APA ITU DAKTAIL PADA STRUKTUR? ANAK TEKNIK SIPIL WAJIB TAHU!

IlmuDasarDanTeknik*_Sebagai mahasiswa teknik sipil ada banyak hal yang berkaitan dengan teknik sipil yang sepertinya asing di telinga tetapi malah sangat penting untuk kita ketahui. Misalnya di mata kuliah Rekayasa Gempa yang saya kontrak pada struktur bangunan ada yang dikenal dengan istilah daktail. Awalnya saya bertanya itu apa sih? Terus apa pentingnya bagi bangunan? Dan ternyata ini sangatlah perlu dan penting untuk kita ketahui dan harus menjadi perhatian pertama dan utama pada saat perencanaan suatu gedung apa pun sebagai misi penyelamatan. Wow,... Kok Bisa maka berikut penjelasannya!
Bangunan yang Setelah Gempa (sumber: irmavina28blog.wordpress.com)

Kata daktail itu artinya kemampuan suatu struktur dalam berdeformasi inelastic tanpa kehilangan kekuatan yang berarti. Bahasa sehari-hari, sudah digoyang-goyang tapi kembali ke bentuk awalnya. Tanpa kehilangan kemampuan struktur itu untuk menahan beban dan lainnya.
Struktur daktail adalah struktur yang mampu mengalami simpangan pasca elastis yang besar secara berulang kali dan bolak-balik akibat gempa yang menyebabkan terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan yang cukup, sehingga struktur tetap berdiri, walaupun sudah berada di ambang keruntuhan.
Faktor daktilitas gedung adalah rasio antara simpangan maksimum pada ambang keruntuhan dengan sempangan pertama yang terjadi pada pelelehan pertama. Untuk lebih jelasnya bisa diliat dirumus dibawah ini ini
Daktail itu sendiri dibagi menjadi 2, yakni:
1. Daktail penuh, suatu tingkat daktilitas struktur gedung, yang tuh strukturnya bisa menghadapi simpangan pasca-elastiknya sampe di titik ambang keruntuha n, dan nilai faktor daktilitasnya sampe sebesar 5.3
2. Daktail parsial, daktail yang tak sampe sebesar si daktail penuh, dia hanya memiliki faktor daktilitasnya sebesar 1,0 sampe 5,29,
Dengan demikian,dalam perancagan kapasitas struktur gedung itu harus memenuhi syarat “ strong collomn but week beam.” Yang artinye kolom harus kuat, balok bias saja sekuat kolom, hal ini membuat saat terjadi gempa besar, gedung tersebut akan mengalami kerusakan struktur, namun kolom masih kuat untuk membuat struktur itu berdiri, meskipun balok sudah leleh.


Dengan demikian setidaknya anda mendapat sedikit pencerahan mengenai daktalitas stuktur bangunan. demikianlah yang bisa saya bangikan mengenai APA ITU DAKTAIL PADA STRUKTUR? ANAK TEKNIK SIPIL WAJIB TAHU! Semoga bermanfaat.

Video Tutorial Mendesain denah Rumah di Autocad dengan Mudah di AutoCAD

IlmuDasarDanTeknik.*_Berikut Saya berikan video tutorial cara mendesain denah rumah dengan mudah menggunakan AutoCAD.


Untuk Mempermudah dalam belajar setiap hari saya sarankan untuk download videonya. Klik Link di bawah:

DOWNLOAD

Utilitas Bangunan : Sistem Telekomunikasi Bangunan Gedung

IlmuDasarDanTeknik.*_Dalam merancang suatu bangunan utamanya gedung yang berfungsi sebagai bangunan sarana umum hal yang perlu di perhatikan adalah utilitasnya. Berikut salah satu utilitas bangunan sipil yang juga menjadi perencanaan adalah sistem telekomunikasi Gedung, berikut ulasannya:
Ada dua macam Sistem telekomunikasi dalam gedung yang perlu kita perhatikan, yakni:

1.Sistem hubungan telepon

Sistem network atau hubungan telepon dalam suatu gedung / bangunan, yaitu :
- Hubungan eksternal
Berhubungan dengan nomor diluar yang tidak dalam ruang lingkup lingkunan sistem PABX sebagai sentral telepon dalam gedung baik panggilan masuk (incoming) atau panggilan keluar, seperti hubungan lokal, SLJJ, dan SLI.

A.Hubungan internal


Berhubungan masih dalam lingkungan sistem PABX sebagai sentral telepon antar sambungan cabang/ nomor extension yang satu dengan sambungan cabang/ nomor extension yang lain.
Perangkat atau peralatan-peralatan yang digunakan dalam jaringan telepon dalam gedung , yaitu :

1. Junction Box

     Kotak pembagi jaringan telepon yang berfungsi sebagai terminal telepon dari Telkom ke jaringan dalam gedung milik pribadi.

2. Panel incoming-outgoing

     Titik input Kotak Terminal Batas (KTB) dari jaringan Telkom menuju panel MDF.

3. MDF

Main Distribution Frame (MDF) yaitu panel atau kotak pembagi terminal utama/ induk jaringan telepon dalam gedung baik dari SST telkom menuju PABX atau pendistribusian jaringan extension ke ruangan-ruangan.

4. PABX

Private Automatic Branch Exchange (PABX) yaitu perangkat untuk memperbanyak atau menambah nomor SST Telkom menjadi nomor extension, sebagai sentral telepon dalam gedung yang mengatur lalu lintas komunikasi suara.

5. UPS

Unit Power Supply (UPS) yaitu catu daya listrik cadangan apabila daya listrik PLN mengalami pemadaman dan agar tegangan PABX tetap stabil 48 VDC.

6. Batere

Sumber listrik cadangan yang menggantikan sumber listrik PLN 48 VDC.

7. Arrester

Alat untuk melindungi peralatan telepon dari kerusakan akibat kejutan tegangan berlebih, terkena petir, short circuit.

8. Operator Console

Alat operator telepon yang merupakan pintu gerbang dalam melakukan komunikasi suara dapat mengatur lalu-lintas komunikasi suara, menghubungkan ke nomor yang akan dituju baik telepon masuk (Incoming) maupun telepon keluar (Outgoing) dan dalam lingkungan telepon intern.
Tipe operator console :
  •  Telephone Based
Menggunakan pesawat telepon digital sebagai operator console, dengan konsep yang praktis, common dan user friendly sehingga dapat memberikan pelayanan dengan cepat dan lebih cocok digunakan oleh perusahaan skala kecil dan menengah.
  • Computer Based
Operator console tipe ini menggunakan perangkat komputer yang dilengkapi multimedia system dan peralatan khusus. Konsep ini memiliki features yang lebih canggih dan diperuntukkan bagi perusahaan skala menengah dan besar.

9. Jaringan/ instalasi

Merupakan rangkaian penghubung peralatan-peralatan telepon yang membawa sinyal komunikasi seperti terminal-terminal, PABX, operator console, pesawat telepon, dll. Berupa pair-kabel atau sepasang kabel (1 pair berisi 2 kawat tembaga penghubung).

10. Roset

Adalah alat untuk menghubungkan jaringan/ instalasi telepon dengan kabel pesawat telepon. Berupa terminal penghubung Out Bow (OB) yang tidak ditanam di dinding dan terminal penghubung In Bow (IB) yang ditanam didinding.

11.Pesawattelepon

      Adalah alat yang digunakan untuk merubah suara menjadi sinyal komunikasi.

12. Billing System

     Billing system digunakan untuk memonitor biaya pemakaian telepon sehingga dapat mengontrol, menganalisa dan merencanakan biaya operasional khususnya pemakaian telepon. Dengan cara ini dapat melakukan efisiensi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan, misalnya seperti di hotel. Berikut ini adalah keperluan atau pencatatan yang dapat diperoleh dengan adanya billing system, yaitu :
  • Tanggal dan waktu panggilan terjadi
  • Nomor yang dipanggil
  • Nomor saluran cabang yang memanggil
  • Lama pembicaraan
  • Authorization code
  • Code account yang dibebankan
  • Dapat merekam semua pembicaraan lokal, nasional atau internasional

2. Sistem tata suara (sound system)

      Tata Suara adalah suatu teknik pengaturan peralatan suara atau bunyi pada suatu acara pertunjukan, pertemuan, rapat dan lain lain. Tata Suara memainkan peranan penting dalam suatu pertunjukan langsung dan menjadi satu bagian tak terpisahkan dari Tata Panggung dan bahkan acara pertunjukan itu sendiri. Tata Suara erat kaitannya dengan pengaturan penguatan suara agar bisa terdengar kencang tanpa mengabaikan kualitas dari suara-suara yang dikuatkan. Pengaturan tersebut meliputi pengaturan mikropon-mikropon,kabel-kabel,prosesor dan efek suara, pengaturan konsul mixer, kabel-kabel, dan juga Audio Power amplifier dan Speaker-speakernya.
      Pekerjaan sistem tata suara atau sound system diantaranya meliputi pemasangan peralatan sentral sound system  yang terdiri dari unit sinyal suara (program source) dan penguat sinyal suara (audio amplifier), yang ditempatkan pada rak peralatan sentral sistem tata suara.

