakan-gerakan yang keras dalam mixer serta menerima gesekan pada saat pengecoran dan pemadatan. Kekerasan agregat diuji dengan menggunakan Los Angeles Machine Test.

K e m u l u s a n

Agregat yang mulus secara fisik tidak akan mengalami perubahan volume yang besar akibat pemanasan dan pendinginan atau pembasahan dan pengeringan. Partikel batuan yang secara fisik bersifat lunak akan memiliki daya absorbsi yang besar, mudah pecah serta mudah menyusut/mengembang akibat pengaruh air, sehingga bila terjadi perubahan cuaca permukaannya akan bergelembung yang bila pecah akan meninggalkan lubang pada permukaan beton. Kemulusan agregat dipengaruhi oleh porositasnya, yaitu kontinuitas pori-pori dan jumlahnya. Adanya ruang pori akan mengurangi bagian yang padat agregat. Akibatnya mudah kemasukan air dan larutan-larutan agresif, sehingga kuat tekan beton berkurang, mudah aus, modulus elastisitas berkurang dan terjadi penyusutan yang besar. 

B e n t u k    B u t i r a n


Suatu rangkaian percobaan telah membuktikan bahwa beton dengan agregat kasar berbentuk bulat akan mempunyai rongga udara yang lebih sedikit dibandingkan beton dari agregat kasar yang bersudut. Dengan demikian dibutuhkan jauh lebih banyak mortar untuk beton dengan agregat yang bersudut daripada yang beragregat bulat. Dikenal beberapa jenis bentuk butiran, seperti bulat, tidak beraturan, bersudut, pipih, memanjang serta pipih dan memanjang.
Demikianlah sedikit penjelasan dari saya mengenai Agregat dan Jenisnya. semoga bermanfaat bagi pembaca. Terimakasih.

ANALISA STRUKTUR DENGAN METODE MATRIKS

Kali ini kita akan melihat mengenai penjelasan dasar dari metode matriks dalam menganalisa sebuah striktur. Seperti kita ketahui bahwa dalam menganalisa struktur pada bangunan, kita bdapat menggunakan beberapa metode, salah satunya adalah metode matriks. Metode ini cukuplah mudah karena itu dapat kita gunakan dalam struktur yang besar. Mari kita lihat beberapa penjelasan dasar mengenai metode matriks berikut ini:

 PENGANTAR MATRIKS

    Matriks adalah bilangan yang disusun membentuk jajaran persegi yang terdiri dari beberapa buah baris dan kolom. Biasanya matriks dinyatakan seperti berikut ini :
    CONTOH:

    Nama mariks diatas adalah matriks A, dinyatakan dengan : [A]
        a11, a12, …. aij      elemen matriks [A]
        i     jumlah baris elemennya
        j     jumlah kolom elemennya
        i x j     ordo matriks [A]
    Matriks diatas dapat juga dinyatakan sebagai : Ai x j

    JENIS-JENIS MATRIKS

      1.    Matriks Bujur Sangkar

      Sebuah matriks dikatakan matriks bujur sangkar apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( i = j ).
      Contoh :
      Matriks bujur sangkar
      Matriks bujur sangkar dapat berupa :

      1.    Matriks Upper Triangular

      Yaitu suatu matriks dimana semua elemen di bawah diagonal utamanya adalah nol.
      Contoh:

      2.    Matriks Lower Triangular

      Matriks ini adalah kebalikan dari matriks Upper Triangular, yaitu suatu matriks dimana semua elemen di atas diagonal utamanya adalah nol.
      Contoh:

      3.    Matriks Diagonal

      yaitu suatu matriks dimana semua elemen sama dengan nol, kecuali elemen diagonal utamanya.
      Contoh:

      4.    Matriks Skalar

      yaitu matriks diagonal dimana elemen diagonal utamanya adalah bilangan yang sama.
      Contoh:

      2.    Matriks Baris

      Sebuah matriks dikatakan matriks baris apabila jumlah barisnya sama dengan satu.
      Contoh :
       [ A ] = [ 1   2   3   4   5 ]

      3.    Matriks Kolom

      Sebuah matriks dikatakan matriks kolom apabila jumlah kolomnya sama dengan satu.
      Contoh :
      [ A ] = { 1   2   3   4   5 }

      4.    Matriks Nol

      Sebuah matriks dikatakan matriks nol apabila semua elemennya adalah  nol.
      Contoh:

      5.    Matriks Identitas = Matriks Satuan

      Sebuah matriks dikatakan matriks identitas apabila semua elemennya adalah  nol, kecuali elemen diagonal utamanya adalah satu. Matriks ini biasa dituliskan [ I ].
      Contoh:

      OPERASI MATRIKS

      1.    Kesamaan matriks

      Dua buah matriks dikatakan sama apabila ordo dan elemen-elemennya sama (aij = bij ).
      Contoh :

      2.    Penjumlahan/Pengurangan Matriks

      Dua buah matriks dapat dijumlahkan/diperkurangkan apabila ordonya sama. Hasil penjumlahannya adalah juga matriks yang berordo sama dengan matriks yang dijumlahkan/diperkurangkan.
      Contoh :

      Hasil penjumlahannya adalah :

      Suatu penjumlahan matriks akan memenuhi sifat-sifat berikut :
      [ A ] + [ B ] =  [ B ] + [ A ]
      [ A ] + [ B ] + [ C ] = ( [ A ] + [ B ] ) + [ C ]

      3.    Perkalian dengan bilangan Skalar

      Suatu matriks [ A ] dapat dikalikan dengan suatu bilangan skalar/konstan k, akan menghasilkan suatu matriks [ B ] = k [ A ]. Dimana bij = k . aij.
      Contoh :

      4.    Perkalian Matriks

      Dua buah matriks dapat diperkalikan apabila dipenuhi bahwa jumlah kolom matriks pertama sama dengan jumlah baris matriks kedua.
      Contoh :
       [ A ]ixj . [ B ]jxk = [ C ]ixk    ….. Perhatikan analog permainan “ DOMINO “

      Teknik perkaliannya adalah baris dikalikan dengan kolom.
      Cij = ai1 . b1j + ai2 . b2j + ai3 . b3j + … + aij . bkj