  1.         Peralatan Utama Sistem Tata Suara

     Peralatan utama sistem tata suara  diantaranya memenuhi  back ground musik dan pengumuman darurat / paging. Diantara pealatan utama dari sistem tata suara, adalah:
•         Micropone paging
•         Mixer
•         Power Amplifier
•         Ceiling speaker
•         Chyme microphone
•         Radio Tunner AM / FM
•         Caset dect
•         CD Player
•         Volume Control
•         Monitor unit

2.         Terminal Box & Sistem Perkabelan

Terminal box merupakan kotak penghubung antara peralatan utama dengan speaker. Kabel instalasi dari ceiling dan horn speaker di hubungkan melalui kabel instalasi melalui terminal box, dan dari terminal box  ke peralatan utama

Demikian Artikel yang saya bagikan mengenai Utilitas bangunan dalam hal sistem tekomunikasi gedung. Semoga bermanfaat.

Tutorial Menggunakan SAP dalam Mendesain Bangunan Baja

IlmuDasarDanTeknik.*_Kali ini Saya akan membagikan sesuatu yang berkaitan dengan Teknik Sipil, utamanya dalam mendesai struktur bangunan Sipil. Tapi kali ini bukan dalam bentuk Artikel melainkan dalam bentuk video dari Youtube, Silahkan Tonton atau Download. Berikut Videonya :




Silahkan Download dengan Klik Link Download berikut :

Alat Bantu serta Teori Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi

IlmuDasarDanTeknik.* Sahabat Ilmu Dasar dan Teknik, kali ini saya akan membagikan info atau sedikit peneranagan mengenai Alat Bantu serta teori K3 pengelasan dalam Pekerjaan Konstruksi. Langsung saja Ulasannya sebagai berikut:

Alat Bantu dan Alat Keselamatan Kerja

Adapun alat bantu pada proses pengelasan sebagai berikut:

1. Sikat kawat (wire brush)

Sikat kawat berfungsi untuk membersihkan benda kerja yang akan dilas dan sisa-sisa terak yang masih ada setelah dibersihkan dengan palu terak.
Bahan serabut sikat terbuat dari kawat-kawat baja yang tahan terhadap panas dan elastis, dengan tangkai dari kayu yang dapat mengisolasi panas dari bagian yang disikat.

2. Palu las (chipping hammer).

Palu las digunakan untuk membersihkan terak yang terjadi akibat proses pemotongan dan pengelasan dengan cara memukul atau menggores teraknya. Pada waktu membersihkan terak, gunakan kacamata terang untuk melindungi mata dari percikan bunga api dan terak. Ujung palu yang runcing digunakan untuk memukul pada bagian sudut rigi-rigi. Palu las sebaiknya tidak digunakan untuk memukul benda-benda keras, karena akan mengakibatkan kerusakan pada bentuk ujungujung palu sehingga palu tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

3. Tang penjepit

Adapun alat keselamatan kerja unutuk pengelasan sebagai berikut:

a.    Topeng las (welding mask)

Untuk melindungi mata, kepala/rambut operator dari percikan-percikan pada saat melakukan pemotongan dengan oksi-asetilin atau api las dan benda –benda panas lainnya. Juga untuk melindungi muka operator las terhadap percikan hasil pemotongan, dan ledakan percampuran gas yang tidak sempurna.

 b.    Sarung tangan kulit

Pekerjaan mengelas dan pemotongan selalu berhubungan dengan panas, kontak dengan panas sering terjadi yaitu pada saat pengelasan dan pemotongan benda kerja yang memperoleh panas secara konduksi dari proses pengelasan dan pemotongan. Untuk melindungi tangan dari percikan-percikan api las dan percikan pada saat pemotongan benda-benda panas maka operator las harus menggunakan sarung tangan.

c.    Jaket kulit/Apron kulit.

Untuk melindungi kulit dan organ-organ tubuh pada bagian badan operator dari percikan-percikan api las pada saat proses pengelasan dan pemotongan benda kerja serta pancaran sinar las yang mempunyai intensitas tinggi maka pada baian badan perlu dilindungi dengan menggunakan jaket kulit atau apron kulit.

d.    Kaca mata pengaman (safety glasses)

Untuk Melindungi mata pada saat membersihkan kampuh las serta terak hasil dari pemotongan yang menggunakan palu terak maupun mesin gerinda.

Teori K3 Pengelasan

        Penggunaan las dalam pengerjaan konstruksi semakin luas sehingga kecelakaan yang diakibatkan oleh proses pengerjaan tersebut juga sering banyak terjadi. Pekerjaan pengelasan merupakan salah satu proses pemesinan yang penuh resiko karena selalu berhubungan dengan api dan bahan – bahan yang mudah terbakar dan meledak terutama sekali pada las gas yaitu gas oksigen dan Asetilin . Kecelakaan yang terjadi sebenarnya dapat dikurangi atau dihindari apabila kita sebagai operator dalam mengoperasikan alat pengelasan dan  alat keselamatan kerja dipergunakan dengan baik dan benar, memiliki penguasaan cara – cara pencegahan bahaya akibat proses las  .

1.    Gas dalam asap

Menurut (Harsono, 1996)sewaktu proses pengelasan berlangsung terdapat gas – gas yang berbahaya yang perlu diperhatikan , yaitu :
a.    Gas karbon monoksida ( CO )
Gas ini mempunyai afinitas yang tinggi terhadap haemoglobin ( Hb ) yang akan menurunkan daya penyerapannya terhadap oksigen .
b.    Karbon dioksida (CO2)
Gas ini sendiri sebenarnya tidak berbahaya terhadap tubuh tetapi bila konsentrasi CO2 terlalu tinggi dapat membahayakan operator terutama bila ruangan tempat pengelasan tertutup seperti di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY.
c.    Gas Nitrogen monoksida (NO)
Gas NO yang masuk ke dalam pernafasan tidak merangsang, tetapi akan bereaksi dengan haemoglobin (Hb)seperti halnya gas CO. Tetapi ikatan antara NO dan Hb jauh lebih kuat daripada CO dan Hb maka gas NO tidak mudah lepas dari haemoglobin, bahkan mengikat oksigen yang dibawa oleh haemoglobin. Hal ini menyebabkan kekurangan oksigen yang dapat membahayakan sistem syaraf.
d.    Gas nitrogen dioksida ( NO2)
Gas ini akan memberikan rangsangan yang kuat terhadap mata dan lapisan pernafasan, bereaksi dengan haemoglobine ( Hb ) yang dapat menyebabkan sakit mata dan batuk–batuk pada operator . Keracunan gas ini apabila dipakai untuk jangka waktu yang lama akan berakibat operator menderita penyakit TBC atau paru–paru .
e.    Gas-gas beracun yang terbentuk karena penguraian dari bahan pembersih dan pelindung terhadap karat .

2.    Pencegahan Bahaya

Pada proses pengelasan operator harus benar – benar mengetahui dan memahami bahaya – bahaya yang muncul selama proses pengelasan ini berlangsung.  Menurut Harsono, 1996,beberapa macam bahaya pengelasan yang mungkin saja timbul sewaktu proses berlangsung , meliputi : 

A.    Bahaya Ledakan.

    Bahaya ledakan yang sering terjadi pada proses pengelasan produk yang berbentuk tangki atau bejana bekas tempat penyimpanan bahan – bahan  yang mudah menyala atau terbakar. Pada proses pengelasan / pemotongan ini diperlukan beberapa hal persiapan pendahuluan untuk menghindari bahaya ledakan , seperti :
a.    Pembersihan bejana atau tangki
Sebelum proses pengelasan berlangsung maka   bejana atau tangki perlu dibersihakan dengan :
•    Air untuk bahan yang mudah larut.
•    Uap untuk bahan yang ,mudah menguap.
•    Soda kostik untuk membersihkan minyak , gemuk atau pelumas.
b.    Pengisian bejana atau tangki
Setelah proses pembersihan selesai isilah  tangki atau bejana dengan air sedikit di bawah bagian yang akan dilas/dipotong.
c.    Kondisi tangki sewaktu proses pengelasan
Selama proses pengelasan berlangsung kondisi tangki atau bejana harus dalam keadaan terbuka agar gas yang menguap karena pada proses pemanasan gas dapat keluar.
d.    Penggunaan gas lain
Apabila dalam proses pengisian tangki atau bejana dengan air mengalami kesulitan maka sebagai gantinya dapat digunakan gas CO2 atau gas N2 dengan konsentrasi minimum 50 % dalam udara .