      5.    Transpose Matriks

      Transpose matriks adalah mengubah letak elemen-elemen matriks tersebut, dengan aturan bahwa baris berubah menjadi kolom dan kolom menjadi baris. Matriks [ A ]mxn apabila ditranspose maka akan diperoleh [ A ]Tnxm.
      Contoh :

      6.    Adjoin Matriks

      Adjoint suatu matrks bujur sangkar [ M ] adalah suatu matriks dengan orde yang sama yang diperoleh dengan mengganti elemen [ M ]T dengan cofactor dari elemen yang bersangkutan. Adjoint matrks [ M ] biasa dinyatakan [ M ]+ atau [ M ] Adj .
      Contoh :
      Kemudian diisikan kedalam masing-masing cofaktornya :

      7.    Determinan Matriks

      Determinan matriks didefenisikan sebagai jumlah dari minor kali cofaktornya pada suatu baris atau kolom. Determinan [ A ] dinyatakan dengan notasi :
      Contoh :

      8.    Invers Matriks

      Pengertian invers matriks adalah matriks pengali terhadap matriks tersebut supaya dihasilkan matriks identitas. Matriks yang bisa diinvers adalah matriks bujursangkar (baris=kolom). Aplikasi invers matriks ini dilakukan untuk memanipulasi pembagian matriks, karena pada operasi matriks tidak dikenal pembagian matriks. Secara umum formula invers matriks adalah :
      Invers [ M ]     = [ M ]-1
      Secara khusus untuk matriks berordo 2x2, inversnya dihitung sebagai berikut :

      Untuk memudahkan tampilan perhitungan dengan metode matriks ini sebaiknya dilakukan dengan menggunakan sistem Equation pada program Microsoft Word. Sistem ini akan membantu mempermudah tampilan seperti tampilan ini:

       Demikianlah bebrapa penjelasan dasar mengenai CARA MENGANALISA STRUKTUR DENGAN METODE MATRIKS semoga bermanfaat. Terimakasih.

      DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT BETON BERTULANG



         A.    DEFINISI BETON BERTULANG!
      Kali ini kita akan mempelajari tentang beton bertulang. BETON BERTULANG! sendiri banyak digunakan dalam berbagai macam bangunan. Secara umum definisi dari Beton secara umum  adalah campuran dari bahan-bahan agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), semen dan juga air yang menyatu dan mengeras menyerupai batu. Beton tersebut  mengalami dua hal yang sangat penting yaitu kondisi tekan dan tarik, yang antara lain karena adanya pengaruh lentur maupun gaya lateral. Dengan melihat definisi beton secara umum tersebut, maka dapat kita simpulkan bahwa definisi dari BETON BERTULANG adalah campuran campuran dari bahan-bahan agregat halus (pasir), agregat kasar (kerikil), semen dan juga air yang di dalamnya diberi tulangan dengan luas dan jumlah tulangan yang tidak kurang dari nilai minimum yang di syaratkan dengan atau tanpa prategang, dan direncanakan berdasarkan asumsi bahwa kedua bahan tersebut bekerja sama dalam memikul gaya-gaya yaitu lentur maupun lateral.
      Dari hasil percobaan – percobaan di ketahui bahwa beton kuat menahan gaya tekan akan tetapi tidak kuat menahan gaya tarik, karena beton adalah material yang bersifat kaku/plastis (tidak elastis). Di dalam kenyataannya bahwa beton akan menerima gaya-gaya aksial, momen  lentur, gaya geser, maupun momen puntir yang besar atau kombinasi dari gaya-gaya tersebu, dan untuk menahan gaya tarik tersebut maka pada daerah tarik beton di pasang besi tulangan yang bertujuan untuk mendukung kelemahan dari beton terhadap gaya yang bekerja, karena besi tulangan memiliki kuat tarik yang besar.
          B.     SIFAT-SIFAT BETON BERTULANG!
      Beton bertulang memiliki beberapa sifat-sifat utama sebagai berikut:
      1.      Kuat Beton Terhadap Gaya Tekan
      Bagaimanakah pengaruh kuat beton terhadap gaya tekan? Pada dasarnya nilai kuat tekan beton yang normal di gunakan pada ≤ 40 Mpa. Acuan dalam menilai kuat tekan beton yang di pakai adalah kuat tekan karateristik beton (sbk ) di mana pengertian dari kuat tekan karateristik beton adalah kuat tekan beton pada benda uji kubus ukuran standart 15 x 15 x 15 cm.
      2.      Kuat Beton Terhadap Gaya Tarik
      Bagimana dengan kuat beton terhadap gaya tarik? Nilai kuat tekan dan tarik bahan beton tidak berbanding lurus, dimana suatu perbandingan kasar dapat dipakai bahwa nilai kuat tarik bahan beton normal hanya berkisar antara 9% - 15%  dari kuat tekannya. Kuat tarik bahan beton normal yang tepat sulit untuk di ukur. Suatu nilai pendekatan yang umum di lakukan dengan menggunakan modulus of rupture, ialah tegangan tarik lentur beton yang timbul pada pengujian hancur balok beton polos ( tanpa tulangan ), sebagai pengukur kuat tarik sesuai teori elastrisitas. Kuat tarik bahan beton juga di tentukan melalui pengujian split silinder yang umumnya hasil yang lebih baik dan lebih mencerminkan kuat tarik yang sebenarnya. Nilai pendekatan yang di peroleh dari hasil pengujian berulangkali mencacpai kekuatan 0,50 – 0,60 kali Ö f’c, sehingga untuk beton normal di gunakan nilai 0,57 Ö f’c.
      Pengujian menggunakan benda uji silinder beton berdiameter 150 mm dan panjang 300 mm ( pengujian belah silinder beton ).  SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002. menetapkan modulus tarik beton ( fr ) yang berlaku sebagai berikut :
      fr   = 0,7                 Þ   Untuk beton normal
      fr  =  0,75               Þ   Untuk beton ringan – total
      fr  =  0,85               Þ  Untuk beton ringan – berpasir

      3.      Moduls Elastisitas Beton ( Ec )
      Dengan semakin berkembangnya penggunaan beton ringan, dipandang perlu untuk menyertakan kerapatan ( density ) pada penetapan Modulus Elastisitas bahan beton. Sesuai dengan SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002 di gunakan rumus – rumus nilai modulus elastisitas beton sebagai berikut :
      Ec  =  0,043 Wc1,5 Ö fc’
      Di mana  :   Ec                        =  Modulus Elastisitas beton tekan ( Mpa )
                          Wc           =  Berat isi beton tekan  ( Mpa )
                          fc’            =   Kuat tekan beton ( Mpa )
      Untuk beton kepadatan normal dengan berat isi ± 23 KN/m3 Ec boleh di ambil sebesar 4700 . Tabel 2.1. berikut memberikan nilai – nilai modulus elastisitas beton  ( Ec ) untuk berbagai mutu brton.
      Tabel. 2.1
      Modulus elastisitas beton tekan