B.    Bahaya Jatuh

Untuk pengerjaan konstruksi bejana, tangki pertamina atau konstruksi bangunan lainnya yang membutuhkan tempat yang tinggi, bahaya yang mungkin dapat terjadi adalah bahaya jatuh atau kejatuhan yang berakibat fatal . Beberapa langkah yang perlu diambil oleh operator untuk  menghindari bahaya ini :
a.    Menggunakan tali pengaman.
b.    Menggunakan topi pengaman untuk mencegah  terjadinya kejatuhan benda – benda atau kena panas matahari.

C.    Bahaya Kebakaran

       Proses pengelasan selalu berhubungan dengan api sehingga bahaya kebakaran sangat mungkin terjadi mengingat proses ini sangat berhubungan erat dengan api dan gas yang mudah terbakar, untuk itu operator perlu sekali mengambil langkah – langkah pengamanan seperti :
a.    Ruangan atau areal pengelasan harus bebas dari  kain, kertas, kayu, bensin, solar, minyak atau bahan – bahan lain yang mudah terbakar atau meledakharus ditempatkan di tempat khusu yang tidak akan terkena percikan las.
b.    Jauhkan tabung – tabung dan generator dari percikan api las, api gerinda atau panas matahari.
c.    Perbaikan pada sambungan – sambungan pipa atau selang – selang terutama saluran Asetilen.
d.    Penyediaan alat pemadam kebakaran di tempat yang mudah dijangkau seperti bak air, pasir, hidrant .

D.    Bahaya Percikan Api / Panas

      Bahaya dari percikan api atau panas akan berakibat bahaya kebakaran seperti yang diuraikan diatas , tetapi bahaya lainnya adalah pada operator las sendiri yang terkena luka bakar atau sakit mata . Untuk itu operator selalu dianjurkan menggunakan alat –alat pelindung seperti: sarung tangan, apron, sepatu tahan api, kaca mata las, topeng las.

E.    Bahaya Gas dalam Asap Las

    Pencegahan atau tindakan yang harus diambil oleh operator untuk menghindari bahaya gas dalam asap las adalah :
a.    Pekerjaan las harus dikerjakan dalam   ruang terbuka atau ruang yang berventilasi agar gas dan debu yang terbentuk segera terbuang.
b.    Apabila ventilasi masih belum cukup memadai maka sebaiknya memakai masker hidung.
c.    Untuk pengerjaan pengelasan dalam tangki perlu tindakan di bawah ini :
1.    Menggunakan penghisap gas / debu.
2.    Dibutuhkan seorang rekan operator di luar tangki atau bejana yang selalu siaga apabila terjadi bahaya.
3.    Voltage lampu penerangan maksimum 12 volt.

F.    Bahaya Sinar

Selama proses pengelasan akan menimbulkan cahaya,  sinar ultra violet dan sinar infra merah yang berbahaya sehingga diperlukan:
a.    Pelindung mata atau goegle
Pelindung mata tersebut harus mampu menurunkan kekuatan cahaya tampak dan harus dapat menyerap atau melindungi mata dari pancaran sinar ultraviolet dan inframerah.Untuk keperluan ini maka pelindung mata harus mempunyai warna transmisi tertentu, misalnya abu-abu, coklat atau hijau (Harsono, 1996). Pelindung mata atau goegle yang mempunyai nomor warna dan penggunaan seperti di tunjukkan pada tabel di bawah ini :
        Tabel 1. Nomor warna penggunaan goegle

No.warna
Las busur listrik
Las gas
2,5
-
Untuk cahaya rendah
3
-
Untuk cahaya rendah
4
-
Untuk cahaya rendah
5
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
6
Untuk busur di bawah 30 A
Untuk cahaya sedang
7
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat
8
Untuk busur di antara 30 s.d. 70 A
Untuk cahaya kuat


b.    Pelindung muka
Pelindung muka dipakai untuk melindungi seluruh muka terhadap kebakaran kulit sebagai akibat cahaya busur, percikan yang tidak dapat dilindungi dengan hanya memakai pelindung mata saja.Bentuk dari pelindung muka bermacam-macam dapat berupa helmet dan dapat berupa pelindung yang harus dipegang (Harsono, 1996).

G.    Kondisi Lab Kerja

Berikut ini akan penulis ceritakan mengenai kekurangan atau masih di bawah standarnya ruang praktikum modul pengelasan ( modul las listrik dan modul las Asetilen), hal ini bisa dilihat dari   :
a.    Sempitnya ruang praktikum
Luas ruang praktikum modul pengelasan di Lab. Proses Produksi FTI – UAJY saat ini hanya cuma 3 x 7 x tinggi 2,5 meter yang dipakai untuk dua kegiatan praktikum pengelasan . untuk luas ruangan tersebut pada kondisi puncak dimana semua kapasitas peserta praktikum terpenuhi maka akan dipenuhi oleh 10 orang praktikan dan asisten .
b.    Terlalu rendahnya atap
Tinggi atap yang cuma 2,5 meter berakibat sirkulasi udara tidak lancar dan temperatur udara cepat panas sehingga operator ( praktikan dan asisten ) menjadi cepat lelah.
c.    Ventilasi udara kurang
Tidak adanya ventilasi udara atau sirkulasi udara tidak lancar apalagi pada musim penghujan dimana suhu udara lembab berakibat operator menjadi cepat lelah, sesak napas.
d.    Semakin banyaknya peserta praktikum tiap tahunnya.
Dengan di bawah standarnya kondisi ruang praktikum modul pengelasan untuk praktek proses produksi tersebut akan berakibat :
•    Munculnya bahaya asap.
•    Seringnya praktikan dan asisten praktikum mengalami sesak napas yang berakibat terserang penyakit paru – paru .
Pemecahan masalah
Untuk dapat memecahkan masalah tersebut maka perlu adanya perhatian yang khusus dari pihak institusi. Disini penulis mencoba memberikan masukan yang mungkin dapat membantu supaya kegiatan praktikum pengelasan di Lab. Proses Produksi bisa berlangsung lancar dan aman sehingga bahaya – bahaya yang diakibatkan oleh praktikum pengelasan dapat dihindari , misalnya :
a.    Penambahan ruang praktikum.
b.    Penambahan blower.
c.    Mempertinggi atap ruang praktikum.
d.    Penyediaan makananatau minuman suplemen misalnya susu untuk menetralisir terjadinya sesak  napas setelah kegiatan praktikum pengelasan selesai.

Konsep Lingkungan Hidup

IlmuDasarDanTeknik*_Kali ini saya akan menulis sebuah artikel mengenai konsep lingkungan hidup. Konsep lingkungan hidup mungkin secara teknis jauh dari apa yang kita kenal dari dunia teknik. akan tetapi sebagai Engineer yang baik kita harus memperhatikan lingkungan hidup agar terjaga dengan baik. Di dalam dunia teknik sipil sendiri konsep lingkungan hidup sangat penting untuk didalami dengan maksud agar didalam melakukan pembangunan Bangunan teknik sipil seharusnya memperhatikan lingkungan sekitar. jangan sampai membawa dampak yang tidak baik. Berikut Ulasan Mengenai Lingkungan Hidup:

A    Pengertian Lingkungan Hidup

Konsep dasar lingkungan hidup berarti pengertian dasar tentang lingkungan hidup. Lingkungan secara umum memiliki arti segala sesuatu di luar individu merupakan system yang kompleks sehingga dapat mempengaruhi satu sama lain. Kondisi yang saling mempengaruhi ini membuat lingkugan selalu dinamis dan dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan seberapa besar komponen lingkungan itu dapat mempengaruhi dengan kuat. Ada saatnya menjadi baik dan tidak menutup kemungkinan untuk berubah menjadi buruk. Perubahan itu dapat disebabkan oleh makhluk hidup dalam satu lingkungan tersebut.
Dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 definisi lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sedangkan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup didefinisikan sebagai upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.