      Fc’
      ( MPa )
      Ec
      ( Mpa )
      17
      20
      25
      30
      35
      40
      19.500
      21.000
      23.500
      25.700
      27.800
      29.700
                                           Sumber : Desain Beton Bertulang, Wang C. K
      Mengingat nilai banding elastisitas ( n ) di samping sifat-sifat penampang merupakan nilai – nilai yang berpengaruh terhadap posisi atau letak garis netral maka  dalam     menghitung    tegangan-tegangan kerja, mengetehui  nilai Rasio modulus elastisitas lebih penting, Sesui SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002.                    
      Di mana  :        n    =  Rasio modulus elastisitas
                              Es  =  Moulus elastistas Baja
                              Ec  =  Modulus elastisitas beton
      Dapat di tetukan sebagai angka pembulatan terdekat tetapi tidak boleh kurang dari 6. Kecuali untuk perhitungan lendutan nilai n untuk beton ringan di ambil sama dengan beton normal bagi kelas kuat beton yang sama. Untuk beton normar di sarankan menggunakan nilai – nilai yang tercantum dalam Tabel 2.2.
      Tabel. 2.2.
      Rasio modulus elastisitas beton


      Fc’ ( MPa )

      N
      17
      20
      25
      30
      35
      40
      10
      9
      9
      8
      7
      6
                                           Sumber : Desain Beton Bertulang, Wang C. K
      4.      Hubungan Tegangan dan Regangan ( fc’ ; εc )  Beton           
      Kuat tekan Beton sangat erat kaitannya dengan tegangan dan renggangan yang terjadi pada beton.  Kuat tekan beton di wakili oleh tegangan tekan maksimum beton   ( fc’ ), pada saat regangan beton mencapai nilai  ±  0,002. Nilai kuat tekan beton yang di dapat melalui pengujian standar, menggunakan mesin uji dengan cara nemberikan beban bertingkat dengan kecepatan peningakatan beban tertentu atas benda uji silinder beton (f  150 mm, tinggi 300 mm ) sampai hancur, yang dicapai benda uji pada umur 28 hari.
      Selanjutnya nilai tegangan beton akan menurun dengan bertambahnya  regangan sampai benda uji mengalami hancur pada nilai 0,003 – 0,005.
      Pada SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002. menetapkan bahwa regangan kerja maksimum yang  diperhitungkan di serat tepi beton tekan terluar adalah 0,003 sebagai batas hancur yang ideal / aman, atau sebesar 85% dari fc’ ( 0,85 fc’ ).  


      5.      Hubungan Tegangan dan Regangan  ( fs ; εs ) Baja Tulangan
      Di sisi lain hal yang perlu kita perhatikan adalah tegangan dan renggangan yang terjadi pada tulangan, dalam hal ini kita menggunakan baja. Bagaimanakah hubungan tegangan dan renggangan pada baja tilangan. Tegangan leleh baja di awali dengan perbandingan linier antara tegangan dan regangan ( daerah elastis ) pada saat baja di tarik dengan besaran gaya tertentu, kemudian di ikuti oleh daerah    leleh ( fy ) yang diperlihatkan oleh garis horisontal di mana nilai regangan baja terus bertambah namun kondisi nilai tegangannya tetap, tegangan dimana terbentuk daerah leleh di sebut tegangan leleh ( yield stress ). Kemudian di ikuti lagi dengan peningkatan tegengan hingga mencapai nilai tegangan maksimum ( fsn ) tercapai, kemudian tegangannya kembali menurun hingga baja mengalami putus.
      Tegangan leleh biasanya terjani pada regangan antara 0,0012 hingga 0,0054,8. Perturan SNI-03-1726-2002 dan SNI-03-2847-2002 memberikan definisi tegangan leleh sebagai tegangan yang bersesusian dengan regangan sebesar 0,003.   
                                                                               
      Gambar.  2.2. Hubungan tegangan dan regangan baja tulangan
        Saya kira cukup demikianlah penjelasan mengenai BETON BERTULANG!. Atas kekurangannya saya mohon dimaklumi. Semoga Artikel ini bermanfaat bagi para penbaca. Terimakasih.
      Baca juga mengenai:
      JEMBATAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA!

      KLASIFIKASI KONSTRUKSI!

      DEFENISI JEMBATAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA



      1.            DEFENISI JEMBATAN

      Jika didefenisikan, Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang  berada lebih rendah. Rintangan  ini biasanya jalan lain (jalan air atau jalan lalulintas biasa). Dengan adanya jembatan transportasi darat yang terputus oleh sungai, jurang, alur banjir (floodway) dapat teratasi.

      Untuk memperlancar transportasi darat tidak lepas dari pengaruh topografi dari masing – masing daerah, dimana akan mempengaruhi terwujudnya sarana transportasi. Usaha pengadaan jalur – jalur lalu lintas yang menghubungkan antar daerah belum tentu dapat dibuat jalur jalan secara menerus, mungkin harus menyilang diatas jalur jalan yang lain atau harus melintasi sungai. Untuk mengatasi problema lalu lintas tersebut diatas perlu dibuat konstruksi jembatan guna menghubungkan antar jalur jalan. Dengan adanya konstruksi jembatan, maka rintangan akibat pengaruh topografi / geografi dapat diatasi
      Desain Jembatan yang di rencanakan berupa jembatan dengan konstruksi baja dengan bentang 30 m.        

      2.                JEMBATAN SECARA UMUM


      Jembatan merupakan kesatuan dari struktur atas (super struktur) dan struktur bawah (sub struktur), yang termasuk bagian suatu sistem transportasi untuk tiga hal:
      1.    Merupakan pengontrol kapasitas dari system.
      2.    Mempunyai biaya tertinggi dari system.
      3.    Jika jembatan runtuh, system akan lumpuh.
      Jika jembatan kurang lebar untuk menampung jumlah jalur yang diperlukan oleh lalu lintas, maka jembatan akan menghambat lalu lintas. Dalam hal ini, jembatan akan menjadi pengontrol volume dan berat lalu lintas yang dapat dilayani oleh system transportasi. Oleh karena itu, jembatan dapat mempunyai fungsi keseimbangan (balancing) dari sistem transportasi darat.
      Jembatan terdiri dari beberapa jenis diantaranya: jembatan plat beton (slab), jembatan gelagar/ rangka baja, jembatan pratekan/prategang, jembatan cable, jembatan kayu dan jembatan bambu.
      Fungsi jembatan adalah untuk meneruskan jalan (lalu lintas kendaraan) yang mengalami jalan terputus akibat permukaan yang lebih rendah dan curam tanpa menutupnya, atau dengan kata lain sebagai alat penyeberangan antara dua tempat yang terpisah.

      2.1     Bagian-Bagian Dari Kontruksi Jembatan

      Bagain-bagian dari suatu jembatan terbagi dalam tiga bagian, yaitu:

      2.1.1  Bangunan Atas (super struktur), yang terdiri atas:


      1. ·      Gelagar-gelagar utama (rangka utama), yang terbentang dari titik tumpu ke titik tumpu lain. Gelagar-gelagar ini terdiri dari batang diagonal, horizontal dan vertical yang membentuk rangka utama dan terletak pada kedua sisi jembatan.
      2. Gelagar melintang, berupa baja profil yang terletak di bawah lantai kendaraan, gunanya sebagai pemikul lantai kendaraan.
      3. Lantai kendaraan, terletak di atas gelagar melintang, biasanya terbuat dari kayu atau pasangan beton bertulang dan seluruh lebar bagiannya digunakan untuk lalulintas kendaraan.
      4. Lantai trotoar, terletak di pinggir sepanjang lantai kendaraan dan digunakan sebagai tempat pejalan kaki.
      5. Pipa sandaran, terbuat dari baja yang dipasang diantara tiang-tiang sandaran di pinggir sepanjang jembatan atau tepi lantai trotoar dan merupakan pembatas dari kedua sisi samping jembatan.
      6. Tinang sandaran, terbuat dari beton bertulang atau baja profil dan ada juga yang langsung dipasang pada rangka utama, gunanya untuk menahan pipa sandaran.

      2.1.2  Bangunan bawah (sub structure), yang terdiri dari:


      1. Pilar, berfungsi untuk menyalurkan gaya-gaya vertical dan horizontal dari bangunan atas pada pondasi.
      2. Pangkal (abutment), pangkal menyalurkan gaya vertical dan horizontal dari bangunan atas pada pondasi dengan fungsi tambahan untuk mengadakan peralihan tumpuan dari timbunan jalan pendekat ke bangunan atas jembatan. Ada beberapa tipe dan jenis abutment, yaitu:

      • Tipe gravitasi, kontruksi terbuat dari pasangan batu kali. Digunakan bila tanah keras dekat dengan permukaan.
      • Tipe T terbalik (kantilever), kontruksi terbuat dari beton bertulang, bentuknya langsing sehingga dalam proses pembuatannya sangat mudah dari pada tipe-tipe yang lain.
      • Tipe dengan penopang, bentuknya kontruksinya sama dengan tipe kantilever  tetapi ditambahkan penopang dibelakangnya, yang berguna untuk melawan pengaruh tekanan tanah dan gaya angkat (bouyvancy).

      2.2     Pembebanan pada Jembatan .

      Dalam perencanaan struktur jemabatan secara umum, khususnya jembatan komposit, hal yang perlu sekali diperhatikan adalah masalah pembebanan yang akan bekerja pada struktur jembatan yang dibuat. Menurut pedoman Perencanaan Pembebanan Jembatan Jalan Raya (PPPJJR No 378/1987) dan PMJJR No 12/1970 membagi pembebanan jembatan dalam dua kelas, yaitu:
      Kelas
      Berat Beton
      A
      B

      10
      8
      Table 2.1 Kelas tekan as gandar (PMJJR No.12/1970)
      Ada beberapa macam pembebanan yang bekerja pada struktur jembatan, yaitu:

      2.2.1  Beban Primer

      Beban primer merupakan beban utama dalam perhitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan, yang terdiri dari: beban mati, beban hidup, beban kejut dan gaya akibat tekanan tanah.

      • Beban mati
      Beban mati adalah beban yang berasal dari berat jembatan itu sendiri yang ditinjau dan termaksud segala unsur tambahan tetap yang merupakan satu kesatuan dengan jembatan. Untuk menemukan besar seluruhnya ditentukan berdasarkan berat volume beban.

      • Beban hidup
      Beban hidup adalah semua beban yang berasal dari berat kendaraan-kendaraan yang bergerak dan pejalan kaki yang dianggap bekerja pada jembatan. Penggunaan beban hidup di atas jembatan yang harus ditinjau dalam dua macam beban yaitu beban “T” yang merupakan beban terpusat untuk lantai kendaraan dan beban “D” yang merupakan beban jalur untuk gelagar.
      Gambar 2.1 beban “D”
      Untuk perhitungan gelagar harus dipergunakan beban “D” atau beban jalur. Beban jalur adalah susunan beban pada setiap jalur lalulintas yang terdiri dari beban yang terbagi beban rata sebesar “q” ton/m panjang perjalur dan beban garis “p” ton perjalur lalulintas. Untuk menentukan beban “D” digunakan lebar jalan 5,5 m, maka jumlah jalur lalulintas sebagai berikut:
      Gambar 2.2 ketentuan penggunaan beban “D”
      Table 2.2 jumlah jalur lalulintas
      Lebar lantai kendaraan (m)
      Jumlah jalur lalulintas
      5,50 – 8,25 m
      8,25 – 11,25 m
      11,25 – 15,00 m
      15,00 – 18,75 m
      18,75 – 32,50 m
      2
      3
      4
      5
      6
      (PPPJJR No. 378/KPTS/1987)
      Untuk jembatan dengan lebar lantai kendaraan sama atau lebih kecil dari 5,50 m makan beban “D” sepenuhnya (100%) dibebankan pada seluruh lebar jembatan dan kelebihan lebar jembatan dari 5,5 m mendapat separuh beban “D” (50%). Jalur lalulintas ini mempunyai lebar minimum 2,75 m dan lebar maksimum 3,75 m. Beban “T” adalah beban kendaraan Truck yang mempunyai beban roda 10 ton (10.000 Kg) dengan ukuran-ukuran serta kedudukan dalam meter, seperti tertera pada gambar 2.3 untuk perhitungan pada lantai kendaraan jembatan digunakan beban “T” yaitu merupakan beban pusat dari kendaraan truck dengan beban roda ganda (dual wheel load) sebesar 10 ton
                                                