B    Unsur-unsur lingkungan hidup

Unsur-unsur lingkungan hidup dapat dibedakan menjadi tiga, uaitu :
1.    Unsur hayati (Biotik), yaitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuh-tunbuhan, dan jasad renik.
2.    Unsur sosial budaya, yaitu lingkungan sosial dan budaya yang dibuat manusia yang merupakan sistem nilai, gagasan, dan keyakinan dalam perilaku sebagai makhluk sosial. Kehidupan masyarakat dapat mencapai keteraturan berkat adanya sistem nilai dan norma yang diakui dan ditaati oleh segenap anggota masyarakat.
3.    Unsur fisik (Abiotik), ysitu unsur lingkungan hidup yang terdiri dari benda-benda tidak hidup seperti tanah, air, udara, dan iklim. Keberadaan lingkungan fisik sangat besar peranannya bagi kelangsungan hidup segenap kehidupan di bumi.

C    Norma-norma lingkungan hidup

Norma adalah aturan, ukuran, atau kaidah yang dipakai sebagai tolak ukur untuk menilai dan membandingkan sesuatu.

1.    Norma Sosial

Norma sosial adalah norma yang dipakai untuk menilai suatu perilaku manusia, terutama terhadap lingkungan hidup, berdasarkan kekuatan yang mengikat.

2.    Norma Hukum

Indonesia memiliki peraturan hukum berupa Undang-undang khusus mengenai lingkungan hidup, diantaranya.
a.    UUD RI No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 5 dan pasal 8.
b.    UUD No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, pasal 3.
c.    Amandemen ke 2 Undang-undang Dasar 1945, pasal 28 H ayat 1.
d.    Di Badan Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) kita telah meratifikasi Protokol Kyoto mengenai lingkungan hidup.

D    Permasalahan lingkungan hidup

Masalah lingkungan hidup disebabkan oleh dua faktor yaitu :
1.    Faktor alam
a.    Banjir dan longsor.
b.    Gempa bumi karena gerakan tektonik dan letusan.
c.    Letusan gunung api.
d.    Tsunami, dan sebagainya.
2.    Faktor kesalahan manusia
a.    Penggundulan dan penebangan hutan secara terus menerus untuk membuka lahan pertanian, peternakan atau tempataktivitas manusia lainnya.
b.    Polusi udara, air, tanah, suara, radiasi, dan pencemaran lingkungan lainnya.

E   Lingkungan hidup yang ideal

Pengelolaan lingkungan sehingga menjadi ideal akan terlaksana apabila pada awal pemanfaatannya kita memperhatikan beberapa hal, untuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah:
1.    Terbatasnya jumlah kualitas sumber daya alam.
2.    Lokasi sumber daya alam serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan mesyarakat dan pembangunan daerah.
3.    Penggunaan hasil sumber daya alam agar tidak boros.
4.    Dampak negatif pengolahan yang berupa limbah dipecahkan secara bijaksana termasuk pembuangannya.
Sedangkan dalam pengolahan sumber daya alam yang dapat diperbaharui perlu memperhitungkan beberapa hal berikut:
1.    Cara pengolahan hendaknya dilakukan secara serentak disertai proses pembaruan.
2.    Hasil penggunaannya sebagian untuk menjamin pembaruan sumber daya alam.
3.    Penerapan teknologi yang tepat sehingga teknologi yang dipakai tidak merusak kemampuan sumber daya alam untuk diperbarui.
4.    Dampak negatif pengolahannya ikut dikelola.
Berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup, agar dapat dicapai pengembangan lingkungan hidup yang ideal yang dapat dijadikan pedoman dalam pengelolaan lingkungan hidup, yaitu:
1.    Bahwa segala zat, benda, organisme hidup dan lain-lain dalam lingkungan saling berkaitan sesamanya. Oleh karena itu setiap uasaha yang menyangkut zat, benda, dan organism tertentu langsung berinteraksi dengan zat, benda, dan organism lainnya di bagian lain dalam lingkungan. Hubungan interaksi ini bisa intensif dan segera terasa dalam waktu pendek, bisa pula bersifat tidak langsung dan hari terasa lewat beberapa waktu.
2.    Bahwa sesuatu yang dibuang dalam lingkungan alam tidak akan hiang. Limbah industri yang dibuang bisa dianggap hilang oleh pengusaha industri. Namun limbah itu sebetulnya hanya pindah tempat, masuk ke lingkungan air, udara, dan tanah. Hal ini dapat mengganggu kesehatan masyarakat di tempat atau lingkungan yang lain.
Ekosistem terbentuk sebagai hasil perkembangan alam dalam ratusan, ribuan, bahkan jutaan tahun. Untuk membuat lapisan lahan bagian atas setebal 2,5 cm, diperlukan waktu sekitar 300 tahun. Karena ekosistem membutuhkan waktu yang lama proses pembentukannya, maka harus kita jaga kelestariannya.
3.    Bahwa stabilitas ekosistem berkaitan langsung dengan keanekaragaman isi lingkungan. Semakin beraneka ragam isi lingkungan dengan bermacam-macam fauna dan flora, semakin stabil ekosistem itu. Sebaliknya semakin seragam isi lingkungan dengan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang sedikit jenisnya, semakin labil dan goyah ekosistem itu.
4.    Bahwa ekosistem yang beranekaragam dan stabil itu menumbuhkan kualitas hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan ekosistem yang seragam dan labil.
5.    Bahwa ekosistem yang kuat mendesak yang lemah. Kuat dalam makna fisik maupun intelegensi, mampu mendesak yang lemah.
6.    Tidak ada hal gratis dalam kehidupan lingkungan. Apabila manusia hanya memetik dari alam tanpa siklus kehidupan, hal ini akan menimbulkan ketidakseimbangan dan muncul gangguan atau bencana di saat lain. Apa yang diambil dari lingkungan hidup hasrus disertai dengan usaha memberikannya kembali kepada alam.

   Demikian Pembahasan saya mengenai Konsep Lingkungan Hidup. Semuga Bermanfaat. GBU.

FUNGSI BEKISTING

IlmuDasarDanTeknik.*_Lama Rasanya baru bisa menulis Artikel lagi. Setelah blog ini terdampar dan terabaikan akhirnya saya bisa juga membuka untuk mengusahakan dan membagikan ilmu yang saya ketahui kepada pembaca sekalian. Topik kali ini mengenai bekisting atau bahasa mudahnya cetakan untuk beton atau Indonesia timur sebagian menamakannya Mal. Dalam suatu Pekerjaan pembangunan utamanya bangunan sipil dari beton, itu tidak bisa lepas dari yang kita namakan bekisting. Bekisting adalah salah satu bahan pembantu untuk membentuk beton sesuai dengan desain yang kita inginkan. Dan kali ini saya akan menulis tentang Fungsi bekisting sebagai berikut "

Fungsi Bekisting

Umumnya bekisting mempunyai tiga (3) fungsi utama sebagai berikut :
  1. Untuk memberi bentuk kepada suatu konstruksi beton;
  2. Untuk memperoleh struktur permukaan beton yang diharapkan;
  3. Untuk memikul beton, hingga konstruksi tersebut cukup keras untuk dapat memikul diri sendiri.
 Selain fungsi utama di atas, fungsi lain dari bekisting yaitu untuk memberikan ukuran yangsesuai dengan rencana desain beton selain itu bekisting juga bisa befungsi untuk melindungi beoin yang belum kering dari air hujan.
Saya Rasa cukup sekian tulisan dari saya mengenai Funsi Bekisting dalam Pembangunan. Nantikan Artikel lainnya yang tentunya mengenai teknik. Terimakasih.

TIPE DAN BENTUK PROFIL BAJA UNTUK TURAP

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Baja dalam teknik sipil tentu tidak asing lagi. Adalag suatu bahan bangunan yang semakin populer dan banyak digunakan saat ini. Selain karena baja baik digunakan di daerah gempa, profil baja juga memiliki berbagai bentuk dan jenis. Ada pun yang saya akan jelaskan saat ini adalah mengenai tipe dan bentuk profil baja yang difungsikan sebagai turap.
Istilah turap dalam teknik sipil singkatnya merupakan suatu dinding vertikal yangpada umumnya relatif tipis yang memiliki fungsi untuk menahan tanah ataupun menahan masuknya air ke dalam lubang galian atau dinding tanah. Oleh karena juga untuk menahan tanah maka fungsi dari turap ini sama persis seperti dinding penahan tanah. Dan sekarang, dalam mebuat turap semakin banyak digunakan profil baja sebagai bahan utama penyusunnya.
Berikut ini saya menuliskan beberapa tipe atau bentuk profil baja untuk turap. Ada pun berbagai tipe atau bentuk dengan karakteristik yang berbeda-beda.
Profik Baja Bentuk U
Profil baja bentuk U memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Ruang kosong pada sambungan cukup rapat dan kedap Air.
  2. Sepasang jari, seperti pada bentuk YSP, bentuk Larssen A dan bentuk L (bentuk FSP. A dan bentuk L) dapat dipasang, dikerjakan serta disimpan dengan mudah.
  3. Bentuk yang praktis dan sederhana, sehingga bentuk U sangat cocok untuk pemakaian yang berulang-ulang.