      Gambar 2.3 beban “T” bekerja pada lantai kendaraan
      Dimana beban garis P= 12 ton sedangkan beban q ditentukan dengan ketentuan sebagai berikut:
      Q= 2,2 t/m                                             untuk L<30 m="" span="">
      Q= 2,2t/m – (11/60)x(L-30) t/m            untuk   30>L< …..[2-1]                      
      Q= 1,1x(1+(30/L))t/m                           untuk L>60m
      Dimana L adalah panjang bentangan gelagar utama (m) untuk menentukan beban hidup, beban terbagi rata (t/m/jalur) dan beban garis (t/jalur) dan perlu diperhatikan ketentuan bawah.
      Beban terbagi merata     =  Q ton/meter………................[2-2]
                                                    2,75 m

      Beban garis                    = Q ton ......................................[2-3]
                                                2,75 m

      Angka pembagi 2,75 meter diatas selalu tetap dan tidak tergantung pada lebar  jalur lalulintas. Dalam perhitungan beban hidup tidak penuh, maka digunakan:

      1. Jembatan permanen= 100% beban “D” dan “T”.
      2. Jembatan semi permanen= 70% beban “D” dan “T”.
      3. Jembatan sementara= 50% “D” dan “T”.
      Dengan menggunakan beban “D” untuk suatu jembatan berlaku ketentuan ini.

      • Beban kejutan/Sentuh
      Beban kejut merupakan factor untuk memperhitungkan pengaruh-pengaruh getaran dan pengaruh dinamis lainnya. Koefesien kejut ditentukan dengan rumus:
      K= 1+ ……………………………………………….[2-4]       
      Dimana:                    K= koefesien kejut
                              L= panjang/ bentang jembatan


      2.2.2  Beban Sekunder

      Beban sekunder adalah beban yang merupakan beban sementara yang selalu diperhitungkan dalam penghitungan tegangan pada setiap perencanaan jembatan.

      • Beban Angin
      Dalam perencanaan jembatan rangka batang, beban angin lateral diasumsikan terjadi pada dua bidang yaitu:

      1. Beban angin pada rangka utama. Beban angin ini dipikul oleh ikatan angin atas dan ikatan angin bawah.
      2. Beban angin pada bidang kendaraan. Beban angin ini dipikul oleh ikatan angin bawah saja. Dalam perencanaan untuk jembatan terbuka, beban angin yang terjadi dipikul semua oleh  ikatan angin bawah.

      • Gaya Akibat Perbedaan Suhu
      Perbedaan suhu harus ditetapkan sesuai dengan keadaan setempat yaitu dengan perbedaan suhu.
      a. Bangunan Baja

      1. Perbedaan suhu maksimum-minimum= 300C
      2. Perbedaan suhu antara bagian-bagian jembatan= 150C
      b. Bangunan Beton

      1. Perbedaan suhu maksimum-minimum= 150C
      2. Perbedaan suhu antara bagian-bagian jembatan=100C
      Dan juga tergantung pada koefisien muai panjang bahan yang dipakai misalnya:

      1. Baja ε =12x10-6/0C
      2. Beton ε =10x10-6/0C
      3. Kayu ε =5x10-6/0C
      c.    Gaya Rangkak dan Susut
      Diambil senilai dengan gaya akibat turunnya suhu  sebesar 150C
      d.   Gaya Rem dan Traksi
      Pengaruh ini diperhitungkan dengan gaya rem sebesar 5% dari beban “D” tanpa koefisien kejut. Gaya re mini bekerja horizontal dalam arah jembatan dengan titik tangkap setinggi 1,80 m dari permukaan lantai jembatan.

      • Gaya Akibat Gempa Bumi
      Bekerja kea rah horizontal pada titik berat kontruksi.
      KS = E x G ……………………………………………[1-5]
      Dimana:
      KS     = koenfisien gaya horizontal (%)
      G       = beban mati (berat sendiri) dari kontruksi yang ditinjau.
      E       = koefisien gempa bumi ditentukan berdasarkan peta zona gempa     dan biasanya      diambil 100% dari berat kontruksi.

      • Gaya Gesekan Pada Tumpuan Bergerak
      Ditinjau hanya beban mati (ton). Koefisien gesek karet dengan baja atau beton= 0,10 sampai dengan 0,15.

      2.2.3  Beban Khusus

      Beban khusus yaitu beban-beban yang khususnya bekerja atau berpengaruh terhadap suatu struktur jembatan. Misalnya: gaya sentirfugal, gaya gesekan pada tumpuan, beban selama pelaksanaan pekerjaan struktur jembatan, gaya akibat tumbukan benda-benda yang hanyut dibawa oleh aliran sungai.

      • Gaya sentrifugal
      Konstruksi yang ada pada tikungan harus diperhitungkan gaya horizontal radial yang dianggap bekerja horizontal setinggi 1,80 m di atas lantai kendaraan dan dinyatakan  dalam % terhadap beban “D” dengan rumus sebagai berikut:
      ……………………………………[2-6]

      Dimana:
      S= gaya sentrifugal (%) terhadap beban “D” tanpa factor kejut.
      V= kecepatan rencana (km/jam).
      R= jari-jari tikungan (m).

      • Gaya Gesekan pada Tumpuan
      Gaya gesekkan ditinjau hanya timbul akibat beban mati (ton). Sedangkan besarnya ditentukan berdasarkan koefisien gesekan pada tumpuan yang bersangkutan dengan nilai:

      a. Tumpuan rol

      1. Dengan 1 atau 2 rol     :0,01
      2. Dengan 3 atau lebih    :0,05
      b. Tumpuan gesekan

      1. Antara tembaga dengan campuran tembaga keras      =0,15
      2. Antara baja dengan baja atau baja tuang                    =0,25

      • Gaya Tumbukkan pada Jembatan Layang
      Untuk memperhitungkan gaya akibat antara pier (bangunan penunjang jembatan diantara kedua kepala jembatan) dan kendaraan, dapat dipikul salah satu dan kedau gaya-gaya tumbukkan horizontal:

      1. Pada jurusan arah lalulintas sebesar………………..100 ton
      2. Pada jurusan tegak lurus arah lalulintas……………50 ton

      • Beban dan Gaya selama pelaksanaan
      Gaya yang bekerja selama pelaksanaan harus ditinjau berdasarkan syarat-syarat pelaksanaan.