Profil Baja Bentuk Z
Profil baja bentuk Z memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Pemakaiannya sangat ekonomis, karena profil bentuk Z ini nilai "Momen lawan"-nya relatif tinggi dibandingkan dengan beratnya.
  2. Kekuatan pada sanbungannya tinggi.
Profil Baja Bentuk H
Profil baja bentuk H memiliki karakteristik sebagai berikut: 
  1. "Momen Lawan"-nya tinggi, cocok untuk konstruksi besar.
  2. Sambungannya sangat kokoh.
  3. Konnstruksi dengan profil bentuk H dapat sangat efektif daya kedap airnya, jika diantara sayap-ssayap profil diisi adukan atau beton.
  4. Menpunyai daya dukung vertikal atau tegak yang cukup besar.
Profil Baja Bentuk Box atau Kotak
Profil baja bentuk kotak ini terbuat dari dua profil bentuk U jenis Larssen yan bersatu sama lainnya. Profil baja bentuk Box atau Kotak memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1.  Cocok digunakan untuk konstruksi berat.
  2. Panjang dari tiap bentuk U dapat disambung dalam bentuk-bentuk kotak berdasarkan kebutuhan rencana.

Profil Baja Bentuk Lurus
Profil baja bentuk Lurus memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Sambungannya sangat kokoh.
  2. Daya tahan pada tegangan sambungan tinggi, jadi sangat cocok dipergunakan dalam konstruksi yang mengutamakan kerja sama antara profil, seperti konstruksi "Cofferdam".
Profil Baja Bentuk Berbobot Kecil
Profil baja bentuk berbobot kecil memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Terdiri dari banyak variasi dan bbentuk.
  2. Cocok untuk pemakaian yang berulang-ulang dan penyediaan fasilitas  perbaikan.
  3. Gampang dalam pengerjaannya dan pengangkutannya.
Profil Baja Bentuk Pipa
Profil baja bentuk Pipa memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Daya tekan terhadap momen yang tinggi sangat efektif, dan ssangat cocok diperggunakan dalm konstruksi tembok penahan (tanpa jangkar).
  2. Mempunyai banyak macam diameter dan tebal, sehingga mudah memilih sesuai dengan kebutuhan.
  3. Bobot relatif lebih ringan jika dibandingkan dengan ketahannya.
  4. Mudah dalam pelaksanaan.
Demikian jauh informasi mengenai Profil baja untuk turap sesuai dengan tipe dan bentuk serta karakteristik masing-masing. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

KUMPULAN BUKU TEKNIK SIPIL




IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan bebagi mengenai buku-buku yang berkaitan dengan teknik sipil. Buku-buku di bawah ini merupakan buku yang sangat populer saat ini baik di Indonesia maupun seluruh dunia di bidang teknik sipil.

KUMPULAN BUKU TEKNIK SIPIL

BUKU POPULER UNTUK TEKNIK SIPIL

BUKU TEKNIK SIPIL INDONESIA

BUKU TERBAIK TEKNIK SIPIL INTERNASIONAL


Semoga setelah Anda membaca buku-buku di atas Anda akan mendapatkan lebih banyak ilmu tentang teknik sipil.

POLA BILANGAN DALAM BARISAN ATAU DERET BILANGAN MATEMATIKA

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Ilmu yang akan saya bagikan kali ini adalah merupakan ilmu yang terbilang dasar tetapi sangat jarang kita perhatikan bahkan mungkin kita belum kethui. Adalah merupakan bagian dari ilmu matematika, tentunya matematika dasar yang sering kita kenal dengan istilah Barisan dan Deret Bilangan. Akan tetapi saya belum akan menjelaskan secara rinci mengenai itu, melainkan saya akan memberikan penjelasan dasar yang singkat mengenai pola Bilangan. Jadi topik kita kali ini adalah Pola bilangan. Tanpa basa-basi lagi maka berikut ulasan singkatnya.

 POLA BILANGAN

Dalam ilmu matematika secara dasar dijelaskan bahwa pengertian atau definisi dari Pola Bilangan adalah aturan terbentuknya sebuah kelompok bilangan. Pola Bilangan pada umumnya kita kenal ada yang membentuk barisan dan ada pula yang membentuk deret, dan itulah sebabnya mengapa Pola bilangan seperti saya katakan tadi menjadi dasar dalam Barisan dan Deret bilangan. Oleh karena jika tanpa Pola bilangan maka barisan atau pun deret bilangan tidak akan terbentuk.

Macam-macam Pola Bilangan

Pada dasarnya bilangan itu terbentuk itu sama pasti berbentuk baris atau pun deret. Akan tetapi jika kita lihat dari polanya perbedaan bilangan sangat jauh. Misalnya saja bilangan genap dengan bilangan ganjil, itu sangat berbeda. Secara umum ada beberapa macam pola bilangan di antaranya ada tujuh yang saya ketahui yaitu:

Pola Bilangan Asli.

Pola bilangan Asli susunannya yaitu : 1, 2, 3, 4, .... Pola bilangan ke-n adalah n.

Pola Bilangan Genap

Pola bilangan genap memiliki susunan yaitu : 2, 4, 6, 8, .... Pola ke-n adalah 2n.

Pola Bilangan Ganjil

Pola bilangan ganjil susnannya : 1, 3, 5, 7, ... Pola ke-n adalah 2n - 1.

Pola Bilangan Persegi

Pola bilangan Pesegi biasa juga di sebut Pola bilangan bujur sangkat atau berpangkat dua. Susunannya : 1, 4, 9, 16, .... Dimana pola ke-n adalah bilangan n berpangkat 2.

Pola Bilangan Segitiga

Pola bialngan segitiga susunannya : 1, 3, 6, 10, .... Di mana pola ke-n adalah n(n+1)/2.

Pola Bilangan Persegi Panjang

Pola bilangan persegi panjang susunannya: 2, 6, 12, 20, .... Di mana pola ke-n adalah n(n+1).

Pola Bilangan Segitiga Pascal

Pola Bilangan Segitiga Pascal susunannya : 1, 2, 4, 8, .... Di mana pola ke-n adalah n berpangkat (n-1).
Jadi seperti itulah Pola bilangan dalam barisan dan deret bilangan matematika yang saya ketahui dan bisa saya bagikan bagi pembaca sekalian. Mungkin bagi banyak orang ini adalah hal yang sudah umum diketahui tetapi saja di abaikan padahal sangat kompleks penerapannya. Bagi mahasiswa teknik harus lebih banyak mempelajari ilmu dasar yang satu ini karena akan banyak digunakan dalam dunia teknik, khususnya teknik sipil seperti yang saya rasakan saat-saat yang lalu. Semoga postingan saya ini bisa bermanfaat. Terimakasih.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERKAITAN DENGAN PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan memposting sebuah ilmu dari teknik sipil yaitu mengenai Faktor-faktor Yang berkaitan dengan Pembebanan pada suatu struktur.

FAKTOR PEMBEBANAN PADA STRUKTUR

Kekuatan yang dibutuhkan suatu struktur untuk menahan beban berfaktor yang bekerja dengan berbagai kombinasi efek beban disebut Kuat Perlu. Kuat perlu (U) suatu struktur harus dihitung dengan beberapa kombinasi beban yang bekerja pada struktur tersebut. Kuat rencana diperoleh dari mengalikan kuat nominal dengan faktor reduksi kekuatan (Φ) yang nilainya lebih kecil dari satu.
Menurut SNI - 03 - 2847 – 2002 Pasal 11(1) : struktur dan komponen struktur harus direncanakan hingga semua penampang mempunyai kuat rencana minimum sama dengan kuat perlu, yang dihitung berdasarkan kombinasi beban dan gaya terfaktor.Faktor keamanan yang disyaratkan oleh SNI -03-2847-2002 pada komponen struktur untuk menjamin tercapainya prilaku struktur yang cukup baik pada tingkat beban kerja dapat dikelompokkan  dalam dua bagian yaitu faktor beban/kuat perlu dan faktor reduksi kekuatan.