      • Gaya Akibat Aliran Air dan Benda-benda Hanyut
      Tekanan aliran pada suatu pilar dapat dihitung dengan rumus:
      P=KxV2………………………………………………....[2-7]
      Dimana:
      P= tekanan aliran air (t/m2)
      V= Kecepatan aliran air (m/det)
      K= koefisien yang bergantung pada bentuk pier

      2.2.4  Kombinasi Pembebanan

      Kontruksi jembatan beserta bagian-bagiannya harus ditinjau dari kombinasi pembebanan dan gaya yang mungkin bekerja. Sesuai dengan sifat-sifat serta kemungkinan-kemungkinan pada setiap beban, tegangan yang digunakan dalam kekuatan pemeriksaan kontruksi yang bersangkutan dinaikkan terhadap tegangan yang diizinkan sesuai dengan elastis. Tegangan yang digunakan dinyatakan dalam proses terhadap tegangan yang diizinkan sesuai kobinasi pembebanan dan gaya pada table 2.3 berikut ini:

      Kombinasi Pembebanan dan Gaya
      Tegangan yang digunakan dlm proses terhadap tegangan izin keadaan elastis
      I.              M+(11+k)+Ta+Tu
      II.           M+Ta+Ah+Gg+A+SR+Tm
      III.        Kombinasi(1)+Rm+Gg+A+SR+Tm+S
      IV.        M+Gh+Tag+Gg+Ahg+Tu
      V.           M+PI
      VI.        M+(H+K)+Ta+S+Tb


      100%
      125%
      140%
      150%
      130%
      150%

      (PPPJJR No 378/KPTS/1987)
      Dimana:
      A                        : beban angin
      Ah          : gaya akibat aliran dan hanyutan
      Ahg        : gaya akibat aliran dan hanyutan pada waktu gempa
      Gg          : gaya gesek pada tumpuan bergerak
      Gh          : gaya horizontal ekivalen akibat gempa bumi
      (H+K)    : beban hidup dengan kejut
      M           : beban mati
      P1              : gaya-gaya pada waktu pelaksanaan
      Rm         : gaya rem
      S             : gaya sentrifugal
      SR          : gaya akibat perubahan suhu(selain susut dan rangkak)
      Ta           : gaya tekanan tanah
      Tag             : gaya tekanan tanah akibat gempa
      Tb               : gaya tumbukkan
      Tu               : gaya angkat (buoyancy)

      2.3     Konsep Dasar Jembatan Komposit

      Struktur jembatan komposit merupakan gabungan antara dua bahan, yaitu struktur beton (beton bertulang) dan struktur baja. Kedua bahan ini digabungkan menjadi satu kesatuan yang utuh.

      2.3.1  Struktur Beton Bertulang

      Beton bertulang adalah gabungan logis dari dua jenis bahan beton polos,  yang memiliki kekuatan tekan yang tinggi akan tetapi kekuatan tariknya rendah dan batangan-batangan baja yang di tanamkan di dalam beton dapat memberikan kekuatan tarik yang diperlukan. Baja dan beton dapat bekerjasama atas dasar beberapa alasan:

      1. Lekantan (bond) yang mencegah selip (slip) dari baja relativ tehadap beton.
      2. Campuran beton yang memadai memberi anti resap yang cukup untuk mencegah karat baja.
      3. Angka kecepatan mulai yang hampir serupa.
       sistem struktur yang di bangun dengan beton bertulang seperti bangunan gedung, terowongan, jembatan, dinding penahan tanah dll. Di rencanakan dengan prinsip dasar desain elemen beton bertulang yang menerima gaya aksial, momen, gaya geser, momen puntir atau kombinasi dari gaya-gaya tersebut.

      2.3.2  Kuat Beton terhadap Gaya Tekan

      Kekuatan tekan beton ditentukan oleh pengaturan dari perbandingan semen, agregat kasar dan halus, air dan berbagai jenis campuran. Perbandingan dari air dan semen merupakan factor utama dalam menentukan kekuatan beton. Nilai kuat beton yang normal ditentukan pada saat beton mencapai kekuatan maksimumnya pada umur 28 hari.

      2.4.3  Kuat Beton terhadap Gaya Tarik

      Nilai kuat tekan dan tarik bahan beton tidak berbanding lurus, setiap usaha perbaikkan mutu kekuatan tekan hanya disertai peningkatan kecil nilai kuat tariknya. Suatu perkiraan kasar dapat dipakai, bahwa nilai kuat tarik bahan beton normal hanya berkisar antara 9%-15% dari kuat tekannya. Kekuatan tarik beton sering kali diukur berdasarkan modulus tarik, yaitu tegangan tarik lentur dari beton silinder 150 mm dan panjangnya 300 mm, nilai tarik ini lebih besar dari nilai kuat tarik sesungguhnya. Tetapi saat ini lebih sering ditentukan oleh kekuatan belah silinder, SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.2.5 menetapkan modulus tarik beton Fr  yang berlaku. Fr =0,7    untuk beton normal. Dengan fr dan f’c dalam Mpa. Harga fr ini harus dikalikan factor 0,75 untuk beton ringan total dan 0,85 untuk beton ringan berpasir.

      2.3.4  Rangkak dan Susut

      Rangkak adalah sifat beton yang mengalami perubahan bentuk (deformasi) permanen akibat beban tetap yang bekerja padanya. Tangkak timbul dengan intesitas yang semakin berkurang untuk selang waktu tertentu dan kemungkinan berakhir setelah beberapa tahun berjalan. Pada umumnya beton dengan mutu tinggi mempunyai nilai rangkak yang lebih kecil disbanding dengan beton yang mutunya rendah. Besarnya deformasi rangkak sebanding dengan besarnya beban yang ditahan dan juga jangka waktu pembebanan. Pada umumnya rangkak tidak berdampak langsung terhadap kekuatan struktur tetapi akan mengakibatkan timbulnya redistribusi tegangan pada beban kerja dan kemudian mengakibatkan terjadinya peningkatan lendutan (defleksi).

      2.3.5  Modulus Elastis Beton

      Selama bertahun-tahun modulus elastisitas didekati dengan harga 1000 f’c oleh peraturan ACI, akan tetapi dengan semakin berkembangnya penggunaan beton normal/ringan yang maju pesat maka dipandang perlu untuk menyertakan kerapatan (denciti) SK SNI T-15-1991-03 pasal 3.1.5 dengan menggunakan rumus modulus elastisitas beton sebagi berikut:
      Ec = 0,043 Wc
      Dimana:
      Ec          : modulus elastisitas beton (Mpa)
      Wc          : berisi beton tekan (Mpa)
      F’c         : kuat tekan beton (Mpa)
      Untuk beton normal dengan berat isi ±23 kN/m2Ec boleh diambil sebesar 4700* . Karena mengingat nilai banding elastisitas (n) disamping sifat-sifat penampang merupakan nilai-nilai yang berpengaruh terhadap posisi atau letak garis netral maka dalam menghitung tegangan-tegangan kerja, perlu diketahui nilai rasio modulus elastisitas lebih penting, sesuai  SK SNI T-15-1991. Pasal 3.15.5, yaitu dengan rumus sbb:
      n= …………………………...................................................[2-8]
      dimana:
      N= rasio
      Es= modulus elastisitas baja
      Ec= modulus elastisitas beton
      Dapat dikatakan sebagai angka pembulatan terdekat tetapi tidak boleh kurang dari 6 kecuali untuk perhitungan lendutan nilai “n” untuk beton ringan diambil sama dengan beton normal bagi kelas kuat beton yang sama.

      2.4     Struktur Baja

      2.4.1  Konsep Dasar Struktur Baja

      Dalam perencanaan pada umumnya diharapkan bahwa struktur dan batang-batang struktur harus memiliki kekuatan yang cukup, seperti kekakuan dan ketahanan yang cukup sehingga dapat berfungsi selama umur layanan dari struktru tersebut. Desain harus menyediakan cadangan kekuatan di atas yang diperlukan untuk menanggung beban layanan, yakni struktur harus memiliki sediaan terhadap kemungkinan kelebihan beban. Hal ini dapat terjadi akibat perubahan fungsi struktur.
      Disamping itu, harus ada sediaan terhadap kemungkinan kekuatan material yang lebih rendah. Penyimpanan dalam dimensi penampang, meskipun dalam batas toleransi yang masih dapat diterima, dapat mengakibatkan suatu penampang memiliki kekuatan yang lebih rendah ketimbang dari yang telah diperhitungkan.
      Material (baja untuk elemen batang, baut dan las) mungkin saja memiliki kekuatan yang lebih kecil daripada yang digunakan dalam perhitungan desain. Suatu profil baja mungkin saja memiliki tegangan leleh di bawah harga minimum yang dispesifikasikan, namun masih berada dalam batas-batas yang secara stastik masih dapat diterima. Secara singkat, desain struktural harus memberikan keamanan yang cukup baik terhadap kemungkinan kelebihan beban (over load) atau kurang kekuatan (understrenght).

      2.4.2  JENIS JENIS STRUKTUR BAJA


      • Standart amerika
      jenis profil baja yang terdapat pada American institute of steel construksion (aisc ) adalah sebagai berikut:

      a. W shape (wide flange )
      Bentuk W ne sangat efisien dalam memikul lentur karena flensnya lebar dan tebal. Badannya adalah tipis, sehingga perbandingan momen inersia dan betat profilnya besar.

      b. M shape (miseellancous shape)
      Bentuk penampang adalah 1 tetapi flensnya tidak lebar, contohnya: M 8 x 28 artinya tinggi profilnya  18 inch dengan berat 97 lb/ft.

      c. S Shape (American Standard Bean)
      Pada profil ini, flens agak sebelah dalam agak miring kearah badan dan web lebih tebal.

      d. Bentuk HP (Bearing Pile Shape)
      Umum digunakan untuk tiang pancang.
                h≈br
      t≈tr



      e. Chanel C (American Standard Chanel)
      Profil ini sering dipakai baik secara tersendiri ataupun digabungkan dengan penampang lain.


      f. Angle (siku L)
      Contoh: L 9 x 4 x
      Artinya:
      Tinggi salah satu kaki       = 9 inch
      Tinggi kaki lainnya           = 4 inch
      Tebal keduanya                = 0,5 inch
      g. Bentuk T
      Profil ini dibuat dengan membelah dua profil sayap lebar atau balok 1 dan biasanya digunakan sebagai batang pada rangka batang. Profil T, misalnya diindentifikasikan  sebagai WT5 x 44, yang artinya: profil ini dibuat dengan memotong profil W 10 x 88, dengan 5 adalah tinggi nominal dan 44 adalah berat per kaki.
      h. Steel Pipa (pipa baja)

      • Standar Jerman
      a. Profil INP
      Profil ini dapat dilihat pada table baja. Flens sebelah dalam agak miring kearah badan, sehingga profil ini identik dengan profil bentuk S (Standar Amerika)
      b. Profil DiN atau Diefferdange normal, merupakan balok flens sejajar Differdinger.
      c. Profil DiE atau diefferdange Economique
      d. Profil DiR atau diefferdange Renforce
      e. Profil DiL atau diefferdange Leger
      Keempat profil di atas dilihat pada daftar-daftar baja karangan Bustran dan Z. Lambri, sebagai perbedaan dari profil DiN, DiR, DiE dan DiL tersebut adalah sebagai berikut:
      Keterangan
      DiN 100
      DiR 100
      DiE 100
      DiL 100
      H
      100 mm
      112 mm
      94 mm
      100 mm
      br
      100 mm
      104 mm
      99 mm
      100 mm
      tw
      6,5 mm
      10 mm
      5 mm
      5 mm
      tr
      11 mm
      17 mm
      8 mm
      11 mm
      Table 1.1 Perbedaan dimensi Profil DiN, DiR,DiE dan DiL.
      f. Profil UNP
      Misalkan untuk profil L 40
      Artinya:
      Tinggi profil     = 400 mm
      Lebar flens       = 110 mm
      Lebar badan    = 14 mm
      Tebal flens        = 18 mm
      g. Profil siku sama kaki
      Misalkan untuk profil L 50 x 50 x 5
      Artinya tinggi kedua kaki masing-masing 50 mm, dengan tebal kedua kakinya adalah 5 mm.