Faktor Beban / Kuat Perlu

Berdasarkan SNI 2847 – 03 – 2002, pasal 11.3 yaitu :
  •     Kuat perlu ( U ) untuk  menahan beban mati ( D ) paling tidak harus sama dengan :
U    =    1,4 D    ………………………………………………..…    ( a )

    Kuat perlu ( U ) untuk menahan beban mati ( D ), beban hidup ( L ) dan juga beban atap ( A ) atau beban hujan ( R ) , paling tidak harus sama dengan :U   =   1,2 D  +  1,6 L  +  0,5 (A atau R)    …………….……    ( b )
  •     Bila beban angin ( W ) turut di perhitungkan, maka pengaruh kombinasi beban     ( D ) , (L) dan ( W ) berikut harus dipelajari untuk menentukan nilai ( U )  sebesar :
U   =   1,2 D  +  1,0 L ± 1,6 W +  0,5 (A atau R)    …………..…    ( c )
Kombinasi beban juga harus memperhitungkan kemungkinan beban hidup ( L ) yang penuh dan kosong untuk mengantisipasi kondisi yang paling berbahaya, sehingga :
U  =   0,9 D  ±  1,6 W        …………………………………......    ( d )
Perlu dicatat bahwa untuk setiap kombinasi  beban D , L , dan W , Kuat perlu (U) tidak boleh kurang dari persamaan (2.2).
  •     Bila ketahanan struktur terhadap beban gempa ( E ) di perhitungkan dalam perencananaa, maka nilai ( U ) harus di ambil sebesar :
U   =   1,2 D  + 1,0 L  ± 1.0  E      ………………….………….    ( e )
atau
U   =    0,9 D  ±  1,0 E      …………………………………….    ( f )
Nilai beban gempa ( E ) di tetapkan berdasarkan ketentuan SNI – 03 - 1726 – 2002 tentang Tata Cara Perancanaan Ketahanan Gempa Untuk  Gedung dan Rumah.

    Faktor Reduksi Kekuatan ( Ø ) / Kuat Rencana.

Kuat rencana suatu komponen struktur , sambungannya dengan komponen struktur lain, dan penampangnya, sehubungan dengan prilaku lentur, beban normal geser , dan torsi harus diambil sebagai hasil kuat nominal yang dihitung berdasarkan kekuatan dan asumsi dengan suatu factor reduksi kekuatan ( Ø ). Faktor reduksi kekuatan ( Ø ) antara lain di gunakan untuk memberikan konsep keamanan lapis kedua dalam menentukan kuat rencana. Pemakaian faktor reduksi dimaksudkan untuk memperhitungkan kemungkinan penyimpangan terhadap kekuatan bahan, pengerjaan, ketidak tepatan ukuran, pengendalian dan pengawasan pelaksanaan, yang sekalipun masing – masing faktor mungkin masih dalam toleransi persyaratan tetapi kombinasinya memberikan kapasitas lebih rendah. Dengan demikian, apabila faktor reduksi di kalikan dengan kuat ideal teoretik berarti sudah termasuk memperhitungkan tingkat daktilitas, kepentingan, serta tingkat ketepatan ukuran suatu komponen struktur sedemikian hingga kekuatannya dapat di tentukan .
Standar SNI-03-2847-2002 memberikan faktor reduksi kekuatan (Ø) untuk berbagai mekanisme, antara lain sebagai berikut :
  •     Lentur tanpa beban aksial                    =  0,80
  • Beban aksial dan beban aksial dengan lentur : 
  1. Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur        =  0,80
  2. Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur:
           *Komponen struktur dengan tulang spiral         = 0,70
           *Komponen struktur lainnya (sengkang )         = 0,65
  •     Geser dan torsi                         =  0,75
  1.     Geser penahan gempa kuat lentur nominal         =  0, 55
  2. Geser balok-kolom tulangan diagonal         =  0,80
  •     Penampang lentur tanpa beban aksial             =  0,75
  •     Tumpangan pada beton                     =  0,70
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kuat momen / kapasitas momen (Mu) yang di gunakan sama dengan kuat momen ideal ( Mn) di kalikan dengan foktor reduksi (Ø).
Mu      =       Ø   .  Mn    …………….........................    ( g )
Dimana :    Mu       =  Kuat momen / Kapasitas momen
Ø    =  Faktor reduksi
Mn    =  Kuat momen ideal.
Kurang lebih seperti itulah keterkaitan faktor-faktor yang terjadi pada pembebanan struktur. Semoga postingan ini bermanfaat bagi pembaca semua. Terimakasih

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Kali ini saya akan membagikan sedikit informasi mengenai beton. Bebicara tentang beton pasti arahnya kepada dunia teknik sipil, di mana beton merupakan salah satu bagian yang sangat besar peranannya di dunia struktur dalam ilmu teknik sipil. Beton merupakan dasar yang sangat penting pada struktur bangunan, utamanya bangunan yang memang menggunakan struktur beton.

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN BETON

Dalam teknik sipil, definisi beton adalah suatu campuran yang terdiri dari pasir, kerikil, batu pecah, atau agregat-agregat lain yang  dicampur dengan suatu pasta sebagai pengikat yang terbuat dari semen dan air membentuk suatu massa seperti batuan setelah didiamkan beberapa waktu tertentu. Ada waktu tertentu satu atau lebih bahan aditif ditambahkan untuk menghasilkan karakteristik tertentu, seperti kemudahan pekerjaan atau workability, waktu pengerasan, durabilitas dan lain sebagainya.
Peranan beton sebagai salah satu pembentuk stuktur bangunan memang sangat dominan di bandingkan dengan bahan lainnya. Utamanya di Indonesia, beton masih menjadi pilihan banyak pengguna konstruksi. Tetapi seperti apa pun keunggulan beton pasti tetap memiliki kelebihan dan kelemahan. Berikut saya berikan beberapa kelebihan dan kelemahan beton.

KELEBIHAN BETON

Sebagai pembentuk struktur bangunan, beton memiliki banyak kelebihan yang membuat masih banyaknya orang menggunakan beton sebagai pembentuk struktur bangunan. Adapun kelebihan itu sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tekan yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan bahan bangunan lainnya.
  • Struktur beton sangat kokoh.
  • Terbuat dari bahan-bahan lokal yang sangat murah dan hampir ditemui di semua daerah di Indonesia (pasir, kerikil dan air).
  • Beton memiliki ketahanan yang tinggi.
  • Memiliki usia layan yang panjang. Dalam kondisi yang normal struktur beton bertulang dapat digunakan sampai kapan pun tanpa kehilangan kemampuannya untuk menahan beban, bahkan kekuatannya semakin lama semakin lama akan semakin bertambahkarena lamanya proses pemadatan pasta semen.
  • Beton tidak memerlukan biaya perawatan yang besar.
  • Dapat di cetak menjadi bentuk yang sangat beragam, mulai dari plat, kolom, balok, kubah, cangkan dan lain sebagainya.

KELEMAHAN BETON

Beton memang banyak memiliki kelebihan. Tetapi tidak lupa juga ternyata beton juga memiliki banyak kekurangan atau kelemahan dalam pengaplikasiannya dalam ilmu struktur. Adap pun kelemahan beton sebagai berikut:
  • Beton memiliki kuat tarik  yang sangat rendah, sehingga memerlukan bantuan dengan penggunaan tulangan terik.
  • Rendahnya kekuatan persatuan berat sehingga mengakibatkan beton bertulang menjadi berat, ini berpengaruh terhadap struktur-struktur bentang panjang dimana berat beban  mati beton yang sangat besar akan sangat mempengaruhi momen lentur.
  • Rendahnya kekuatan per satuan volume, mengakibatkan beton bertulang memiliki ukuran yang relatif besar, hal ini di pertimbangkan untuk bangunan-bangunan tinggi dan struktur-struktur yang berbentang panjang.
  • Sifat-sifat beton sangat bervariasi karena bervariasinya proporsi campuran dan pengadukannya. Selain itu, penuangan dan perawatan beton tidak bisa ditangani seteliti produksi material atau bahan bangunan lainnya seperti baja, kayu lapis, dan lain sebagainya.
Itulah kelebihan dan kelemahan beton. Jadi untuk menggunakan beton ini, sebaiknya mempertimbangkan kelemahan atau pun kelebihannya. Tapi ingat masing-masing material memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Semuanya terserah pada rencana kualitas suatu bangunan.
Demikianlah ulasan informasi ilmu dasar dari saya mengenai Kelebihan dan Kelemahan Beton. Semoga bermanfaat, terimakasih.

MEKAISME PERENCANAAN TEKNIS DALAM DOKUMEN PERENCANAAN TEKNIS

IlmuDasarDanTeknik.Com*_Persiapan & perencanaan teknis merupakan salah satu tahapan (tahap awal) kegiatan pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana. Yang merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam rangka Penyusunan Usulan Kegiatan Sarana &
Prasarana sebelum melaksanakan proses pelaksanaan pembangunan (fisik/konstruksi) sarana & prasarana. Keseluruhan proses kegiatan tersebut selanjutnya dituangkan dalam Dokumen yang disebut Dokumen Perencanaan teknis/DED/Proposal Usulan Kegiatan
Manfaatnya adalah Untuk mendapatkan usulan kegiatan yang baik dan layak secara teknis, keuangan dan aman terhadap lingkungan dan sosial (safeguards);

MEKANISME PERENCANAAN TEKNIS

Secara umum mekanisme perencanaan teknis mencakup dua tahapan yaitu Persiapan dan Perencanaan Teknis.
Tahapan perencanaan teknis, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam tahapan pelaksanaan perencanaan teknis adalah sebagai berikut:

a. Penyediaan Lahan

Untuk mewujudkan bangunan infrastruktur, tentunya diperlukan ketersediaan lahan/tanah (termasuk bangunan/tanaman produktif/aset berharga lainnya yang terkena) sebagai lokasi pembangunannya. Sementara disisi lain, tanah memiliki sifat yang terbatas dan keberadaannya dilindungi oleh hukum. Tidak ada pihak manapun yang diperkenankan membangun tanpa seijin pemilik tanah karena bukti kepemilikan diakui secara sah dalam hukum. Dan jika terjadi pelanggaran (membangun diatas tanah tanpa seijin pemiliknya) maka pihak yang melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

b. Survey dan Investigasi

Survey Teknis

Sebelum dilakukan penyusunan Desain bangunan maka terlebih dahulu harus dilakukan Survey teknis. Sasaran survey teknis ini adalah untuk mendapatkan data data/ informasi kondisi/situasi awal lokasi pembangunan infrastruktur yang sebenarnya. Jenis data/informasi yang diperlukan tergantung pada jenis infrastruktur yang akan dibangun. Seperti : Kondisi fisik lokasi (luasan, batas-batas, topografi), kondisi tanah (keras/lunak), keadaan air tanah, peruntukan lahan, rincian penggunaan lahan, perkerasan, penghijauan, dan lain-lain.
Data-data atau informasi tersebut selanjutnya akan dipergunakan dalam menentukan desain atau rancangan dan gambar rencana bangunan yang akan dibangun.
Pelaksanaan Survey ini dilakukan surveyor yang harus memahami teknik survey mencakup :
Jadwal, Urutan kegiatan, cara pelaksanaan dan hasil Survey yang akan diperoleh;
Cara penggunaan formulir survey dan cara penggunaan alat survey yang akan digunakan;
Kebutuhan dan penyediaan peralatan dan instrument yang dibutuhkan, seperti : patok-patok, meteran, formulir suirvey, peta, dll;
Pada kegiatan survey teknis ini, juga sekaligus membuat dokumentasi/photo awal (0%) pada lokasi yang akan dibangun Infrastruktur. Jumlah titik lokasi yang diambil/potret disesuaikan dengan kondisi lapangan dan jenis infrastruktur yang akan dibangun, misalnya untuk Jalan/drainase/saluran irigasi/air bersih perpipaan dapat diambil pada beberapa titik lokasi (awal, tengah dan ujung akhir atau tempat lain yang dianggap penting)
Penting untuk diperhatikan bahwa titik lokasi dan arah pengambilan gambar kondisi 0% ini, nantinya akan menjadi pengambilan gambar pada saat pelaksanaan konstruksi, yaitu kondisi 50% dan 100%.
Selain survey teknis prasarana juga perlu dilakukan survey ketersediaan tenaga kerja/bahan/alat. Hal ini untuk membantu dalam pemilihan teknologi konstruksi yang akan dipergunakan dimana sedapat mungkin menggunakan konstruksi/bahan lokal yang berkualitas dan konstruksi yang mudah dilaksanakan oleh tenaga kerja setempat.

c. Survey Harga Satuan Upah/Bahan/Alat

Sesuai dengan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas pemanfaatan dana kegiatan maka harga-harga satuan upah/bahan/alat yang akan dipergunakan dalam pelaksanaan kegiatan harus merupakan hasil survey sekurang-kurangnya dari 3 toko/pemasok setempat/terdekat sebagai referensi data/informasi harga satuan upah/bahan/alat bagi pelaksana untuk menyusun RAB proposal pelaksanaan kegiatan atau menggunakan dasar harga yang sudah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum.
Apabila seluruh harga satuan upah/bahan/alat terendah hasil survey Pelaksana adalah sama dengan harga satuan terendah yang telah ditetaokan maka pelaksana dapat langsung menggunakan harga hasil ketetapan.

d.Survey Calon Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang akan terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan diprioritaskan dan diharapkan sebanyak mungkin dari masyarakat setempat . Informasi ketersediaan tenaga kerja proyek sangat penting diketahui dalam perencanaan pelaksanaan kegiatan pembangunan infrastruktur. Hal ini terutama karena akan menjadi dasar pemilihan teknologi/metode kerja pelaksanaan pembangunan fisik.
Selain jumlah, kualifikasi tenaga kerja juga sangat penting diketahui dari hasil survey, terutama untuk memperoleh kepastian apakah kegiatan pembangunan dapat dilaksanakan oleh tenaga kerja yang ada dan dapat diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditetapkan program. Pengalaman/keterampilan yang dimiliki calon tenaga kerja (seperti Mandor/Ketua regu kerja, Tukang dan Pekerja) terutama guna menjamin cara pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan secara benar sehingga dapat memenuhi kualitas fisik yang baik.

e. Penyusunan Desain Teknis (Pembuatan Desain, Gambar-gambar, Spesifikasi Teknis)