      h. Profil siku tak sama kaki
      Misalkan untuk profil L 30 x 20 x 3
      Artinya:
      Tinggi kaki yang satu   = 30 mm
      Tinggi kaki yang lain   = 20 mm
      Tebal kedua kakinya    = 5 mm

      i. Profil T
      Contoh profil T 20
      Tinggi profil     = 20 mm
      Lebar flens       = 20 mm
      Tebal badan     = 3 mm
      Tebal flens        = 3 mm

      2.4.3  Sifat-sifat bahan baja

      Bahan baja memiliki dua sifat penting yaitu: sifat elastis dan plastis, adapun kedua sifat ini dapat diartikan sebegai berikut:

      • Sifat elastic adalah sifat bahan yang akan berubah bentuk jika mendapat pengaruh beban dan akan kembali ke bentuk semula jika bahan tersebut ditiadakan.
      • Sifat plastis adalah sifat bahan yang akibat beban yang bekerja bahan akan berubah bentuk dan tidak akan kembali ke bentuk semula (permanen) meskipun beban tersebut sudah ditiadakan.
      Sifat baja yang lain adalah mekanis, yang dinyatakan melalui konstanta-konstanta berikut:

      1. Modulus elastisitas: E                       = 2,1 x 106 kg/ cm2
      2. Modulus gelincir: G                          = 0,81 x 106 kg/cm2
      3. Angka perbandingan poisson: µ       = 0,30
      4. Koefisien pemuaian linear:  α           = 12 x 10-6 per 0C

      2.4.4  Standar untuk perencanaan struktur baja

      Adapun standar yang biasa digunakan dalam perencanaan struktur baja adalah sebagai berikut:

      1. PPBBI                      : Peraturan Bangunan Baja Indonesia
      2. TGB 1972 Staal        :Technische Grandslagen Voor de Berekening VanBouw Contructies
      3. AISC                                    : American Institute of Steel Construction
      4. AISI                          : American Iron and Steel Contruction
      5. AASHHTO              : American Assciation of State higway and Transportation Officials
      6. ASTM                       : American Society for Testing and Materials
      7. JIS                             : Japan Industrial Standars
      8. DIN                          : Deutch Industries Narmen
      9. AIJ                            : architectural Institute of Japan
      10. BS449                       : British Standard 449

      2.4.5  Tegangan-tegangan Baja menurut PBBI’ 83

      Untuk dasar perhitungan tegangan-tegangan dizinkan pada suatu kondisi pembebanan tertentu, dipakai pembebanan dasar yang besarnnya dihitung dengan persamaan sebagai berikutf:
      σ= , dimana 1,5 merupakan factor keamanan pada berbagai mutu baja.

      2.5     Perencanaan Plat Lantai Jembatan (Erection)

      Plat atau slab adalah elemen bidang tipis yang menahan beban-beban transversal melalui aksi lentur ke masing-masing tumpuan. Saat ini, plat beton bertulang merupakan suatu sistem lantai yang dipakai sebagian besar bangunan. Bentuknya bervariasi, tidak hanya berupa panel segiempat. Ada dua macam plat yaitu plat satu arah dan plat dua arah.

      2.5.1  Plat Lantai Satu Arah

      Plat satu arah adalah plat yang mempunyai perbandingan ly/lx≥ 2. Di dalam desain ataupun analisis, satu satuan lajur plat yang membentang diantara kedua tumpuan dapat dianggap sebagai suatu balok dengan lebar satu satuan dan tinggi “h” sesuai dengan tebal plat. Analisisnya seperti analisis pada balok. Pembebanan disesuaikan menjadi beban per satuan panjang dari jalur plat dan dengan demikian gaya momen yang timbul merupakan gaya perlebar satuan plat.
      Pada SNI 03-2847-2002 pasal 10.3 ayat 3, mengizinkan untuk menggunakan distribusi gaya  dengan syarat sebagai berikut:

      1. Jumlah minimum bentang yang ada haruslah dua
      2. Memiliki panjang-panjang bentang yang tidak terlalu berbeda dengan rasio panjang bentang terbesar terhadap panjang terpendek dari dua bentang yang bersebelahan tidak lebih dari 1,2.
      3. Beban yang bekerja merupakan beban yang terbagi rata
      4. Beban hidup persatuan panjang tidak melebihi tiga kali beban mati persatuan panjang
      5. Komponen struktur adalah prismatis.

      2.5.2  Plat Lantai Dua Arah

      Plat dua arah adalah sistim lantai yang memiliki perbandingan ly/lx ≤ 2. Ada empat metode dasar untuk menganalisis pelat dua arah ini, yang termuat di dalam peraturan-peraturan standar yaitu metode koefisien momen, metode desain langsung (direct design method), metode portal ekuivalen (equivalent frame method) dan metode garis leleh (yield line method). Yang digunakan metode koefisien momen.

      2.6     Perencanaan Abutmen

      Abutmen merupakan salah satu unsure dari suatu jembatan secara keseluruhan. Dalam perhitungan abutmen menggunakan metode keseimbangan.

      2.7    Perencanaan Elastomer

      Fungsi perletakan adalah untuk memikul beban vertical sebagai penyerap getaran. Pada bagian batas kelayakan perletakan harus direncanakan untuk menjamin bahwa tidak mengalami kerusakan yang akan mempengaruhi fungsi yang diharapkan atau menyebabkan biaya pemeliharaan terlalu besar selama umur rencana.

      2.7.1  Ukuran dan Penggunaan

      Bantalan elastomer di produksi dalam dua jenis yang mampu untuk memenuhi berbagai pembebanan.

      Jenis

      Ukuran
      Cm
      Pembebanan Maksimum
      Gerakan
      Data Maksimum
      Vertikal
      Horisontal
      A
      B
      20 x 20 x 1.5 ± 0.1
      20 x 30 x 1.5 ± 0.1
      40 T
      72 T
      5.6 T
      8.4 T
      12 m
      12 m

      Demikianlah informasi dari saya mengenai JEMBATAN DAN BAGIAN-BAGIANNYA semoga dapat bermanfaat.Terimakasih.
      Baca Juga Artikel mengenai PARAMETER YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MERENCANAKAN JEMBATAN