Persyaratan utama suatu infrastruktur yang dibangun adalah terpenuhinya mutu/manfaat bangunan tersebut sebagaimana yang dikehendaki. Oleh karena itu siapapun yang menginginkan suatu bangunan, perlu menentukan syarat penggunaan seperti apa yang diinginkannya dari bangunan tersebut.
Membuat Desain, Spesifikasi & Gambar-gambar perencanaan teknik, secara sederhana dapat dikatakan sebagai upaya untuk menentukan persyaratan bangunan yang diinginkan agar bangunan dapat berfungsi baik, menjamin keselamatan (keamanan/kekuatan termasuk kenyamanan) dan kesehatan masyarakat penggunanya.
Dalam praktek pengelolaan proyek infrastruktur jalan, lazimnya pernyataan-pernyataan tentang mutu bangunan dituangkan secara tertulis dan dalam proses penyusunannya diawali dari proses Desain/perancangan, Gambar-gambar & Spesifikasi Teknis, kemudian diuraikan juga secara terbatas dalam Daftar Kuantitas (jenis pekerjaan dan volumenya), RAB (jenis pekerjaan dan volume yang diperhitungkan/dibiayai) dan Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan seperti SPPD-L/SPPB.
Kemudian pada tahap pelaksanaan pembangunannya, semua dokumen tersebut menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan sebagai pedoman mewujudkan mutu bangunan jalan. Sasaran kegiatan ini adalah untuk menentukan persyaratan mutu sesuai kriteria dan persyaratan teknis bangunan. Adapun indikator keluarannya, adalah :
• Diketahuinya tingkat pelayanan prasarana (siapa/apa dan berapa banyak yang menggunakan) sesuai kebutuhan, termasuk mengetahui apakah ada keterkaitan kesatuan fungsi pelayanan dengan infrastruktur lainnya);
• Diketahuinya kelengkapan system/komponen bangunan sesuai standar teknis bangunan tersebut;
• Adanya perhitungan dimensi konstruksi sesuai tingkat pelayanan (bila perlu), termasuk bila kondisi tanah dasar jelek;
• Diketahuinya tataletak (termasuk keadaan sekitar) dimana bangunan akan dibuat sesuai kebutuhan;
• Diketahuinya ukuran-ukuran bagian bangunan/konstruksi secara detail, seperti Geometri jalan, jenis perkerasan, ukuran papan lantai jembatan, tebal plat beton jembatan/gorong-gorong, dll, sesuai persyaratan teknis bangunan;
• Diketahuinya ukuran-ukuran pokok bangunan (panjang, tinggi/kedalaman, lebar/diameter), termasuk bangunan pelengkap sesuai persyaratan teknis bangunan ;
• Diketahuinya perbandingan campuran yang digunakan, misalnya plesteran campuran 1 semen : 4 pasir; pondasi pasangan batu kali camp. 1: 4, beton bertulang campuran 1 semen : 3 pasir : 5 kerili, sesuai persyaratan teknis bangunan;
Hasil Survey memberikan output sbb :
  1. Desain, berdasarkan hasil Survey kondisi lapangan dimana bangunan akan dibuat dan persyaratan/kriteria desain bangunan yang telah ditetapkan maka dipilih alternatif-alternatif desain/rancangan bangunan yang sesuai. Dalam pemilihan desain ini juga harus telah mempertimbangkan kemungkinan dampak lingkungan yang muncul akibat dari pelaksanaan pekerjaan nanti. Bila bangunan yang dikehendaki cukup kompleks atau kondisi tanah jelek maka seringkali dibuat perhitungan konstruksi untuk memperoleh ukuran/komposisi suatu konstruksi guna menjamin keamanan bangunan. Hasil Desain ini kemudian dituangkan dalam Gambar-Gambar teknik/gambar perencanaan.
  2. Spesifikasi Teknis, dibuat untuk memberikan informasi lebih lengkap mengenai persyaratan-persyaratan teknis dan ketentuan-ketentuan pelaksanaan pekerjaan/bangunan yang ingin diwujudkan tersebut. Spesifikasi Teknis merupakan dokumen persyaratan teknis/standar bangunan yang secara garis besarnya berisi : uraian penjelasan dari tiap jenis pekerjaan (lingkup kegiatan), komposisi campuran, persyaratan material/peralatan, ketentuan/peraturan terkait yang harus diikuti, Metode Pelaksanaan, Cara pengukuran pekerjaan, dll).
  3. Gambar-gambar, berdasarkan desain/sketsa hasil perhitungan dan spesifikasi teknis ini, lalu dibuat gambar-gambar teknis bangunan dimana sering gambar gambar tersebut dicantumkan juga hal-hal penting yang berkenaan dengan mutu prasarana tersebut. Terdapat beberapa macam gambar rencana yang dibuat pada tahap ini, yaitu :
  • Gambar Peta Lokasi, kita dapat mengetahui lokasi dimana bangunan akan dibangun;
  • Gambar Situasi, kita dapat mengetahui tataletak termasuk mana awal dan akhir pekerjaan atau menjelaskan keadaan sekitar dimana bangunan akan dibuat.
  • Gambar Denah, kita dapat mengetahui (membaca) ukuran-ukuran pokok (panjang dan lebar) bangunan termasuk bangunan pelengkap
  • Gambar Pandangan/Tampak, kita dapat mengetahui bidang-bidang mana yang terletak dimuka, sampaing kiri/kanan dan belakang bangunan.
  • Gambar Penampang/Potongan, biasanya gambar ini dibuat dalam 2 arah (memanjang dan melintang). Dari gambar ini kita dapat mengetahui ukuran tinggi, lebar bangunan/bagian bangunan. Selain itu, pada gambar ini juga dicantumkan spesifikasi teknis tiap konstruksi seperti perbandingan campuran yang digunakan (misalnya perbandingan campuran untuk pondasi), jenis bahan yang digunakan (misalnya ukuran agregat), dll. Untuk lebih memehami hubungan bagian-bagian struktur yang dianggap sangat penting maka perlu dibuat gambar lebih detail dari gambar potongan seperti detail pondasi dll.
Semua Desain/Gambar-Gambar Teknik dan spesifikasi teknis dibuat oleh konsultan perencana dan Disetujui oleh Tim Teknis /Dinas PU setempat. Hasil desain ini sekurang-kurangnya harus memberikan jaminan bahwa rencana bangunan dapat bermanfaat bagi masyarakat, rencana teknis bangunan sesuai standar teknis (bangunan dapat berfungsi optimal, menjamin keselamatan (kekuatan dan keamanan) dan kesehatan warga pengguna, tidak menimbulkan dampak negatif atas lingkungan dan sosial-budaya setempat serta mudah dan amandiakses oleh warga pengguna bangunan).
  1. Daftar Isi Dokumen Perencanaan Teknis (DED)

1. Gambar Rencana terdiri dari :

  • Gbr denah Situasi (site plan)
  • Gbr Tampak
  • Gbr potongan (melintang dan memanjang)
  • Gbr Detail Potongan

2. RAB

  • Analisa Harga Satuan
  • Harga Satuan
  • Perhitungan Kuantitas Pekerjaan
  • Perhitungan Volume Kebutuhan Bahan/Alat/Upah
  • Rekapitulasi Pekerjaan
  • Perhitungan RAB (masing-masing kegiatan)
  • Jadwal Pelaksanaan

3. RKS

  • Uraian Umum Pekerjaan
  • Ketentuan Ukuran
  • Lingkup Pekerjaan
  • Persyaratan Bahan
  • Persyaratan Pelaksanaan

4. Dokumen Lain

  • Penyediaan Lahan Lokasi Kegiatan infrastruktur jalan
  • Perijinan terkait pelaksanaan pembangunan yang diperlukan
  • Pengamanan Dampak Lingkungan dan Sosial (Safeguards)

f. Rencana Pengamanan Dampak Lingkungan dan Sosial

Selain ketentuan terkait dengan penyediaan tanah/lahan, ketentuan/peraturan lain yang menjadi persyaratan pelaksanaan pembangunan infrastruktur adalah adanya perlindungan/pelestarian terhadap lingkungan. Sasaran kegiatan adalah : untuk mewujudkan bangunan yang tidak menimbulkan dampak negatif sosial dan lingkungan.

Indikator keluaran

Adapun Indikator keluaran kegiatan adalah :
  1. Ada/tidaknya kegiatan yang dibangun atau bahan bangunan yang digunakan tidak termasuk dalam Daftar/List Negatif yang telah ditetapkan.
  2. Ada/tidaknya Dampak negatif terhadap Lingkungan & Sosial akibat dari pembangunan infrastruktur yang akan dilaksanakan.
  3. Tersedia atau tidaknya tindakan antisipasi/pengamanan dampak negatif sosial dan lingkungan sesuai dengan prosedur dan ketentuan proyek ini;

Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan

Prinsip-prinsip dasar dalam penilaian kelayakan lingkungan adalah :
  1. Usulan yang diajukan sedapat mungkin menghindari atau mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Usulan tersebut harus telah mengkaji alternatif desain lainnya yang tepat untuk memperkecil dampak negatifnya;
  2. Usulan tersebut harus mengacu pada Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan Rencana Detail Tata Ruang (RTDR), serta menghindari kawasan lindung yang telah ditetapkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, kecuali jika usulan kegiatan tersebut untuk mengembangkan kawasan lindung; dan
  3. Usulan yang membawa dampak negatif terhadap lingkungan, harus dilengkapi dengan suatu perencanaan pengelolaan dampak lingkungan untuk mengurangi dampak negatifnya.
  4. Setiap proposal kegiatan infrastruktur(proyek/sub-proyek) akan diperiksa dengan prosedur/kriteria pemeriksaan lingkungan Pemerintah untuk memastikan tidak ada sub-proyek/proyek yang membutuhkan pemeriksaan lingkungan secara penuh.
  5. Pada pemeriksaan awal, tipe proyek, skala, lokasi, sensitifitas dan potensi dampak terhadap alam dan lingkungan hidup akan diidentifikasi untuk menentukan kegiatan tersebut layak atau tidak.

g. Menentukan Lingkup Pekerjaan Konstruksi

Lingkup pekerjaan konstruksi/proyek adalah keseluruhan pekerjaan/kegiatan konstruksi yang harus dilakukan untuk menghasilkan bangunan yang memenuhi persyaratan mutu sesuai standar teknis bangunan yang telah ditetapkan. Kemudian dari setiap pekerjaan tersebut perlu diketahui Kuantitas/Volumenya, Metode Pelaksanaannya dan Urutan pelaksanaannya.

1. Menentukan/Mengidentifikasi jenis-jenis pekerjaan konstruksi

Untuk menentukan jenis-jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan dalam pembangunan infrastruktur maka secara teknis harus ada gambar perencanaan infrastruktur, minimal gambar tampak, denah, potongan (memanjang, melintang) dan gambar detail konstruksi dari infrastruktur yang akan dibangun tersebut, termasuk spesifikasi teknisnya. Sebab dari gambar-gambar tersebut dapat diketahui kegiatan-kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk membangun infrastruktur tersebut sampai selesai. Pada tahap ini juga termasuk mengetahui lingkup aktivitas dari setiap jenis-jenis pekerjaan, satuan pengukurannya, batasan/syarat teknis kekuatannya seperti komposisi campurannya, dimensi, persyaratan material/peralatan, ketentuan/peraturan terkait yang harus diikuti dalam pelaksanaannya. Hasil identifikasi ini selanjutnya dapat dibuat dalam bentuk Tabel.
Demikian sedikit info dari saya mengenai Mekanisme Perencanaan Teknis dalam DED (dokumen perencanaan teknis). Semoga bermanfaat. Terimakasih.